Mirror!

Mirror!
Amyra: Aneh.


__ADS_3

Aku baru saja sampai di persimpangan begitu tahu-tahu Reihan sudah menyapaku. Rasanya kaget bercampur bingung. Terlebih dengan kejadian yang dilihatnya kemarin di rumahku.


"Pagi.." balasku pada sapaannya yang tersenyum dengan begitu cerah. Kenapa dia selalu memiliki senyum secerah itu??


"Gue kira lo nggak bakalan sekolah?!"


Aku menggeleng pelan.


"Bagus deh!" ujarnya. "Jadi gue nggak usah bolos hari ini! Dan lo nggak akan duduk sendirian nanti dikelas!"


Mendengar ocehannya, reflek aku menjawab dengan sedikit melirik kearahnya.


"Aku sering duduk sendirian dikelas?!"


"Yaah! Gue kan jarang bolos belakangan!" jawabku sekenannya.


Menanggapi itu, aku hanya mengangguk. Menarik tali tasku, lalu melanjutkan langkahku menuju sekolah.


"Hey, Amy! Tungguin gue!!"


Reflek, aku berbalik melihat kearahnya. Jarang sekali dia memanggil seperti itu. Aku menatapnya.


"Ada apa?!" tanyaku. Awalnya ingin menunggu dia yang jalan mendekat, tapi melihat Angga. Keberanian yang ku punya untuk menghadapi dunia langsung runtuh saat Angga menatapku dengan mata tajamnya.


"Hey! Lo kenapa!"


Kata-kata itulah yang terakhir ku dengar dari Reihan saat dia menepuk pundak ku dengan semangatnya.


Sakit.... Rasanya perih. Satu pukulan lagi ku dapat setelah kepulangan Angga dan Reihan kemarin malam. Pukulan yang tidak disengaja. Karena awalnya lemparan itu harusnya tidak ku terima kalau aku tidak pergi mengambil air ke dapur.


Ku usap bahu ku perlahan. Mencoba meredakan rasa perih yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhku.


Memasuki halaman sekolah, aku melihatnya lagi. Reihan yang baru saja aku tinggalkan di jalanan dekat gerbang masuk sekolah. Dia sedang tidak menggunakan jas sekolahnya dan kembali menggunakan kaca mata tipis. Aku menatapnya heran. Begitu pun sosoknya yang tengah berbicara dengan seseorang memalui hpnya.


Melewati sosoknya begitu saja, Reihan sempat melihatku dengan seksama sebelum akhirnya kami hanya saling berpapasan begitu saja. Aku menuju lorong kelas, sementara dia berbalik menuju ruang Osis. Aku memperhatikan langkahnya. Di depan ruangan Osis, setelah berbicara sebentar dengan salah satu senior, dia berbelok menuju jalanan yang sudah ditutupi oleh tembok karena rubuhnya penyangga jalan rahasia yang pernah berada disana.

__ADS_1


"Lo mau bolos??" tanya Siska tiba-tiba.


Aku menggeleng menatap wajahnya. Wajahnya yang benar-benar terlihat penasaran. Awalnya. Karena tiba-tiba dia mengkeret dengan wajah pucat mendapati sosok lain tengah berdiri tepat di belakangku. Aku mengenal hawa ini.


"Gue perlu bicara!" ujar Angga. Tatapannya langsung mengarah pada Siska. "Berdua!"


Mendengar itu, Siska langsung berbalik pergi dengan takut-takut. Dia memang menakutkan. Aku menunduk. Sudah tidak bisa lari kemanapun lagi. Mungkin memang harus ku hadapi.


Lama tertegun, Angga menatap dan menelisik ke setiap bagian tubuhku. Melihat bagian bahu dan lenganku yang coba ku sembunyikan dengan menggunakan seragam berlengan panjang.


"Nggak gerah terus-terusan menggunakan seragam lengan panjang begitu?!"


Aku menggeleng. Tetap tidak berani menatapnya. Terlalu menakutkan. Bulu kudukku pun kini sampai berdiri.


"Ini!" Sembari memasukan sesuatu ke dalam tasku, Angga berjalan melewati ku begitu saja. "Sudah bel masuk. Lo bukan anak yang suka bolos, bukan?!"


Aku terdiam. Bukan hanya karena melihat apa yang dia masukan ke dalam tasku. Tapi juga karena mendengarnya mengucapkan kata bolos. Kenapa pagi-pagi aku sudah mendengar kata itu dari orang-orang diwaktu yang hampir bersamaan.


Aku membuang pandangan ke sekeliling. Mendapati lorong sudah mulai sepi, aku bergegas masuk ke dalam kelas. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kelas, aku kembali melihat jalanan itu. Gang kecil disamping ruang Osis. Aku berharap Reihan dikelas hari ini. Aku ingin mengatakan terima kasih untuk kata-katanya pada ayahku hari kemarin. Kenapa tadi aku melupakan itu saat bertemu dengannya di persimpangan??


Di kantin sekolah aku yang sudah berhasil membeli roti dan teh poci, bergegas menuju lorong kelas begitu mendengar bel tanda masuk berbunyi. Saking tidak memperhatikannya langkah itu, aku tanpa sengaja menabrak seorang siswa lain. Bukan sekedar siswa, dia seniorku disekolah juga sosok ketua Osis sekolah.


