Mirror!

Mirror!
Angga : Bocah tengik.


__ADS_3

Bocah tengik sialan. Pagi-pagi sudah seenaknya jontos muka berharga gue. Gampang banget memancing emosi manusia satu ini. Hanya dengan kalimat kepindahan Amy juga akan menjadi ke pindahanku saja sudah membuat dia begitu geram sampai memukul orang seenak jidat. Bagaimana kalau dia tahu aku dan Amy akan tinggal serumah tanpa orang tua kami nantinya. Bisa-bisa dia akan melakukan hal-hal tak terduga. Asalkan nggak melukai Amy ok, kalau berani awas saja. Karenanya, ada baiknya dia tidak mengetahui apapun tentangku dan Amy. Aku kakaknya Amy, dan tidak sembarangan laki-laki boleh mendekati adikku itu.


Jadilah aku masuk pustaka yang menjadi tempat kerja Amy. Melihat bagaimana dia bekerja disana. Aku harap dia tidak kesusahan. Tapi dari sepanjang yang ku lihat, Amy selalu nampak senang ketika pulang dari bekerja. Yah, wajahnya jadi lebih banyak menunjukan ekspresi yang berbeda dari pada wajah murungnya dulu. Dulu. Dulu yang aku harap aku bisa melupakan apapun yang terjadi antara aku dan Amy. Aku baru memasuki area pustaka saat mendengar Jia menanyakan hal yang tidak bisa dijawab dengan baik oleh Amy.


"Siapa lagi kalau bukan dia." jawab Jia pada Amy. "Apa kamu memikirkan orang lain selain Rei?"


Dan bisa ditebak bukan apa yang menjadi jawaban Amy. Dia mengangguk ragu.


"Siapa?" tanya Jia padanya. Amy yang kini terdiam dengan pikiran yang langsung terpelanting jauh. Dasar.


"Gue." jawabku menyapa Jia dan tentu saja Amy. Tapi ada hal menarik lain di ujung sana. Tidak lupa aku menyapa sosok yang kini menatapku dengan tidak suka dari di balik pintu kaca Pustaka ini.


"Reihan." ujar Amy dan Jihan bersamaan.


Reihan tidak menjawab panggilan mereka, melainkan menatapku dengan tatapan yang tidak begitu senang.


"Pulangnya masih lama?" tanyaku mengetuk meja kasir pustaka untuk mengalihkan pandangan Amy padaku.


Amy menoleh lalu menggeleng kecil. "Sebentar lagi." jawabnya.


"Gue tungguin." ujarku yang langsung meninggalkan Amy untuk sekedar mencari bacaan yang bisa ku nikmati diwaktu istirahatku. Namun langkahku terhenti ketika Reihan menarik kerah bajuku dengan kasar. Ada apa lagi dengan bocah satu ini.


"Lo nggak diterima disini!" kecam Reihan.


Dengan sedikit rasa kaget bercampur kesal aku berbalik untuk menepis tindakan Reihan yang menurutku kurang begitu sopan. Menatap bocah tengik ini sejenak, lalu aku kembali mengabaikannya membuat bocah tengik ini merasa tersinggung hingga kembali menarik kerah baju dan membalik tubuhku dengan kasar. Begitu menghadap kerahnya, bukan wajah berangnya yang menyambut, tetapi kepalan tangan yang berhasil ku tepis dan ku buat si Reihan ini terjatuh melewati ku dengan tindakannya yang penuh dengan emosi. Tapi bocah ini tidak kalah trik, dia menyenggol bagian tekuk kakiku sehingga aku tersungkur dan jatuh menabrak rak buku dihadapanku. Sudah keterlaluan. Aku berbalik untuk balik mencengkeram kerah bajunya. Gerakan kami sama cepat dan sama gesit, membuat kami berdua tanpa sadar menjadi tontonan banyak pasang mata. Terlebih ketika aku bertemu tatap dengan Amy. Sial.


"Kalian apa-apaan?!" sentak Jihan dan Aray dari arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Rei!" tegur Aray kepada bocah tengik yang sama enggannya denganku melepas cengekaram kami terhadap satu sama lain.


"Angga..." panggil Amy dengan suara yang cukup pelan. Suara yang sebenarnya keluar karena rasa takutnya. Suara yang entah kenapa membuat Reihan berpaling dan menatap Amy dengan tatapan tidak terima. Yang benar saja. Bocah ini benar-benar menyukai Amy? Aku menatap Amy sejanak. Amy yang sudah tertunduk sembari menghela nafasnya. Aku melepas cengkeraman tanganku pada kerah baju Reihan, juga menghempaskan pukulan yang tadinya ingin ku hadiahkan pada bocah tengik ini. tapi urung kulakukan karena ini tempat kerja Amy. Aku tidak mau dia terlibat masalah karena tindakanku ini.


"Sorry." ucapku menepuk pundak Amy. Aku tidak lagi menoleh ke arah belakang, melainkan pergi begitu saja dari pasang mata yang ada di dalam pustaka.


"Bukan salah lo, Ngga." kata Aray setengah berteriak.  Dari langkahnya yang mendekat, aku tahu Aray akan mengajakku bicara tentang sifat adiknya itu.


"Jadi dia belum tahu?" tanya Aray menepuk bahuku.


"Sengaja." jawabku sekenannya.


"Yah. Gue nggak akan bilang apa-apa soal kalian, tapi maafin adik gue kali ini yah."


"Adik lo beneran suka sama Amy?" tanyaku penasaran. Aku sempat melirik lagi saat si bocah tengik yang sayangnya memiliki wajah yang sama persis dengan Aray, tersenyum dengan begitu entengnya kearah Amy.


