Mirror!

Mirror!
Siska : Teman-temanku yang berharga


__ADS_3

Namaku Siska Bintoro. Nama yang tidak terlalu ku suka. Bukan karena namanya terdengar tidak bagus, tapi karena nama itu aku jadi mendapatkan julukan ratu tanpa ampun yang bisa mengacaukan hidup seseorang karena mood yang ku punya. Hey!! Kadang aku ingin protes mendengar bisik-bisik seperti itu. Tapi yah, menurut pendapat pribadiku, orang yang hanya berani berbisik dan bicara dibelakang punggungku tidak pantas untuk di ajak gelut.


Karenanya aku cukup pemilih dalam berteman. Dari SD sampai SMP, aku selalu di jauhi dan di takuti. Membuatku menjadi cukup bossy dengan teman-teman yang datang padaku karena hanya ada maunya saja. Sampai aku merasa begitu kesepian dan memilih masuk ke SMA yang biasa-biasa saja lantaran tidak terlalu tertarik dengan kehidupan yang bagiku begitu membosankan.


Untunglah di SMA ini aku bertemu dua teman yang menurutku sangat manis dengan kepribadian mereka yang unik. Yang satu namanya Rahma. Dia duduk di sebelahku dengan santainya memainkan HPnya. Lalu dihadapan kami ada Amy. Dia pendiam, tidak banyak bertingkah, tapi selalu mendapatkan perhatian khusus dari Rahma.


"Gue ke toilet sebentar yah!"


Yang barusan itu namanya Reihan. Lalu yang menyusul di belakang pemuda itu namanya Raka. Dia teman sebangku Rahma. Dan, dari cara Rahma yang selalu memperhatikan sosok Raka dalam diam, aku bisa pastikan Rahma pasti menyukai pemuda itu. Lihat saja, mata itu bahkan tidak berkedip sedikitpun begitu cowok itu pergi. Aih! Mesranya 🥰


"Nggak akh!" Aku melihat Rahma mengibaskan tangan itu dihadapannya. Pasti menghalau fantasinya yang bisa menghabiskan waktu bersama Raka. Aku memang selalu memiliki feeling yang baik soal ini.


Setelah beberapa saat yang cukup lama, aku berjalan menuju menyusul Raka dan Reihan. Bukan ke toilet sih. Hanya menuju arah yang sama. Toilet dari tempat makan ini melewati tempat yang ku tuju sekarang. Meja kasir kedai makan yang dinamai KedaBi ini.


Aku baru mendekat, begitu melihat Reihan membayar semua makanan yang kami pesan. Dia juga sempat menukarkan dua voucher makanan untuk dia bungkus. Untuk berpura-pura tidak melihat dan tidak tahu tindakan Reihan itu, aku bergegas berlari kecil menuju kamar mandi dengan melewatinya.


Karena tidak memperhatikan jalanan yang ku lewati, langkahku oleng karena ternyata tengah melompati satu anak tangga yang tidak aku lihat. Gila! Masa aku harus jatuh dengan gaya telungkup sih! Siapapun, help me please!! Tubuhku sudah condong ke bawah dan siap tertelungkup ke hadapan tepat saat sepasang tangan menahan tubuhku yang kecil dan mungil itu.


"Lo nggak apa-apa?" tanyanya dengan santai. "Liat langkah lo kalo jalan, Sil!!"


Ok. Aku terselamatkan. Terselamatkan oleh orang yang baru saja ku pandangi karena mengetahui salah satu temanku menyukainya. Aku tengadah melihat wajah penolongku itu, sebelum berusaha berdiri dengan baik.


"Ok! Tingkyu, Raka!" ujarku biasa saja.


Tapi sekali lagi, aku tersandung oleh kaki ku sendiri. Membuatku hampir terjungkal untuk yang kedua kalinya. Kali ini satu tangan Raka menahan tubuhku. Lagi.


"Baru juga gue kasi tahu!!"


"Sorry!" ucapku bercampur rasa malu.


Ingin rasanya menutupi seluruh wajahku, tapi percuma. Nanti juga aku bakalan ketemu lagi dengan cowok ini. Secara dia Raka gitu lho! Teman sebangkunya Rahma dan teman sekelas juga teman yang hari ini nongkrong disini bareng-bareng.


Saat sedang berusaha untuk berdiri lagi, ku dengar suara Rahma menyapa dari arah belakang.


"Lagi ngapain sih kalian?!"

__ADS_1


Aduh! Jangan sampai Rahma salah paham. Aku membalik badan dan berusaha tersenyum dengan santainya pada Rahma.


"Gue mau ke situ..." tuding ku ke arah toilet.


"Ya udah, ayo!" ujar Rahma yang langsung menggandeng tanganku. "Sepertinya gue kebanyakan minum es teh nih disekolah."


Dia melewati Raka dengan begitu saja. Raka pun tidak ada komentar apapun lagi. Dia hanya berlalu dari jalan menuju akses belakang tempat makan bernama KedaBi ini.


"Itu makanya! Gue sering ngingatin elo kan?! Nggak percaya sih!" gerutuku.


"Bukan nggak percaya. Secara habis olga, keringatan banyak gitu." kilahnya.


