
Setelah melewati malam dengan banyaknya makanan yang dibelikan Angga padaku, aku langsung kehilangan semangat ketika setelah semua makanan habis, Angga mengatakan uangnya sudah mulai habis. Dia harus bekerja dengan lebih giat lagi. Tidak banyak yang bisa aku katakan pada Angga. Kecuali menghentikan makan ku dan meletakkan sisanya di dalam kulkas dengan alasan aku sudah kenyang dan sisanya akan ku makan besok pagi setelah dipanaskan kembali
Akhirnya, sepanjang malam kemarin aku berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan lebih banyak uang lagi selain bekerja sebagai penjaga pustaka. Setidaknya aku tidak perlu terlalu menjadi beban untuk Angga di kemudian hari. Aku harus bisa menabung sampai aku mampu seperti Angga. Mampu untuk hidup mandiri tanpa bergantung pada rumah yang tidak layak disebut rumah ini.
Selain karena lelah, aku juga terkadang merasa tidak betah. Tapi aku lagi, lagi, dan lagi harus pulang ke sini. Karena hanya ini satu-satunya tujuan yang ku punya setelah sekolah, pustaka, dan tempat lukis.
Aku memutar pandanganku pada sudut rumah yang sepi karena ketiadaan ibu. Ibu yang sedang di ajak ayah untuk berobat. Dua malam yang sangat tenang tanpa adanya suara teriakan menakutkan atau lemparan barang-barang rumah yang berterbangan diruang tamu.
Meski mereka tidak ada dan rumah terasa sepi, tapi sosok Angga yang sudah dua hari kembali kerumah, membuat rasa takut ini tetap ada. Dia yang biasanya berangkat sekolah dengan mendahului ku, kini dia tumben-tumbennya masih berdiam diri diruang tamu. Aku baru saja menutup pintu kamar saat Angga berdiri dari duduknya untuk bersiap berangkat.
"Hari ini berangkat bareng gue yah?"
"Ya?"
Perlu waktu beberapa saat bagiku untuk mengiyakan tawaran Angga itu. Selain karena kaget, jujur aku masih mempunyai rasa takut padanya yang susah sekali untuk aku hilangkan. Dekat dia saja terkadang rasanya begitu menegangkan. Bayangkan saja, padahal baru kemarin aku ditraktir banyak makanan yang ku sukai. Tetapi itu belum mampu merubah rasa takutku padanya walau sedikit.
Jadilah, sepanjang perjalanan aku hanya diam. Angga juga sama. Dia bukan tipe yang cerewet dan banyak bicara, hanya saja sekalinya dia marah, kata-kata yang terlontar terdengar begitu menyakitkan.
Laju motor ini sudah memasuki area sekolah. Banyak pandang mata mengarah ke arah motor ini. Jelas saja, Angga dalam beberapa bulan terakhir masuk majalah katanya. Sebagai idola remaja yang sedang naik daun bersama sosok seorang siswa lain bernama Aray. Nama yang tidak asing di telingaku dan sepertinya sering ku dengar nama itu. Tapi dimana???
Banyak foto mereka bertebaran di sosial media. Dan aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk bisa melihat itu.
"Turunlah!" ujar Angga. "Gue sudah cukup mendapat banyak perhatian pagi ini!"
Tanpa menghiraukan ku, Angga berjalan menuju gedung sekolah. Meninggalkanku dengan banyaknya pasang mata yang tertuju ke arahku. Bisik-bisik tidak jelas terdengar sepanjang jalan. Membuatku semakin menunduk di setiap langkah yang ku lakukan. Tahu begini, aku tidak akan mau berangkat bareng Angga dari rumah tadi.
Memasuki gedung kelas sepuluh, lebih banyak pasang mata yang melihat. Lebih banyak bisik-bisik tidak jelas yang kini terdengar seperti mengejek.
"Sudah pacaran sama Reihan, sekarang rebut Angga juga!"
"Dasar serakah!"
"Apa bagusnya sih dia itu!!"
"Cantik juga nggak!"
Dan kalimat-kalimat semacam itu terdengar jelas di telinga. Sampai dua pasang kaki dengan gaya melipat tangan di depan dada menatapku dengan begitu penasaran.
"Jadi," ujar pertama dari salah satunya.
__ADS_1
"Lo dekat lagi sama cinta pertama lo itu?!" Ok! Kalimat ini keluar dari mulut Siska. Dia memegang kedua bahu untuk mendapatkan perhatianku.
"Cinta pertama?" tanyaku tidak mengerti.
"Maksudnya dia." jawaban itu ku dapat dari Rahma. Dia melirik sejenak ke arah Angga yang kini tertidur di atas tas yang dia letakkan di atas mejanya.
"Cinta pertama?" ulangku.
Jelas-jelas dia saudara laki-laki ku. Kakak kandungku yang lebih besar dua tahun dariku. Darimana orang-orang bisa mengatakan dia cinta pertama ku??
"Aku.... Dia itu...." aku gelagapan saat ingin menjelaskan siapa sosok Angga dihidupku pada Rahma dan Siska. Gelagapan yang entah kenapa aku merasakan sesuatu berjalan dibelakang dengan tatap tajam terarah padaku. Tepatnya, punggungku bergidik ngeri dan takut. Tatapan yang terasa begitu menusuk. Aku menoleh kebelakang, melihat Reihan berjalan menuju kelas di ikuti oleh Raka dan Ditya.
