
Aku baru saja melengok dari pintu belakang Pustaka saat melihat Amy termenung di meja kasir atau meja administrasi tempatnya bekerja. Tidak seperti biasanya, dia yang biasanya fokus pada buku, kini nampak bengong dan sesekali menggeleng sembari menepuk keningnya. Tindakan yang aneh.
"Liatin siapa?"
"Bukan siapa-siapa, bang!" jawabku. Tapi arah kepala dan pandangan ini tidak lepas sedikitpun dari sosok aneh Amy.
"Amy!" teriak Aray dengan nada yang tidak biasa. Yang langsung membuat Amy menoleh dari tempatnya melamun dan seketika aku menarik diri dan bersembunyi di belakang tembok samping pintu belakang pustaka.
Di hadapanku, aku bisa melihat Aray menatap ke dalam Pustaka tanpa ekspresi. Bukan yang benar-benar tidak berekspresi, dia sedang memperhatikan dan menganalisa sesuatu. Aku pun ikut mengintip ke dalam dari celah pintu.
Bisa ku lihat tangan Amy gemetar dan dia sedikit gelagapan dengan keadaan yang ada. Kenapa? Apa karena barusan mendengar namanya di teriakan oleh Aray. Itu kan hanya panggilan dengan nada suara yang kelewat keras.
Tanpa peduli dengan posisiku, Aray melangkah masuk ke dalam Pustaka. Disana keadaan masih sedikit sepi, hanya ada Amy dan Raina yang langsung mendelik ke arah kami ketika Aray berteriak memanggil nama Amy.
Aray masuk menghampiri Amy dan Raina keluar untuk memukul bahuku dengan keras.
"Lo apa-apaan sih!! Berisik tahu!" bentak Raina. Namun aku langsung membekap mulut Raina dan memintanya diam karena aku penasaran dengan reaksi Amy itu. Aku kembali mengintip setelah Raina sedikit lebih tenang.
"Lo sih, pake acara nggak ngenalin abang ke Amy!"
"Berisik!"
Kini aku kembali mengintip ke arah Amy. Melihat dia yang sedikit berkeringat ketika Aray berdiri di hadapannya. Sesekali aku melihat gelagat takut-takut yang biasa dia tunjukan ketika bertemu pertama kali dengan Angga si anak baru. Amy menunduk saat menjawab pertanyaan Aray. Membuatku mengerti, kemungkinan apa yang membuat Amy ketakutan pada si anak baru. Dan sekarang keduanya sudah berbaikan kembali. Sial.
Tanpa sadar aku memukul tembok di sebelah. Membuat ku sejenak meringis sakit karena kaget.
"Lo apa-apaan sih, Rei!" ujar Raina yang ternyata masih berdiri dengan memperhatikan hal yang sama denganku. Ku kira dia akan langsung menghampiri Amy dan mengajak gadis yang tiba-tiba ketakutan itu untuk bercanda.
"Sana lo!" dorong ku pada tubuh Raina yang tidak siap akan tindakanku. Membuat Raina hampir tersandung keset lantai di bawahnya dan bisa saja membuatnya jatuh terpeleset.
"Iiish!!" mendengar desis Raina, Amy melihat ke arah belakang.
Tidak tahu apa yang Aray sampaikan, aku hanya melihat Aray melempar senyum ke arah Amy. Lalu lambat-lambat aku dengar langkah kaki mendekat ke arah Aray yang menghentikan langkahnya di depan pintu. Dan sialnya aku malah berdiri dengan menghadap kaca pintu.
"Reihan! Tunggu sebentar,"
__ADS_1
Aku dengan jelas bisa melihat wajah Amy yang kini sudah nampak sedikit tenang. Tapi nada suaranya masih sama. Benar-benar menyenangkan mendengarkan nada suaranya yang sedikit takut-takut itu.
"Ada apa?"
Pertanyaan itu tidak mendapat respon apapun dari Amy. Tapi kini, tatapan mata gadis itu tertuju ke arahku. Aku yang dengan bodohnya berdiri dibalik pintu kaca begitu Aray bermaksud masuk ke dalam halaman rumah.
"Sudah ku duga, kalian ada dua..." ujar Amy.
"Ketahuan yah?!" ujar Aray yang langsung berbalik dan tersenyum kaku ke pada Amy. Dan aku hanya bisa melambaikan tangan sambil mencoba untuk menampilkan senyum sewajar mungkin. Semoga tidak terlihat aneh.
Sruuuk!!
"Lo nggak apa-apa!!"
Tiba-tiba Amy langsung jatuh terduduk dilantai. Entah dengan pikiran yang bagaimana, Amy memukul-mukul dada kirinya seperti tengah bermaksud menenangkan diri.
Aku dan Aray langsung berjongkok dihadapan Amy. Memastikan kalau dia tidak akan shock dengan apa yang dilihatnya saat aku dan Aray berdiri dihadapannya.
"Sejak kemarin kalian sudah membuatku kebingungan!" gumam Amy.
"Jadi, menurutmu, Reihan yang mana?" tanya Raina yang sudah tersenyum dengan senang melihat kekagetan Amy.
"Lo baik-baik aja?!" Aray langsung bersimpuh lalu mencoba melihat bagaimana Amy akan bereaksi berikutnya. Memang pemerhati ulung.
