Mirror!

Mirror!
Angga: Penyesalanku.


__ADS_3

"Percuma!" ujar ku mendorong tubuh bocah tengik yang tiba-tiba bertampang bringas dan sudah berdiri dihalaman rumah.


"Percuma gimana maksud lo?!"


"Dia bakalan baik-baik saja!"


"Apa jaminan lo?!" ujarnya bernada cukup keras. "Lo liat gimana dia tadi di paksa masuk!"


"Justru karena gue ngeliat, gue berani pastiin kalau dia bakalan baik-baik aja!!"


"Kalo lo peduli, lo pasti sudah tahu tentang semua luka pada tangan dan lengan Amy!"


"Apa maksud lo?!" aku menarik lengannya dengan paksa untuk meminta penjelasan akan kata-katanya.


Entah kenapa, aku sadar keinginan si bocah tengik bernama Reihan ini, untuk bisa melihat keadaan Amy saat ini sangatlah kuat. Buktinya dia sudah bersiap melompat naik dari tembok di samping pagar yang terlihat tidak cukup tinggi tapi pasti akan memberi rasa curiga pada tetangga disekitaran perumahan ini.


"Jangan seenaknya!!" jawabku menahan tindakannya. "Lo mau dikira maling, malam-malam masuk rumah orang dengan melompat tembok?!"


"Trus, lo nyerah gitu aja setelah perlakuan yang lo dapat? Setelah apa yang lo lihat?!" ujarnya penuh dengan kekesalan.


"Amy bilang akan baik-baik saja! Itu artinya dia memang akan baik-baik saja!"


"Baik-baik saja dari mana?!" cibirnya.


"Mereka tidak akan melakukan hal apapun pada Amy setelah ini!"


Akhirnya dia terdiam. Dari air mukanya, dia antara percaya dan tidak percaya dengan omonganku.


"Ini urusan keluarga! Orang luar memang sebaiknya pergi bukan?!"


Aku mengatakan itu bukan karena tidak peduli pada Amy. Justru karena aku tahu Amy tidak akan ingin dilihat dalam kondisi seperti itu oleh siapapun. Apalagi bocah tengik ini. Kalau dia terus memaksa masuk, hal itu pun tidak menjamin aku ataupun dia akan bisa membawa Amy keluar dari rumah ini. Hanya Amy yang bisa menenangkan kemarahan kedua orang tua sampai detik ini. Tapi bekas pukulan pada lengannya kenapa bisa terjadi??


"Gue harus memastikan Amy dalam keadaan baik-baik saja, baru gue akan pergi!!"


Pintu pagar terbuka perlahan, dan Amy keluar dengan canggung. Dia sudah mengenakan jaket abunya. Jaket abu yang ku tinggalkan dirumah tiga tahun lalu.


Alih-alih menanyakan keadaanya, cowok tengik ini hanya terdiam dan melihat Amy dengan rasa tidak percaya.


"Gimana?" tanyaku.


"Apa lo sudah gila?"


Amy menggeleng pelan. Jawaban itu untuk kedua pertanyaan kami.


"Maaf! Tapi bisakah kamu pulang Reihan.."

__ADS_1


Tatapannya makin merasa tidak percaya dengan hal yang dikatakan Amy. Terlebih untuknya. Dia yang memang orang luar dalam drama keluarga ini.


"Ayah dan ibu.. ingin bicara padamu."


Kalimat itu tertuju padaku. Melihat Amy sedikit meringis begitu angin sepoi-sepoi menerpa kearahnya, Reihan ikut melangkah masuk bersamaan dengan ku.


"Gue juga ikut! Bukan cuma dia yang peduli sama lo, gue juga!" jawabnya yang cukup cuek dengan muka badak.


"Gue bukan orang asing disini!" jawabku dengan cepat. "She's my first love! Itupun sudah atas seijin orang tuanya."


Aku berharap kalimat itu cukup membuatnya ragu sesaat, tapi sudahlah. Dia tidak akan mengurungkan niatnya sama sekali. Terbukti dengan dia yang sudah berjalan cukup jauh mendahuluiku.


"Memangnya kenapa kalo lo cinta pertamanya. Lo cuma masa lalunya dan gue masa depannya."


Ngotot!


"Emang tu omongan bisa lo pertanggung jawabkan?!"


Jadilah dia, ku biarkan masuk bersamaku dan tentu saja setelah Amy kalah telak karena tidak bisa berdebat dengan sosoknya.


Di dalam rumah, keadaan sedang sangat kacau. Amy melangkah dengan pelan sembari memungut beberapa barang yang masih dalam keadaan baik untuk dikembalikan ke tempatnya semula.


Rumah ini tidak berubah sama sekali. Masih sangat tidak teratur dan berantakan dimana-mana. Dari semua ruangan yang ada, aku yakin hanya kamar Amy saja yang rapi. Atau malah kamarnya yang paling suram. Aku melihat Amy.


