Mirror!

Mirror!
Reihan : Gadis Bodoh!


__ADS_3

Gadis bodoh!


Kenapa tahu-tahu Amy membuat heboh dengan datang ke sekolah di boncengin si anak baru. Padahal baru kemarin dia nampak ketakutan dekat-dekat dengan siswa baru itu.


Sial! Apa karena pulang kerja kemarin dia dijemput, dia akhirnya kembali akrab dengan cowok sialan cinta pertamanya itu. Cinta pertama katanya?! Kenapa aku membenci sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya itu.


Belum selesai kekesalan ku melihat Amy kembali dibonceng lagi pagi ini memasuki area sekolah, aku masih harus mendengar Siska menanyakan kedekatan Amy dengan Angga sebelum memasuki kelas. Kalian semua tahu, gue benci sekali dengan gadis bodoh yang kini terlihat mengkeret saat si anak baru memintanya untuk merahasiakan rahasia mereka. Kenapa mereka harus mempunyai rahasia? Sebenarnya sejauh apa hubungan mereka itu?? Aku tidak ingin tahu, hanya penasaran.


Selama seharian aku dibuat terheran-heran dengan perubahan besar yang dibuat si anak baru di sekolah terhadap Amy. Sepanjang jam istirahat, aku selalu mendengar bagaimana tidak cakapnya si Angga alias si siswa baru dalam memilih pacar. Bukannya aku suka mendengar berita-berita tidak jelas, hanya karena, lagi-lagi namaku dikaitkan dengan hal ini.


"Reihan!!"


Seorang memanggil. Memanggil dengan nada yang membuatku cukup ingin menjauh sejauh-jauhnya sebenarnya. Terlalu dibuat-buat dan terlalu memaksakan untuk terdengar seperti suara alaminya. Padahal kalau dia mau bicara dengan biasa saja, dia masih terlihat cukup manis.


"Ya?"


"Lo akhirnya tahu kan sejelek apa sifat gadis yang lo pacari itu!!"


Ini satu contohnya. Dimana nama gue disangkut pautkan. Kalau dipikir-pikir, salah gue juga dulu mengakui Amy sebagai pacar gue. Padahal niatnya cuma membantu. Amy pun tahu dan mengerti itu, tapi aku tidak menyangka kalau ada begitu banyak orang yang tidak berkepentingan yang repot-repot mengurus semua masalah ku itu.


"Maksud lo?"


"Setelah hubungan kalian nggak lancar, dia milihnya malah si anak baru yang lagi naik daun."


"Terus?"


"Ya....kasian aja elo'nya." ucapnya bernada centil dengan wajah yang dibuat-buat nampak iba. "Tapi kalau lo mau, gue bisa kok gantiin dia. Dia emang nggak pantas buat cowok sekeren lo!"


"Ok. Makasih!" jawabku.


Aku benar-benar tidak bisa tahan berlama-lama kalau model perempuannya sudah seperti itu. Bukannya benci, hanya bukan tipe penyuka model yang seperti itu. Mendekatiku karena ada maunya dan pakai acara menjelekkan orang lain untuk mendukung aksinya itu.


Semoga aku tidak bertemu lagi dengan model yang begitu. Sebagai cewek, agresif sih boleh, tapi seenggaknya kalian bisa lihat reaksi si cowoknya kalau mau centil. Salah-salah kalian bisa-bisa dinilai yang nggak-nggak. Iya kalau hanya sekedar dinilai lalu dijauhi. Yang bahaya itu kan yang punya niatan mainin perasaan orang. Gila. Aku jadi ngelantur saking nggak ngertinya sama pemikiran ku sendiri saat ini.


"Pulang sekolah, tunggu gue diparkiran ya!" ujar Angga pada Any di hadapanku.


Dengan enteng aku memandangi si anak baru yang berjalan melewati ku dengan begitu santai. Aku harusnya tidak tersinggung dengan sikap santainya itu, tapi ada sesuatu dalam diriku yang merasa tidak terima akan sikap baiknya seharian ini pada Amy.


Kalian bayangkan saja. Kemarin di jemput pulang kerja. Pagi ini boncengan datang ke sekolah. 2x jam istirahat siang, aku dengar dia dibelikan makanan. Lalu tadi dicegat senior tidak jelas karena ulahnya. Dan sekarang, sekarang aku masih harus mendengar dia meminta Amy untuk pulang bareng dia. Waaah.... aku jadi malas di kelas.


Jadilah aku keluar kelas di ikuti kedua sobatku. Memutari gedung kelas sepuluh lalu menunggu antrean memanjat tembok disamping ruang Osis. Giliran ku ambil bagian untuk melompat, aku langsung terdiam mendengar satu hentakan kaki di arah belakangku.

__ADS_1


"Lo mau bolos lagi?"


"Cuma tinggal 2 jam pelajaran lagi bang." protes ku akan sikap otoriternya sebagai ketua Osis. Aku lagi jengkel, bang! Jangan ikut-ikutan nambahin lagi dong!


"Lo itu adiknya ketua Osis, bisa lebih taat sedikit nggak?"


"Emangnya kapan gue bisa nurut peraturan yang lo buat?"


