
Aku tidak bisa menghubungi Amy untuk mengatakan aku tidak bisa menjemputnya sepulang sekolah. Hal itu membuatku sedikit merasa bersalah. Aku harap dia tidak dengan bodoh menunggu ku sampai malam di sekolah. Jadilah laju motor ini lanjut melewati area sekolah. Berharap aku tidak mendapati pemandangan yang menyedihkan dari adikku, Amy yang polos itu.
Bersyukur aku tidak menemukan sosok bayangannya di area sekolah dan juga setelah memastikannya kepada satpam sekolah, aku langsung mengarahkan laju motor ini menuju rumah. Melewati pustaka yang sudah gelap, aku yakin Amy sudah dirumah malam ini.
"Dia memang bukan gadis bodoh lagi..." gumamku.
Begitu memasuki areal perumahan, aku mematikan mesin motorku. Membuka pintu pagar perlahan karena melihat lampu rumah sudah mati, lalu masuk ke dalam rumah menggunakan kunci cadangan yang tempatnya tidak pernah berubah dari tempat dulu kunci itu disembunyikan. Tempatnya rahasia ya? Aku tidak mau ada yang tahu lalu masuk rumah ini tanpa ijin.
Dengan santai aku memasuki rumah. Meskipun dalam kegelapan, aku cepat membiasakan diri untuk melihat keadaan sekitar. Apalagi apapun dalam rumah ini, tidak ada yang berubah sama sekali. Baik perabotan ataupun tata letaknya. Paling yang berbeda, hanya kondisi dari benda-bendanya saja yang sudah mengalami kerusakan akibat sesuatu dan lain hal yang menyakitkan untukku ku bayangkan.
Aku menenteng dua kotak nasi yang tadi ku beli dijalan. Pagi ini aku sempat melihat kalau beras di rumah kosong, dan sebelum pulang sekolah aku harus bekerja sampai malam. Jadi berpikir membeli ini untuk bisa ku makan bersama Amy. Tapi seperti Amy sudah tidur.
Aku berjalan menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Duduk di kursi lalu membuka satu kotak nasi yang ku beli tadi. Sementara nasi yang satunya aku letakkan di sampingku.
Baru saja aku mau memasukan satu suap nasi itu ke dalam mulut, lampu dapur tiba-tiba menyala dan memperlihatkan sosok Amy dengan wajah pucat pasi. Pasti karena dia kelaparan. Pikirku.
"Gue kira lo udah tidur!" tanyaku yang berusaha untuk terlihat biasa saja. Walau jujur, sebagai kakak jelas gue sedih liat adik sendiri masuk dapur dengan wajah pucat pasi karena lapar.
"Lo sakit? Muka lo pucat amat?!"
Aku berjalan menghampiri Amy, ku lihat wajahnya semakin pucat dan semakin tegang saja. Dan tiba-tiba Amy menggeleng.
"Aku baik-baik saja." jawabnya terbata-bata.
"Oh! Ok!" jawabku yang langsung berpaling kembali pada makanan diatas meja. "Lo lapar? Makan bareng yuk?"
Melihat Amy mengangguk, aku merasa lega karena tidak perlu dijauhi lagi atau ditakuti lagi olehnya.
"Kenapa masih bengong?? Ayo sini!"
Aku menarik satu kursi makan di sebelah tempatku duduk Membuka satu bungkusan nasi kotak yang ada di sampingku lalu meminta Amy untuk langsung memakan nasi kotak itu.
"Tadi di kasi pas di tempat kerja. Gue minta lebih buat lo!" ujarku berusaha mencairkan kediaman Amy sesaat setelah duduk di kursi sebelahku.
"Kenapa?"
Pertanyaan Bodoh! Ya jelas karena elo adik gue. Gue nggak mungkin buat lo kelaparan dirumah yang nggak ada berasnya.
"Karena beras habis!" jawabku. "Sudah! Ayo makan."
Aku dan Amy melanjutkan makan kami dalam diam. Situasi memang tidak bisa berubah dalam sekejap. Mungkin masih butuh waktu untukku dan Amy untuk membiasakan diri satu sama lain. Apalagi dengan sikap takut-takutnya padaku.
"Mi,"
"Ya?"
"Setelah makan, jangan langsung di bawa tidur yah!"
__ADS_1
Aku menatap Amy sambil menuangkan segelas air untuknya minum.
"Gue duluan yah!"
"Kemana?"
Aku tidak menjawab Amy. Terlalu lelah untukku menjawab. Terlalu sungkan juga untukku mengatakan kalau aku ingin duduk-duduk sebentar di atas loteng sembari melepas penat. Terlalu banyak pikiran dan beban yang ku bawa. Atau mungkin aku yang memang lelah dengan semua hal yang berjalan di hidupku.
