Mirror!

Mirror!
Reihan : Seperti apa hubungan itu?


__ADS_3

Setelah mengantar Amy pulang dan melihat Angga yang menyambutnya, aku sebenarnya sedikit kepikiran dengan hubungan diantara keduanya. Apalagi malam ini, tahu-tahu Amy dijemput dengan motor olehnya. Kenapa aku sedikit membenci hal itu. Rasanya aku seperti kecolongan dengan dua langkah Angga yang mendahului ku itu.


"Lihat deh, bang... Kelakuan Reihan yang mondar-mandir gitu."


"Dia kenapa?!"


"Amy barusan dijemput cowok lain!"


"Siapa?"


"Kalau nggak salah sih Amy manggil dia Angga!"


Aray mengangguk mengerti. Kemudian mencondongkan tubuhnya dengan sedikit menunduk ke lantai di bawahnya.


"Susul aja Rei!"


Kalimat Aray dari lantai dua rumah ini mendadak membuat menoleh kearahnya. Melihat dia yang bersandar santai dengan bacaan ditangannya. Sementara Raina mengisyaratkan bahwa dia tidak mengatakan apa-apa. Padahal jelas-jelas kalimat Aray itu keluar karena ocehannya.


"Susul apaan?!" balasku.


"Si Amy! Siapa lagi?!" balas Raina. Kali ini menampakan senyum cengiran kudanya.


"Kenapa dengan Amy?"


"Di jemput cowok lain, Mah!" jawab Aray santai.


"Heh?"


Ibu melihat ke arahku. Memperhatikan aku dari ujung kaki ke ujung rambut.


"Anak ibu ini gimana sih?"


"Nggak gimana-gimana tuh!" jawabku santai.


"Kalian berdua memang aneh!"


Ibuku menggeleng dengan senyum yang tidak ku mengerti. Kalian siapa maksudnya?


"Kamu tuh cowok Rei... Perjelas perasaanmu sendiri seperti apa!" ujar ibuku seketika. "Ibu tidak masalah siapapun gadis yang kamu suka. Tapi pastikan dulu, kamu beneran suka atau hanya sekedar suka. Karena sebuah rasa harus memiliki prinsip yang jelas dan kuat untuk kedepannya."


"Rei nggak tahu mah..." jawabku. "Mungkin Rei hanya merasa kasihan dengannya."


"Jangan mendekati seorang hanya karena kamu merasa kasihan. Tidak boleh lho sampai merendahkan perasaan yang dimiliki oleh orang lain dengan rasa kasihan yang kamu miliki. Mengerti?"


Aku mengangguk. Benar kata ibu. Aku memang harus memperjelas rasa yang ku punya. Hidup ini terlalu singkat untuk di lewati hanya untuk sebuah kata sekedar rasa kasihan atau kepedulian. Aku hanya harus memperjelas apa yang ada di pikiranku tentang Amy mulai saat ini. Tidak boleh seperti kemarin-kemarin. Aku memang hanya ingin menolongnya. Tidak lebih.


Ku buka pintu kamar. Lalu berbalik lagi untuk menghampiri Aray dan Raina yang masih bersantai di balkon lantai dua sembari menikmati malam. Kalau dipikir-pikir, aku emang punya keluarga yang sempurna. Jarang ada konflik dan tidak pernah ada yang namanya cerita-cerita buruk yang kami lalui. Paling kalau pun marahan, kami hanya butuh waktu untuk masing-masing lalu akan baik kembali seiring berjalannya waktu. Dan itupun tidak lama.

__ADS_1


"Jadi maksud abang, Amy itu kemungkinan mendapat pukulan dari orang rumahnya?"


Itulah kalimat Raina yang menyambut pendengaran ku di ujung tangga.


"Tanya dia! Sepertinya dia tahu pastinya." jawab Aray yang mengarahkan tudingannya berupa lirikan mata ke arahku.


"Beneran gitu, Rei?" mata Raina terbelalak lebar. Sorot matanya penuh tanya. "Soalnya kemarin gue nggak sengaja ngelempar buku tebal ke arahnya. Pas dia nangkap bukunya, Amy kelihatan sedikit meringis." wajah Raina nampak bersalah mengingat kejadian itu. Ada rasa bersalah yang mungkin menjalar di seluruh tubuhnya. Mengingat betapa sensitifnya perasaan adikku satu ini.


"Lo tanyain keadaanya nggak?!"


"Tanyalah!" jawab Raina. "Tapi dia jawabnya nggak apa-apa."


"Gimana menurut lo?" Aray mengalihkan tatapannya padaku.


"Entahlah bang!" jawabku sedikit merasa frustasi. "Gue takut dia kena pukul karena gue."


"Lo apain emangnya anak orang, Rei! Jangan bilang lo maksa untuk di restui hubungannya!?!"


Raina memutar badanku dengan kasar. Sorot matanya menatap tidak percaya. Tidak percaya padaku yang dalam pikirannya mungkin telah melakukan satu kejahatan yang membuat Amy menerima pukulan dari orang tuanya.


"Pikiran lo jauh amat, Rain!"


Aku menampik tangan Raina lalu menepuk keningnya dengan gemas. Dasar adikku satu ini. Pikirannya bisa sampai sejauh itu.


"Terus apaan kalau bukan hal itu?"


"Emang kapan lo ada pulang telat?!"


