Mirror!

Mirror!
Reihan : Pustaka


__ADS_3

"Terima kasih katanya? Aneh sekali!"


Ku bolak balikan angket siswa itu dimeja depan tempat penyewaan buku dimana Ditya harus menjaga toko itu kurang lebih selama dua minggu lagi. Bukan ingin mengisinya. Hanya tiba-tiba mengingat ucapan 'terima kasih' yang terlontar, aku hanya merasa sedikit aneh. Bukankah harusnya aku yang atau dua sobatku yang mengatakan itu padanya.


"Rajin amat lo, Rei!" tanggap Aditya setelah berhasil keluar dari balik meja penjagaan. "Penting banget yah ngisi tuh angket!"


"Penting nggak penting, gue cuma nggak mau abang gue yang isi!" jawabku sekenannya.


Padahal angket yang ku bolak balik dari tadi masih kosong melompong. Tidak ada niatan mengisi, tetapi ngerasa tidak enak juga kalau tidak diisi. Aneh lagi bukan?!


"Ngomong-ngomong soal abang lo, teman sebangku lo siapa namanya?"


Aku berpaling mendengar pernyataan Ditya yang selalu tidak nyambung sama sekali. Sementara Raka yang baru saja keluar dari dalam 'Pustaka' membawa satu buku bacaan yang tebalnya melebihi batu bata.


"Lo kalau mau nanya, bisa to the point aja nggak, Dit!!" Raka dengan buku tebalnya melewati Ditya setelah berhasil menepuk buku itu pada kepala sobat ku satu itu.


"Yaah! Sebenarnya gue mau tanya soal Aray, tapi inget suara hantu teman sebangku lo itu... jadinya gue tanyain dah!"


"Emang siapa namanya?" tanyaku heran.


Raka dan Ditya saling pandang sebelum akhirnya mereka menatap ke arahku dengan seksama.


"Lo nggak ingat namanya?"


"Yaah! Mana gue ingat!" jawabku sekenannya. "Emang lo inget siapa nama teman sebangku lo, Dit?"


"Siksa, bukan?"


"Siksa apaan?!" Raka langsung mentoyor kepala Ditya sekali lagi. "Masa lo nggak ingat dia, Dit? Dia teman kita sewaktu SD!"


"Masa sih?!" tanggap Ditya. "Memangnya siapa?"


"Siska Bintoro!" jawab sebuah suara yang kembali membuat bulu kuduk dua temanku langsung merinding dan menoleh ngeri ke arah samping mereka. Suara yang terdengar tertahan, lemah, namun datar dan teratur.


"Gila!!" seru Ditya. "Suara apaan tuh!" Ditya menatap panik.


Entah sejak kapan dia berdiri disana. Aku tidak menyadarinya sama sekali. Dia yang sempat ada dalam pembahasan kami beberapa menit yang lalu. Apa jangan-jangan dia sudah ada disana sejak pembicaraan kami tadi.


"Lo kan?!" Sambil menudingkan tangan, Raka bangkit dari duduknya dan menatap pemilik suara yang membuat bulu kuduknya merinding dengan rasa segan karena sempat berekspresi berlebih.


"Lo mau apa kesini?!" tanya Raka yang melepas pegangan tangan Ditya yang masih diselimuti banyak tanda tanya seketika.

__ADS_1


"Ma, maaf!" jawab suara itu lagi.


"Jadi, lo yang punya suara tadi?" Ditya nampak salah tingkah. Dia tertawa kaku sambil sesekali menepuk tangannya lalu berbalik untuk menenangkan diri dari rasa malu karena ekspresinya terhadap jawaban pemilik suara yang membuatnya bergidik.


Sementara, dia yang ditanya Ditya, hanya menjawab dengan mengangguk kecil lalu mengencangkan tali tasnya. Ku perhatikan setelah dari dia mulai menjawab kebingungan kami, sampai sekarang ini, dia hanya menunduk.


"Hehehe... Lo sejak kapan berdiri disana?!" Tanya Ditya penuh basa-basi yang masih terlihat berusaha menenangkan pikirannya.


"Baru saja."


"Lo ada urusan disini?!" Aku berdiri disampingnya. Menepuk pundaknya dengan angket yang ku gulung, lalu menatapnya santai. Dia adalah teman sebangku yang sempat kami bahas sepintas. Teman sebangku ku tepatnya.


"Ya?" dia menoleh padaku dengan reflek. Dari tatapan matanya yang tertuju padaku, aku sempat kehilangan konsentrasi dari maksud pertanyaan yang ku ajukan. Ada segurat tanda tanya dari tatapan matanya yang tertuju.


"Lo mau minjam buku?" tanyaku lagi berusaha mengalihkan tatapan matanya.


"Bukan." jawabnya. Dia langsung bergegas masuk tanpa memberikan penjelasan apapun lagi tentang tujuannya.


"Bukan!?" Aku yang penasaran dengan jawaban yang diberikannya, melengok melihat kedalam toko penyewaan buku. Ku perhatikan dia tidak mengembalikan buku. Dia hanya berbicara pada penjaga toko penyewaan itu dengan gelagat yang membuatku tidak bisa menghentikan segala perhatianku tertuju pada kejadian itu.


"Jadi??"


