
Sudah beberapa kali aku berusaha menghadapi ketakutanku pada sosoknya. Dia yang terus saja memberikan rasa takut bahkan ketika aku hanya melihat bayangannya saja. Bertahun-tahun sudah aku berusaha mengenyahkan ras takutku. Menghadapi satu demi satu keadaan menyakitkan yang terus saja membuat pikiranku jatuh terpuruk. Rasa sakit yang terus datang secara berulanh ketika aku berhasil bangkit setelah berjuang pulih. Rasa yang akhirnya terasa melelahkan. Menenggelamkan pikiranku pada rasa canggung dan ketakutan berlebih.
Seperti sekarang. Sesaat setelah membuat Siska ketakutan karena salah paham, aku bukannya mengejar Siska dan menjelaskan, tetapi malah memilih bersembunyi di balik pintu kelas begitu aku melihat bayangannya. Dia yang membuatku ketakutan pagi ini. Dia yang dengan alasan pekerjaan, baru muncul kembali di sekolah setelah satu minggu lamanya. Terakhir kali pertemuan kami, aku sudah mulai berani menghadapinya, tetapi sikapnya yang dingin membuat rasa takut itu kembali menyerang. Rasanya benar-benar susah menyingkirkan rasa takut itu akan sosoknya.
Dari pintu kelas yang masih sedikit terbuka, aku mengintip Siska yang bergelayut pada tangannya. Angga nampak risih dengan hal itu, tetapi tidak terlihat terganggu dengan kepolosan yang diperlihatkan Siska. Ku rasa Angga juga akhirnya menyadari betapa polosnya Siska yang sebenarnya. Buktinya dia tetap membiarkan Siska terus berpegangan padanya sambil berjalan keluar dari lorong gedung sekolah kelas sepuluh ini.
Angga sebenarnya baik. Peduli sekali malahan. Namun tindakan terakhirnya diingatan, membuatku takut setengah mati padanya.
Melihat bayangan itu sudah menghilang di ujung lorong, aku keluar perlahan dari dalam kelas. Menutup pintu kelas dan bergegas berlari menuju ujung lorong sebelum pagar lorong itu dikunci oleh penjaga sekolah.
"Tunggu Pak!!" teriakku sembari melambai-lambai.
Dari kejauhan, dapat ku lihat satpam sekolah menyipitkan matanya lalu melambai memberikan isyarat agar aku bergegas keluar.
"Terima kasih, Pak!" ujarku ngos-ngosan. Detak jantungku akhir-akhir ini memang suka berdetak sembarangan. Kali ini karena aku berlari dengan cepat. Semalam karena aku ketakutan. Dan lusa kemarin, jantungku berdetak tidak karuan karena Reihan.
"Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya?!" gumamku sembari menoleh kearah halaman sekolah yang audah sangat sepi.
Aku melihat jam pada gedung utama bangunan sekolah dan mendapati jam menunjukan pukul setengah 2 siang lewat 15 menit.
"Aku terlambat!"
Bergegas aku berlari menuju halaman luar sekolah. Berjalan lurus dan beberapa ratus meter berikutnya aku berbelok menuju jalanan utama kota. Sudah 10 menit berlari, tapi rasanya waktu tidak akan terkejar dengan melewati lalu lalang mobil yang melaju pada simpang kota ini.
__ADS_1
"Aku terlambat!! Aku terlambat!!" gumamku panik setelah melihat setelan jam pada satu-satunya gedung tertinggi ditengah-tengah jalanan kota ini. Menunggu lampu merah berganti ke lampu hijau membuatku merasa mual seketika. Aku membenci keadaan yang menimbulkan perasaan seperti ini. Apa yang harus aku katakan nanti setelah sampai di toko.
Lampu berubah ke warna hijau. Segera aku berlari untuk menyeberangi jalanan. Memasuki jalan utama, dan berbelok pada perempatan diujung jalan utama yang ku susuri.
Langkahku langsung terhenti tepat beberapa meter diujung tujuanku. Berhenti yang benar-benar mendadak dikarenakan pemandangan yang tidak biasanya terjadi. Sebuah perkelahian antara Reihan dan....
"Angga!!!" teriakku dengan suara lantang tepat saat Angga bermaksud menghujamkan kepalan tangannya kepada Reihan yang tersungkur pada pembatas toko.
Sontak teriakan itu menarik perhatian semua orang yang berada disekitar tempat kejadian. Membuat semua tatapan mata tertuju padaku. Tak luput Reihan dan juga Angga yang masih dalam posisi perkelahian pada umumnya.
