
Hari ini aku langsung duduk didepan pak Hendra, guru BK sekolah kami. Pada jam pelajaran kemarin, aku ketahuan membolos bersama Raka dan Ditya. Tapi karena posisiku yang sebagai adik dari Ketua Osis, akulah yang mewakili kedua temanku untuk menghadap ke ruang BK. Aku baik bukan?!
Di hadapanku, Pak Hendra menatapku dengan tidak habis pikir.
"Bagaimana dia bisa bertolak belakang dengan mu seperti ini, Ray?!"
"Bertolak belakang bagaimana, pak?" tanggap Aray santai.
"Kami ini sama saja pak!" balasku. "Bedanya, Aray menjaga imagenya, lalu saya menjaga komitmen saya."
"Komitmen apanya?!" Pak Hendra menghela nafasnya. "Komitmen untuk memenuhi buku siswa mu?!"
"Nah! Itu bapak bisa tebak!"
Jawabanku itu langsung mendapatkan hadiah berupa pukulan dari gulungan kertas yang dilakukan oleh Aray yang sedari tadi membuka buku catatan siswa milikku.
"Sakit, bang!" aku memukulnya balik.
"Kalian benar-benar membuat bapak bingung kalau sudah bertingkah seperti ini!!" keluh pak Hendra melihat bagaimana Aray menambahkan sedikit catatan pada buku siswa punyaku.
"Mau bapak hukum bagaimanapun, dia tetap akan melakukannya lagi pak!"
"Iya! Benar itu pak!" jawabku cepat-cepat. "Kalau ada kesempatan!" teriakku semangat dengan mengibaskan buku siswaku.
Aku langsung berlari keluar ruang BK dengan cepat setelah buku siswaku selesai di isi oleh Aray. Rasanya menyenangkan bisa menganggu pagi Aray yang sedang menjalankan tugasnya bersama Guru Kesiswaan yang terkenal galak. Tapi aslinya gampang sekali luluh oleh kejahilan ku dan Aray.
Aku beranjak secepat yang ku bisa untuk kembali ke dalam kelas. Setidaknya buku catatan ku dalam 3 bulan terakhir sudah hampir membuatku ditegur oleh sebagian guru pengajar. Hari ini, jadi anak kalem satu hari. Besok ulangi lagi, kalau sudah longgar lagi.
Aku baru akan memasuki halaman gedung kelas sepuluh begitu melihat Amy tengah dicegat oleh siswa baru itu. Daripada terlihat mencegat, sebenarnya dia hanya berdiri biasa, namun caranya menatap Amy dengan seksama membuatku sedikit membenci tindakannya itu. Buat apa dia mengintimidasi sosok gadis yang takut setengah mati padanya.
__ADS_1
Kemarin aku sudah berjanji pada diriku untuk selalu menolongnya yang berkaitan dengan masalah kebohongan yang aku jalankan untuk membantunya. Kali inipun akan sama. Yang penting tidak menganggu privasi dan orangnya memang sedang membutuhkannya, maka aku akan turun tangan. Ajaran ibuku, bay the way!
Dengan tidak bermaksud menguping, aku berdiri di balik tembok yang setidaknya mengarahkan pandanganku kepada Amy. Tidak ingin tahu isi detail percakapan keduanya, karena hanya dari namaku sudah disebut-sebut, aku bisa apa?!
"Reihan! Siapa cowok itu?"
Maksudnya gue bukan? Aku melengok dengan tidak kentara. Menikmati waktu menguping tanpa terlihat oleh kedua sosok itu. Nggak dosa juga, karena nama ku masuk dalam percakapan mereka. Yang otomatis, pembicaraan ini mungkin akibat dari keisenganku membantunya waktu itu.
Seperti biasa, Amy hanya terlihat menunduk. Dia tidak menjawab atau memberi isyarat apapun. Yang di lakukan Amy sampai detik ini hanya mencari celah untuk bisa pergi dari tempatnya berdiri. Kaki itu sesekali bergerak tetapi kurang gesit. Padahal biasanya untuk yang namanya menghindar, Amy terlihat cukup berani. Sikap yang ditunjukannya tidak bisa menyembunyikan maksudnya. Terlalu terang.
"Mau sampai kapanpun lo menghindar, lo nggak akan bisa lepas dari gue!"
Kali ini suara itu menghentikan gerakan Amy. Ada suara decitan kaki yang terdengar jelas.
Siswa baru itu kini sudah menahan bahu Amy. Berdiri dengan posisi yang kelewat dekat dengannya dan menunjukan wajah dengan ekspresi yang menyebalkan. Dia membisikan sesuatu pada Amy dengan senyum liciknya. Melihat ke arahku dengan meremehkan, siswa baru itu berjalan meninggalkan Amy. Langkahnya pongah dan penuh dengan kemenangan begitu melewati ku. Masalahnya, aku tidak peduli dengan sikapnya itu.
Aku terpaku pada kediaman Amy. Gadis itu tidak bisu, dia memang jarang berbicara. Tapi apa yang membuat Amy bisa setakut itu pada si anak baru?? Berhubung selama seminggu ini, Amy sangat menghindari sosok anak baru itu. Aku heran, kenapa anak baru itu malah ngotot sekali untuk mendekati Amy. Kalau tidak mengenalnya atau tidak pernah terjadi apapun antara keduanya sebelumnya, mana mungkin dia akan bereaksi seperti itu bukan?!
