Mirror!

Mirror!
Amyra: Penuh Cerita


__ADS_3

Syukurlah ibuku tidak menanyakan perihal kedatangan Reihan yang secara tiba-tiba. Malam-malam pula dengan suara yang sedikit lebih bervolume seperti biasanya. Bukan berteriak. Hanya volume suaranya yang dibesarkan. Aku sudah sering mendengar teriakan, jadi aku bisa membedakannya dengan suara Reihan yang bervolume lebih besar dari biasanya.


Aku terduduk pada lantai disamping tempat tidurku. Tidak banyak yang bisa aku lakukan saat Reihan pulang setelah membuat suasana rumah yang dipenuhi emosi langsung sunyi senyap karena tindakannya. Tindakan tidak sengaja yang menolongku sekali lagi.


Lama termenung dengan semua kesunyian, aku kembali merasa tidak enak hati. Aku tadi menemui Reihan menggunakan baju ini. Baju putih kaos yang kebesaran. Lengan bajunya memang panjang untuk ukuran baju kaos, tetapi tidak menutupi semua bagian lengan yang selalu aku sembunyikan. Ada banyak bekas luka memar pada lenganku.


Reihan memang tidak membahas soal luka yang pernah aku dapatkan, lalu bagaimana pendapatnya setelah melihat semua ini?! Aku mengusap lenganku dengan perlahan. Memar yang terlihat memang cukup jelas, namun rasa sakitnya sudah hilang. Hanya sisa bekas yang akan hilang dalam beberapa waktu ke depan. Kecuali aku mendapatkan pukulan baru dari mereka.


Aku tidak ingin menambah luka pada tubuhku. Juga pada hati dan pikiranku. Rasanya kembali sesak mengingat pukulan-pukulan yang ku dapatkan. Segala bentuk caci maki dan perundungan dari keluargaku sendiri. Tetapi sekalipun aku tidak membenci. Aku malah mengerti mereka. Mengerti dengan kondisi mereka masing-masing.


Kedua orang tuaku menikah diusia yang sangat muda. Umur mereka kini 36 tahun. Cukup muda untuk orang tua yang sudah memiliki anak usia 18 tahun. Bukan usiaku tentu saja. Tapi usianya. Dia yang pergi tanpa pamit dan tanpa meninggalkan pesan apapun. Membuatku terjebak dengan hidup bersama kedua orang tuaku yang masih saja labil selama tiga tahun terakhir ini.


Mungkin mereka terlalu kaget karena menikah diusia muda. Tanpa tuntunan dan bimbingan sanak saudara yang bahkan tidak aku kenali siapa mereka. Lalu harus langsung memikul tanggung jawab pada masa dimana mereka harusnya menikmati masa muda. Masa yang tidak pernah mereka miliki dalam hidup mereka. Begitu menikah mereka mungkin sudah harus bekerja untuk tanggung jawab keluarga dan menjadi seorang ibu.


Aku mengerti sampai ke arah situ! Mengerti hal itu dari cerita para tetangga dan melihat langsung bagaimana setelah pertengkaran hebat yang kedua orang tua ku lakukan, mereka akhirnya kembali akur. Walau hanya untuk sesaat, itu sudah memberikan ketenangan untukku sampai detik ini.


...***...


Aku baru membuka mata setelah malam yang kembali penuh dengan banyak kemungkinan-kemungkinan. Rasanya melelahkan. Tetapi aku tidak bisa menghentikannya. Setidaknya aku tidak pernah langsung mendikte sesuatu tanpa mencari tahu dulu akar masalahnya. Hal itu cukup membuatku dijauhkan dari banyak masalah yang mungkin muncul dari setiap omongan yang tidak aku pikirkan dulu akibatnya. Tapi karena kebiasaan ini pula, banyak yang menduga kalau aku bisu.


Seperti pagi ini, aku harus terdiam dan hanya melihat seorang tengah menggeledah tas seorang pria tua yang sepertinya terlalu kelelahan. Melihat pemuda itu mengeluarkan banyak barang tanpa mengambil ataupun bermaksud mengambilnya, aku mendekati untuk bertanya adakah yang bisa aku bantu atau tidak. Alih-alih mengeluarkan suara, aku malah ditatap dengan beringas oleh pemuda itu.


"Heh! Lo ada air!" tanyanya sedikit berteriak.


Tanpa berkata apapun, segera aku menyodorkan botol air mineral yang baru aku beli sebelum aku berangkat sekolah barusan. Dia membuka botol dengan cepat, memasukan sebuah obat yang berhasil ia ambil didalam saku pria tua itu, lalu membantunya untuk meminum air tersebut.


Sejenak hening. Pria tua itu langsung batuk-batuk dan menarik nafasnya dengan cepat. Sambil memegangi dadanya, dia melihatku juga pemuda yang menolongnya dengan linglung.


"Ada apa?!" tanyanya pada pemuda yang akhirnya bernafas dengan lega melihat keadaan pria tua itu.

__ADS_1


Tidak ku hiraukan lagi keadaan yang ada setelah itu. Aku memilih bergegas berangkat ke sekolah begitu melihat pemuda itu membantu si pria tua berdiri dan meminggirkan sepedanya. Aku tidak ingin terlambat untuk ketiga kalinya.


