
"Gue belakangan bakalan sibuk, lo sering-sering kunjungi gue ke klub drama yah!" pintaku pada Amy.
"Nggak bisa." jawabnya. "Aku juga bukannya nggak ada tugas di kelas."
"Kemarin bolos lo bisa." sanggah ku. Sesekali jawabnya yang menyenangkan untuk di dengar kek. Apa Amy tipe gadis yang nggak peka?!
"Itu..." Amy menunduk lalu sesaat setelahnya menatap kearahku lekat-lekat. "Ada hal yang bisa ku bantu dalam masalahmu itu?"
"Tentu ada." jawabku. Ku kira dia tidak peduli.
"Apa?"
"Percaya sama gue."
Bukannya apa-apa aku meminta Amy mempercayaiku. Suatu saat ketika masalah yang seperti ini muncul lagi, aku hanya ingin dia tidak goyah dengan keyakinannya terhadap diriku. Karena pada dasarnya manusia akan mempercayai apa yang baru mereka lihat tanpa tahu apa yang sebelumnya terjadi. Sekalipun mengetahui apa yang sebelumnya terjadi, manusia pun kadang lebih mempercayai apa yang mereka yakini atau apa yang diarahkan untuk manusia itu yakini. Aku hanya ingin ingin Amy yakin terhadap diriku bagaimanapun itu.
"Apapun yang terjadi, percaya pada apapun yang gue lakukan." tekan ku.
Amy mengangguk. Dan hal itu membuatku sangat lega. Aku pernah kehilangan teman dulu ketika sesuatu yang buruk terjadi, dan saat ini yang terjadi bukanlah hal buruk, tapi memiliki kepercayaan dari Amy benar-benar menjadi keinginanku untuk dapat terus terhubung dengannya. Sekalipun setelah acara drama nanti dia mungkin akan pindah sekolah.
"Ok." jawabnya. "Kalo gitu, gue latihan dulu." ujarku berlari meninggalkan Amy di ruang kelas sendirian. Dan akhirnya aku tahu, itu menjadi keputusan terburuk ku saat itu.
Begitu berjalan melewati lorong kelas sepuluh, aku melihat segerombolan fans club Aray berjalan melewati ku. Biasanya mereka akan mengira aku Aray, tapi saat ini, mereka hanya melewatiku begitu saja. Baguslah. Aku jadi tidak perlu repot mencari jalan memutar untuk menghindari percakapan dengan mereka.
Berbelok lagi ke gedung Ekskul, aku lalu melihat Clara menyapa ke arahku.
"Lo disini?"
"Ya." jawab Clara. "Gue kan memang harus disini." jawabnya.
"Nungguin seseorang?"
"Nggak!" jawabnya. "Masuk gih! Udah di tanyain dari tadi." tambah Clara yang mendorong tubuhnya dengan cara yang sedikit membuatku enggan berurusan dengannya. Lagi.
Sejak Aray lebih memilih Jihan ketimbang membalas perasaannya, Clara memang sedikit berubah. Sampai untuk menghindari kenyataan kalau dia menyukai Aray, dia menolak ku dan memilih jadian dengan Joe, sahabatku yang lain. Setelah beberapa saat jalan bersama Joe, aku mulai melihat lagi sisi dirinya yang berbeda. Terlalu suka mendramatisir sesuatu secara acak dan sesuka hati. Bukannya hal itu nggak baik, tapi kalau tindakannya tiba-tiba merugikan banyak pihak, aku rasa dia tidak akan bisa menanggungnya.
__ADS_1
Jadilah hari ini aku latihan dengan malas-malasan bersama anggota teater yang lain. Daripada beradegan serius dengan Jihan, aku lebih banyak mengusiknya atau bahkan dia yang kadang nampak tidak fokus. Pasti karena memikirkan masalah vidio itu. Kalau beredar, yang malu nantinya kan dia dan Aray. Baik aku ataupun Aray harus bisa menangkap si perekam vidio dengan cepat. Sebelum dia bertindak lebih jauh lagi dan sebelum Amy pindah sekolah.
"Aaakh!!" ujarku frustasi dengan cara latihan ku yang tidak konsentrasi sama sekali. Sekali aku menginjak sepatu Jihan. Di adegan lain aku menabrak ornamen dan beberapa properti yang ada, dan terakhir Ditya membentak karena aku dan Jihan malah membicarakan hal lain bukannya mengikuti skrip cerita yang dia buta.
"Kalian bisa serius nggak sih!" bentaknya.
"Ini gue lagi serius." jawabku mengangkat genggaman tanganku pada Jihan.
"Jangan pegang lama-lama." celetuk Aray begitu mengangkat buku yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Muka habis molor gitu pakai di tegas-tegasin segala. Ingat, Ray, lo lagi berhutang gede sama gue.
"Lo disini?" celetukku bercanda. "Gue kira tadi siswa yang mau bolos."
Tidak mendapatkan jawaban, Aray memintaku dan Jihan untuk turun panggung.
"Kalian bisa serius nggak?"
"Kalo pemeran utamanya elo, mah Jihan pasti serius."
"Nggak mungkin. Dia kaku kalau sama gue." jawab Jihan.
