Mirror!

Mirror!
Amyra: Siapa Reihan?!


__ADS_3

Setelah malam yang tidak jelas usai aku bicara pada Angga, aku menempatkan semua pikiranku pada pertanyaan terakhir yang Anga tanyakan padaku. Itu pertanyaan soal Reihan. Pertanyaannya yang menanyakan bagaimana aku melihat sosok seorang Reihan?! Harusnya jawabannya sederhana, dia teman yang baik. Tapi sepertinya bukan jawaban itu yang terlintas pertama di pikiranku saat Angga menanyakan itu. Aku malah terpikir tentang bagaimana Reihan itu sebenarnya. Dibalik dua sifat yang kadang ia tunjukan, aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan Angga itu seperti apa.


Aku baru saja akan memasuki ruang kelas saat Reihan membuka pintu belakang kelas dari dalam ruangan. Membuatku langsung bertemu tatap dengan matanya. Tatapan matanya yang kini balik menatapku dengan heran. Aku hanya mengerjap sesaat, begitu menyadari, rasanya jantungku berdetak dengan kencang dan tidak karuan. Lagi.


Aku menghela nafas perlahan. Mengatur detak jantung yang semakin tidak karuan saja.


"Aku sepertinya sakit!" gumamku tanpa sadar.


"Ke UKS lah!" kalimat itu keluar dari Reihan. "Ngapain bengong disini?"


"Kenapa aku harus ke UKS?"


Reihan kembali menajamkan tatapannya. Biasanya aku akan langsung mengkeret dan sangat ketakutan begitu mendapat tatapan mata yang setajam itu, tapi saat ini aku masih kuat untuk memandangnya lama-lama. Bahkan aku tertarik dengan tatapan matanya itu. Rasanya mendebarkan.


Lalu satu jentikan jari Reihan mengembalikan ku pada pikiranku yang tidak seharusnya.


"Hari ini lo masih saja aneh!" ujar Reihan. "Apa karena sudah balikan lagi sama pacar lo itu?!"


"Pacar??" tanyaku terheran-heran.


"Gue!" jawab Angga yang tiba-tiba merangkul bahuku dari arah belakang. Aku seketika melirik. ke arah Angga. Rasanya ingin menepuk jidat sendiri.


Bersikap acuh, Reihan langsung pergi dari hadapanku begitu saja. Tapi aku merasakan sesuatu yang menusuk dari caranya melirik walau hanya sesaat itu. Pandanganku mengikuti arah kemana Reihan pergi. Bahkan aku sampai memutar seluruh badanku hanya untuk melihatnya yang berjalan menuju gedung ruangan Osis.


"Lo suka?" tanya Angga begitu aku membalikan badan untuk bermaksud masuk ke dalam kelas.


"Suka apa?"


"Suka gue!"Angga menepuk kepalaku. Menampakan segurat senyum, namun pandangannya terarah ke belakangku.


Setelah mengatakan hal itu, Angga mendahului masuk ke dalam kelas. Dan lagi-lagi, langkahku terhenti begitu dua tangan lain merangkul dan langsung menarikku ke arah bagian belakang gedung sekolah.


"Kalian!! Selamat pagi." sapaku pada dua sosok yang menarikku secara tiba-tiba itu. Mereka adalah dua teman yang aku miliki begitu masuk di bangku SMA ini. Siska dan Rahma.


"Selamat pagi kata lo!" Siska mendelik. "Bisa-bisanya ya, lo nggak punya perasaan sama sekali setelah Reihan terus nolongin lo! Lo malah balikan sama mantan yang udah bikin lo dihantui rasa takut itu!"


"Iya, Mi!" tambah Rahma. "Suka sih boleh-boleh aja, tapi balik lagi ke mantan yang udah nyakitin lo! Apalagi bikin lo trauma, itu bukan jalan keluar yang baik buat lo ke depannya!"

__ADS_1


"Apa karena Angga itu lagi naik daun, lo jadi mau balikan sama dia?"


"Siska!" desis Rahma menampik bahu temanku satu itu.


"Angga???" seru ku mengulangi penggalan kalimat Siska.


Balikan? Mantan?! Aku belum pernah punya pacar. Dan Angga itu bukan pacarku. Dia kakakku. Kakak kandung yang beda umur 2 tahun dariku. Mana mungkin kami pacaran!!


Aku belum meluruskan ini pada siapapun. Sampai-sampai aku tidak sempat menjelaskan hubunganku yang sebenarnya dengan Angga. Selain itu, tidak ada yang bertanya dengan pasti untuk itu padaku. Dari awal kepindahan Angga, aku terlalu ketakutan akan sosoknya dan melupakan bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan kepada siapapun.


Sejak dulu, semua tentang Angga di dalam hidupku selalu memberiku tekanan dan perasaan tidak mengenakan. Sehingga aku tidak pernah bercerita apapun kepada siapapun tentang siapa Angga sebenarnya dalam hidupku. Bagaimana hubungan ku dengan Angga selama ini. Atau tepatnya seperti apa hubungan yang ku punya dengan Angga sebagai bagaian dari keluargaku.


