Mirror!

Mirror!
Aray : Aku pasti bertanggung jawab.


__ADS_3

Setelah semua kehebohan yang terjadi, aku baru menyadari seberapa seringnya aku membuat Reihan dalam masalah hanya karena menggantikan ku menjadi ketua Osis untuk mewakili rapat. Bukan Reihan salah mengambil keputusan atau bertindak arogan selagi menggantikan ku, tapi dia selalu terkena masalah yang membuat dirinya menjadi tertuduh dan tidak bisa mengelak sedikitpun. Sekali lagi, semua terjadi karena keegoisanku memintanya menggantikan ku untuk memberiku ruang dengan permasalah pribadiku.


Dulu kejadian seperti ini juga pernah terjadi. Kejadian yang membuat Reihan di jauhi teman-temannya karena tuduhan palsu yang jatuh pada dirinya karena tidak bisa menjelaskan posisiku yang sebenarnya pada awak media. Kenapa aku tidak pernah belajar apapun dari kejadian itu! Dan sekarang hal yang hampir sama terulang lagi. Kali ini, aku akan mempertanggung jawabkan bagianku. Tidak akan ku biarkan Reihan menanggung hal apa yang bukan dia lakukan.


Aku baru bermaksud untuk menelpon Reihan ketika mendapati Amy disudutkan beberapa senior di atas ku di pojokan gedung kelas sebelas.


"Kalo lo nggak terima Reihan balikan sama mantannya, nggak usah ancam-ancam orang!"


"Lo pikir wajah lugu lo ini berpengaruh pada kami yang udah tahu busuknya elo!" seorang lainnya mencoba mendorong tubuh Amy dengan cukup keras. Gadis itu hanya bisa mundur tanpa mengerti apa yang sebenarnya diomongkan oleh seniornya itu.


"Jangan pura-pura sok kalem didepan kami. Wanita dengan hati picik kaya elo itu sangat menjijikkan!"


Plak! Satu tamparan ku terima dengan lapang dada. Salahku hingga Amy menjadi sasaran bullying seniornya. lebih tepatnya gara-gara si penebar vidio yang memiliki tujuan lain di balik aksinya itu. Terlalu berani mengusik ku dan Reihan. Terlebih mengusik orang-orang yang sudah kami pilih untuk kami lindungi. Keterlaluan.


"Aray!!" ucap ketiganya serentak.


"Lo ngapain belain dia!" ujar si rambut pendek. "Dia udah ngerusak nama kembaran lo."


"Darimana kalian tahu dia yang ngelakuin itu?" tanyaku dengan wajah super dingin. Tatapan mata lurus dan tajam. "Apa kalian melihat secara langsung kejadian itu?! Apa kalian berada disana saat itu?!"


Mendengar cecar pertanyaan yang ku ajukan, mereka lalu memalingkan wajahnya sembari pergi menjauh sambil berkeluh kesah.


"Apaan sih!" keluh dua diantara ketiganya.


"Lo nggak apa-apa Mi?" tanyaku. Gadis di hadapanku ini hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia tertunduk dengan sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Aku nggak apa-apa." jawabnya. Mengetahui apa yang pernah Amy alami, membuatku merasa benar-benar harus segera menemukan pelaku perekam vidio yang menautkannya pada akun sosial media milik Amy. Selain itu aku juga harus mencari apa maksud dan tujuan dia melakukan hal semacam ini terhadap Amy.


"Ikut gue yah. Kita cari Reihan." ajak ku.


Sejenak Amy menatapku dalam diam. Tatapan matanya gamang. Lalu sedetik kemudian dia mengangguk pelan.


Langkahku sudah pasti menuju jalanan rahasia di belakang gedung kelas sepuluh. Diikuti Amy, aku menuntun jalanan kami yang sempat  terhenti sejenak karena mendapat telepon dari Jihan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Bolos yuk!" ajak suara diseberang. "Di Warung belakang gedung kelas sepuluh."


"Gue udah disini." jawab Reihan karena telepon ini menggunakan conference.

__ADS_1


"Perlu ajak Amy." balas suara Jihan.


"Lagi sama gue." jawabku santai yang melirik Amy yang semakin terdiam setelah menerima perundungan dari seniornya barusan.


"Jaga ya, Ray! Awas lecet." ancam Reihan sembari mematikan teleponnya.


"Lima menit lagi gue sampai." ujar Jihan.


"Ayo Mi!" ajak ku lagi. "Yang lain sudah menunggu."


Tidak perlu waktu semenit, Aku dan Amy sudah masuk ke dalam sebuah warung makan yang nampak seperti warung tidak terurus dari depan, tetapi begitu memasuki area dalam, kalian akan mendapati tatanan meja bak tempat-tempat tongkrongan kelas elit. Si penjaga bilang sih ini rumahnya, jadi suka-suka dia mau dibuat seperti apa tatanannya.


