Mirror!

Mirror!
Amyra : Aku tahu, aku hanya harus bisa menerimanya!


__ADS_3

Setelah satu minggu yang kacau tibalah saat ini. Saat dimana aku harus menghadapi kemarahan Reihan untuk pertama kalinya. Padahal aku yang harusnya marah, tapi aku tidak memiliki hak itu. Hak yang bagiku terlalu istimewa karena sudah menerima pertolongan Reihan. Dan aku harusnya tidak menganggap hal itu lebih dari sekedar pertolongan. Ditambah cinta pertamanya telah kembali padanya.


Setiap melihat Reihan dan Clara rasanya terlalu menyakitkan. Setiap kali ingat bagaimana mereka berpelukan di ruang UKS membuat mataku panas dan ingin menangis. Aku tidak ingin dekat lagi dengan Reihan. Setidaknya dengan begini bisa mengurangi rasa sakit yang ku terima baik saat ini ataupun nanti setelah kepindahanku. Aku harap setelah pindah nanti, aku mulai bisa melupakan Reihan. Reihan yang membuatku berdebar setiap kali dekat dengannya. Juga Reihan yang membuatku merasakan sakit karena dia akhirnya kembali pada cinta pertamanya.


Tapi saat ini, aku ketakutan pada Reihan. Reihan yang tiba-tiba menarik ku dari meja kerjaku. Meminta Raina menggantikan ku bekerja dan melajukan motornya dengan begitu kencangnya. Bukannya tidak bisa melawan, aku takut begitu dia melotot kepadaku.


Sepanjang perjalanan yang aku kenali tujuannya, aku memikirkan banyak hal yang tidak menentu. Tentang bentakan, amarah, pukulan, dan lainnya. Atau lebih buruk lagi, Reihan bisa saja meninggalkanku di suatu tempat saking marahnya dia padaku karena mengacuhkannya.


Diparkiran perbukitan yang sedikit sepi disiang hari, Reihan menatapku dengan tatapan penuh menyelidik setelah perjalanan dengan kecepatan maut yang terus saja memacu debar jantungku dan berkali-kali membuatku merasa mendekati kematian.


Aku tahu seminggu ini aku menghindarinya. Bahkan memilih tidak bicara untuk mengurangi rasa sakit ku dan juga untuk membiarkan dia menikmati waktunya kembali bersama Clara. Apa aku salah? Bukankah aku tidak mengganggunya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan?


"Gue ada salah apa?!" tanyanya padaku dengan nada suara cukup jengkel.


Untuk waktu yang cukup lama aku hanya bisa tertunduk. Menghindari tatapannya dan memikirkan sesuatu yang begitu picik yang membuatku terkadang membenci diriku sendiri. Membenci rasa yang ku punya untuk Reihan. Membenci diri sendiri yang tiba-tiba memiliki keegoisan yang tinggi.


"Kenapa?" nada itu masih terdengar cukup menusuk untukku.


Aku akhirnya memberanikan diri melihat kearah Reihan dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Aku tidak bisa menahan perasaanku saat ini. Mengingat lagi bagaimana Reihan memeluk Clara di ruang Osis.


"Woi. Lo kenapa menangis?" ujar Reihan Panik. "Seenggaknya ngomong dulu kek, marah, bertengkar baru nangis. Ini tahu-tahu lo gini, gue kan nggak ngerti sama sekali. Gue harus apa??!!!"


Dan gelagatnya ini malah membuatku sedikit tertawa. Benar juga, sekalipun sakit, sekalipun dia sudah kembali bersama Clara, bukankan aku dan dia tetap bisa berteman seperti biasa. Bukankah aku bisa mengabaikan perasaanku. Setidaknya aku hanya memiliki sisa waktu satu minggu lagi sebelum aku pindah bersama orang tuaku. Saat-saat bersama Reihan seperti ini, harusnya aku lewati dengan senang hati. Bukan malah menghindarinya.


"Maaf," isak ke mengusap sembarang air mataku. "Aku tidak apa-apa kok! Maaf sudah membuatmu bingung karena ini."


Tapi yang Reihan lakukan malah membuat perasaanku makin tidak karuan. Menahan kedua tanganku, tangan Reihan yang satu mengusap lembut air mata yang masih mencuat dari pelupuk mataku. Rasanya tubuhku panas sebadan-badan. Aku melangkah mundur, tapi Reihan malah menarik ku mendekat ke arahnya. Debaran jantungku yang begitu kuat membuatku terpaksa memejamkan mata, lalu satu tepukan di jidat ku terima dari Reihan.


"Lo mikir apaan sih?!" ujarnya tersipu malu ketika aku membuka mataku dengan tindakannya.


"Dadaku sakit." jawabku yang membuat Reihan lalu tertawa lepas di hadapanku. Dadaku sakit, tapi yang ku pegang bagian perut. Bagaimana dia tidak tertawa coba. Sekali lagi Reihan menepuk jidatnya dengan gemas.


"Gue kira lo nggak mau ngomong lagi sama gue."


Aku menggeleng lalu kembali mengangguk cepat dan akhirnya tertunduk.


"Maaf," ucapku sekali lagi.


"Minta maaf buat apa lagi?" tanya Reihan santai yang masih duduk di atas motornya dan aku yang hanya bisa berdiri menatapnya kagum dalam diam. Dia benar-benar cerah.

