
Hari minggu yang begitu membosankan.
Itu pikirku ketika membuka mata pagi ini. Tidak banyak yang bisa ku ingat selain catatan-catatan kecil pada buku milik Amyra Rashita yang menjadi teman sebangku ku. Catatan yang seharusnya tidak ku baca, tapi aku menyukai setiap guratan yang ada. Tulisannya rapi. Lukisan pensil yang terselip diantara setiap halaman buku juga nampak indah. Lukisan yang entah kenapa kalau di warnai, akan menghilangkan keindahannya.
Aku keluar kamar dengan santai begitu mendengar suara bel dari pintu pagar rumah. Menggunakan kaos putih oblong dengan celana bokser hitam polos. Cukup sopan kalau seandainya aku harus menyambut orang di pagi hari. Kecuali kondisi dimana aku yang belum mandi. Bel didepan pagar sudah berbunyi beberapa kali. Seharusnya ada orang di rumah, kecuali mereka semua mendadak ada urusan dan tidak memberitahukannya padaku.
Aku melirik ke setiap ruangan, memang rumah ini sedang dalam keadaan kosong.
"Kemana perginya semua orang?"
Aku melirik jam dan melihat baru jam 8 pagi. Ayah seharusnya hari ini libur, Aray dan Raina juga. Ibu apalagi. Usahanya sudah di jaga oleh karyawannya yang merupakan anak SMA. Teman sebangku ku.
Membuka pintu pagar, aku langsung bertatapan mata dengan sosok yang baru saja aku pikirkan.
"Hay!" sapa ku untuk menghilangkan rasa kaget ku dengan keadaan pagi tidak biasa di hari minggu ini.
"Selamat pagi." balasnya. Rasanya aku menjitak gadis di hadapanku ini. Membuatku merasa salah ucap saja.
"Pagi." balasku akhirnya. "Ada apa pagi-pagi udah ke rumah?"
"Diminta ibu untuk ambil kunci Pustaka." jawabnya. Terbesit sebuah kejahilan di benakku dengan ucapannya itu.
"Ibu siapa maksud lo?"
"Ibu mu.." jawabnya.
"Lagi nggak dirumah!" jawabku bercanda. Lalu hasil dari becandaanku mendapat tatapan lurus-lurus darinya. Matanya berkedip sesekali.
"Sudah dikasi tahu." ujarnya lagi. "Karena itu aku diminta mencarinya ke rumah. Katanya aku bisa minta kuncinya sama kamu."
"Begitu kah?" tanyaku. "Kenapa tidak ada yang menyampaikan apapun yah?!"
Aku menggaruk kepala lalu berbalik karena setiap candaanku hanya mendapatkan jawaban yang begitu polosnya dari Amy. Tidak tega aku melanjutkan becandaan ku. Walau sebenarnya ada yang membuatku penasaran begitu aku menyerahkan kuncinya pada Amy.
"Kemarin lo dimarahi?" tanyaku yang langsung menarik kembali kunci yang sudah sempat berpindah ke atas tangan Amy itu.
__ADS_1
Dia menggeleng pelan. Lalu tersenyum simpul sambil menengadahkan telapak tangannya untuk meminta kunci yang ku pegang.
"Beneran nggak dimarahi?" tanyaku menyelidik.
"Iya. Tidak dimarahi." jawab Amy lagi. Dia menunduk sejenak, lalu kembali menengadahkan tangannya kepada ku. "Kuncinya!" pintanya.
"Jadi lo sebenarnya anak bebas atau gimana?!"
Tidak ada prasangka apapun saat aku menanyakan hal ini pada Amy. Hanya saja, jika memang dia tidak mempunyai batas jam malam, sia-sia saja dong aku mengkhawatirkannya kemarin. Malah sampai meminta Raka mengantarnya pulang terlebih dulu padahal jalan pulang melewati rumah Ditya dan Rahma lebih dulu.
"Ya?" Amy menunjukan wajah itu lagi. Wajah yang seakan menebak maksud dari omonganku atau dia tidak mengerti maksudku menanyakan itu.
"Apa orang tua lo nggak ngebatasin jam pulang malam lo?"
"Nggak!" jawabnya. "Aku punya jam malam ku sendiri."
"Jam berapa?" Aku menatap curiga.
"Jam pulang dari Pustaka."
"Kalau dari orang tua lo?"
"Tidak!" jawabnya juga. "Aku tidak tahu."