"Jihan gimana?" tanyaku yang sudah menarik satu kursi untuk Amy. Tapi Reihan malah menarik gadis itu untuk duduk disampingnya.


"Disini aja." ujar Reihan. Dan dari pergerakan yang aku lihat, Amy sedikit menggeser tempatnya duduk dan hal itu disadari oleh Reihan. "Jihan datang." ucapnya membalas sapaan basa-basi ku.


"Berempat aja?" sapa Jihan yang juga sama basa-basi nya.


"Berdelapan!!" jawab kompak Raka, Ditya, dan dua gadis lainnya dari meja di balik tempat ku duduk.


"Urusan Amy, urusan kami juga. Jadi kami ikut." ujar gadis berponi dora yang langsung menggeser posisi Amy untuk duduk mendekati Reihan.


"Benar." jawab yang satunya. "Gue muak dengar berita nggak jelas yang beredar diluar kelas kami." celetuknya yang kali ini menggeser posisi ku.


"Gue juga." tambah Reihan yang mencuri kesempatan menggenggam tangan gadis malang itu. Mengusap-usap tangannya lalu tersenyum dengan ringannya. Dasar Reihan.


"So..." Jihan mulai menatap tegas. "Gue perlu alibi jelas lo berdua disana." Jihan menatap Amy dan Reihan.


"Gue sedang memeluk Clara waktu itu." jawabnya jahil menatap langsung ke arah Amy. Gadis itu kembali tertunduk. Menarik tangannya yang digenggam oleh Reihan lalu memilih diam. Sementara dua gadis lainnya yang membela Amy langsung melotot melihat ke arah Reihan yang cengar-cengir tidak jelas.


Disini Reihan memang pantas bergembira, dia menang atas perasaannya terhadap Amy.


"Amy?" tanya Jihan.


"Aku... aku sedang.." Amy menarik nafasnya sejenak. "Aku hanya sedang lewat." jawabnya kemudian.


Mendengar jawaban Amy, Reihan lalu menepuk kepala gadis itu. "Itu bukan gue kok." ujar Reihan lalu fokus kembali ke Jihan. Bisa ku lihat Amy sempat melirik Reihan setelah Reihan mengatakan kebenarannya pada Amy. Kebenaran kalau yang saat itu sedang berada di uks itu bukanlah dirinya tapi aku dan Jihan. Juga vidio pendek yang ditautkan pada akunnya.


"OK. Gue udah ketemu siapa yang berkepentingan dalam kasus ini." ujar Jihan.

__ADS_1


"Cepat amat." protes Raka.


"Mau gimana lagi" jawab Jihan santai. Tapi aku yakin dia sudah meyakini itu bahkan sampai 1000% kalau ada.


"Lalu kita disini sekarang ngapain?" tanya Ditya. "Cerita gue gimana?"


"Justru kita disini untuk cerita lo, Dit." jawab Jihan.


"Back to rencana awal?" tanya Reihan.


"Dengan pemeran utama yang berbeda." sambung ku yang sudah membaca langkah Jihan.


"Who?"


"Si pemeran utama." jawabku mengulangi nada bicara Bu Shanti sabtu siang kemarin.


"Tunggu!" sentak gadis berponi dora disamping Amy. "Ini maksudnya apaan sih?"


"Yang gue ceritain tadi itu Siska." ujar Ditya ke gadis itu.


"Ooooo" tanggap gadis yang dipanggil Siska itu. "Aku dan Rahma siap membantu."


"Jadi lo Rahma?" tanya Jihan.


"Hmm." Balas Rahma menjabat tangan Jihan.


Aku berani pastikan, Jihan melihat Rahma sebagai calon pengganti dirinya sebagai pejabat Osis.


"Masih ada lima hari sebelum waktu eksekusi." ucap Jihan. "Mulai besok, lo ikut latihan di kelas teater." tudingnya pada Reihan.


"Cih!" gerutu Reihan. "Padahal gue pengen jadi penontonnya."


"Justru lo masuk jadi makin seru, Rei." celetuk Raka dengan semua kesiapannya untuk action jika dibutuhkan.


"Jadi kelas teater di buka lagi nih?" tanya Siska antusias.


"Ya." jawab Ditya. "Mau bergabung?" tawarnya.


"Tentu." jawab Siska girang.

__ADS_1


Sedari awal kami membahas rencana yang akan dan telah kami jalankan, Amy hanya diam dan sesekali melirik ketika sebuah pembicaraan memberi petunjuk akan sesuatu atau semacamnya. Tapi yang tidak ku sangka, di dalam diamnya Amy selama kami mendiskusikan permasalahan yang menimpanya dan menyasar ke Reihan, dia malah menemukan bukti yang tidak kami sangka-sangka. Bukti yang langsung mematahkan tujuan si penyebar vidio yang menjadikan Reihan dan dirinya sendiri sebagai sasarannya.


***


__ADS_2