__ADS_1


"Karena tidak bicara padamu seminggu ini." ucapku sembari terisak tapi juga sedikit ada tawa di dalamnya.


"Lo nyadar ngelakuin itu?"


Aku mengangguk dan Reihan menatap dengan tidak percaya ke arahku.


"Sudahlah." ucapnya kemudian. "Duduk bentar di atas yuk!" tawarnya.


Turun dari motornya, Reihan berjalan menaiki tangga menuju puncak perbukitan ini. Lalu langkahku tahu-tahu sudah mengikuti dibelakang Reihan. Mengikuti langkah dari si pemilik punggung yang selalu ku kenali. Entah kenapa semuanya terasa begitu menyesakan tapi juga terasa begitu menggelitik di dalam perutku. Rasanya campur aduk dan aku tidak mengerti harus bereaksi seperti apa ketika dia terdiam menatap kearahku.


Dia yang sudah duduk dengan enteng di kursi yang seminggu lalu kami duduki. Wajahnya yang diterpa sinar matahari benar-benar membuat sejuk dan menenangkan. Tuhan, apa boleh aku egois untuk bisa tetap menjadi bagian dari hidup Reihan?!


Aku menggeleng mengenyahkan semua pemikiran aneh yang melintas. Menatap Reihan lalu berjalan sembari mendekat ke arahnya.


"Duduk bisa nggak sih!" sentaknya yang kemudian bertampang jengkel tapi tidak memberi pengaruh apapun terhadap rasa takut yang pernah ku punya. Malah aku merasa sangat bersyukur karena telah bertemu sosok laki-laki seperti Reihan. Sosok yang perlahan menghilangkan semua ketakutanku tapi menumbuhkan rasa lain yang memporak porandakan semua perasaan yang pernah tertata dalam hidupku.


Dalam kediaman yang cukup lama, aku dan Reihan menikmati terpaan angin yang berhembus sambil sesekali saling melirik.


"Apa yang sedang lo pikirkan emangnya?" tanya Reihan yang langsung menatapku lekat-lekat.


"Tidak ada." jawaban itu jujur dari lubuk hatiku. Di tatap lekat-lekat oleh Reihan membuyarkan semua pikiranku tentang hubungannya dengan Clara saat ini. Benar. Aku hanya harus menjaga jarak dan menjaga perasaanku padanya, bukannya menghindari sosoknya.


"Memang kamu tidak mengenalku?" tanyaku cukup antusias.


"Dengan semua kediaman yang lo lakukan seminggu ini?"


Aku tertunduk. Aku memang pendiam. Batinku.


"Amy,,,," ucapnya menoleh padaku. Lagi. "Masih ada seminggu lagi bukan?"


Aku mengangguk mengerti.


"Mau melewati satu minggu ini sama gue?"


"Clara gimana?" tanyaku.


"Clara? Apa hubungannya dengan dia?"


Aku menggeleng cepat. Mungkin aku yang harus menjaga diriku disini. Harus bisa menjaga perasaan satu sama lain.

__ADS_1


"Bersama teman-teman yang lain juga kan?"


"Tentu." jawabnya. "Lain kali, jangan diemin gue seperti kemarin ya!"


Lagi. Reihan menepuk kepalaku dengan begitu lembut. Membuatku enggan berpaling dari tatapan matanya yang nampak begitu ceria.


Aku tidak bermaksud.


Aku pun mengangguk kecil dengan pernyataan Reihan itu.


"Jadi..." Reihan seperti teringat sesuatu secara tiba-tiba.


"Jadi?" ulang ku.


"Sebaiknya kita pulang. Kalau ibu tahu gue bawa lo kabur, besar urusannya."


Aku pun mengangguk setuju. Untuk sesaat yang tidak terduga, aku memang melupakan diri kalau Reihan sedang mengajakku bolos kerja. Bisa-bisa nanti gajiku di potong. Padahal aku harus memiliki banyak tabungan setelah ini.


20 menit setelah aku mengangguk setuju, kami sudah berdiam diri di depan pustaka disambut oleh tatapan yang tidak bisa ku mengerti dari Aray, Raka, dan Ditya.


"Ada apa?" tanya Reihan dengan tampang penasaran. Sedangkan di mataku, ada sesuatu yang besar yang mungkin telah terjadi setelah kepergian kami.


"Kita perlu bicara." ujar Aray.


"Ok. Lo masuk gih Mi."


Aku mengangguk. Lalu segera masuk ke dalam pustaka disambut oleh Raina yang menyuguhkan snack ke arahku.


"Mau?"


Aku menggeleng.


"Mereka kenapa?" tanyaku pada Raina.


"Nggak tahu." jawabnya. "Emang ada apa?"


Aku kembali menggeleng.


Dari meja kasir pustaka, aku terus memperhatikan ke arah ruang tamu dirumah itu. Memperhatikan saat Aray menyerahkan HPnya kepada Reihan lalu di ikuti oleh Raka dan Ditya yang seperti tengah menunjuk sesuatu secara detail pada apa yang Reihan lihat di hp kembarannya itu. Untuk beberapa saat yang hening diantara mereka berempat di ruang tamu itu, Reihan sempat menatap ke arahku untuk waktu yang terhitung lama. Tatapan kami bertemu pun, dia tetap menatap kearahku.

__ADS_1


***


__ADS_2