Mirror!

Mirror!
Reihan : Pagi yang berisik


__ADS_3

Aku baru saja membuka mata saat jam weker sialan itu berbunyi lagi untuk kesekian kalinya. Ayolah! Remaja mana yang sudah bangun di jam 5 pagi lalu beraktivitas. Keterlaluan banget abang gue nyetel alarm. Aku bangun dengan menunjukan wajah super jutek padanya. Dia yang sudah menggunakan pakaian olahraga serba hitam bergaris merah favoritnya.


"Lo ikut?"


"Kagak!" jawabku sekenannya.


"Ya udah! Jaga rumah!" katanya lagi.


Disaat-saat seperti ini, ingin rasanya aku menarik dan membawanya ke arena tinju untuk adu jontos. Sikapnya terlalu bossy. Inilah yang kadang membuatku membenci Aray sebagai kakakku.


Aray baru saja membuka pintu kamar, sampai aku menghentikannya.


"Tunggu!"


Dengan lemas, malas, dan jengkel, aku mengambil jaket yang tergantung dibelakang pintu. Memakainya dengan awut-awutan. Lalu menatap jengkel pada Aray yang menatapku tanpa dosa. Sial! Percuma aku menunjukan rasa kesalku, dia sama sekali tidak terpengaruh.


Semua orang melihat abang ku sebagai sosok siswa yang sempurna. Belum tahu aja mereka, gimana bossy nya dia kalau dirumah. Sok-sok'an ngatur kegiatan orang. Cih! Aku tidak sudi diatur-atur oleh seorang yang lahir 5 menit lebih awal dariku.


"Ikut?" tanyanya lagi dengan meyakinkan.


"Ngg..." jawabku sekenannya. Aku mengikuti langkahnya keluar kamar. Menuruni anak tangga. Masuk ke dapur, menuang air minum pada botol minum. Minum segelas air lalu memakai topi masing-masing. Aku dengan topi kupluk kesayangan. Dan Aray dengan topi standarnya yang berwarna abu-abu. Topi yang senada dengan warna jaket yang ku gunakan saat ini.


Sepanjang jalan, aku dan Aray hanya berlari kecil. Berhubung hari masih gelap dan tidak ingin tersandung sesuatu atau terserempet lalu lalang rutinitas motor ataupun mobil pagi hari, aku memutuskan untuk berlari dibelakang Aray.


Setengah jam sudah, kami melewati perumahan sederhana yang kemarin tanpa sengaja aku telusuri ketika dengan tidak sadar mengikuti bahu mungil teman sebangku ku itu. Kami masuk dan terus masuk ke dalam perumahan itu menuju jalan turunan yang dimana tepat diujung atas jalan turunan itu adalah rumah dari teman sebangku ku itu.


Aray terus berlari turun, namun aku malah berhenti dititik yang sama dengan titik dimana langkahku berhenti mengikuti teman sebangku ku itu. Aku melihat ke halaman rumah itu. Melihat pintu itu terbuka perlahan dan teman sebangku ku itu keluar dengan kakinya yang sedikit terseret. Apakah dia dipukuli?!!


Aku meneruskan rasa penasaranku. Membiarkan kaki ini melangkah sedikit lebih dekat dengan halaman rumah itu. Sudah lebih dari tiga kali aku melihatnya bolak-balik dengan memegang sapu dan serok yang penuh dengan berbagai pecahan kaca.


Melihat penampilannya yang sedikit berantakan, aku yakin dia baru saja bangun tidur ketika harus membersihkan rumahnya yang mungkin tengah berantakan dengan cara yang tidak wajar. Bukan urusanku memang, tetapi aku terlanjur memperhatikannya dan dibuat penasaran, jadi aku sudah tidak bisa mundur dengan rasa penasaranku ini.


Aku kembali melengok ke dalam halaman rumah ketika menyadari kalau dia sudah tidak keluar lagi setelah membuang isi tempat sampahnya kedalam tong besar yang ada disudut rumahnya.

__ADS_1


"Segitu aja?!" gumamku.


"Kalau penasaran, tanya aja langsung!"


"Ya kali masuk rumah orang pagi-pagi buta hanya karena penasaran, bang!"


"Suka-suka lo deh!" jawab Aray sekenannya. "Bilas rambut lo itu. Sudah mulai sekolah, jadi lebih rapih sedikit. Jangan repotin gue!"


"Apaan sih!" kilahku. "Ganggu kesenangan orang aja!"


Jadilah, pagi ini, rambutku berwarna hitam cemerlang seperti warna rambut Aray.


