
"Lo kenapa?" sambut Angga.
Sama seperti Reihan, dia nampak begitu emosi melihat kondisiku yang sekarang. Sekacau itukah aku saat ini. Aku belum melihat ke dalam cermin sama sekali. Bukan tidak ingin, hal seperti ini sering terjadi padaku. Dirumah, jika ibu melakukan sesuatu yang menurutnya tidak bagus, maka ibu akan melampiaskan amarahnya padaku. Sudah tidak Angga yang saat itu datang menolong atau datang untuk sekedar bermanja-manja pada ibu.
Aku tersenyum mengingat itu. Dulu sekali, ketika kecil, ibu akan marah-marah padaku hanya karena aku belum bisa melakukan sesuatu dengan benar. Maka Angga akan datang dengan menangis dan meminta ibu membelikannya permen atau apapun. Dia menggiring ibu keluar untuk membuatku berhenti di marahi ibu.
"Lo nggak gila kan?!"
"Belum!" jawabku meringis terkena hembusan angin. "Aku berhutang banyak terima kasih padamu."
"Untuk apa?" tanyanya memakaikan ku jaket yang ia pakai.
"Untuk membuatku menjadi seperti sekarang."
"Siapa, Mi!" tekan nada suara Angga. Dia sudah akan berbalik untuk bersiap melayangkan pukulan pada Reihan, tapi aku berhasil menahannya.
"Bukan dia!" jawabku. "Dia juga sama emosinya seperti mu saat ini." jawabku.
Biasanya aku akan sangat takut menghadapi kemarahan Angga. Tapi kini, rasanya biasa saja. Juag termasuk kemarahan Reihan yang baru saja aku lihat. Kalau sampai aku mengatakan apa yang terjadi padanya, aku takut dia akan bertindak nekat. Aku tidak ingin Reihan berada dalam masalah karena diriku. Begitu pula dengan Angga. Benar kata Clara siang tadi. Kalau aku mau tidak mau menjadi beban Reihan atau siapapun, aku hanya harus kuat menghadapi masalahku sendirian.
Toh sejak kecil aku sudah mengalami hal yang serupa. Hanya bedanya, yang melakukan dulu adalah ibuku. Sementara hari ini, aku menghadapi kenyataan di dunia luar. Aku yang dulu berharap memiliki hidup damai di masa SMA ku, akhirnya memang harus menghadapi hal semacam ini.
"Perlu gue bantu obati?" tanya Angga ketika kami sudah duduk di ruang tamu rumah. Dia baru saja selesai menuangkan segelas air padaku.
"Terima kasih telah merepotkan mu." ujar ku.
"Sepertinya otak lo terbentur sesuatu." ujar Angga yang menghela nafas panjang ke sekian kalinya semenjak pertama kali melihat kondisi ku yang sekarang.
"Bisa juga." jawabku. "Atau aku mungkin yang terlalu lelah selama ini. Aku terlalu banyak diam dan menerima banyak hal sesuka hati. Padahal aku juga butuh didengarkan dengan baik."
Mengingat bagaimana Clara siang tadi dengan semua amarahnya, aku lalu tertunduk.
"Lo siapa hah!!" teriaknya. "Gue benci dengan keberadaan lo disekitar Reihan. Lo tahu, masalah yang Reihan hadapi saat ini, semua karena keberadaan lo disisinya! Gara-gara lo, dia sampai harus menerima peringatan dari sekolah. Lo penyebabnya. Lo!"
"Angga.... "
"Ya?" Angga berdiri didepan pintu dapur lalu melihat ke arahku.
"Kamu ngapain waktu itu??" tanyaku.
"Dimana?"
"Sekitar ruang UKS." jawabku menerawang.
"Kenapa?" tanyanya santai. Aku menggeleng.
Tatap matanya seolah tidak mengetahui maksud pertanyaanku. Atau memang dia tidak mengerti sama sekali tentang masalah yang ada? Oh, aku lupa, setelah kejadian hari itu, dia sibuk bekerja dan baru datang ke sekolah hari ini untuk menjemputku.