Aku sudah benar-benar dipuncak kekesalanku. Tapi semua masih harus ku tahan. Tidak lucu kan, kalau aku harus sampai memukuli Aray karena tegurannya. Meskipun saat ini aku sudah berada di puncak kekesalanku.


Tanpa basa-basi, Aray melempar sebuah kunci motor padaku. Motor hasil kerja kerasnya sebagai artis remaja.


"Bawa pulang ntar! Gue di jemput manager nanti! Langsung kerja."


Aku tersenyum. Terkadang, satu kelakuan Aray yang seperti ini mampu membuatku melupakan sedikit amarahku. Lagipula, tidak perlu berlangsung lama. Kekesalanku langsung mereda begitu melihat Amy yang berdiam seperti orang bodoh dibawah pohon kenanga parkiran sekolah sembari menunggu si anak baru. Aku senang si anak baru ngebuat Amy menunggu. Atau bahkan lebih bagus lagi kalau seandainya dia tidak datang untuk menepati omongannya. Cowok yang di pegang omongan dan tindakannya nyatanya yah.


Harusnya aku sudah pulang satu jam yang lalu, tapi melihat Amy berjalan menunduk sembari menghela nafas beberapa kali begitu di bicarakan oleh siswa yang dengan sengaja meledeknya, aku akhirnya memutuskan untuk menunggu bersamanya dari seberang halaman parkir.


Kalau bisa sih bukan menunggu dari jarak sejauh ini. Perlahan mendekatinya, aku menyapa sembari berjongkok di sebelah Amy.


"Mau menunggu sampai kapan?"


"Aku tidak tahu! Sepertinya..."


"Bukankah akan terlambat ke Pustaka?" Aku sedang tidak ingin mendengar kalimat panjangnya. "Masih mau nungguin dia!"


Tanpa mendengar jawaban Amy, aku langsung menarik tangannya. Mengajaknya beranjak dari tempatnya berdiri sembari menunggu siswa baru sialan itu.


"Terima kasih."


"Buat apa?!" Aku menghentikan langkah lalu menoleh padanya saat mendengar dia mengucapkan kata-kata itu. Terima kasih untuk apa? Apa dia tahu aku menunggunya dari seberang parkiran ini selama sejam. Aku bukannya iseng. Aku... Kenapa aku nungguin dia??? Kenapa juga sekarang aku menarik tangannya seperti ini? Dan kenapa dia menurut saja aku ajak jalan?


Sudahlah. Melihat dia di kecewakan si anak baru, sudah cukup membuatku bisa bersama Amy. Setidaknya aku bisa bertanya soal hubungannya dia dengan si anak baru itu.


"Sini!"


Aku menarik tangannya. Amy nampak tersentak kaget ketika aku memakaikan helm coklat milik Aray padanya. Aku tidak butuh helm, soalnya lagi menanggung nyawa satu orang di belakang jok motorku. Anehnya, sebelum naik ke atas jok motor, si Amy menoleh dengan bingung ke arah kanan dan kirinya lalu menatapku dengan heran.


"Buruan naik!" sentak ku seketika. Sepertinya nada suaraku sedikit meninggi.


"Motor siapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Motor curian!"


Jadilah aku di pelototi oleh Amy.


"Lo percaya ada motor curian disekolah?!"


Dia menggeleng. Dasar gadis bodoh. Gampang sekali percaya omongan orang.


"Naik. Nanti Pustaka nggak ada yang jaga!"


"Raina?"


"Lagi ke laut!" jawabku sekenan ku. Lagian, pakai nanyain anak pemilik pustaka segala. Nggak sadar posisi.


Jadilah begitu sampai pustaka, Amy memandang ke arahku dengan wajah bodohnya. Bukan yang benar-benar bodoh, mungkin dia sempat percaya omongan ku tapi merasa tertipu karena mempercayainya. Aku suka melihatnya yang seperti itu. Tidak yang ketakutan sampai pingsan segala seperti waktu pertama kali aku sapa di awal kami masuk.


Aku melempar kunci ke udara berkali-kali lalu menangkapnya kembali. Sebelum memasuki halaman rumah, aku mencuri jalan ke arah belakang pintu pustaka. Memandangi Amy yang langsung sibuk dengan semua catatan dan buku-buku di atas meja tempatnya bekerja.


Dengan cekatan ku perhatikan dia memilah buku-buku yang ada didepannya. Lalu menaruh buku- buku itu pada barisan rak buku disekitar pustaka.


"Amy emang cekatan yah?"


"Iya." jawabku spontan.


"Cantik dan manis juga."


"Hmm... " jawabku dengan anggukan tanpa melihat si pemilik suara.


"Kenapa nggak pacaran?"


Aku langsung spontan memandang ke arah depanku. Tepatnya di hadapanku, ibu berdiri dengan sebuah buku skrip tebal hasil cetakannya sendiri.


"Apaan sih Bu!"


Menghindari tatapan curiga dan menelisik ibu, aku bergegas berjalan menuju bangunan kamarku.


"Indahnya jatuh cinta masa SMA..."


Senyum sang Ibu mengiringi langkah anaknya. Tatapannya kini terarah pada Amy. Amy yang sedang mengambil satu buku bacaan lain yang mungkin akan di bacanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2