"Gila aja! Kaget gue!" aku mendorong jauh wajah Ditya dari hadapanku. "Apa-apaan sih lo, Dit!"


"Tipe lo yang kaya dia?" Ditya mengabaikan ocehanku. Dan malah ikut memperhatikan kearah mana pandanganku tertuju. Ditya manggut-manggut kecil dengan mengusap dagunya seakan memiliki jenggot yang panjang dibagian dagunya.


"Lo seriusan, Rei?!? Itu tipe lo?!" Raka ikut menimpali. "Beda banget sama Vixi?"


Raka malah dengan sengaja menggeser pintu kaca toko itu dan dengan terang-terangan memandangi dia, si teman sebangku yang bahkan aku tidak ingat namanya.


"Apaan sih lo berdua!" Aku mengacuhkan mereka dan dengan segera mengisi angket yang sedari tadi aku gulung. Aku mengabaikan dua sobatku yang dengan terang-terangan memperhatikan si teman sebangku ku dengan seksama.


"Dia cukup manis." ujar Ditya masih dengan gayanya yang sama.


"Bukan tipe liliput, tapi juga tidak tinggi!" tambah Raka.


"Rambutnya kelewat panjang dan gayanya kuno banget pake poni segala." Ditya menambahkan detail lainnya.


"Selebihnya, stylenya itu..." Raka lama tertegun. "Mungkin karena style seragam sekolah kita emang gitu-gitu aja yah!"


"Kulitnya putih bersih!" tambah Ditya dibarisan kalimat berikutnya. "Dia datang! Dia datang!!" seru Ditya yang langsung mengambil posisi duduknya dengan gelagapan.

__ADS_1


Beda dengan Raka, dia malah menatap dengan terang-terangan baik dari awal teman sebangku ku itu berjalan keluar sampai sosoknya melewati kami yang nongkrong tidak jelas dimeja depan toko penyewaan buku itu. Sementara aku, dari balik kertas angket yang ku tulis, aku perhatikan kepergiannya. Dan, lagi-lagi aku merasa familiar tapi tidak bisa ku ingat dengan baik kapan aku pernah menatap punggung semungil itu.


"Berita besar!!!!" Ditya bersorak yang membuatku mau tidak mau menoleh kearahnya dengan pandangan amazing.


"Berita apaan woi!" sergahku. "Suara lo kenceng banget! Budek gue nih!"


"Seriusan, itu tipe lo, Rei?"


"Siapa?"


"Teman sebangku lo itu?"


"Gila lo berdua!!" bantahku. "Isi angket sekarang! Gue pulang duluan!" Aku segera mengambil tas yang ku taruh di kursi tempat ku duduk. Sebelum beranjak, tidak lupa ku letakkan dua angket lainnya diatas meja.


"Kagak seru lo, Rei!" teriak Ditya kesal.


Aku hanya melambai membalas kata-kata kecewa sobatku itu. Secara dia kudu berjaga berlama-lama sampai jam tutup toko penyewaan buku yang bernama Pustaka itu.


"Gue cabut juga yah!" Raka bangkit dari kursinya. Memasukan buku kedalam tasnya. Mengambil satu lembar angket lainnya, dan beranjak pergi dari tempat itu.


"Ka, lo juga!!" Ditya tertegun lemas. "Tega banget kalian sama gue!" Ditya menoleh jam pada dinding toko yang berada di arah dalam toko, namun terlihat jelas dari luar toko.


Ku abaikan apapun keributan yang dilakukan kedua sobatku. Ku lanjutkan langkah untuk pulang yang semakin menjauh dari keramaian kota. Harusnya aku langsung menuju jalan kerumah. Tetapi melihat bahu mungil teman sebangku dari belakang, aku tanpa sadar sudah mengikuti langkahnya menuju perumahan sederhana diujung kota.


Ku hentikan langkah begitu dia menghentikan langkahnya juga. Gawat! Jangan sampai aku ketahuan telah mengikutinya. Aku langsung berpikir secepat mungkin jika tiba-tiba berbalik dan mendapati aku berdiri diposisi ini. Posisi yang tidak tahu aku harus melihat kearah mana. Karena tidak ada hal menarik disekitar perumahan ini.


Aku bermaksud untuk berbalik pergi duluan supaya dia tidak mengenaliku, namun sebuah teriakan dari dalam rumah yang dimana dia sedang berdiri kaku dihadapannya, membuatku mau tidak mau terus memperhatikannya.


"Amy!!!! Kau pulang terlambat lagi!!" kurang lebih begitulah teriakan yang ku dengar. Teriakan seorang wanita. Yang mungkin, sosok wanita itu adalah ibunya.


"Ma, maaf!"


Ku perhatikan langkahnya buru-buru masuk ke dalam rumah itu. Langkah seperti tengah menghindari sesuatu yang berada dihalaman rumahnya.


"Cepat masuk!!!" teriak lagi suara wanita itu.


Bergegas ku lihat dia memasuki rumahnya. Pintunya langsung tertutup dan tidak ada lagi suara teriakan atau apapun yang terdengar. Benar-benar sunyi untuk beberapa saat.


Aku berbalik kaku. Aku tidak pernah punya pikiran buruk tentang orang lain di hidupku. Tapi apakah untuk kejadian ini, aku bisa mendapatkan penjelasan darinya besok?!


...***...

__ADS_1


__ADS_2