Mirror!

Mirror!
Amyra: Aku butuh menenangkan diri


__ADS_3

Begitu kejadian di kantin sekolah siang kemarin, aku merasa mungkin hanya kelelahan dan telah kehabisan tenaga dengan semua masalahku selama ini. Aku hanya harus kembali melakukan hal yang sudah lama tidak ku lakukan. Itu adalah melukis bersama anak-anak di perumahan dekat SMP ku dulu. Karena aku baru mendapatkan gaji, ku putuskan untuk membeli beberapa alat lukis untuk mengunjungi rumah kedua ku sebelum rumah melelahkan itu.


Selain membeli beberapa kanvas, aku juga membeli cat warna, dan lainnya. Anak-anak ditempat itu pasti senang dengan kedatanganku.


Sepanjang perjalanan, aku menyusuri tempat yang mungkin sudah hampir empat bulan ini tidak aku kunjungi. Selain karena waktu sekolah, ada beberapa hal yang telah terjadi selama tiga bulan terakhir sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebulan yang lalu berkat bantuan Reihan.


Mengingat Reihan, membuatku sejenak menghentikan langkah. Memikirkan aku berhutang 2 kali traktiran pada pemuda itu.


"Aku harus mentraktirnya juga..."


Ku lanjutkan lagi langkahku menuju galeri lukis kecil yang di buka oleh seorang kakek-kakek seniman jalanan. Di bawah bimbingan kakek yang biasa di panggil kek Tio itu, aku dan anak-anak belajar mengekspresikan pemikiran kami melalu kegiatan melukis.


"Selamat siang ...." sapa ku saat membuka pintu pagar halaman rumah itu.


Walaupun lokasi rumah ini di pemukiman pinggiran kota, tetapi penataan setiap sudut rumahnya sangatlah menangkan dengan banyaknya tanaman hijau yang menjadi penghias setiap halaman depan sampai halaman belakang setiap rumahnya.


Tempat yang aku kunjungi malah lebih bagus lagi. Dengan rumah yang sebagian besar bagian bangunannya terbuat dari kayu, rumah itu menjadi satu-satunya rumah paling mencolok karena bahan dasar bangunannya. Dasar lantai masih menggunakan semen, namun utuk alas lantainya sendiri terpasang ubin kayu yang membuat rumah ini terlihat bagaikan rumah pohon untukku.


Di dalam rumah ini hanya terdiri dari satu ruangan yang terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih kecil diperuntukan dapur dan bagian yang lebih luas untuk anak-anak melukis. Anak-anak yang kini menatapku dengan senang.


"Kakak Amy...." teriak beberapa diantaranya. Dan yang lainnya, masih merupakan anak baru yang tidak aku kenali.


"Siang kalian..." sapa ku lagi membalas pelukan hangat mereka. "Apa kabar kalian?"


"Baik dong Kak Amy.." jawab satunya. Lalu yang lain menjawab ku dengan jawaban yang menyerupai pernyataan yang ku dapatkan.


"Siang kek Tio..."


"Ambil alat lukis mu... lukisan mu di pojokan masih belum selesai kamu warnai..." ocehnya tanpa membalas sapaan ku. Melihat sikap tak acuhnya, aku merasa telah masuk ke rumah kedua ku setelah rumah itu.


Sebelum mengambil alat lukis dan yang lain, aku menyerahkan semua alat lukis yang ku beli di toko pusat kota.


"Untuk digunakan anak-anak nanti, Kek Tio."


Tanpa mengatakan hal apapun, tas itu sudah berpindah tangan. Berjalan dengan bahu yang sedikit bungkuk, kakek Tio membuka almari kayu pada sudut ruangan.

__ADS_1


"Lusa dia datang..." ucap kek Tio. "Katanya merindukan tempat ini..."


Sontak hal itu membuatku langsung menghentikan kegiatanku. Memandangi lukisan yang berhasil ku buat dengan gradasi warna yang sedikit suram. Aku tahu, siapa dia yang dimaksudkan kakek Tio. Dia juga mengenal tempat ini. Dia lah yang menunjukan tempat ini padaku.


"Apa kalian sudah bertemu? Katanya dia pindah ke kota ini."


Aku tidak mempunyai jawaban apapun kecuali diam, kemudian memberi senyum simpul untuk menjawab pertanyaan kakek Tio padaku.


Sepanjang siang menjelang sore itu, aku melanjutkan mewarnai lukisanku. Yang yang kebanyakan dinilai suram. Namun di mataku, warna yang ku lihat hanyalah hitam, putih, dan abu-abu. Bukanlah hal suram. Hanya nampak tidak berwarna. Mungkin itu menjadikannya kelihatan suram. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya menyukai warna-warna itu. Hitam, putih, dan abu-abu dalam berbagai kotras warna.


