
"Bisa-bisanya gue terprovokasi oleh Angga hanya karena omongannya itu!" gerutu Reihan kesal sepanjang perjalanan pulang.
"Maaf."
"Kenapa gue harus peduli dengan omongannya!"
"Maaf."
"Kalo dia mau pindah ya pindah saja. Kenapa gue termakan omongannya! Sial." umpat Reihan untuk kesekian kalinya.
"Iya, maaf!" suara pekikan itu datang dariku yang langsung berhenti tepat di hadapan Reihan untuk mengatakan maaf yang sudah kesekian kalinya.
"Kenapa lo yang minta maaf!" sentak Reihan kembali meluapkan kekesalannya akan sikapku yang meminta maaf padahal hal yang terjadi bukan salahku.
"Karena Angga..."
"Kenapa dengan Angga?! Kenapa lo harus minta maaf untuk dia! Lo segitu terikatnya dengan dia. Sampai lo pindah, dia juga harus pindah ikut sama lo! Nggak punya pendirian banget sih lo jadi perempuan! Bukannya lo udah ada gue yang jadi pacar lo! Masih butuh cowok lain lagi! Enek gue sama perempuan kaya lo!" suara Reihan cukup menusuk ke dalam hatiku. Rasanya sangat sakit mendengar semuanya omongannya kini.
"Maaf!" ucapku sebelum akhirnya ku putuskan berhenti mengikuti langkah Reihan. Berhenti mengikuti dia untuk pulang ke rumahnya dan aku kembali bekerja di Pustaka.
"Kenapa berhenti disana!" hardik Reihan sekali lagi dengan penuh emosi. "Lo nggak niat kerja ke Pustaka! Nyokap gue nunggu!"
Dengan gelagapan aku mengangguk lalu berlari mendahului langkah Reihan. Aku akhirnya mengatur jarak sejauh mungkin dari sosok itu. Menahan air mata yang setidaknya sudah ku tahan-tahan sejak pertama mendengar teriakan Reihan padaku. Tumben-tumbennya Raka dan Joe tidak pulang bersama kami. Biasanya selalu berangan. Kemana mereka? Setidaknya mereka bisa menenangkan Reihan dengan keadaannya saat ini.
Tepat di depan Pustaka, tanpa banyak bicara aku langsung masuk dan menyapa Raina. Berganti pakaian, lalu melakukan pekerjaanku.
"Lo bertengkar dengan si Api?" Raina menatapku yang tertunduk untuk kesekian kalinya saat Reihan beberapa kali melewati kaca belakang Pustaka.
Aku mengangguk kecil, kemudian menggeleng cepat. Melihat ekspresi itu, Raina memandang keluar pintu kaca Pustaka. Melengokkan kepalanya seperti bebek yang ingin memastikan sesuatu.
"Dia ada ngamuk yah?"
Mendengar itu, aku langsung menatap Raina dengan tatapan takut-takut tapi juga tidak mengerti aku harus menjelaskan seperti apa.
Raina menghela nafas sejenak. "Dia menyeramkan yah?"
Aku tertunduk lagi saat Raina menanyakan hal itu. Kedua kalinya Raina menghela nafas.
"Rei tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada siapapun." ujar Raina. "Dirumah, dia selalu nampak yang paling ceria dan tanpa beban. Padahal, dia mungkin yang paling memendam banyak emosi."
__ADS_1
"Apa dia pernah marah sebelumnya?"
"Dulu..." Raina menunduk. "Dulu kami semua tidak tahu kalau Rei menyukai gadis yang menjadi temannya. Dan dengan seenaknya kami menjodohkan gadis yang disukainya itu dengan sahabat terdekat Rei.."
"Siapa?" tanyaku penasaran. Sahabat Reihan yang ku kenal hanya Raka dan Ditya.
"Namanya Joe Dia sekarang bersekolah di luar negeri ikut orang tuanya."
"Saat tahu teman yang dia sukai itu jalan bersama sahabatnya, dia merasa benar-benar dipermainkan. Dan mengamuk tidak jelas." jelas Raina lagi. "Waktu itu kami tidak tahu alasannya kenapa dia sampai mengamuk. Kami baru tahu setelah gadis itu mau pindah menyusul sahabatnya Rei keluar negeri."
Mendengar cerita itu, rasanya sakit. Dadaku sesak, tapi rasa penasaran yang ku punya tentang teman yang Reihan sukai mengalahkan semua rasa yang ku punya.
"Rain,, apa gadis itu cinta pertamanya Reihan?"
Raina mengangguk kecil.
"Mereka sudah berteman sejak kecil. Dan dari semua foto masa anak-anak yang ada di album, Reihan selalu memiliki tatapan yang berbeda terhadap temannya itu. Karena itu, kami mengetahui alasan di balik marahnya Reihan kala itu."
"Rain." tegur Aray yang baru pulang dari kegiatan Osisnya.
"Ups!" Raina langsung menatapku dengan getir. "Maaf, Amy."
