
"Gue Reihan!" ujarnya mengenalkan diri padanya. "Pacarnya!"
"Oh!" tanggapnya santai.
Melihat Reihan dan dia saling menatap tidak suka, Raka dan Ditya terlihat sama tercengangnya dengan perkataan temannya itu. Aku bahkan menatap Reihan dengan tatapan tidak percaya akan apa yang diucapkannya didepan teman-temannya.
"Ayo, Ami! Kita pulang."
Dengan sukarela aku mengikuti langkah Reihan yang menarik tanganku dengan pelan. Mengajakku menjauh dari sosoknya. Sosok yang seharusnya sama menakutkannya seperti kesan ku kepada Reihan saat pertama kali bertemu. Tetapi beberapa waktu berselang, aku menyadari kalau dia dan teman-temannya adalah orang-orang yang baik. Yang jauh dari semua hal-hal buruk yang pernah ku bayangkan.
Tidak seburuk pemikiran kalian. Aku hanya memikirkan kalau Reihan dan teman-temannya ini adalah tukang tindas. Suka main pukul dan kekerasan terutama Reihan yang terlihat paling berandalan di antara ketiganya. Tidak lebih dari itu.
Selama ini tidak banyak orang yang ku kenal selain ayah dan saudaraku. Mereka laki-laki dengan temperamen yang cukup keras. Keduanya suka membentak dan memukul. Bahkan dia juga. Selalu menyudutkan dan memukul ketika dia marah. Selalu melampiaskan kekesalannya padaku.
Membuatku dijauhi oleh teman-temanku semenjak SD. Membuatku kehilangan semua keberanian ku untuk melawan kepada siapapun. Membuatku menjauh dari kenyataan bahwa didunia ini ada banyak orang lain yang bisa memberikan simpati kepada orang lain. Memberikan pertolongan saat kita membutuhkan bantuan. Menyelamatkan kita ketika sesuatu hal yang tidak mengenakan terjadi tanpa terduga. Seperti kali ini.
Aku menghentikan langkah ketika cukup jauh dari jangkauan pandangannya. Menatap Reihan dengan perasaan yang masih tidak karuan, dengan maksud mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang dilakukannya padaku.
"Kalau lo nggak suka, sebaiknya lo ngomong!"
"Ya?"
Dan Reihan memasang wajah kesalnya lagi. Aku segera menunduk.
"Maaf!" ucapku cepat-cepat. "Terima kasih karena sudah menolongku."
__ADS_1
Mungkin mendengar dengan baik apa yang ku sampaikan, Reihan hanya berdiri sambil menatapku yang membungkuk padanya untuk menyampaikan rasa terima kasih ku.
Kemudian, sekali lagi hal yang sama terulang seperti pagi tadi diruang UKS. Tangannya menepuk kepalaku dengan lembut. Dia membuatku perlahan melihat kearahnya dengan wajah yang sedikit ia tundukan. Aku terdiam ketika tangannya tetap ditempatnya. Diatas kepalaku. Menekannya dengan perlahan lalu menepuknya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menatap mata lawan bicaraku. Biasanya yang ku lakukan hanya sekedar melirik tanpa berani menatap dengan lantang. Kali ini, aku benar-benar merasa telah dengan berani menatap lawan bicaraku.
"Terima kasih..."
"Lo nggak lagi marah, kan?!" tanggapnya yang nampak sedikit gelagapan. "Gue nggak bermaksud apa-apa tadi ngomong gitu!"
"Aku mengerti! Aku tidak salah paham sama sekali dengan itu." jawabku cepat. "Kamu melakukannya untuk membantu ku!! Aku berterima kasih untuk itu."
Reihan dengan segera menggaruk-garuk belakang kepalanya. Menandakan dia sedang merasa tidak nyaman. Begitulah aku selalu melihatnya selama ini. Ketika terlalu singkuh dengan sesuatu dihadapannya, Reihan akan menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan enggan.
"Aku akan pulang sekarang!" kataku lagi. "Terima kasih sekali lagi!" tambah ku yang sudah berjarak beberapa meter darinya.
Aku berbalik tepat diujung belokan. Memandangnya yang tersenyum dengan cerahnya ke arahku. Senyum yang benar-benar membuatku membayangkannya sepanjang hari itu. Sebuah senyuman yang begitu bebas, lepas, dan menyenangkan.
Di dalam cermin pada kamar mandi aku terdiam lama. Memandangi bayangan wajahku sendiri yang nampak begitu pucat tapi tidak bisa menyembunyikan perasaan senang yang memenuhi ruang pikiran dan hatiku selama setelah pulang dari sekolah. Perasaan yang ku miliki saat ini, sangat berbeda dengan perasaan yang ku miliki selama ini. Apakah aku pantas untuk memiliki perasaan seperti sekarang ini??