"Mandi dulu gih." ujar Angga. "Tapi hati-hati dengan semua luka lo!"
"Hmm.." jawabku melengos pergi masuk ke dalam kamar lalu keluar lima menit setelahnya untuk menuju kamar mandi. Aku bisa mendengar Angga sedang memasak sesuatu. Begitu air keran ku nyalakan, semua rasa sakit menjalar lagi di sekujur tubuhku. Mengaburkan semua suara-suara dari luar kamar mandi ini.
Untuk waktu yang cukup lama, aku hanya berdiam diri memandangi bayangan diriku pada genangan air bak mandi di rumahku ini. Lama yang terasa singkat tapi juga terasa begitu berat.
"Kalo udah selesai, boleh gantian Mi?" ketuk pintu dan suara Angga mengaburkan semua lamunanku tentang siang ini. Siang yang singkat dan juga berat.
__ADS_1
"Sebentar." jawabku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju abu-abu berlengan panjang dengan training warna senada.
"Makan dulu, baru obati luka-luka lo itu!"
"Iya..." jawabku. Saat Angga menutup pintu kamar mandi, aku lalu melihat kearah pintu kamar mandi. Kalau dipikir-pikir, sejak kapan aku jadi berbicara sesantai ini kepada Angga. Padahal kemarin rasanya aku masih sangat kaku ketika berhadapan dengan sosoknya. Sebenarnya sejak awal, aku hanya merasa takut di bentak dan dipukul olehnya. Tapi sampai detik ini, bukan hal itu yang terjadi. Malah dia kelihatan lebih sabar lagi dari dirinya yang dulu.
"Ternyata memang banyak hal yang bisa berubah." gumamku.
20 menit setelah Angga selesai mandi, kami berdua duduk diruang makan dan makan nasi goreng buatan Angga.
"Kamu bisa masak?" tanyaku.
"Tentu." jawabnya. "Gue kan koki handal." jawabnya.
"Sejak kapan?" tanyaku ragu. Tapi jawabannya membuat ku mengerti, kalau bukan hanya aku yang selama ini berjuang untuk tetap hidup dengan baik, Angga juga.
"Sudahlah. Nggak penting." jawabnya. "Cepat makan, lalu obati luka lo itu!"
"Ng." jawabku.
Dia menghentikan makannya lalu menatap ke arahku.
"Mereka sudah pindah dan meninggalkan kita di sini." ujar Angga kemudian atas kediamanku memandangi piring makan yang tersaji di depanku. "Nggak ditelantarkan sih!" tambahnya lagi. Ada cukup uang tabungan untuk kita pakai sampai 3 bulan ke depan. Dan akan lebih karena kita sama-sama bekerja paruh waktu."
"Jadi? Kita nggak jadi pindah?" responku.
Angga menggeleng.
"Gue pingin kasih tahu lo dari kemarin, tapi gue sibuk."
Entah aku harus senang atau sedih dengan berita yang ku dengar. Yang ku tahu saat ini, aku hanya ingin tertidur dan bangun esok pagi dengan badan yang lebih segar.
"Sebentar..." kata Angga yang sudah selesai mengoleskan obat di samping bibirku lalu menempelkan sebuah plaster luka yang menyerupai warna kulit pada pelipis kiriku. "Tinggal ditutup rambut lo ini, maka nggak akan kelihatan." tambahnya.
"Aku harus menjelaskan seperti apa pada Rahma dan Siska?" gumamku.
"Reihan juga kan?" tanggap Angga meletakkan kotak obat itu di laci depan almari tv.
"Entahlah." jawabku. "Apakah aku pantas untuknya?"
"Dia yang nggak pantas buat lo!"
Aku tersenyum pada Angga. Nadanya terdengar penuh emosi.
"Istirahat sana. Biar besok lo bisa mengingat siapa yang memberi lo semua luka ini."
"Aku ingin melupakannya." jawabku.
"Terserah lo!" jawab Angga. Tapi aku menyadari, Angga tidak akan membiarkan hal ini terlewatkan begitu saja. Dia pasti akan mencari tahu semuanya di belakangku.