"Aku...."
Belum sempat memberikan jawaban, Angga sudah menatapku dengan menempatkan satu jari telunjuk pada bibirnya. Mengisyaratkan aku untuk tidak mengatakan hal apapun. Tatapan matanya membuatku rasa takutku bertambah berkali-kali lipat.
Tapi tidak ku sangka, dalam hidupku, ada tatapan lain yang akan sangat begitu menakutkan buatku. Tatapan yang tidak akan pernah bisa ku lupakan, meskipun aku dalam keadaan menutup mata sekalipun. Kemarahannya dan semua hal dalam diri pemilik tatapan mata itu lah yang membawaku keluar dari ketakutan ku akan duniaku saat ini dan memberiku ketakutan lainnya.
"Lo apa?" Siska mengikuti arah pandangan mataku. Melihat Angga yang sedang merentangkan tangannya sambil menguap dengan menghadap ke arah depannya.
Aku menggeleng dengan lamunan penuh. Pikiran ku seketika tidak berada pada tempatnya. Dan tidak menyadari kalau tangan Reihan sudah mendorong tubuhku masuk ke dalam kelas di ikuti oleh Siska, Rahma dan yang lainnya.
Sejak pagi itu, tidak ada lagi yang membahas soal Angga di depanku. Apalagi saat Angga bersikap baik padaku. Terlalu baik dan terkadang membuatku tidak mengenali sosoknya. Jam istirahat pertama, Angga membagikan roti dan jus kotak padaku. Jam istirahat kedua, dia menemaniku duduk di perpustakaan sampai membuatku singkuh karena menjadi perhatian para senior dan siswa-siswi lainnya. Lalu kali ini,
"Pulang sekolah, tunggu gue diparkiran ya!" ujar Angga padaku di hadapan Reihan dan teman-temanku. "Gue nggak pulang hari ini. Tapi gue akan tetap antar lo pulang lebih dulu."
Otomatis semua mata tertuju lagi padaku. Kali ini tatapan mereka semua penuh kekagetan. Terutama Ditya yang membelalakan matanya. Siska yang mulutnya menganga lebar. Rahma mengerjapkan matanya tidak percaya. Raka menelisik dan mencoba mencari tahu. Sementara Reihan membuang pandangannya. Aku sendiri malah tidak bisa memahami situasi yang ada seharian ini. Membuatku meragukan semua sikap yang Angga tunjukan padaku sejak pulangnya ia kerumah.
Setelah mengatakan kalimat itu, Angga menghilang selama jam pelajaran berikutnya. Dia meninggalkan tasnya untuk ku bawa ke parkiran sembari menunggunya datang. Aku bukan sudah tidak sabar, tapi aku tiba-tiba mengerti, Angga pasti sibuk dengan pekerjaannya saat ini. Karena hp dalam tasnya terus saja berbunyi dan dari yang sempat ku lihat, ada beberapa pesan yang memintanya untuk bekerja di beberapa tempat dari siang menjelang sore ini.
Dibawah pohon kenanga diparkiran sekolah, aku berdiam diri dengan memeluk tas ransel Angga. Berdiri dalam diam yang cukup lama. Sampai tidak menyadari kalau sebuah tangan sudah menepuk kepalaku dengan santai.
"Mau menunggu sampai kapan?"
Dia lalu berjongkok di sebelahku yang terkantuk-kantuk tidak jelas.
Aku menggeleng. "Aku tidak tahu! Sepertinya..." aku tidak melanjutkan kalimatku.
"Bukankah akan terlambat ke Pustaka?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun, Reihan langsung menarik tanganku. Mengajakku beranjak dari tempatku berdiri menunggu Angga.
"Masih mau nungguin dia!" ujar Reihan.
Aku mengangguk lalu menggeleng. "Nggak. Aku akan ke Pustaka sebelum terlambat."
Tidak menghiraukan apa yang aku katakan, Reihan terus menarik tanganku untuk berjalan bersamanya.
"Terima kasih."
"Buat apa?!"
Aku tidak tahu. Batinku. Aku tidak tahu kenapa saat ini aku begitu berterima kasih padanya. Rasanya ada sesuatu yang membuatku melangkah begitu ringan disiang menjelang sore ini bersama Reihan.
"Sini!"
Reihan menarik tanganku. Membuatku tersentak kaget karena terbangun dari lamunan yang tidak jelas. Dia memakaikan helm coklat padaku dan sudah duduk di jok depan motor yang terparkir dihalaman parkir khusus pengurus OSIS. Kenapa aku bisa sampai disini?! Aku menoleh ke arah kanan dan kiri ku lalu menatap Reihan dengan penuh tanya.
"Buruan naik!" ajak Reihan.
"Motor siapa?"
"Motor curian!"
Aku semakin melotot memandang Reihan.
"Lo percaya ada motor curian disekolah?!"
Aku menggeleng. Benar juga ya?!
"Naik. Nanti Pustaka nggak ada yang jaga!"
"Raina?"
"Lagi ke laut!"
Jawaban bohong. Raina nyatanya masih duduk manis di balik meja kasir dengan memainkan hpnya. Aku melirik ke arah Reihan dengan bodoh. Kenapa aku mudah percaya akan omongannya.
...***...
__ADS_1