Tidak peduli dengan semua tatapan yang tertuju ke arahku, aku berlari secepat yang ku bisa untuk menarik Angga pergi dari keadaan yang tidak aku ketahui kenapa bisa ada perkelahian didepan toko tempatku bekerja.
Tidak memikirkan hal lain lagi, aku menarik Angga menjauh dari tempat itu. Rasa takutku hilang seketika melihat keadaan yang terjadi didepan mataku. Aku tidak tahu siapa yang memulai perkelahian ini. Hanya saja, aku tidak ingin Angga menyakiti orang lain dan sebaliknya. Aku tidak ingin Angga juga disakiti oleh orang lain.
"Jangan suka mencampuri urusan orang lain!" ucapnya dingin. "Pengganggu!"
Kalimat itu membuatku membeku seketika. Bayangan bocah berambut plontos dengan menggunakan kaos putih oblong dan celana pramuka itu kembali melintas di benakku. Membuatku merasakan sakit dan sesak disaat yang bersamaan. Berkali-kali aku berusaha mengatur nafasku memandangi kepergiannya. Sama seperti tiga tahun yang lalu. Tidak ada hal apapun yang bisa aku lakukan atau aku katakan untuk menghentikannya. Aku hanya menatapnya dengan rasa sakit dan nyeri yang hebat pada ulu hatiku.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?!" gumamku dengan semua kekacauan sesaat yang juga telah mengacaukan rasa panik yang aku rasakan.
Aku berbalik menatap ke arah Reihan. Reihan yang kini menatapku dengan jengkel. Juga dua temannya yang langsung membuang mukanya dariku.
Perlahan aku berjalan ke arah toko tempatku bekerja. Aku ingin bertanya apa yang terjadi pada Reihan, tapi baik Reihan ataupun ke dua temannya langsung berangsur pergi dari tempat itu. Aku juga mendapati Raina berdiri dengan wajah murung pada pintu pustaka dan masuk ke dalam toko begitu saja ketika aku sudah berada dihalaman Pustaka.
__ADS_1
Setelahnya, seharian itu Raina tidak bicara padaku. Baik karena aku terlambat atau hal apapun, Raina terlihat mengacuhkan ke beradaanku. Hal itu cukup membuatku merasakan sakit. Tapi harus ku pendam karena aku sedang bekerja. Aku tidak boleh terbawa oleh perasaan tidak enak ini.
Untuk masalah Reihan dan Angga, akan ku tanyakan esok pada Reihan. Aku tidak percaya pada Angga, karena itu, bicara pada Reihan merupakan pilihan yang jauh lebih baik untuk saat ini.
Sepanjang jam kerja, banyak kesibukan yang terjadi. Seolah semua yang datang dan pergi di Pustaka tidak terpengaruh sama sekali dengan perkelahian yang sempat terjadi.
"Raina."panggilku ketika Raina melewati meja pendaftara dengan wajah lesu. Dia tetap mengabaikan keberadaanku.
Dan jadilah, selama sisa hari itu, aku dan Raina bahkan tidak bicara hal apapun sama sekali. Sampai aku menutup Pustaka. Menyerahkan kunci Pustaka pada ibunya, Raina tetap tidak bicara sama sekali padaku.
"Saya pamit pulang dulu bu!"
"Besok nggak usah datang!"
Teriak Raina sembari membelakangiku. Rasanya sakit melihat Raina yang selama sebulan ini begitu baik terhadapku tiba-tiba mengabaikan keberadaan kita. Bahkan tidak melihat kita saat berbicara.
"Besok Pustaka tutup. Kamu bisa libur untuk besok." jelas ibu pemilik Pustaka padaku. Aku pun mengangguk mengerti.
Begitu akan menutup pintu pagar rumah, sepintas aku melihat Reihan berjalan di koridor rumah itu. Dia sudah pulang?? Padahal dari tadi aku belum melihatnya kembali. Saat menjaga pustaka, aku terus memperhatikan pintu masuk rumah ini untuk melihat apakah Reihan sudah pulang atau belum. Tapi sampai saat aku melihat dia sudah berada didalam rumahnya, aku sama sekali tidak melihat dia ada masuk ke dalam rumahnya. Mungkin rumah ini memiliki akses pintu belakang.
Ku putuskan untuk menanyakan mengenai perkelahiannya dengan Angga besok pagi. Sekalian aku meminta maaf atas namanya. Terlepas dari siapa yang salah dan siapa yang mungkin memulai perkelahian ataupun mungkin semua hanya sebuah kesalahpahaman belaka, aku tetap harus melakukannya demi Angga. Kakakku.
...***...
__ADS_1