Cukup bagiku ditolong Reihan dua kali dengan melewati akses masuk pintu samping yang kini sudah roboh dan ditutupi tembok dengan kokoh oleh pihak sekolah. Padahal kalau tidak ada kejadian itu, jalanan itu masih akan bisa digunakan oleh anak-anak yang kadang terlambat sepertiku. Melihat tembok pada tembusan jalan yang roboh itu, rasanya memang sangat disayangkan .


"Berniat bolos?" sapa Reihan dengan wajah yang begitu cerah. Senyumnya benar-benar berbeda dari kemarin-kemarin.


Aku menggeleng. Sejenak melupakan tentang kejadian kemarin, aku kembali menunduk. Seharusnya aku menghindarinya. Setidaknya, aku bisa mengatasi rasa takutku jika ditanya perihal memar pada lenganku. Aku harap dia tidak memperhatikannya. Secara kemarin tiba-tiba keningnya langsung mengkerut melihatku.


"Yaaah! Padahal kalau bolos, gue jadi ada temannya." jawab Reihan rada lemas.


"Masih pagi sudah mau bolos?!"


Aku menatapnya heran. Selama seminggu di dalam kelas, aku bisa menghitung berapa kali dia ada di kelas. Bahkan pada pelajaran-pelajaran tertentu, Reihan tidak pernah hadir sama sekali. Apa dia tidak takut nilainya jelek. Aku yang sudah belajar dengan baik saja, kadang mendapat nilai yang tidak bisa ku banggakan. Kenyataannya, memang tidak ada yang bangga pada apapun yang ada di diriku.


"Nggak juga!" jawabnya.


Dia menatapku sejenak. "Kali ini apa yang sebenarnya lo ngertiin dari omongan gue itu?"


"Ya?"


Entah apa yang tiba-tiba melintas lagi dalam pikiranku. Memangnya hal yang dia katakan susah untuk dimengerti?! Kenapa dia malah mempertanyakan hal yang sudah jelas ingin dia lakukan padaku?!


Reihan mendengus. Dia kembali melakukan hal yang tidak terpikirkan untukku. Sesuatu yang pernah membuatku menangis saat dia melakukannya untuk pertama kalinya. Dia menepuk kepalaku untuk yang ketiga kalinya.


Rasanya tidak sesakit waktu pertama kali dia melakukannya. Sakit bukan karena dia menepuk kepalaku keras-keras atau tepukan yang menyiksa, melainkan sesuatu didalam hatiku yang merasa begitu terpukul dengan perlakuannya itu. Aku tidak mempertanyakan dari mana munculnya rasa sakit itu.


Dan kini, ketika terulang lagi, rasanya malah sangat menggembirakan. Sesuatu seperti meloncat-loncat dalam perutku. Seperti letupan soda berwarna-warni yang memenuhi setiap nadi tubuhku dan menggelitik dengan begitu saja. Aku mendongak melihatnya.


Ada apa denganku?? Apakah aku sedang tidak baik-baik saja???

__ADS_1


"Mandanginnya bisa biasa saja kan?!" Reihan menjentikkan jarinya didepan mataku. "Kalo gue jadi naksir lo gimana?"


Oh Tuhan! Aku kenapa lagi. Kenapa melihat dia salah tingkah begitu, aku merasa begitu menyukainya. Perasaan macam apa ini????


"Ya?" setelah sejenak terdiam kaku, hanya kata itu yang keluar dari mulutku untuk merespon kalimat Reihan.


"Sudahlah!" ujarnya yang langsung melengos pergi.


Memandangi punggung itu cukup lama, sapaan dari arah belakang langsung menyadarkan aku dari perasaan tidak jelas yang ku rasakan.


"Pagi...." Rahma menepuk pundak ku. Sementara Siska menyambut dengan senyum yang cerah.


"Kalian beneran pacaran?" tanya Siska penasaran. "Aku kira itu hanya settingan buat ngejauhin lo dari siswa baru yang ngaku-ngaku artis itu!"


"Gue nggak ngaku-ngaku yah!" suara Angga dari arah belakang, membuat langkah kami terhenti seketika.


Siska nyengir kaku melihat ke arahku. Rahma mengangkat bahunya. Dan aku, seperti biasanya, tubuhku rasanya kembali mengkeret.


Semenjak bicara pagi itu, Angga tidak masuk sekolah karena alasan ada syuting striping yang kejar tayang. Jadi aku tidak pernah berpikir ketika dia kembali sekolah, yang menyambutnya adalah kami bertiga.


"Sorry.."


Siska berbalik dengan senyum yang dibuat senatural mungkin. Walaupun begitu, dia tetap terlihat salah tingkah dan sedikit takut saat menghadapi tatapan Angga yang memang terkenal menyeramkan. Punggungku saja bisa merasakan tajamnya tatapannya itu.


Suara langkahnya langsung membenamkan ingatanku pada sosok bocah plontos berkaos putih oblong dengan celana pramuka yang mendekat ke arahku dengan tatapan seramnya. Aku menahan nafasku saat dia dengan tidak melihatku, langsung lewat begitu saja.


Rasanya menegangkan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2