"Padahal lo kan artis, Ray." celetuk anggota lainnya.
"Beda kali kalau sama pacar tercintah!" jawabku menggoda Aray. Tebak apa yang aku dapatkan dari Jihan. Gadis dihadapanku ini menampol pipiku dengan begitu bertenaga.
"Diam!"
Sudah ku bilang kan, kalau sudah berhadapan dengan Jihan, kalian ngalah aja. Aku aja enggan cari masalah dengannya.
"Lo sih, ganggu Aray depan pawangnya." celetuk Ditya menertawakan kejadian ke club teater barusan.
"Yah. Namanya juga gue lupa." jawabku sembari memegangi pipiku yang sudah diplester dengan gel pengurang rasa sakit. Rasanya ngilu. Kata Jihan, untung dia nggak ngelakuinnya dengan tenaga penuh. Kalian bayangin kalau dia pakai tenaga penuh, bisa melayang tubuhku dengan pukulannya.
Aku berbelok di depan pintu kelas bermaksud mengambil tasku yang tertinggal dan mendapati Amy dengan tangan gemetaran duduk dibangku sembari membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya.
Apa dia sedang menangis?? Aku dan Ditya saling memandang. Bergegas menghampiri Amy, aku langsung mengangkat tangannya untuk berdiri dan menatapnya dengan semua rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Siapa?!" sentak ku tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Wajah gadis ini sedikit nampak kotor dengan beberapa luka lecet yang tidak jelas asalnya. Pelipisnya sedikit berdarah dengan lengan baju sebelah kananya sedikit robek. Belum lagi, memar di dekat bibirnya. Melihat kondisi Amy yang seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak marah dan meninggikan nada suaraku.
"Amy, lo kenapa?" tanya Ditya. "Siapa yang lakuin ini ke elo?!"
"Amy! Siapa?!" tanyaku dengan amarah tertahan. "Amy? Si-a-pa?" tanyaku lagi dengan lebih pelan tapi menekankan setiap kata yang ku keluarkan dengan penuh emosi. "SIAPA!!" Bentak ku akhirnya. Bentakan yang membuat Amy makin terdiam dan membatu.
Aku dapat melihat dia tengah menahan air matanya untuk jatuh.
"Rei!" tahan Ditya coba menenangkan sosokku yang sudah mencapai puncak kemarahanku. Kalau sampai aku mengetahui orang-orangnya, akan ku pastikan mereka tidak selamat.
"Aku... baik-baik saja." jawab Amy dengan wajah gamangnya. Tangannya sudah tidak lagi gemetaran bahkan tubuhnya kini terlihat sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Baik-baik saja?!" sentak ku sekali lagi. "Kondisi lo udah kaya gini, lo masih bisa bilang kalo lo baik-baik saja?!" teriakku tidak terima.
"Rei!" hardik Ditya. "Tenangin diri lo bisa nggak!!"
"Nggak!" jawabku sangar. "Gue nggak akan tenang sebelum tahu siapa orangnya! Siapa orang yang sudah ngelakuin semua ini ke elo, Mi!"
"Ini urusanku." jawabnya tiba-tiba. "Aku yang akan menyelesaikannya." jawab Amy menarik tasnya dan pergi begitu saja dari dalam kelas ini meninggalkan ku tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Hei!" hardik ku menarik paksa tangan Amy. Gadis itu sedikit meringis, dan aku menjadi lebih berang lagi. Aku melihat luka lain dibalik bagian lengan baju Amy yang sobek. Menatap Amy dengan penuh emosi, gadis itu lalu menghela nafas perlahan sembari menyembunyikan luka bekas cakaran di bagian lengannya itu.
"Aku akan baik-baik saja, Reihan." jawabnya sekali lagi. Hal itu benar membuatku tidak habis pikir. "Tenangkan dirimu dulu!"
"Nggak!" jawabku.
Lalu dengan entengnya Amy membawaku dalam dekapannya.
"Tenangkan dirimu." ujarnya. "Aku tidak apa-apa. Semuanya akan bisa ku atasi sendiri." ucapnya terdengar begitu tenang dan santai. Setelahnya, Amy melepas pelukannya dan aku hanya bisa terdiam dengan itu. Apalagi Ditya. Dia benar-benar membatu di sebelahku melihat tindakan Amy itu.
"Aku pulang duluan yah!" ucapnya kemudian. "Angga sudah datang." jawabnya melangkah menuju ke tempat Angga menunggu. Angga yang ketika berbalik menatap Amy, wajahnya nampak shock dan tidak percaya.
Angga yang sama terkejutnya denganku begitu melihat kondisi Amy. Sebenarnya Angga juga merasa geram sama seperti ku, tapi entah apa yang menghalanginya untuk menunjukan emosi itu. Kalau dia bisa mengorek informasi dari Amy, aku tidak akan segan menjadi bagian dari aksinya untuk memberikan pelajaran pada orang-orang yang telah melukai Amy. Tapi dia hanya sejenak terpaku lalu melepas jaketnya untuk di berikan kepada Amy. Amy yang kini berjalan menjauh dengan dipapah oleh Angga.
...***...
__ADS_1