"Aku hanya bingung sejak kemarin!" jawab Amy. Dia akhirnya memberanikan dirinya untuk menatapku dan Aray secara bergantian. "Aku sampai sakit perut memikirkan ini!!"
"Toilet disana!!"
"Iisssh!!" Raina dan Aray kompak memukul bahuku dengan geram.
"Apaan sih lo berdua!!" Aku balas memukul.
"Kalian kakak beradik yang kompak!!" Amy langsung tersenyum lalu jatuh tidak sadarkan diri. Melihat itu, reflek aku menopang kepalanya, lalu menopang tubuhnya agar tidak sampai jatuh ke lantai.
"Mi! Amy!"
__ADS_1
"Amy!! Lo kenapa?"
Sama seperti Raina dan Aray, aku pun ikut panik melihat kondisi Amy. Tubuhnya terasa sangat dingin. Dan banyak keringat dingin mengucur dari dahinya.
"Dia kenapa, yah?"
Raina yang berdiri di dekat ayah kami, langsung menyuarakan apa yang ingin ku tanyakan pada ayah kami yang kebetulan seorang dokter. Jarang sekali berada di rumah karena pekerjaannya. Tapi dua hari ini, memanfaatkan waktu liburnya dengan istirahat dirumah.
"Side job yes!!" ibuku langsung menepuk pundak ayah. Seperti anak ayam yang mengikuti induknya, kami bertiga mengikuti langkah ayah dan ibu kami keluar menuju ruang tamu.
"Yang jaga pustaka siapa?" tanya ibuku melihat rasa penasaran kami yang berjalan linglung di belakang mereka.
"Tapi Rain kan..... " tanpa mengatakan apapun, hanya dengan satu isyarat berupa anggukan dagu dari ibu, Raina langsung berjalan menuju pustaka dengan kesal. "Ceritain ke gua yah!!"
"Ogah!" jawabku. Sementara Raina bergegas masuk ke dalam Pustaka, aku dan Aray hanya bisa berdiri ketika ayah dan ibu duduk di kursi yang dekat dengan teras ruang tamu.
"Temannya, Rei ya?"
Aku mengangguk. Apa karena jarang di rumah, suasana ketika aku bicara dengan ayah selalu nampak kaku dan tidak akrab sama sekali. Untuk waktu yang lama, ayah seperti tengah menimang omongannya. Mungkin karena kami semua sudah melihat beberapa bekas memar yang sudah mulai membaik pada bagian lengan Amy. Termasuk pada bahu dan belakang leher Amy.
"Sering-sering ajak dia bercanda dan mengobrol aja Rei...Dia butuh teman yang baik." kata ayahku yang langsung berdiri sembari menepuk pundak ku. Aku hanya mengangguk menjawab pernyataan ayahku itu.
"Kalau nanti Amy sudah sadar, kamu antar pulang ya?!" giliran ibuku yang menepuk pundak ku dengan gemas. "Tindakan kalian sepertinya mengagetkannya kali ini."
"Tidak sengaja, bu!" jawab Aray.
"Yaah.. yang harusnya terjadi, ya memang harus terjadi. Cepat atau lambat!" kata ibu ku lagi. "Ibu ada arisan sama teman-teman ibu, bisa bantu jaga rumah ya?" Kalimat itu tentu untuk Aray. Dia kan anak sulung.
Aku tanpa pikir panjang langsung kembali ke kamar tamu dimana Amy terbaring. Bukan kamar khusus tamu. Hanya ada satu sisa kamar kosong dari design rumah buatan ibuku. Jadilah kamar kosong itu selalu di dekorasi oleh ibuku di saat ibuku bosan dengan semua kegiatannya. Entah ibuku itu kenapa! Disaat banyak ibu-ibu seusianya mengeluh cape karena banyak kerjaan rumah, ibuku malah santai saja dengan semua kegiatan sehari-harinya.
Resiko punya ibu seorang pekerja atau pebisnis itu tidak terlalu kami rasakan sekarang. Dulu sewaktu kecil sih iya. Kami di didik dengan tidak manusiawi dalam pandanganku sebagai seorang anak. Semua kegiatan yang sudah terbiasa kami lakukan saat ini, dulu hasil omelan ibuku.
Harus begini, harus begitu. Tidak boleh seperti ini. Tidak boleh seperti itu. Mencuci piring makan sendiri. Menyiapkan semua kesiapan sekolah sendiri, mengatur jam tidur, waktu bermain, waktu belajar, dan mengatur hal-hal kecil lain yang tidak kami sadari ternyata membantu mereka di usianya yang sekarang. Usia dimana mereka bisa bersantai dengan menjalani kehidupan mereka yang bebas dari menuntut kami harus serba bisa. Semoga aku bisa menjadi seperti mereka nantinya.
Rumah dan keluarga kami bukannya tanpa konflik. Karena ada saat dimana sesuatu terjadi, dan itu membuat kami perlahan acuh dengan kegiatan satu sama lainnya. Entah seperti apa keluarga itu yang sebenarnya. Dan seperti apa juga keluarga yang dimiliki Amy. Dimana dalam rumah yang sederhana itu, terdengar ada teriakan, barang-barang rumah berserakan, dan luka memar pada beberapa bagian tubuhnya.
__ADS_1
"Seberapa sakit hidup yang lo jalani sebenarnya?!"
...***...