Mirror!

Mirror!
Reihan : Kejutan demi Kejutan


__ADS_3

Perasaanku memang tidak salah dalam memberi nilai pada seorang. Apalagi untuk gadis seperti Amy. Tapi kenapa terkadang sikapnya itu seperti tidak pada tempatnya. Seperti kali ini. Aku habis nolongin dia. Harusnya dia tidak menolak dengan terang-terangan permintaanku itu bukan. Lagian apa susahnya sih ke kantin. Toh lewat perpustakaan juga.


"Bukannya lo ada hutang traktir gue!" akhirnya aku keluarkan jurus tidak bisa mengelaknya. Gimana dia mau beralasan coba.


"Hutang traktiran?" Rahma menatap ku curiga. Sementara aku acuh akan ekspresi yang dia tunjukan.


"Oh iya!" ujar Amy seketika. Membuatku dan Rahma saling pandang lagi untuk ke sekian kalinya. Menerka-nerka hal apa lagi yang akan dia katakan atau mungkin ingin dia tunjukan padaku.


Aku sudah tersenyum senang, sampai Amy melihat ke arahku dengan mencakupkan kedua tangannya di hadapanku. Ini apaan lagi?!


"Lo peras anak orang!!" senggol Rahma berbisik. Aku menggidikkan bahu. Gila aja gue palak anak sepolos Amy. Bisa remuk gue di permak keluarga dan teman-teman gue kalo gitu.


"Soal traktiran itu,"


Amy lalu merogoh saku bajunya. Mengeluarkan secarik kertas yang cukup familiar untukku.


"Ini..."


Voucher makanan di tempatku dan teman-teman biasa menghabiskan sore selain pustaka. Bukannya gimana, tempat makan dari kedua voucher itu milik sahabatku yang sudah keluar negeri karena mengikuti keluarganya. Sekarang tempat makan itu diserahkan kepada orang kepercayaan keluarga itu.


"Kamu bisa pergi bersama temanmu menggunakan dua voucher ini." jelas Amy. "Tempatnya bagus. Aku sudah pernah kesana." tambahnya lagi.


"Sama siapa?" tanya Rahma kepo.


Sama penasarannya denganku saat ini. Dia bukan tipe yang suka keluar kelayapan. Sementara tempat makan itu tidak mungkin ia kunjungi di waktu dimana dia sekolah sambil bekerja. Bukannya aku mempunyai rasa curiga atau bagaimana, dia tipe dengan kegiatan monoton. Aku sering memperhatikan hal itu. Setelah pulang sekolah langsung bekerja ke Pustaka. Pulang dari pustaka, dia pasti langsung pulang dengan temperamen orang tuanya. Sementara tempat makan itu arahnya berlawanan jauh dengan Pustaka dan arah jalan pulang rumahnya. Darimana dia bisa mendapatkan voucher makanan ini?


"Dengan anak-anak di tempat melukis." jawabnya polos. Matanya sedikit berbinar-binar. Sepertinya mengingat tempat makan itu. Atau kenangan akan tempat itu?!


"Lo masih sering datang ke sana?!" tanya Rahma antusias.


Lalu aku hanya bisa menjadi pendengar setia saat keduanya berbincang tentang tempat melukis yang keduanya bicarakan. Tempat melukis yang membawa ke tempat makan itu untuk acara penggalangan dana sampai dia dan anak-anak rumah lukis itu mendapatkan voucher makanan yang dua diantaranya kini sudah berada di tanganku.


"Daripada pergi bareng teman, mending pergi sama lo, kan?!" ujarku.


Hal itu langsung mendapat tatapan tidak percaya dari Rahma. Gadis itu mendelik padaku. Sementara Amy, hanya menatapku sembari mengedipkan matanya beberapa kali.


"Gue ikut!" ujar Rahma mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Seakan cuek jika dia menerima penolakan dariku ataupun Amy.


"Gue juga!" Siska langsung menggandeng tangan Amy.


"Kita juga ikut Rei!" teriak Raka dan Ditya yang menyusul di belakang Siska.


Sejak kapan mereka ada dibelakang kami?!


"Keluar nggak ngajak-ngajak kita, penghianat lo Rei!"


"Iya... Masa ngajak anak-anak cewek aja! Mulai lupa sohib ya loh?!"

__ADS_1


Amy terlihat kebingungan dengan semua permintaan mereka untuk ikut bersamaku. Padahal dia sendiri belum memberikan jawaban apapun padaku.


"Gimana?" tanya ku meyakinkan pada Amy.


Amy mengangguk pelan. Lalu dia seakan sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuatku langsung menyadari betapa perhitungannya gadis itu terhadap uang.


//


Setelah jam sekolah usai, aku langsung bergegas pergi menjemput Aray. Meminta mengikuti satu projek yang sedang Aray kerjakan sebagai aktor remaja.


"Ngerjain apapun nggak masalah, bang! Asal dapat bayaran!" ujarku nyengir dengan muka badak.


Terhadap abang sendiri tidak masalah lah sedikit memaksa. Toh aku memaksa bukan untuk mendapatkan sesuatu secara percuma. Gini-gini, harga diriku cukup tinggi untuk sekedar meminta uang untuk keperluan pribadiku.


"Lo butuh uang?!"


Ini lagi satu hal yang nggak aku suka dari Aray. Aku sudah mengatakan maksudku dengan terus terang. Aku butuh kerja asal dapat bayaran. Ya jelaslah, aku butuh uang.


"Iya!"


"Gantiin gue pemotretan kali ini."


"Gantiin apa?"


"Buat sampul majalah remaja." jelasnya. "Gue lagi nggak enak badan nih!"


"Nggak bakalan ada yang tahu. Nanti gue kasi tahu personilnya di lokasi." tambahnya.


