
"Lo bisa pulang sekarang, Rei!!" ujar Angga padaku.
Hal itu membuatku melihat dengan rasa tidak percaya pada ucapannya. Seenaknya saja dia mengusirku. Apa bedanya aku dan dia. Kami sama-sama orang luar dalam keluarga ini. Memang dia sudah mendapat pengakuan, tapi aku sudah bertekad akan merebut Amy darinya. Jadi aku tidak akan mundur kali ini.
"Siapa lo!" kata ku meremehkan. "Gue disini karena Amy!"
"Pulanglah!!" ujar Amy. "Aku akan baik-baik saja! Keluargaku disini."
Amy menunduk. Entah kalimat itu ia tunjukan pada siapa. Amy sama sekali tidak melihat ke arahku ataupun Angga. Tapi mengingat kata-kata Amy untuk menenangkan ibunya, aku tahu Angga masih akan berada di dalam rumah ini walaupun aku harus mengikuti pilihan yang tidak ku sukai.
"Besok jelasin ke gue ya, Mi!" pintaku.
Amy mengangguk padaku. "Hati-hati dijalan." ucap Amy.
Sialnya aku merasa sangat jengkel dengan pilihan yang diberikan padaku. Aku bukan tidak bisa melawan, tapi aku memang tidak mempunyai andil apapun untuk turut campur dalam masalah keluarga ini. Terlebih, aku tidak tahu dengan baik apa masalahnya. Aku hanya tidak boleh memperkeruh keadaan keluarga yang sedang berusaha melewati masa sulitnya. Walau sebisa mungkin dan untuk hal apapun, aku pasti akan membantu.
Dari luar pagar rumah ini, aku bisa melihat dengan jelas, bagaimana sosok ayah Amy membopong ibu Amy yang terkulai lemas. Disusul Angga, Amy masuk ke dalam rumah mendahului. Sebelum Angga menutup pintu rumah, dia mengalihkan tatapannya padaku. Dengan ekspresi yang tidak bisa ku pahami, Angga menutup pintu rumah itu rapat-rapat.
Dengan kesal aku memukul stang motor saking jengkelnya dengan pilihan yang tidak ku miliki untuk membantu Amy saat ini.
Sepanjang jalan aku memikirkan banyak hal yang mungkin selama ini di alami oleh Amy. Bagaimana pukulan yang ia dapatkan tadi, bisa jadi menjelaskan luka memar yang dia dapatkan di bagian lengan dan punggungnya. Mungkin karena itu, dia selalu menggunakan seragam berlengan panjang, meski cuaca sedang panas-panasnya. Apalagi di jam olahraga. Daripada banyak berkegiatan, Amy memang lebih sering berdiri diluar lapangan untuk membantu kegiatan olahraga. Seperti memungut bola, mengambil peralatan dan lainnya. Kenapa sekarang gadis itu makin terlihat begitu menyedihkan!!
Hal apalagi darinya yang belum aku ketahui. Aku ingin tahu semua tentang dia. Tentang perjalanan hidupnya. Mungkin dari sanalah aku akan bisa mendapatkan jawaban, bagaimana Amy bisa membedakan aku dan Aray hanya dalam dua kali bertatapan langsung. Itu merupakan hal yang luar biasa untukku.
Laju motor ini semakin kencang di gelapnya jalanan yang tiba-tiba nampak lengang. Rasanya lebih baik jalanan sesepi ini untuk saat ini. Aku benar-benar bisa menikmatinya dengan lebih baik. Dengan semua hal yang berputar di kepalaku, rasanya malam ini akan terasa lebih lama dari malam biasanya.
Dan, benar saja. Malam tahu-tahu sudah berganti pagi. Aku bangun dengan perasaan yang tidak menentu karena memikirkan Amy dan jawaban seperti apa yang akan aku terima dari sosok gadis itu hari ini.
"Gue belum puas untuk tidur!!" gerutu ku pada bantal. Ingin sekali tidur untuk beberapa saat lagi. Toh nanti ada Aray yang bakalan bangunin kalau aku kesiangan. Lalu satu jam sudah aku ketiduran setelah membenamkan kepalaku di bawah selimut. Dan, sial!!
Aray tidak membangunkan ku. Raina dan ibu juga tidak. Aku pasti terlambat ke sekolah. Terlambat masuk untuk menemui Amy dan terlambat mendengar jawaban dari Amy. Jadilah aku bergegas keluar kamar. Masuk kamar mandi, keluar sepuluh menit setelahnya lalu bersiap masuk kamar untuk berganti seragam sekolah.
__ADS_1
Namun aku mematung ketika melihat Aray duduk santai di ruang tamu dengan hanya menggunakan celana kolor abu-abu dan kaos hitam oblongnya. Dia melirik ke arahku.
