Mirror!

Mirror!
Angga: Mulai dari rumah


__ADS_3

Saat aku melihat Amy berangkat bersama teman-temannya dan juga si bocah tengik sepulang sekolah siang ini, awalnya aku memutuskan untuk mengikuti mereka. Tapi mendengar acara itu hanya berupa acara makan-makan, aku langsung mempunyai rencana lain. Aku ingin mengalihkan motorku menuju tempat lainnya, namun sebelum benar-benar pergi, aku memperhatikan satu acara festival yang ada didekat rumah makan yang didatangi Amy dan teman-temannya.


Tanpa sadar, aku sudah masuk ke dalam area festival itu. Melewati berbagai keramaian dengan perasaan yang yang ringan dan menenangkan.


"Rasanya berbeda." gumamku. Melewati berbagai stand makanan cepat saji yang menggiurkan untuk sekedar dicicipi. Stand-stand minuman yang memenuhi dahaga di kerongkongan. Lalu aroma sate bakar yang membuatku lapar seketika.


Aku menghentikan langkahku pada penjual sate itu. Memesan satu porsi lalu mengenang bagaimana aku tiga tahun yang lalu dengan kesendirian dan perasaan yang berbeda ketika memakan satu tusuk demi satu tusuk sate yang ku makan. Lama menghabiskan waktu, aku tiba-tiba sadar dari semua kenangan ku saat melihat Amy bersama teman-temannya berjalan melewati jalanan yang tadi aku lewati.


Panik untuk sesaat karena mereka menuju ke arahku, aku segera menyelinap diantara beberapa stand untuk menghindari pandangan mereka. Sepanjang aku menyelinap supaya tidak terlihat dan tidak ketahuan oleh mereka, aku memperhatikan Amy dengan baik. Dia masih saja sama. Menyukai semua makanan cepat saji yang dijual semua stand makanan di acara festival ini.


Berhasil melewati ketiganya, aku hampir menabrak si bocah tengik yang nampak celingukan.


"Sorry! Sorry!" ucapnya ketika tidak sengaja bahu kami bertabrakan. Untungnya dia tidak menoleh saat mengatakan itu, sehingga aku bisa bergegas keluar dari tempat itu tanpa diketahui oleh mereka.


Sebentar dulu, memangnya kenapa kalau mereka tahu aku ada disini?! Bukannya bagus, aku jadi bisa menjaga Amy. Setidaknya, saat mereka pulang larut, aku mempunyai alasan mengantar Amy pulang. Sekalian aku pulang ke rumah.


Memikirkan rumah, laju motor ini sudah mengarah ke tempat itu. Tempat dimana Amy tinggal bersama mereka. Tempat yang aku tinggalkan tiga tahun lalu. Tempat yang bagiku belum layak disebut dengan sebutan rumah.


Laju motorku melambat di ujung jalan. Melihat sebuah rumah dengan lampu yang redup dan suara gaduh yang biasa terjadi.


"Tidak berubah sama sekali." gumamku sembari memarkirkan motor ini di halaman parkir rumah yang ku masuki.


"Aku tidak sakit!!"


Teriak suara perempuan yang beberapa kali sosoknya menghampiriku ke tempat aku bekerja secara freelance. Berbagai lemparan benda-benda yang ada dibagian dapur melayang ke arah ruang tamu. Sementara sosok laki-laki yang sebenarnya belum tua, namun nampak tua tengah berusaha menghindari lemparan yang ada sembari mencoba menenangkan sosok perempuan di hadapannya.


"Tidak berubah sedikitpun!" gerutu ku dengan kesal. Aku menyeruak masuk ke dapur lalu ditatap penuh kesedihan oleh sosok perempuan di hadapanku itu.

__ADS_1


"Kamu pulang!" lirihnya. "Kamu benar-benar pulang..."


Menangkap langkahnya yang terhuyun menghampiri, aku tidak bisa untuk mengabaikannya. Akhirnya aku menahan tubuhnya lalu memapahnya untuk duduk di kursi dekat meja makan.


"Syukurlah kamu datang!" ucap sosok laki-laki tua di belakangku. Dia memungut beberapa perabotan yang dilempar oleh sosok perempuan di hadapanku ini.


Suasana menjadi sedikit tidak mengenakan karena ketika aku pulang, aku kembali mendapatkan kejadian yang sama dari suasana tiga tahun yang lalu. Tapi kali ini ada yang jauh berbeda dari keadaan duku. Itulah adalah bagaimana kami mengelola emosi kami masing-masing dengan keadaan yang ada.


"Ya! Aku pulang!" jawabku.


Pulang untuk benar-benar pulang. Pulang untuk memperbaiki apa yang salah di dalam keluarga ini. Pulang untuk menemukan alasan di balik semua luka yang di dapatkan Amy. Dan pulang untuk memberikan Amy alasan kenapa dia pulang terlambat malam ini.