Raina tersenyum kuda menyambut keberadaan Reihan. Aray langsung menguap serta mengusap belakang kepalanya dan berkata lelah serta ingin beristirahat.
"Gue ada urusan!" ujar Raina yang berangsur pergi dari depan meja kasir Pustaka. Menyisakan aku dan Reihan yang saling menatap canggung.
"Ini!" ucap Reihan setelah kami berdiam diri cukup lama. Dia menyodorkan ice lemon tea yang dibawanya untukku. "Minumnya sebelum esnya mencair semua."
"Terima kasih."
"Nggak perlu." jawab Reihan. "Harusnya gue meminta maaf karena nggak sadar udah ngebentak lo tadi."
Aku menunduk. Jangan diingatkan lagi. Aku takut dengan hal itu.
Aku mengangguk pelan.
"Tatap gue coba!" pintanya. Tapi di telingaku, itu terdengar seperti perintah bernada tegas.
Dengan menguatkan diri, aku menatap Reihan yang memandangku dengan begitu menenangkan. Menatap langsung bola matanya membuat jantungku rasanya kembali mau copot dan berpindah dari tempatnya.
__ADS_1
"Maaf yah!" ucapnya menepuk kepalaku dengan lembut. Selain tindakannya, ucapannya tidak kalah lembutnya. Membuat semua rasa takutku sirna begitu saja. "Jangan lupa minum esnya. Buatanku sendiri." tambahnya berujar bangga.
Aku mengangguk. Rasanya sangat senang dengan Reihan yang seperti ini. Sangat lembut dan mendebarkan. Tapi disaat yang bersamaan juga terasa begitu menyakitkan untuk dipikirkan. Terlebih saat Clara tiba-tiba masuk ke dalam Pustaka dan menyapa Raina dengan ceria.
"Rainaaa..."
"Clara...??" Raina nampak tidak percaya. Mungkin karena baru saja menceritakan kisah Reihan padaku, Raina jadi nampak speechless dengan keadaan yang datang padanya.
"Long time no see... Udah gede aja baru setahun di tinggal!"
"Iya dong." jawab Raina. "Masa nggak tumbuh-tumbuh sih."
"Rei ada?" tanya Clara pada Raina sembari melirik ke arahku.
"Lo kerja disini?" tanya Clara tidak percaya begitu aku mencoba tersenyum padanya. "Tidak masalah." ucapnya kemudian pergi ke belakang pustaka dan menemui Reihan yang terdiam sejenak melihat sosok Clara datang bertamu ke rumahnya.
Dari kejauhan aku hanya bisa melirik sedikit ke arah belakang. Berharap Reihan ada lewat dan bukannya asyik mengobrol bersama Clara. Aku tidak suka dan rasanya membenci hal itu. Untuk menguatkan diri, ku tepuk-tepuk pipiku dengan kedua tangan. Tidak boleh. Aku tidak boleh terbawa perasaan ini lebih jauh dan lebih dalam lagi. Ingat, Amy. Reihan menjadikanmu pacarnya hanya untuk ngejaga kamu dari Angga. Angga yang dulu kamu takutkan dan sekarang sudah berubah baik dan kembali lagi ke rumah untuk menjagamu.
"Benar. Aku sudah mempunyai Angga!"
Tepat saat selesai mengatakan hal itu, Reihan menatap kesal tepat di depanku. Dia membawa sepiring kue dengan buah stroberi, kiwi, dan blueberry diatasnya.
"Kenapa?" tanyaku kaget bercampur takut melihat caranya menatapku.
"Apa lo ingin mengakhiri hubungan pacaran yang kita jalani karena sudah memiliki Angga di hidup lo?"
Nada suara yang begitu dingin, ketus, dan juga tegas. Mendengar itu, aku reflek menggeleng. Setelah mendapat jawaban itu, Reihan meletakkan kue itu diatas meja kasir tanpa mengatakan hal apapun. Sebelum Reihan kembali ke dalam rumahnya, entah apa yang membuatku begitu berani, aku malah menahan Reihan dengan menarik tangannya.
"Jangan kesana lagi!" ucapku.
"Kenapa?"
Tidak memberikan jawaban apapun, Reihan berbalik dan menepis perlahan tanganku yang menahannya. Rasanya aku seperti dibuang oleh Reihan begitu saja dengan perlakuannya ini. Lalu, aku juga kenapa menjadi begitu picik. Reihan, dia pantas bahagia dan bersama dengan cinta pertamanya. Lalu untuk apa aku menghalangi mereka.
"Maaf!" ucapku yang langsung terduduk diam dimeja kasir.
"Gue nggak lama kok!" ucapan Reihan yang sambil mengelus rambutku langsung membuatku terdiam. Ada perasaan lega yang langsung menjalar di seluruh tubuhku dengan tindakan kecilnya itu. Tapi dalam kesadaran yang masih ku miliki, aku menyadari tidak seharusnya aku menghalangi Reihan. Toh aku akan pindah sekolah dan kami tidak akan bertemu lagi.
...***...
__ADS_1