"Lo bolos sekolah?!" tanyaku bingung. Sepertinya nyawaku masih belum terkumpul semuanya. Sisanya mungkin masih ada yang terjebak di alam mimpi sampai-sampai aku harus melihat Aray dengan santainya menatap padaku dengan heran.
"Tumben lo rajin! Mau sekolah!!"
Suaranya bernada sindiran. Itu artinya, ada hal yang tidak beres dengan pagi terlambat yang ku lewati kini. Aku segera masuk ke dalam kamar dengan bingung. Melihat kalender lalu mengecek hp. Sekali lagi. Sial! Ternyata ini hari minggu.
Akhirnya aku keluar kamar dengan gaya pongah. Mengabaikan Aray yang menikmati tehnya sembari melihat ku yang sudah rapi dengan training hitam panjang dan kaos abu-abu ke banggaanku.
"Amy hari ini libur!" ucap Aray begitu aku berjalan menuju halaman di belakang pustaka. "Abangnya tadi telpon! Katanya ada urusan keluarga!"
Ok! Aku menghentikan langkah beberapa meter dari arah pintu belakang pustaka. Aku kecolongan. Seharusnya aku tidak percaya pada kata-kata gadis itu. Harusnya aku bermuka badak saja semalam dan tetap diam untuk mengetahui apa yang terjadi dan setidaknya aku bisa menjaga Amy dari kemungkinan dia mendapat tindakan kekerasan lainnya.
Lalu aku berpaling pada Aray saat menyadari sesuatu yang tidak biasa ku dengar tentang Amy.
"Abangnya?" tanya ku pada Aray.
"Di telpon sih dia bilang kakaknya Amy!"
"Dia punya kakak?" seru ku.
"Di data sekolahnya memang ada!" jawab Aray. "Laki-laki yang dua tingkat di atas mu."
"Masa sih?"
"Gue kasih angketnya dia kemarin, lo liatnya kemana???"
"Nggak kemana-mana!" jawabku dengan rada frustasi. "Kok gue nggak pernah liat abangnya dirumah yah!!"
"Mau nomer telponnya?"
__ADS_1
Tawaran Aray tidak ku sia-siakan begitu saja. Jarang dia akan berbagi sesuatu yang menurutnya privasi orang pada orang lain. Apalagi padaku yang jelas-jelas tidak bisa dia percaya. Kenapa? Jangan tanya! Nanti kalian juga tahu.
Aku langsung menyalin nomer telpon itu ke hp ku. Menyimpan kontaknya dengan nama yang absurd. Segera ku pencet pilihan telpon pada nomer yang telah ku salin ke layar ponsel. Berharap, aku bisa bicara dengan Amy. Itupun kalau benar nomer yang ini punya orang yang ngaku-ngaku sebagai kakaknya Amy.
"Halo!" suara seorang gadis diseberang sana. "Maaf, yang punya hp sedang mengurus pembayaran." jawab suara itu lagi.
Butuh beberapa waktu sampai aku bisa mengatakan maksudku. Mengingat lagi bagaimana Amy kalau berbicara. Nada suaranya mirip, tapi sedikit lebih nyaring kalau di telpon.
"Apa ini lo, Amy?" tanyaku santai.
"Iya..." jawabnya setelah jeda diam yang cukup lama. "Ini siapa ya?"
"Kira-kira siapa?" Aku yakin dia saat ini sedang memandang layar ponselnya sembari menggeleng tidak tahu.
"Tidak tahu." jawab suara di seberang. Mendengar itu membuatku langsung senyum-senyum tidak jelas. Dia memang gadis yang paling ingin ku masukan dalam kantong saking bikin gemasnya.
"Mi, ini buat lo!" ujar suara lain disampingnya. "Nomer telponnya lo pilih sendiri aja!" tambah suara lain itu lagi.
Ok. Gue nggak segitu familiar dengan suara itu. Terlalu kecil tapi terdengar dengan sangat jelas. Mungkin dia kakaknya Amy. Nada suara yang mirip.
"Pilih nomer mana yang lo suka! Untuk lo pakai seterusnya."
"Yang nomer belakangnya 089 yah!" ujarku sembari memandangi diri ini di cermin. "Lalu tambah nomer yang sekarang ini menjadi kontak pertama lo yah!! Awas nggak!"
"Iya!" jawab Amy diseberang telpon sana.
Tidak ku matikan telpon ini, Amy juga sepertinya tidak melakukan apa-apa sampai terdengar dia sedang meletakkan sesuatu yang membuat telingaku sedikit tersentak.
"Yang belakangnya 089." ucap Amy.
Hal itu membuatku semakin merasa kalau aku adalah pengaruh terhebat untuk Amy. Karena pada hari berikutnya, Amy dengan hp baru pertamanya langsung menunjukan nomer kontak pertamanya padaku. Hebat bukan. Aku yakin Angga nggak akan mungkin bisa mengalahkan hal ini.
__ADS_1
...***...