"Sering-seringlah mampir nak..." pesan kakek Tio ketika aku sudah akan berpamitan untuk pulang. "Tempat ini masih akan buka seperti biasa..."


"Terima kasih, kek!"


Memberi jawaban itu, aku melangkah pergi dengan menutup pagar rumah lukis itu terlebih dahulu.


Hari masih menunjukan pukul 5 sore, dan masih ada sisa waktu untukku sebelum jam 6. Akhirnya aku memilih melangkah ke Pustaka. Datang dan membelikan Raina minuman dan kue untuk kami nikmati bersama.


"Emang perlu kaya gini yah?!"


Aku hanya mengangkat bahu. Tidak banyak teman yang ku punya, jadi siapapun yang setiap harinya berhubungan denganku dan banyak berbicara denganku yang pendiam ini, aku menganggapnya jauh lebih berharga dari orang-orang yang mengaku dekat tapi sebenarnya tidak pernah ada komunikasi apapun.


"Malam mingguan aja sama Reihan! Tuh dia tumben dirumah!"


"Untuk apa?"


"Kalian pacaran, bukan?"


Aku menggeleng. Kemudian langsung mengangguk saat Reihan memintaku untuk melakukannya. Dia berdiri jauh di belakang Raina. Tepatnya di balik jendela pustaka yang terhubung dengan rumahnya. Dari balik kaca jendela itu, dia menatapku dengan yakin. Dan untuk pertama kalinya aku menyadari, tatapan Reihan benar-benar nampak berbeda. Sorot matanya tajam dengan gurat ceria pada wajahnya. Dia bukan Reihan yang ku temui di kantin sekolah yang membuatku kebingungan dengan omongannya. Dia atau mereka nampak berbeda untukku.


"Plin plan banget sih jawabannya!" sanggah Raina. "Yang jelas dong, Mi! Habis Reihan udah ngakuin lo di depan nyokap! Masa iya lo bisa jawab ragu-ragu gitu??"


"Maksudnya?"


"Rei itu baik kok. Tampang sama sikapnya aja yang rada-rada diluar kontrol, tapi itu karena dia yakin hal yang dilakukannya itu adalah yang terbaik. Selebihnya masih bisa ditoleransi kan abang gue itu?!"

__ADS_1


Mendengar ocehan Raina, aku terdiam. Bukan tentang omongannya, tapi lebih ke pengelihatan di seberang kaca jendela pustaka ini. Baru saja Reihan melintas dengan menggunakan baju berwarna silver ke arah yang satunya, dan hitungan detik, dia sudah berbalik dengan menggunakan baju berwarna hitam.


Dia masih memegang apel yang sama. Melirik padaku, lalu menatap dengan cara yang berbeda. Dibelakang Reihan berbaju hitam yang menoleh ke arahku, ada tangan yang sepertinya ingin meraih, namun urung dilakukan.


"Amy!"


Setelah semua kebingungan ku akan Reihan yang bolak balik dibalik kaca jendela pustaka ini, kali ini mataku langsung menatap Raina yang sedang jengkel. Aku tidak memperhatikan saat dia bicara. Aku hanya sekilas mendengar dia menyebut satu nama lain yang terdengar sama dengan panggilan Reihan. Atau itu hanya perasaanku saja.


"Maaf..." ucapku berusaha mengalihkan pikiranku yang mungkin sedang kacau.


Mungkin karena belakangan terlalu memperhatikan Reihan yang berbeda-beda, aku jadi suka berhalusinasi.


"Jadi..." Raina mengembalikan fokus ku pada sosoknya. "Kontak yang bisa gue hubungi mana?"


"Ya?" Aku melongo dengan pertanyaannya. Baru pertama kalinya ada bertanya hal itu padaku.


"Gue udah tanya sama Rei, tapi dia nggak mau ngasih tau gue!"


"Aku memang tidak punya..."


Dan Raina terdiam sejenak.


"Seriusan?" seru nya kaget. "Lo hidup di jaman apa sih?!"


"Yang pasti bukan di zamannya elo!"


Sembari melempar senyumnya padaku, Reihan yang kembali datang dengan menggunakan baju abu, sedang memangku kedua tangannya diatas tangan Raina yang mulai mengeluh kesakitan.


"Apaan sih lo!"


"Ngomong tu di saring dikit!


"Emangnya teh! Perlu disaring segala?"


Merekapun saling pukul dengan bercanda. Melihat bagaimana Raina dan Reihan saling bercanda dengan cara seperti itu, aku hanya bisa menunduk.

__ADS_1


Andai aku dan dia juga bisa seperti mereka...


...***...


__ADS_2