Belum lama aku merasa sesenang dan selepas ini, suara dobrakan pintu dan sebuah teriakan membuatku langsung mengunci pintu kamar mandi dan berdiam diri dibalik pintu dengan perasaan was-was. Aku mendengar dia berteriak dengan suara yang sangat keras. Berteriak memanggil ibuku yang belum pulang dari bekerja. Untuk beberapa kali dobrakan pintu, aku mulai merasa gemetar ketakutan.
Baru kemarin malam aku mendapat pukulan dari ibu, hari ini jangan lagi. Batinku.
Dengan perasaan tidak menentu aku berdiam diri di belakang pintu kamar mandi. Menunggu sampai suara langkah kakinya menjauh dari rumah dengan membanting pintu depan. Aku menarik nafas lega sembari menangis di dalam kamar mandi rumahku. Malam ini, kembali menjadi malam seperti sebelumnya. Menyedihkan untuk diingat.
__ADS_1
Aku ingin menghapus semua hal buruk dalam hidupku, tapi kenyataan hidup terus memaksa untuk berdiam diri dalam benakku. Mengulang kejadian yang sama berulang kali. Satu saja hal manis terjadi dalam hidupku, aku akan kehilangan perasaan senang itu ketika sudah berada di dalam rumah.
Memikirkannya malam ini membuatku sakit kepala. Tidak! Aku harus tidur dengan baik malam ini. Ada hari yang harus ku lewati esok. Hari dimana aku harus menghadapinya. Dia, Angga Rasyaaputra. Sepertinya mulai hari ini, bukan hanya saat berada di dalam rumah, disekolah pun akan menjadi sama menakutkannya untukku karena kehadirannya.
//
Pagi mendung yang tidak terduga. Aku bergegas berangkat kesekolah menggunakan sweater abu satu-satunya yang ku punya. Bisa dibilang, aku sangat miskin. Dengan keadaan keluarga yang kacau balau, ekonomi sebaik apapun yang didapatkan kedua orang tua ku, tidak akan pernah merubah hal apapun pada hidupku sekarang ini. Keperluan mereka hanya membiayai uang sekolahku. Untuk bagaimana hidupku berjalan dengan semua kebutuhan yang ku perlukan, mereka sama sekali tidak memperdulikannya.
Rasanya sakit membayangkan bagaimana aku harus bertahan dengan sifat dan sikap kaku kedua orang tuaku. Mereka menikah di usia muda menurut para tetanggaku. Dan semenjak menikah, mereka memang selalu terdengar bertengkar hanya untuk hal-hal kecil saja.
Pernah katanya satu ketika, ibu ku harus pergi dari rumah dimalam hari untuk menghindari ayahku yang sedang marah. Saat itu aku sudah berusia lima tahun, tangisanku terus menggema sepanjang malam dan membuat ayahku semakin marah. Mencari ibuku ditengah guyuran hujan jam 3 subuh dan mengajaknya pulang untuk mendiamkan ku. Aku tidak mengingat kejadian itu sama sekali.
Bayangan masa kecil yang ku ingat hanyalah bentakan, makian, dan pukulan yang ku dapatkan dari mereka. Ayah, ibu, dan bocah laki-laki dengan rambut plostos dan kaos putih oblongnya.
Aku menghentikan langkahku tepat didepan gerbang sekolah. Melihat dia yang kini menatap ke arahku dengan cara yang tidak biasa. Bagaimana caraku untuk menghindarinya saat ini?! Sejenak ragu untuk melangkah, lagi-lagi sebuah tangan menarikku. Membawaku untuk berjalan maju dengan santainya. Tangan itu tiba-tiba lagi melingkar pada bahuku. Senyumnya nampak secerah kemarin.
"Pagi!" sapanya.
"Pagi..." balasku.
"Untuk ini, gue juga minta traktiran yah?!"
Tanpa menjelaskan maksudnya, aku langsung mengerti permintaan Reihan kali ini padaku. Dia menolongku sekali lagi. Melewati sosoknya dengan aman dan terlihat biasa-biasa saja. Melegakan sekali.
Sepanjang perjalanan masuk, Reihan tetap menempatkan tangannya dengan melingkar di bahuku. Membuat, bukan hanya untuk sengaja dilihat olehnya tetapi juga membuat tindakannya ini menjadi bahan omongan seluruh sekolah. Yang akhirnya menempatkan ku dalam posisi yang tidak pernah terbayangkan sama sekali olehku akan terjadi pada masa SMA ku.
__ADS_1
Mengenal apa itu perasaan cinta dengan semua permasalahannya. Bukan hanya tentangku saja, perasaan ini juga tentang pandangannya, hidup yang dijalani, keluarga, dan tentang kami.
***