"Tentu." jawabku. Siapa yang nggak keberatan adiknya di sukai cowok yang nggak bisa jaga emosi kaya gitu. Padahal hanya satu kalimat biasa, bukannya mencari tahu kenapa, dia malah langsung main pukul aja. Tapi seru juga kalau aku mempermainkannya. Setidaknya aku bisa tahu seberapa serius perasaanya terhadap Amy. Kalau cuma bermain-main saja, maaf. Dia sejak awal tidak masuk kriteria calon pacar Amy sekalipun dia baik.


"Gue akan ingetin Rei soal ini."


"Baguslah." jawabku. "Gue harap dia nggak terlalu menyusahkan Amy nantinya."


"Ok. Gue janji." jawab Aray. Wajah bak pinang di belah dua, tapi kepribadian bagaikan langit dan neraka. Bukan apa-apa yah! Kalian belum liat dengan sifat beringasnya. Kebetulan aku pernah tanpa sengaja melihatnya sekali. Kalau memang tidak salah orang.


"Kalo gitu gue balik deh."


"Gue entar antar Amy pulang."

__ADS_1


Aku tahu itu hanya kalimat hiburan. Karena nyatanya di persimpangan, aku melihat Amy di bonceng Reihan. Kenapa aku menebak dia Reihan? Karena dari caranya menatap sangat berbeda. Caranya fokus pun berbeda walaupun mereka itu kembar. Dan hanya bocah tengik itu yang dengan enteng akan mengantar Amy pulang. Sudah beberapa kali.


"Mau dibawa kemana lagi adik gue!"


Sepanjang jalan aku coba mengikuti keduanya. Bukannya berpikiran buruk yah, hanya berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Gimanapun gue nggak mau Amy kenapa-kenapa. Terlebih karena si bocah tengik itu. Tepat di jalanan utama lampu merah terakhir, Reihan menghentikan laju motornya dan Amy sempat mengeluarkan hpnya yang pada akhirnya aku mengetahui tujuan tindakan Amy itu adalah untuk mengabari ku.


Voice note. Dan dalam voice notenya menyebut nama Reihan. Pantas bocah itu sempat terdiam dengan wajah kagetnya memandang Amy yang berada di jok belakang motornya. Sempat membuat macet lagi lantaran dia berulah disaat lampu hijau menyala.


Mengikuti mereka sampai tujuan akhir, aku menjaga jarak sejauh mungkin dan mengambil haluan memutar ketika bocah tengik itu memarkirkan motornya di dekat jalanan utama perbukitan ini.


Ok. Kita lihat lu mau ngapain.


Aku membiarkan keduanya naik ke atas dan menyusul 10 menit setelahnya. Berjalan melewati keduanya, aku memperhatikan Amy nampak begitu senang melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya. Gampang sekali gadis ini untuk di sogok.


Untuk beberapa saat yang lama, mereka berdua seperti hanya menikmati pemandangan yang tersaji dihadapannya. Aku juga sempat melihat Amy mengeluarkan hpnya untuk memotret pemandangan yang tersaji. Aku tidak akan lupa, dia payah dalam hal beginian. Jadilah aku memotret beberapa sudut bagian yang menurutku Amy akan menyukainya.


Aku memilih bersandar di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari tempat Amy dan si bocah tengik duduk. Jujur, seharian ini aku jengkel sekali dengan Reihan. Jadi jangan protes kalau aku terus memanggilnya bocah tengik. Dia memang menyebalkan dalam pandanganku bagaimanapun kalian menceritakan kebaikannya padaku.


Sialnya untuk malam ini, Reihan memilih tempat terbaik untuk menghibur Amy dan tempat terbaik untukku menenangkan pikiranku. Aku sesekali melirik ke arah keduanya. Lalu membenamkan lagi pemikiranku pada masalah yang siap aku ambil resikonya. Soal kepindahanku dan Amy. Aku memang sudah terbiasa berpindah-pindah, baik dalam sekolah ataupun tempat tinggal. Tapi Amy, ini pertama kalinya aku melihat dia mempunyai teman-teman yang begitu peduli padanya. Tidak termasuk si bocah tengik. Titik.


"Sepertinya aku hanya bisa mengambil pilihan itu." gumamku yang tanpa sadar memencet dial up telp nomernya Amy. Untuk beberapa saat aku hanya bisa memandangi panggilan itu dalam lamunanku.


Seberapa lelah aku nantinya, itu adalah bentuk tanggung jawab dari omonganku terhadap Amy. Amy yang beranjak pergi dari tempatnya kini bersama si bocah tengik. Tidak masalah bukan, aku tetap disini sedikit lebih lama lagi. Aku kembali melirik keduanya yang mulai menuruni anak tangga.


Rasanya aku ingin. beristirahat barang sebentar disini. Hidup yang ku jalani selama ini nyatanya terlalu melelahkan. Pergi dari rumah, putus sekolah, kelaparan, luntang lantung di jalanan, sampai akhirnya aku harus bekerja di warung makan untuk bisa makan setiap harinya. Hidupku sangat di penuhi oleh begitu banyak tanggung jawab semenjak aku memutuskan pergi dari rumah 3 tahun yang lalu.


Apakah setelah ini semuanya akan menjadi lebih baik? Hanya akan ada aku dan Amy dalam rumah itu setelah ini. Rumah yang menjadi awal penderitaan kami juga akan ku jadikan rumah terakhir kami menemukan kebahagiaan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2