Namun ternyata, setelah perlakuan dan sikap baik yang Angga tunjukan sejak kemarin, membuat kesalahpahaman semakin sulit untuk di jelaskan diantara teman-temanku. Apalagi Angga memintaku untuk merahasiakan semuanya. Membuat hal yang berjalan menjadi semakin membingungkan baik untukku ataupun untuk orang-orang sekitarku. Kalau banyak yang salah paham dan mengetahui kami tinggal serumah, bukankah kesalahpahaman yang terjadi bisa semakin besar.


"Gue ngerti lo masih suka sama Angga, tapi lo jangan kecewain Reihan begitu dong, Mi!" cecar Siska lagi. "Meskipun awalnya Reihan hanya bermaksud nolongin lo, tapi belakangan gue lihat dia bener-bener ngeprotec elo dengan baik!" tambahnya.


"Siska!" sanggah Rahma sekali lagi. "Kita sebaiknya nggak ikut campur dan ngebuat dia semakin bingung saja."


Lalu aku hanya bisa terdiam dengan semua ucapan mereka. Dalam hidupku, sepertinya Reihan memang mengambil banyak peranan yang tidak aku sadari. Buktinya, dua temanku ini dan juga Angga, selalu mengaitkan hal apapun tentangku dengan Reihan. Bahkan sebuah kesalahpahaman yang tidak bisa aku jelaskan dengan baik ke siapapun, kini menjebak perasaan yang ku miliki terhadap Reihan dan teman-temanku.


Kali ini Angga melempar senyum pada Reihan dan teman-temannya yang membayang di belakang Reihan. Aku sempat mengira, tatapan Reihan pada Angga akan membuat perselisihan karena tatapan itu penuh dengan permusuhan. Atau itu hanya perasaanku semata.


Walau pun Reihan membalas senyum, aku merasa asing dengan senyum yang ditunjukan. Membuat perasaanku semakin terasa tidak enak sama sekali. Terlebih saat Reihan dan teman-temannya langsung berangsur keluar menyusul Angga yang berjalan dengan santainya di depan mereka.


"Kenapa natapnya begitu amat!" cetus Siska yang wajahnya sudah close up didepan mataku. "Lo takut mereka berantem karena tatapan mereka tadi?"


"Muka lo kok girang gitu liatnya?" Kali ini Rahma menatap Siska dengan curiga.


"Jadi kalian juga ngerasa gitu ya?"


"Iya!" jawab Rahma. Lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah Reihan dan teman-temannya yang menghilang di tikungan lorong bangunan. "Sepertinya Reihan bukan tipe main kasar. Jadi tenang aja!"


"Tapi tatapan Reihan tadi seram lho! Iya, kan Mi?!"


Aku mengangguk ragu. Selama ini Reihan selalu menatap dengan tajam. Tapi kali ini, tatapannya membuatku benar-benar takut.


Jadilah sepanjang perjalanan menuju pustaka, aku memikirkan bagaimana Reihan selama ini. Tatapan Reihan tadi itu benar-benar bukan Reihan yang biasanya. Maksudku, bukan pertama kalinya aku melihat Reihan menatap orang atau bahkan menatapku dengan cara tak biasa, tapi tadi. Tatapannya tidak bisa ditebak. Apakah dia sekedar menatap atau tatapannya memang mengandung tantangan dan perselisihan.

__ADS_1


"Kenapa aku malah memikirkan hal yang bukan-bukan!"


"Lo itu ternyata pemikir yah?!"


Aku mendongak ke arah sampingku. Melihat Reihan dengan senyum dan tampilan yang sedikit berbeda. Lebih rapi dengan jas yang dia gantungkan pada bahunya.


Aku mengangguk. Lalu sesaat kemudian aku langsung menggeleng cepat menjawab pernyataan yang ia lontarkan.


"Aku tidak memikirkan mu sama sekali!" jawabku kemudian.


"Jadi lo mikirin Reihan??!"


Wajah antusias itu kini nampak jahil. Senyumnya sama. Hanya saja, raut ceria Reihan jauh lebih terlihat jelas saat ia tersenyum. Tapi Reihan yang sekarang tersenyum di hadapanku nampak sedikit berbeda. Apa aku yang hanya terlalu memperhatikan hal seperti ini?


Aku mengerutkan dahi. "Kamu Reihan, bukan?"


"Menurut lo?" tanya Reihan dengan wajah jahilnya.


"Entahlah! Aku sepertinya tidak mengenalmu yang ini!"


"Masa nggak kenal!" sela Raina yang langsung merangkul bahuku dengan girang. "Dia juga abang gue, lho!"


"Reihan, kan?"


Aku menuding Reihan yang kembali tersenyum dengan cara tidak seperti Reihan yang biasanya ku kenal di dalam kelas.


"Ya iya dong! Siapa lagi kalau bukan Reihan." jawab Raina yang semakin antusias.


"Gue duluan yah!"


Reihan berjalan menuju pagar rumah yang tidak jauh dari Pustaka. Aku memandang langkah Reihan. Bukan punggung yang biasa ku kenali dari Reihan yang baru beberapa saat tadi ku lihat berbelok di sudut lorong gedung sekolah.


"Apakah dia orang yang berbeda?"


Tatapan Raina nampak begitu puas mendengar ucapan Amy. Membuat gadis itu bersenandung riang sembari masuk ke dalam Pustaka sambil menarik tangan Amy.


...***...

__ADS_1


__ADS_2