"Bukan jam malamnya gue!" jawabku ke Raina.


"Lanjutkan." Aray memusatkan perhatiannya padaku. Kenapa aku merasa sedang di introgasi perihal sesuatu yang dialami oleh Amy?


"Gue dan teman-teman antar Amy duluan. Sekitar jam setengah 10an gitu." jawabku. "Sampai dihalaman rumahnya, kami emang dengar nada suara yang rada emosi, bang! Terus...."


Dan wajah Angga yang nongol di depan pintu, membuatku mengepalkan tangan seketika. Ngapain sih cowok itu disana? Kenapa kemarin aku nggak tanya aja sekalian ke Amy?


"Kenapa?" Raina menelisik. Menatap mataku dengan seksama. "Kok kayanya elo tiba-tiba jadi kesal?"


"Sudahlah! Gue tanyain aja besok ke dia." jawabku yang langsung merasa harus lepas dari semua hal yang membuatku terus-terusan memikirkan kedekatan Angga dengan Amy. Padahal Amy masih terlihat setakut itu padanya. Tadi masih mau-maunya dia dijemput dan boncengan motor pula.


"Mending lo telp dia!" sara Aray. Tentunya itu saran yang bagus. Tapi aku tahu betul,


"Dia nggak punya hp!" jawabku.


"Heh?" Raina kembali bereaksi berlebih. "Dia hidup di zaman apaan emangnya?"


"Gue juga nggak tahu!" jawabku lagi sembari membuang muka. Bisa-bisanya gadis itu tidak punya Hp. Apa dia segitu nggak punya uangnya yah? Kalau dari orang tuanya, aku bisa pastikan dia tidak mungkin mendapatkan apapun. Gadis bodoh dan polos satu itu!

__ADS_1


"Wajahnya jangan ditekuk gitu..." sapa ibuku sembari meminum segelas minuman segar racikannya sendiri.


"Cuma bawa segelas, bu?"


"He'em!" jawabnya dalam tegukan yang membuat ku juga ingin meminum sesuatu.


"Rain minta, bu!" Gadis itu sudah menyerobot gelas dalam genggaman ibuku yang langsung mengasurkan tubuhnya disebelah Aray. Memang anak kesayangan.


"Dia kenapa?" tanya ibu pada Aray yang menunjukan dengan terang-terangan ibu menanyakan tentangku yang membuang muka dari semua orang yang duduk di hadapanku.


"Nggak tahu, bu..." jawab Aray. "Dia kadang kan emang suka nggak jelas."


"Kamu ini!" Ibu menepuk kepala Aray yang kemudian ditangkis Aray dengan bacaan yang dipegangnya.


"Rei lagi cemburu, bu..." jawab Raina. Gelas ditangannya sudah berpindah diatas meja kayu disebelahnya.


"Cemburu? Sama siapa?"


"Yang tadi jemput Amy!"


Seringai jahil Raina memuncak saat aku menatapnya dengan tajam. Gadis kecil ini memang nggak ada takut-takutnya. Kalau Amy yang mendapatkan tatapanku ini, sudah pasti dia akan menunduk. Tubuhnya mengkeret dan mengecil sekecil liliput.


"Nggak! Ngapain gue cemburu!" jawabku. "Orang gue dan dia nggak ada hubungan apa-apa." tambahku. Tapi langsung dipatahkan oleh ibuku.


"Memang mesti harus ada hubungan ya untuk ngerasa cemburu? Cukup rasa suka aja kayanya!"


Lirikan jahil ibuku terarah dengan yakin. Ibu adalah satu-satunya yang mengenali bagaimana aku luar dalam. Sebanyak apapun rahasia yang ku punya, ibu ku memegang semua kuncinya. Jadi kali ini, kalau ibu mengatakan aku cemburu, bisa jadi aku merasakan itu. Bisa jadi yah?! Bukan yang sebenarnya. Karena aku sendiri bingung dengan kepedulian ku pada Amy.


"Benar tuh, bu!" Angguk Raina setuju. Tapi lalu dia berangsur mendekatiku dengan raut wajah tidak terima. "Lo bilang apa tadi?!"


"Emang gue ada ngomong apaan?!"


"Lo dan Amy nggak ada hubungan, gimana tuh maksud omongan lo?!"


"Ya emang nggak ada hubungan apa-apa?!"


"Pacaran? Kalian nggak pacaran?!"


"Kenapa wajah lo kecewa gitu, Rain...."


Aray menutup bacaannya. Dia menatap Raina dengan tatapan yang tidak akan di mengerti orang lain. Tapi aku mengetahui arti dari tatapannya. Kami memang kembar identik. Dan terkadang pemikiran kami terhubung satu sama lainnya. Tatapan Aray itu pasti soal Jihan. Karena sampai hari ini, Raina sama sekali tidak bisa akrab dengan pacar dari Aray itu. Bahkan Raina terkesan tidak peduli dengan itu. Walau Aray sangat berharap, Raina bisa menerima Jihan sebagai temannya.


"Nggak ada..." jawab Raina. "Gue cuma nggak trima aja!"


"Kalian ini!" sentak ibuku yang mengetahui suasana seketika menjadi muram. "Jangan disini terlalu lama. Udaranya mulai dingin."


😏 ternyata. Menyindir halus. Dasar ibu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2