Selama ini yang aku tahu, Amy banyak menyembunyikan sesuatu yang menyakitkan untuk dirinya sendiri. Luka memar itu contohnya. Hari pertama aku mengikutinya dan sepertinya dia dari keluarga yang belum beres. Kata abang sih kalau masalah keluarga, biarkan itu urusan pribadi. Kalau disekolah sudah bukan urusan keluarga, jadi sah-sah saja buat gue turun tangan, bukan?
Sekarang aku dilema. Memikirkan lagi hubungan Amy dengan si anak baru sebenarnya hubungan yang bagaimana? Kenapa Amy harus menghindarinya? Dan siapa anak baru itu sebenarnya dalam hidup Amy?! Gadis ini benar-benar membuatku mati penasaran. Pertanyaan tentangnya banyak sekali! Aaaargh!! Ku jambak rambutku dengan kesal dan mengingat semua percakapanku kemarin dengan dua sahabatku.
"Lo beneran pacaran sama dia?!" tanya Raka kesekian kalinya.
Tumben-tumbennya sore itu dia begitu cerewet setelah acara membantu Amy pulang sekolah itu menjadi gosip panas disekolah.
Kami yang sedang menikmati sore di Pustaka. Tempat paling hits untuk menikmati hari bagi siswa-siswa kurang kerjaan seperti kami-kami ini. Tempatnya lumayanlah. Ditambah dengan adanya tempat nongkrong yang asyik yang bisa menikmati makanan dengan gratis. Boleh ambil sesuka hati lagi. Promo sedikit. Mumpung punya nyokap sendiri. 😁
"Kalo mau, lo bisa menghentikannya mulai dari sekarang, Rei!" saran Raka dengan santai. "Niat lo kan cuma bantuin dia waktu itu aja!!"
__ADS_1
"Bener tuh!" tambah Ditya yang memperhatikan Amy dari luar Pustaka. "Biar nggak keterusan dia bergantung sama lo kalo gini ceritanya."
Tanggapan Ditya itu menurutku sedikit berlebihan ketika mengaitkannya dengan pekerjaan yang didapatnya disini. Keberadaan Amy yang tiba-tiba sudah menjadi penjaga baru di Pustaka ini, memang membuatku sedikit merasa aneh. Padahal ibu bilang tidak cari karyawan. Kalau nyari, gue mau bantu jagain. Gue kan pengangguran. Lumayan untuk tambahan uang jajan. Seenggaknya sepulang sekolah kalau gue nggak ada latihan futsal dan lainnya.
"Kalo diperhatikan... kenapa kesannya dia kaya penguntit nya lo tau nggak?? Tau lo sering nongkrong disini. Tiba-tiba dia udah kerja disini aja. " Ditya kali ini berwajah serius. " Aneh bukan?"
"Kebetulan aja kali!"
"Gue sih mikirnya nggak kearah sana, Rei." sanggah Raka. "Gue cuma nggak mau nantinya dia salah paham trus sakit hati sama lo!"
"Sakit hati gimana?? Jangan ngaco lo!"
"Ya.. Mungkin kemarin lo mikir mengatakan kalian pacaran cuma untuk nolongin dia dan nggak lebih. Tapi gimana dengan dia?"
"Gue udah jelasin dan dia ngerti kok! Lagian niat gue itu buat nolongin dia. Nggak lebih juga."
"Lo jelaskan untuk yang hari pertama itu aja kan?!" tambah Raka. "Bukan untuk hari berikutnya, sampai dia diseret oleh yang ngaku-ngaku sebagai penggemar lo buat menindas dia. Kaya siang tadi?!"
"Yaah! Yang itu sih emang enggak!!"
"Karena itu, jangan sampai kejebak sendiri. Gue sih kagak peduli sama lo! Cuma kasian efeknya ke dia aja, Rei."
Sepanjang sore itu, aku akhirnya hanya memperhatikan Amy yang menjaga Pustaka dengan segala gerakannya yang gelagapan. Banyak hal yang membuatnya begitu canggung ternyata. Terutama ketika berhadapan dengan orang lain. Dan lebih kalem ketika dia sudah fokus dengan bacaan yang dipilihnya. Disaat seperti itu, aku jadi bertanya-tanya, apa dia pernah pacaran sebelumnya??
Back to. Ngomong-ngomong soal pacaran, aku dan Amy memang membiarkan rumor itu beredar begitu saja. Aku sih cuek-cuek saja. Tidak memberi pengaruh apapun karena niat awal memang hanya menolongnya. Berbeda dengan Amy. Baru hari pertama rumor beredar saja, dia memang sudah sempat disudutkan dipojokan sekolah oleh beberapa siswa yang mengaku sebagai fans klub ku! Sekarang dia malah disudutkan oleh seorang yang mungkin dari masa lalunya.
Apa yang bisa ku lakukan saat mendengar hal itu, membiarkannya menjadi bahan bullyan jika aku katakan kami hanya pura-pura pacaran?! Sial! Kalau dipikir lagi, benar kata Raka, aku memang sedang menjebak diriku sendiri dalam menolongnya. Karena kali inipun, aku lagi-lagi sudah menarik tangannya untuk menjauh dari siswa baru ini.
"Gue nggak tahu ada hubungan apa kalian sebelum ini, tapi sekarang gue pacarnya! Jadi jauh-jauh darinya!" kataku reflek setelah sekali lagi aku memikirkan tentang Amy dan semua hal dalam hidup gadis itu yang membuatku mati penasaran.
__ADS_1
...***...