Balik dari toilet, aku sudah melihat Amy di meja kasir tengah bicara dengan seorang penjaga kasir yang menurutku berusia sangat muda.


"Apa dia tidak sekolah?"


"Siapa?" tanya Rahma melihat ke arah yang sama dengan ku.


"Ini kan namanya eksploitasi anak!"


"Berat omongan lo, Sis!"


"Sudah di bayar?" tanya Amy. "Siapa?"


Apa sudah aku kasih tahu, kalau Amy ini tipe yang harus tahu sesuatu dengan detail. Apalagi yang menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan apa yang mau dilakukannya. Dia sungguh tidak membiarkan orang lain membantunya.


"Dengan sepuluh voucher ini." jawab si penjaga kasir muda pada Amy.


Aku terkekeh dengan hal itu. Pas jatuh tadi aku emang sempat dengar Reihan meminta kasir muda itu berbohong. Ternyata berbohong masalah ini.


"Kalau sudah dibayar, berarti kita bisa pulang dong!" ujarku santai menggaet tangan


Amy. "Atau mau jalan-jalan?" tawaranku tidak langsung mendapatkan respon, baik dari Rahma atau pun Amy sendiri.


"Di sekitar sini ada pasar malam yang ingin aku kunjungi." ujarku lagi. "Tapi aku tidak ingin sendirian ke sana."

__ADS_1


Ku keluarkan jurus jitu. Muka memelas anak kecil untuk membuat mereka mau berkunjung ke pasar malam itu.


"Ada apaan lagi?" tanya Ditya yang keponya memang maksimal. "Kita mau langsung pulang?"


"Kalau mau berkunjung sih, di ujung jalanan ini ada event semacam acara pasar malam gitu..." ujar seorang senior yang beberapa kali sempat ku lihat mengobrol dengan Rahma dan Amy . "Seperti sudah mulai buka tuh!"


Rio lalu berlalu ke bagian dapur untuk menaruh semua piring dan gelas kotor pada nampan yang di bawanya.


"Gimana?" Raka memutar kunci mobilnya.


Memandangi kami satu persatu dengan tampang super licik. Aku suka caranya. Tanpa memperdulikan jawaban yang lain, aku menarik Raka untuk bergegas meninggalkan Rahma, Ditya, Reihan, dan Amy. Yang pada akhirnya, mau tidak mau, mereka pasti menyusul langkah ku dan Raka yang sudah berdiri mengantri membeli tiket masuk.


"Gitu dong!!"


Aku kembali menggaet tangan Amy. Lalu menarik Rahma untuk bergegas masuk dan membiarkan cowok-cowok yang mengurusi soal tiket dan lainnya.


Kami berkunjung ke beberapa stand di sana. Terdapat satu toko antik yang memang salah satu penjual legenda di tempat ini. Satu-satunya toko yang menjual berbagai barang antik yang membuat Amy tertarik untuk mengunjunginya. Wajahnya nampak berseri-seri melihat semua koleksi toko antik itu.


Melewati jalanan sepanjang pasar yang dipenuhi dengan berbagai stand makanan, Rahma nampak bersemangat saat menemukan area game centre ala-ala pasar malam. Tidak secanggih game yang sering ada di timezone, tapi cukup membuat Rahma menghabiskan beberapa puluh ribu uang jajannya.


Lalu di pemberhentian berikutnya, baik aku, Amy, atau pun Rahma langsung terkesima pada blok gang yang masih menjadi satu area dengan pasar malam itu. Banyak toko buku atau apapun itu yang menyerupai perpustakaan umum yang umum. Dijaga oleh bapak-bapak atau nenek berambut putih dengan kacamata dan buku bacaannya. Sungguh tempat yang keren untukku.


Keluar dari blok toko buku dengan beberapa buku incaran lama yang ku akhirnya ku dapatkan, kami melihat Reihan, Raka, dan Ditya tengah asyik berada di ujung pasar malam. Aku melihat mereka baru saja turun dari kora-kora. Perahu yang bergerak maju mundur dengan kecepatan yang membuatku cukup berpikir untuk menaikinya.


"Sudah selesai kelilingnya?" sapa Raka yang dengan jelas di tujukan pada Rahma. Namun gadis itu malah berpaling dan menatap wahana kincir dibelakangnya dengan kagum.


"Naik itu yuk?!"


Rahma langsung menarikku yang juga lanjut menarik Amy. Masuk ke tengah-tengah antrian lalu menyerahkan urusan pembelian tiket pada Reihan Cs.


Rasanya begitu puas menikmati sore menjelang malam dengan mereka. Aku sepertinya perlu melakukan hal seperti ini lagi sewaktu-waktu. Rasanya menyenangkan.


Di depan area pasar malam, aku say bye pada teman-teman karena sudah di tunggu oleh pak Bimo, sopir pribadiku. Sebelum pulang aku sempat menelpon beliau untuk menjemput ku disini. Kami benar-benar lupa waktu hari ini. Tahu-tahu saja hari sudah gelap dan menunjukan pukul setengah 9 malam.


"Daah! Sampai jumpa besok!"

__ADS_1


Berlalu.


...***...


__ADS_2