"Aku tidur duluan."
Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati hp ku bercahaya. Panggilan dari Reihan. Begitu akan ku angkat, telpon itu mati dan 27 panggilan tidak terjawab tertera di layar hp milikku. Semua atas nama Reihan.
Reihan menelpon kembali.
__ADS_1
"Kemana aja?!" bentaknya.
Aku menjauhkan hp ini dari telingaku. Kenapa dia marah-marah?
"Kenapa baru lo angkat? Belum sampai rumah?!"
"Sudah. Ini mau tidur." jawabku.
"Kok tidur?"
"Udah malam." jawabku.
"Gue kan lagi telepon lo." ujarnya diseberang dengan nada melemah. "Gue vidio call yah?"
"Hmm.." jawabku.
Sekarang aku melihat wajah Reihan close up di layar hp ku.
"Gue juga pengen liat, Rei!" gerutu Raina di belakang Reihan yang sedang ia tahan dengan menggunakan satu tangannya.
"Mi, lo nggak apa kan?!" teriaknya.
"Sibuk lo Rain!"
Dari pandanganku, aku melihat Reihan mendorong Raina dengan kesal. Lalu keduanya saling mendorong wajah satu sama lain. Ditengah perebutan yang terjadi, ada tangan lain yang tiba-tiba menutupi kamera dan wajah Reihan versi kalem menyapa ramah.
"Gimana keadaan lo, Mi?" tanyanya. "Udah jauh lebih tenang?!"
"Bang! Jangan embat hp orang sembarangan." teriak Reihan yang sudah menarik hp itu. Lalu tampilan layar yang muncul hanya gelap untuk beberapa saat. Terdengar suara pintu terkunci dan close up wajah Reihan yang berbaring diatas bantal menyambut pandanganku.
"Sorry yah! Saudara gue kepo semua." ucapnya.
"Kamu cerita ke mereka?"
"Bukan. Ditya yang ember." jawabnya mengelak.
Aku mengangguk percaya. Seketika saat berusaha merebahkan diri, aku merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhku. Rasanya ingin sekali mengeluh tapi melihat wajah Reihan yang sedikit mengernyit, aku pun tersenyum dibuatnya.
"Badan lo sakit?"
"Nggak." jawabku. "Cuma ngerasa cape aja."
Beberapa waktu yang lama setelah mendengar jawabanku, Reihan hanya terpaku menatap ke arahku.
"Apa lo benar baik-baik aja?" tanya Reihan setelahnya.
Aku mengangguk. Lalu kejadian siang ini dan siang-siang kemarin setelah pemanggilan ku ke ruang kepala sekolah melintas di ingatanku. Rasanya seperti menelan pil pahit. Tapi setiap pil pahit yang ku telan malah menjadi obat yang tidak akan pernah ku temui dimanapun. Aku yang terluka oleh lingkunganku, lingkunganku jugalah yang mengobati ku. Menyadarkan baik pikiran dan perasaanku, bahwa hidup ku bergantung pada kemauan dan kemampuan diriku sendiri.
"Siapa pelakunya, Amy?" tanya Reihan lagi. Wajahnya nampak datar-datar saja, tapi sorot matanya yang tajam, aku yakin dia sedang berusaha mencari informasi itu dariku.
"Aku lupa." jawabku. Entah itu pelakunya aku sendiri yang berpura-pura menjadi korban, atau orang lain yang sedang berusaha melatih kemampuan bertahan hidupku, aku benar-benar melupakannya. Rasanya saat ini, aku hanya lelah. Lelah yang membuatku ingin istirahat yang banyak. Aku lelah.
"Amy?" suara itulah yang terakhir ku dengar dari Reihan diseberang sana.
"Nggak tahu" jawabku. Entah setelah itu apa yang menjadi pembicaraan Reihan selanjutnya, aku tidak mengingatnya sama sekali. Rasanya tubuhku sangat lelah. Mataku juga terasa amat berat.
__ADS_1
...***...