"Tobat lo!" sapa Raka yang langsung meletakkan tasnya dibelakang bangku ku.


"Nggak! Mau gue warnai jadi putih besok!"


"Aki-aki dong! Bwahahahahah.." tawa Ditya menggelegar yang membuatnya menjadi tontonan teman sekelas.


"Siapa?" tanggap pertama Ditya. "Kami?" tambahnya lagi.


Rahma yang berwajah jutek bak the real Dora The Explore, tidak merubah air mukanya. Dia masih memandang kami seperti kami ini adalah tahanan yang siap menerima titah hukuman dari pemimpin kami.


"Menghadap ketua Osis!" jawabku yang langsung disambut anggukan gembira oleh Ditya. Sementara Raka mulai mencari celah untuk melihat perubahan air muka Rahma, si ketua kelas.


"Gara-gara kalian, gue ditegur Bu Hera!" jelas Rahma dengan nada jengkel. "Ini! Isi angketnya buruan!" Rahma memberikan tiga buah angket yang sama padaku, Raka, dan Ditya.


"Kami udah isi!" jawab Ditya penuh kemenangan. "Ya kan, bro!!"


Begitu Ditya selesai menaikan satu alisnya, ketiga angket yang kemarin sudah kami isi masing-masing, sudah langsung berpindah pada tangan Rahma yang tiba-tiba penuh dengan tumpukan kertas.


"Sudah, bu ketua!" Ditya lagi-lagi nyengir penuh kemenangan.


"Ini punya kami. Mau diperiksa isinya. Boleh!" Raka berkata santai.

__ADS_1


"Nggak perlu." jawabnya ketus. "Yang penting kalian udah isi." Rahma segera pergi dari hadapan kami.


"Jadi?" Raka menatapku dan Ditya dengan bosan.


"Kantin dulu!"


Langkahku jauh lebih cepat dari omonganku, sehingga begitu aku mengatakan kantin, aku sudah bersiap didepan pintu belakang kelas.


"Tungguin, Rei!!!" Ditya menerobos beberapa teman lainnya untuk sampai di hadapanku mendahului Raka.


Tanganku siap membuka pintu kelas. Bel tiba-tiba berbunyi dan kegaduhan memenuhi ruang kelas. Benar-benar seperti sarang lebah. Penuh dengan dengungan dan suara-suara kepanikan yang tidak seharusnya ditunjukan remaja seusia kami.


Pegangan tanganku masih pada handle pintu. Begitu pintu tanpa sadar ku geser, Ditya yang tersenggol teman lain yang hendak menuju kursi, tanpa sadar juga mendorongku kearah belakang.


Reflek! Aku langsung berhenti mematung dan menyadari kalau aku telah menabrak seseorang. Aku berbalik dan mendapati dia tengah terduduk dengan wajah penuh tanda tanya kearahku. Mungkin dia berpikir kenapa tiba-tiba dia harus terdorong jatuh dan lain sebagainya.


"Sorry! Sorry!" aku panik dan langsung mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. "Lo nggak apa-apa kan?"


Ku perhatikan dia hanya menggeleng kecil. Namun ekspresinya tidak berubah sama sekali. Dia terlihat keheranan setelah beberapa lama. Tapi akhirnya berdiri dengan baik setelah menerima pertolongan yang ku berikan.


"Sorry! Gue bener-bener nggak sengaja!"


Dia menggeleng kecil lalu menunduk. Dia segera menarik kencang tali tas itu dengan kedua tangannya. Berjalan pelan melewati lalu langsung duduk di bangkunya bersamaan dengan masuknya seorang guru ke dalam kelas.


Dengan santai aku kembali ke bangku disebelahnya. Aku melihatnya sejenak yang sedang mengurut mata kakinya beberapa kali. Sesekali desis kesakitan ia keluarkan dengan volume yang sangat kecil.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa pak guru yang akhirnya akrab kami panggil Pak Ali. Beliau mengajar mata pelajaran yang paling aku benci. Bahasa Inggris. Tapi berhubung gurunya asyik dan cara mengajarnya santai, akan ku nikmati setiap pelajaran yang diajarkannya.


Sudah habis 2 mata pelajaran yang berjalan, aku tidak melihat teman sebangku ku itu keluar untuk istirahat makan siang. Bukan sebuah perhatian yah! Hanya saja! Sejak awal dia duduk di bangkunya dia sama sekali belum bangun sampai sekarang. Sekali lagi, bukan urusanku.


Ku alihkan pandanganku darinya. Sepertinya aku harus menghentikan rasa penasaranku. Berhenti melihat kearahnya. Dan berhenti ingin tahu tentang dia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2