Jawaban Amy itu langsung menenggelamkan pikiranku. Terlebih ketika dia dengan berani merampas kunci itu dari tanganku saat aku lengah.
"Terima kasih."
Setelah mengatakan itu, Amy langsung berjalan memutar menuju jalanan utama untuk segera membuka Pustaka dari pintu depan.
"Gue punya akses pintu belakang." gumamku yang langsung masuk ke dalam pustaka dengan akses yang terhubung dengan halaman rumahku. Ibuku memang keren. Membuat desain rumah yang begini menyenangkan untuk dinikmati setiap aksesnya. Ayahku juga tak kalah hebat dengan idenya yang menjadikan rumah dan tempat usaha ibuku menjadi satu. Cukup efesien.
Begitu membuka pintunya dan berjalan menuju kasiran, aku menatap Amy yang melewati ku begitu saja. Juga saat Amy mulai mengelap meja kasir, meletakkan buku-buku yang di kembalikan di jam malam kemarin. Menyapu dan mengepel lantai, menata meja baca dibeberapa sudut Pustaka, juga saat Amy bersiap mengangkat seperangkat meja dan kursi yang biasa dipajang di halaman depan Pustaka. Meja dan kursi tempatku biasa menghabiskan waktu untuk menarik beberapa remaja seusia kami untuk sekedar mampir membaca buku.
"Lo harusnya minta bantuan gue untuk ini!" kataku saat menahan sebuah kursi yang hampir jatuh dan menimpa kaki gadis malang ini.
__ADS_1
"Terima kasih." jawabnya.
"Untuk apa?"
"Untuk membantuku mengangkat meja dan kursi ini." jawabnya polos.
"Sama-sama." jawabku yang langsung melakukan bagian yang sejak dulu menjadi tugasku sebagai salah satu anak pemilik Pustaka.
Walau sudah mengatakan aku akan melakukannya, Amy masih tetap membantu mengangkat lima dari delapan kursi yang ada.
"Lo nggak usah repot lagi!" ujarku. "Gue biasa ngelakuin ini pagi-pagi."
"Supaya menghemat waktu!" jawabnya. "Lagian kerjaan ku yang lain sudah selesai."
Aku melihat ke dalam pustaka. Lalu melihat bayanganku dengan pakaian yang berbanding terbalik dengan yang ku pakai saat ini. Juga topi abu-abu yang digunakannya dengan membalik posisi depan topi.
"Ok. Selamat bekerja." ucapku yang melengos secepatnya ke dalam rumah melalui akses pintu belakang pustaka. Berharap Amy tidak melihat sosok Aray yang berseberangan denganku saat aku dan Amy melihat satu arah yang sama.
"Lo ngagetin aja, bang!"
"Kaget? Apa takut ketahuan??" goda Raina yang langsung tersenyum lebar selebar-lebarnya karena mengetahui maksud dari kata-kata yang ku ucapkan pada Aray.
"Ikut campur aja lo, bocah!"
Mentoyor kepala Raina, aku langsung berdiam diri ketika Raina menyapa ke arah belakangku dengan menyebut nama Amy.
"Pagi, Amy!" senyum Raina sumbringah.
Aku langsung bermaksud menjelaskan tentang Aray yang hanya berdiam diri menatap ke arah belakangku. Berharap Amy tidak merasa di permainkan dengan hal ini. Karena aku tidak pernah mengatakan kalau kakakku itu adalah kembaranku beda usia 5 menit.
"Baru pulang dari pasar, bu?"
Sambungan kalimat Aray itu membuatku langsung menatap jengkel pada Raina. Yang dimana Raina malah langsung tertawa terbahak-bahak. Karena Amy yang di sapa Raina, bukanlah Amy yang yang sedang menjaga pustaka untuk bekerja hari ini. Melainkan sedang menyapa Ibu kami. Ya. Ibuku juga bernama Amy. Ayura Amyra Rastanti.
"Sialan lo!" teriakku yang langsung berlari mengejar Raina. Dia dengan segera berlari melompati pagar halaman ketika menyadari aku bersiap untuk mengejarnya karena sudah mengerjai ku.
__ADS_1
Ternyata. Pagi ini menjadi hari minggu yang cukup menyenangkan untuk ku lewati. Sisanya aku hanya bermalas-malasan di rumah dan sesekali datang ke pustaka untuk sekedar menghabiskan sedikit waktu bersama Raka yang berkunjung dengan pacar barunya yang entah pacarnya yang ke berapa.
...***...