"Maaf! Maaf!" ujar ku reflek dengan kedua tangan masing-masing memegang roti dan teh poci dalam kemasan gelas.


Aku tidak berani memandang ketua Osis sekolahku karena kejadian waktu itu. Kejadian dimana aku dan Reihan hampir ditimpa oleh tiang penyangga jalan rahasia sekolah. Dan yang membantu kami lolos dari insiden waktu itu adalah Ketua Osis. Harusnya aku mengucapkan terima kasih. Tapi rasanya sudah sangat lama. Aku sedikit malu kalau mengucapkannya di situasi seperti ini.


"Ceroboh!" ujarnya dengan suara yang terdengar tidak begitu asing di telingaku.


Suaranya mirip suara Reihan. Waktu kejadian itu juga. Untuk sesaat, aku mengira Reihan yang berbicara waktu itu, kalau aku tidak mengingat posisi kami dengan baik.


"Ke kelas sana! Udah bel!" tambahnya lagi.


Begitu aku mempunyai keberanian untuk melihat kearahnya, ketua Osis yang sampai detik ini tidak ku tahu wajah ataupun namanya, sudah berjalan membelakangi ku. Kini yang bisa ku pandangi hanya belakang punggungnya yang tidak bisa aku lupakan sepanjang hari itu. Bukan hanya sepanjang hari itu saja. Untuk seterusnya, aku merasa terbayang-bayang oleh punggung belakang ketua Osis. Ada apa dengan ku??


Pagi berikutnya, aku melihat punggung yang sama. Dengan perawakan yang sama dan sedang berbicara dengan Raka. Aku memang melihat beberapa kali Raka mengobrol dengan ketua Osis. Mungkin Raka memang masuk sebagai kandidat calon pengurus Osis karena semua talenta dan kemampuannya.

__ADS_1


Namun bukan karena hal itu, kini aku terheran-heran dengan kenyataan yang ada didepan mataku. Tapi sosok ketua Osis begitu berbalik dan menyapaku dengan senyumnya yang ceria.


"Reihan??"


Sosok itu bukanlah ketua Osis. Mungkin hanya bayanganku saja.


Lalu di jam istirahat, aku melihat lagi sosok itu. Sosok ketua Osis sekolah kami. Aku tidak akan tertipu seperti pagi ini, sampai mengira Reihan adalah si ketua Osis. Setidaknya sekarang Ketua Osis menggunakan jas keanggotaannya sebagai pengurus Osis.


Kali ini dia tengah berdiri beberapa meter di hadapanku. Tepatnya didepan penjaga kantin yang sedang menerima pesanan makanannya. Berpikir mungkin ini waktu yang baik untuk meminta maaf dan berterima kasih dengan cara yang lebih baik, aku memberanikan diri sedikit lebih dekat dengan sosoknya. Dengan pemilik punggung yang ada di bayanganku. Tapi rasanya sedikit berbeda ketika benar-benar ku perhatikan sosoknya itu dari belakang.


"Apa aku salah orang?!" gumamku.


"Ya?!" sosok di hadapanku itu kini sedikit membungkuk untuk menatap langsung ke arahku. Menatapku yang dibuatnya begitu kaget dan tidak percaya.


Bagaimana mungkin???


"Reihan?!" ujar ku dengan mengerjapkan mataku beberapa kali. Apa aku salah? Kenapa Reihan menggunakan jas Osis? Label ketua Osis pula?!


"Kenapa dengan Reihan?!" tanyanya dengan senyuman yang terasa asing.


Senyum dari wajah yang sama. Tapi melihat sikapnya di hadapanku kini, aku meyakini seperti bertemu Reihan dengan versinya yang berbeda. Tapi dia tetap saja Reihan. Orang yang sama.


"Bukan apa-apa!" jawabku.


"Gue tahu, nggak sepantasnya gue menanyakan ini," ujarnya dengan nada yang terdengar tidak seperti Reihan yang biasa. "Tapi, bagaimana bekas luka memar lo?!"


Di tanyakan hal itu, pikiranku langsung meluncur pada tiga malam yang lalu. Saat Reihan melihat keadaanku di rumah. Apa dia menyadari aku kembali mendapatkan pukulan?? Tapi lusa dan kemarin dia tidak terlihat ingin menanyakan hal ini padaku? Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti akan diadili??!


Aku menggeleng karena pikiranku yang sedang kemana-mana, lalu mengangguk cepat untuk memberikan Reihan jawaban untuk mengurangi rasa ingin tahu yang biasanya dia miliki.


"Reihan mungkin susah dikasi tahu, tapi kalau ada apa-apa, lo bisa bergantung padanya! Dia bisa diandalkan!"


Kalimat Reihan itu terus menganggu pikiranku sepanjang hari itu disekolah. Bahkan begitu aku dan dia sedang duduk untuk mengikuti pembelajaran, aku kehilangan konsentrasi karena memikirkannya. Seperti dua pribadi yang berbeda pada tubuh satu orang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2