Berjalan keluar dari dapur, langkahku sudah berada di ujung tangga loteng rumah tempatku terakhir bicara dengan santai bersama Amy. Semua hal terasa sangat sulit sejak kami kecil. Ya, sejak aku dan Amy menyadari kalau kami hanya seorang anak dari dua orang tua yang egois dan kekanak-kanakan. Dan tiga tahun terakhir yang ku lewati setelah kabur dari rumah cukup membuat ku mendapat lebih banyak kesabaran dalam menghadapi banyak masalah. Daripada menyalahkan keadaan, aku akhirnya belajar bagaimana harus berjuang dan bagaimana aku harus bisa bertahan dalam setiap proses kehidupanku.
Aku baru akan menyalakan rokok yang sudah ku sumpal dalam mulut saat Amy menyusul dan berpegangan pada penyangga ujung tangga loteng ini.
"Gue ketahuan yah?"
Dia menggeleng. Amy tidak mengatakan apapun sampai dia duduk pada sebuah kursi besi tua yang sedikit mengkarat di beberapa bagiannya.
"Bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan sederhana. Bahkan sangat amat sederhana untuk memulai sebuah percakapan atau untuk menegurku saat bermaksud menyalakan rokok itu.
"Pertanyaan lo aneh!" jawabku.
"Apa kamu makannya teratur?"
Aku mulai tersenyum kecil. Dia hanya ingin menanyakan hal-hal sederhana yang jawabannya sudah jelas bukan.
"Kenapa lo bertanya?"
"Aku ingin tahu..." jawabnya dengan mata bulat besar. Ini pertama kalinya dia duluan yang menatapku ketika berbicara. Sudah mulai berani nih anak. "Apa kamu baik-baik saja selama ini?"
Mendengar pertanyaan terakhirnya, aku meremas puntung rokok yang bahkan belum aku hisap sama sekali. Meletakkan sisa nya dalam kotaknya disebelah ku.
"Menurut lo?"
Aku tidak mau menatap langsung matanya. Kalau boleh bicara, aku saat ini sedang sangat lelah dengan semuanya. Banyak hal yang harus dan mungkin sudah aku pikirkan sejak lama. Itu adalah tentang bagaimana kelangsungan hidupku kedepannya. Bagaimana dengan Amy yang selama tiga tahun ini aku tinggalkan begitu saja bersama dua sosok yang kini sedang tidak berada di rumah ini. Berat. Terlalu banyak hal yang tidak bisa aku bagikan kepada siapapun selama ini. Sampai aku mempelajari, keluarga dan orang-orang terdekat tetap lebih baik dari orang-orang yang berpura-pura baik di luaran sana.
"Aku senang kamu kembali ke sini..."
"Gue juga merasa lega bisa pulang."
Rasanya tercekat saat mengucapkan kalimat itu. Terlalu sakit untuk mengingat semua derita yang terjadi di rumah ini. Tapi itu jauh lebih baik, setidaknya yang terjadi di rumah ini bukanlah sebuah kepura-puraan.
"Ini!"
Amy menyuguhkan satu kantong kuaci yang kemarin Amy beli di acara festival makanan yang kami kunjungi.
"Lo mau nguji kesabaran gue?"
__ADS_1
"Ya?" Dengan tampang tidak mengerti, Amy menatapku dengan bodoh. Ternyata masih selugu itu.
"Tadi siang, lo lama nungguin gue?"
Amy menggeleng.
Sial. Percuma aku khawatir sampai bela-belain ngecek ke sekolah dan nanyain satpam sekolah.
"Hanya sejam." jawabnya. "Soalnya aku harus bekerja."
Tidak bisa menyembunyikan rasa gemas, aku mengacak-acak rambut yang menutupi bagian depan wajah Amy.
"Gimana pekerjaan disana?"
"Baik."
"Kenapa? Apa karena Reihan?"
Pertanyaan ku langsung mendapat perhatian Amy. Dia menatap lagi dengan mata bulat besarnya.
"Kenapa dengan Reihan?" tanyanya.
"Bukan apa-apa!" jawabku. "Kalau dia nyakitin lo, bilang ke gue yah?!"
"Dia nggak pernah menyakiti." jawab Amy sembari menggeleng pelan.
Aku tersenyum.
"Gue boleh tanya?"
Amy mengangguk yakin dan tegas. Fokusnya benar-benar terlihat saat ini.
"Bagaimana lo melihat Reihan?"
Amy terdiam. Mungkin sedang memikirkan banyak hal untuk bisa memberikanku jawaban yang ada dipikirannya.
"Kenapa diam?"
Dia menggeleng pelan. "Aku tidak tahu..." jawabnya. "Memangnya aku harus melihat Reihan seperti apa?"
Menghela nafas mendengar jawabannya yang berupa pertanyaan balik, membuatku enggan untuk melanjutkan percakapan.
"Sebaiknya kita tidur! Besok masih harus sekolah, bukan?"
Amy kembali menjawab dengan mengangguk. Jawaban singkat, padat, dan tanpa basa-basi. Kami pun langsung menuruni anak tangga, lalu masuk ke dalam kamar kami masing-masing.
Menutup pintu kamar, aku langsung merebahkan diri di atas kasur lalu berharap setiap hal yang terjadi tiga tahun ini tidak seburuk yang ada di dalam pikiranku.
__ADS_1
...***...