Dia mengendorkan kerah seragam dan dasinya. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, terlihat bagaimana Aray berkeringat padahal ac mobil sudah menyala dari awal dia masuk.


"Lo yakin, Ray?"


"Yakinlah, bang!" jawabnya pada bang Vino, manager juga sopir yang selalu mengantar jemput Aray urusan pekerjaannya. "Nanti gue jelasin ke rekan-rekan. Toh kami nggak ada bedanya."


"Lo belum mau mati kan Ray?!"


Dan satu jitakan di kepala aku dapatkan karena pertanyaan ku barusan.


"Gue lagi nggak enak badan aja!" jawab Aray. "Nanti juga Jihan datang rawat gue!"


"Manfaatin anak orang aja lo!"


"Nggak apa! Gue lebih suka manfaatin dia daripada minta tolong orang lain dengan motif tersendiri."


Mendengarkan kalimatnya itu, aku pun diam. Kisah Aray dua tahun terakhir memang menyakitkan kalau ku pikirkan. Di khianati oleh orang yang dia percaya lalu di manfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi orang itu. Untung ada Jihan yang bikin abang ngeliat gimana orang-orang memperlakukan dirinya yang sebenarnya.


"Terserah elo aja!" jawab ku. "Yang penting gue dapat duit."

__ADS_1


"Buat apa sih?!" tanya Aray yang bersandar dengan wajah yang terlihat semakin pucat saja.


"Lo beneran nggak apa-apa?!" ujarku panik. Secara aku tidak pernah melihat tampangnya sepucat ini. Belum lagi keringatnya yang mengucur deras dengan tubuh meringkuk pada sandaran kursi mobil.


"Kita ke rumah sakit aja, Ray!" ujar bang Vino. "Biar lo dapat perawatan di rumah sakit, gue sama Reihan yang handle kerjaan lo!"


"Gue benci rumah sakit." jawab Aray. Ternyata dia nggak lupa dengan perasaan bencinya itu. "Pulang aja bang, gue istirahat dirumah aja."


Jawaban Aray itu langsung mengantarkan kami menuju rumah yang lokasinya sedikit berlawanan arah dengan jalur yang kami lewati saat ini. Tapi karena bang Vino sering di jalanan, hanya dalam waktu kurang dari sejam, kami sudah sampai di lokasi pemotretan. Dan Aray sudah beristirahat di rumah dengan Jihan yang menemani.


"Gue kasih tau fotografernya dulu, Rei." ujar bang Vino.


"Ok Bang. Thank you ya!"


Bang Vino berlalu begitu saja. Lalu aku mengingat pesan Aray sebelum kami meninggalkannya di depan pagar rumah tadi.


"Lo harus profesional dengan siapapun nanti pemotretannya."


"Apa maksudnya coba?!" gumamku tanpa berpikir siapa yang akan beradu pemotretan denganku saat ini.


Bukan denganku sih, aku siang ini menggantikan Aray yang sakit. Walau ini bukan yang pertama kali, tapi aku biasanya menggantikan Aray di sekolah, bukan di tempatnya bekerja. Kalo ke lokasi syuting atau pemotretannya, aku hanya numpang untuk bermalas-malasan dalam mobilnya. Hampir tidak pernah keluar. Kalau pun bosan, aku biasa menggantikan Aray bertemu fans-fansnya hanya untuk berfoto.


Terkadang, ada untungnya juga berwajah kembar identik. Tadinya aku kira hal itu semacam kutukan. Ketika melihat fotokopian diri sendiri dengan nyata dan sikap juga sifat yang berbeda. Terus terang saja, hari, tanggal lahir, dan zodiac kami berbeda. Bisa kalian bayangkan kenapa? Aku tidak akan menjawabnya disini. Lain kali saja kalau aku mood untuk menceritakannya. Karena hal itulah sifat, sikap, dan pembawaan kami berdua jauh berbeda meskipun kami kembar identik.


"Rei!" panggilan bang Vino langsung membawaku untuk menyusul sosoknya yang berdiri disamping seorang yang usianya mungkin lebih tua dariku sekitar 5-7 tahunan. Dengan memegang kameranya, dia terdiam sesaat begitu aku menghampiri keduanya.


"Sore, bang!" sapa ku ala-ala biasanya aku menyapa orang yang baru pertama kali aku temui.


"Gila!" ujar pertamanya. "Kalau gini sih bukannya menggantikan Aray namanya!" tambahnya.


"Hehe..." ujarku menggaruk kepalaku karena reaksinya yang memang selalu aku dapatkan ketika memperkenalkan diri sebagai kembarannya Aray.


"Keren! Keren!" tambahnya lagi. "Lain kali foto shot berdua sama Aray boleh nih! Dengan konsep Mirror!"


Terlihat sosok laki-laki itu tengah berada dalam fantasinya yang entah seperti apa ketika mengatakan hal itu. Kedua tangannya membentuk frame lalu seakan mencarikan angle foto yang terus saja menyoroti diriku.


"Ok! Lo ganti dulu sana! Partner lo udah di dalam juga. Kalian pemotretan bertiga dulu yah! Yang jadi pasangan lo belum dateng!"


"Ok bang!" jawabku yang langsung menuju arah yang dia tunjukan.


Dengan sedikit rasa degdegan aku masuk ke tempat dimana biasa Aray masuk. Ruang ganti untuk para aktris ataupun aktor. Begitu membuka pintu, semua rasa degdegan itu hilang. Berganti dengan rasa jengkel sekaligus kesal.


"Kenapa harus dia?!"


Dia yang baru saja mengganti pakaiannya melihat ke arahku dengan tatapan menyelidik. Lalu menyapa santai.


"Bengong aja lo, Ray!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2