Melihatku yang bersandar di depan pintu rumah, aku melihat bagaimana reaksi terkejut dari si bocah tengik juga teman-temannya saat aku menyambut kepulangan Amy. Tidak ingin menyapa, aku hanya meminta Amy untuk segera masuk rumah untuk bisa beristirahat setelahnya.


Malam memang berjalan dengan sedikit kekakuan karena kepulangan ku yang tiba-tiba pada situasi yang menurutku cukup tepat. Dimana aku bisa membantu Amy, dan laki-laki paruh baya itu mengambil keputusan yang seharusnya sudah sejak lama dia ambil.


Ketika aku dalam perjalanan pulang untuk menjemput Amy, aku melewati blok pertokoan yang sedang mengadakan acara bazar dengan beraneka ragam makanan yang di jual disana.


"Aku harus mengajaknya kesini!"


Mempercepat laju motor, aku merasa cukup bersemangat karena langkah pertamaku berbaikan dengan Amy akan berjalan lancar dengan mengajaknya datang ke area bazar makanan itu.


Melihat Amy sudah menutup toko dan berjalan ke arah pagar disamping pertokoan tempatnya bekerja, aku menghentikan motorku sedikit jauh dari Amy. Tanpa banyak basa-basi, aku mengajak Amy untuk segera ke naik motorku dan mengabaikan si bocah tengik dengan adiknya yang cukup menggemaskan. Tidak ku sangka, seorang kakak setengik itu, dia bisa mempunyai adik yang begitu menarik.


Laju motor ku percepat menuju pertokoan itu. Berharap tempat itu masih tutup dalam waktu 2 sampai 3 jam ke depan. Setidaknya, Amy bisa membeli beberapa makanan yang memang dia inginkan.


Begitu motorku menepi, segera aku mengajak Amy menyusuri pertokoan itu untuk sampai di area bazar makanan itu.

__ADS_1


"Lo masih ingin mencoba semua makanan ini?" tanyaku saat menghentikan langkah Amy yang sudah menyeruak masuk ke area bazar tanpa mengajakku.


Melihat Amy mengangguk girang. Aku hanya bisa tersenyum dengan itu.


"Beli yang manapun yang pingin lo makan atau lo minum?" ujarku bersemangat. Tapi tidak ku perlihatkan dengan jelas. Aku hanya ingin melakukan hal yang bisa mengembalikan semangatnya. Yang dengan sadar, ku tepuk kepalanya dengan lembut.


"Ini sogokan pertama gue yah!" ujarku begitu melihat dia memejamkan mata dengan tubuh yang mengkeret.


"Sogokan untuk apa?" tanyanya takut-takut.


"Bukan apa-apa!" jawabku singkuh.


Mana mungkin aku mengatakan aku menyogoknya untuk memaafkan ku. Memang kesalahan apa yang ku perbuat? Amy saja yang terlalu ketakutan dengan ku. Terlalu salah paham dengan semua tindakan yang mungkin aku lakukan selama ini.


"Ayo cepat pilih yang mana yang mau lo beli! " jawabku yang langsung mendorong gadis itu untuk segera membeli makanan apapun yang ingin dia makan saat ini.


Sembari menguatkan pegangan tasnya, Amy berjalan menyusuri beberapa stand makanan yang ada. Memesan masing-masing satu porsi dengan toping yang dia inginkan. Belum lagi 2 cup minuman dengan wadah ekstra jumbo yang kini ku pegang di dalam tentengan tas ditangan kananku. Tangan kiri penuh dengan satu kantong tas makanan berisi kentang goreng, kue-kue kecil berbagai rasa, jagung bakar, dan beberapa jenis jajanan cepat saji lainnya.


"Tubuhnya begitu kurus, makanan sebanyak ini apa muat?" gumamku.


Bukan mengeluh, aku hanya tidak menyangka dengan selera makannya. Dengan tubuh kurusnya, apa dia akan mampu menghabiskan semua makanan yang dia beli ini? Dia sangat berubah dari dulu. Atau hanya aku yang baru menyadari ini?!


"Terima kasih! Sudah semuanya aku beli." ujarnya dengan menunjukan dua kotak makanan lain yang baru saja dia bayar menggunakan uang yang aku berikan padanya.


"Kita pulang?"


Dia mengangguk. Pandangan matanya sedikit berubah saat melihatku. Aku harap, ini akan berhasil. Setidaknya, tidak akan ada kekakuan lagi di dalam rumah. Aku singkuh dengan ketakutan yang terus dia tunjukan padaku. Padahal aku tidak menakutkan sama sekali.

__ADS_1


...***...


__ADS_2