"Ada apa?!" tanyaku pada sosok laki-laki paruh baya yang berwajah lusuh dengan kelopak mata yang nampak kelelahan. Rambutnya masih sama awut-awutannya seperti tadi.


"Kamu mengajak orang luar!" pandangnya sinis.


"Kenapa memangnya?" jawabku berusaha terlihat sesantai mungkin.


Padahal dalam hati, aku benar-benar ingin melawan kata-katanya. Setidaknya meluapkan kemarahan yang bergejolak setelah melihat keadaan Amy. Tapi aku masih ingat dia itu orang tua dan aku masih bersama seorang yang entah kenapa tiba-tiba sangat kalem. Berbeda dengan apa yang ditunjukannya diluar tadi.


"Bukankah dengan siapapun tidak ada bedanya?!"


"Tidak sopan sekali menyahut omongan orang tua seperti itu!" katanya dengan begitu sinis.


"Siapa yang kamu sebut orang tua!"


Seketika bocah tengik di sampingku menatap dengan mata terbelalak lebar. Apa yang dia kaget kan?!


"Perkenalkan, saya Reihan, temannya, Amy!" ucap si bocah tengik dengan sopan. "Boleh kah saya bicara dengan Amy? Supaya anda leluasa untuk bicara berdua?!"


"Mau apa mencari gadis tidak berguna itu!?!" hardiknya. "Dia anak yang menyusahkan saja! Kenapa tidak mati sejak dulu."


"Begitu kah kau menilai anakmu sendiri?!" nada suaraku sudah tidak bisa tertahankan.

__ADS_1


Kalaupun aku membentak, aku masih punya hak ketika tidak suka mendengar omongan seorang yang menyebut dirinya sebagai orang tua.


"Amy tidak akan mau keluar kalau anda tidak mengijinkan saya menemuinya." jawab bocah tengik ini yang masih bernada sopan.


Entah benar-benar sopan atau dia sedang menahan emosinya. Atau dia menemukan cara meredakan gejolak emosinya. Wajahnya nampak datar dan tidak begitu tegang dengan suasana yang bahkan sudah dilihatnya dari awal.


"Bolehkah saya menemuinya?!" Kali ini dia menatap laki-laki tua ini lekat-lekat. Tatapannya biasa saja, tapi datar wajahnya membuat laki-laki ini sedikir bergeming.


"Sudah malam!" ujarnya memalingkan wajah. "Kalau ada hal penting, bicarakan besok saja!"


"Terima kasih, pak!" Reihan tersenyum.


Senyumnya memang biasa saja. Tetapi aku merasa terganggu dengan itu. Entah kenapa, aku merasa bocah tengik ini sudah mengetahui maksud laki-laki tua ini untuk membiarkan kami melihat semua kejadian hari ini.


"Boleh ku pastikan bagaimana Amy saat ini?"


"Aku baik-baik saja!" jawab Amy ketika kami sudah berdiri untuk bersiap pamit dari tempat itu.


Dia sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan wajah datar dan senyum simpul. Matanya tidak memperlihatkan kesedihan, tetapi mata itu nampak lelah.


Barulah hari ini aku paham kenapa sejak dulu dia nampak begitu pucat setiap harinya. Sejak SD dia dikatakan hantu atau anak sakit-sakitan oleh teman-teman karena sejak dulu dia biasa menerima pukulan dan terkadang bentakan yang membuatnya selalu melangkah mundur dan berdiam diri disudut ruangan.


Kali ini aku benar-benar memperhatikannya. Melihat dia yang baru saja mengalami hal yang sama. Hal yang dulu sering aku lakukan karena mendapat ejekan sebagai kakak dari seorang hantu sumur.


Penampilan Amy sejak dulu selalu sama, berpakaian sederhana dan seadanya dengan warna yang nyaris mendekati warna putih, hitam, atau abu- abu. Rambut panjangnya di kuncir dua seadanya. Poni menutupi bagian alisnya dan dia nampak begitu tidak terurus dengan badannya yang kurus.


"Lo butuh sesuatu?"


Amy menggeleng padaku.


"Sampai jumpa besok, Amy!" Si bocah tengik tetap pada posisinya. Menatap Amy dengan tatapan yang bagiku begitu menganggu. Seakan Amy telah terkunci di pandangannya.


Kembali Amy mengangguk. Kali ini sedikit ragu. Dengan wajah masih tertunduk, dia berbalik untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Pulanglah!"


"Saya pamit pulang!" katanya dengan sopan.


Si bocah tengik yang entah kenapa membuatku ingin mempertanyakan maksud dari sikapnya kini. Bahkan setelah keluar dari rumah pun, bocah tengik itu tidak mengatakan hal apapun selain ucapan terima kasih yang biasa lalu pulang dengan berjalan kaki.


Benar juga? Kenapa tiba-tiba dia ada dilingkungan sini? Sepertinya dia tidak tinggal seputaran sini?!


Akh! Kenapa tiba-tiba aku harus peduli.


...***...

__ADS_1


__ADS_2