Mirror!

Mirror!
Reihan: Entahlah...


__ADS_3

Aku baru saja ditegur Raka pagi-pagi karena menggantikan Aray seharian kemarin. Tidak banyak hal yang bisa ku katakan selain menertawakan reaksi nya dan Ditya saat ku sapa dihalaman sekolah.


"Dasar lo! Bolos dikelas dan malah asyik di kelas abang lo!"


"Lagian! Lo udah tahu itu gue pake acara takut-takut segala!"


"Bukannya gitu!" sanggah Raka. "Perlu lo ngelakuin sesuatu dulu untuk gue bisa tahu itu elo..."


"Halah! Bilang aja lo kagak mengenali gue!"


"Wajah sama postur lo sama, gue bisa apa!!"


Seiring jawaban Raka itu, dia menggidikkan dagunya ke arah belakang. Membuatku menoleh dengan seringai lebar yang entah kenapa susah aku tahan belakangan ini begitu melihat sosoknya. Sosok berwajah menggemaskan dibalik sikapnya yang terus saja menunduk dan menghindari percakapan dengan orang-orang sekitarnya.


"Reihan??!"


Entah itu sapaan atau sekedar menggumam. Dari wajahnya yang nampak kebingungan, aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya. Pagi-pagi dia sudah nampak menerawang dengan menyebut namaku. Rasanya menyenangkan mendengar dan melihat itu. Pagi-pagi sudah memikirkan ku sampai sebegitunya. Semoga aku tidak salah dan kegirangan sendiri dengan sikap yang ditunjukan gadis itu kini.

__ADS_1


Dan siang hari, kesenanganku itu berubah. Sebuah kertas berakhir dimeja ku. Sebuah gulungan kertas yang nampak awut-awutan seperti sampah yang tidak berarti. Tapi satu tulisan yang terlihat begitu membuatku penasaran. Aku membuka gulungan kertas itu dan membacanya.


'Jangan lupa obati memar di bahu lo!'


Aku meremas kesal kertas itu. Menjejalkan pada kolong meja dan menatap Angga dengan rasa kesal. Kenapa aku harus tiba-tiba kesal! Aku memang tidak suka padanya dari awal. Bukan tanpa alasan. Hanya karena dia membuat Amy takut, aku membenci keberadaannya. Awalnya memang hanya bermaksud menjauhkan Amy darinya. Tapi makin ke sini, segala sikapnya pada Amy membuatku muak dan benci. Cinta pertama apanya?


Begitu tekad ku berapi-api, aku langsung melihat padanya. Pada Amy yang tengah termenung dengan salep di tangannya. Bukan salep pereda nyeri yang pernah ku berikan. Itu salep yang berbeda. Dari mana dia mendapatkan itu? Pikiranku langsung teralihkan pada Angga. Cowok sialan. Kapan dia memberikan salep itu pada Amy?! Kenapa aku merasa kecolongan dengan hal sekecil itu.


Amy emang cinta pertamanya, tapi gue pastikan, gue akan jadi cinta pertama untuk Amy!


Sial. Aku kembali teringat kata-kata Raka. Jangan terbawa suasana. Jangan sampai aku menyakiti atau pun membuatnya kecewa. Dan ingat tujuan awal kenapa aku mengaku sebagai pacarnya! Aku memang tidak berpikir perasaan ini akan berkembang seperti ini. Apa aku benar-benar tertarik padanya?


Namun di hari berikutnya, aku malah dibuat salah tingkah dengan cara menatapnya yang tidak biasa terhadapku sepanjang sisa jam pelajaran sekolah. Itu jam pelajaran ke 5. Aku sedang mendengarkan dan sekedar menyimak penjelasan pak Ali tentang pembahasan Aljabar. Dasar-dasar pengenalannya dan lain sebagainya. Ilmu pasti memang selalu membutuhkan pemikiran khusus dengan alurnya yang kongkrit dan hanya memiliki satu jawaban yang pasti.


Tapi sikap yang ditunjukan gadis di sampingku ini, membuatku harus menebak-nebak tentang apa yang menjadi pemikirannya. Biasanya setiap orang memiliki ritme tersendiri dalam satu siklus untuk melakukan sesuatu. Tapi semua tentang gadis di sampingku ini, tidak pernah selalu sama dengan apa yang aku pikirkan.


Ibu memang selalu bilang, setiap manusia itu berbeda. Manusia satu dengan manusia lainnya selalu mempunyai pemikirannya sendiri. Entah itu laki-laki atau perempuan. Terlepas dari seberapa baik kamu mengenal seseorang, akan ada satu sisi dari orang itu yang tidak akan mampu kamu tahu perubahannya. Kamu bisa memanipulasi hidup orang lain, tapi tidak dengan logika dan perasaan seorang yang telah terbentuk sejak ia kecil.

__ADS_1


Berat bukan! Tapi aku sedang berusaha memahami kata-kata ibuku ini. Dan untuk hal ini, dibutuhkan waktu, pemahaman, penerimaan, dan kata-kata lain yang tidak aku mengerti kenapa ibuku sampai mempunyai pemikiran seperti ini. Kalau soal ayahku, lebih ajaib lagi. Nanti akan ada waktunya untuk bagian ayahku. Kali ini, aku sedang mengingat pesan ibuku. Berhubung nama ibuku sama dengan gadis yang kini sebenarnya mulai membuatku salah tingkah dengan caranya menatapku.


Padahal sebelum makan siang tadi, dia masih khusuk dengan dengan buku tulisnya. Entah apa yang ditulisnya. Dia selalu bersemangat dan nampak begitu berapi-api saat menulis. Ngomong-ngomong tentang tulisan, aku suka tulisan tangannya. Begitu rapi dan teratur. Untuk seorang dengan masalah keluarga seperti itu, Amy termasuk kuat karena tidak kehilangan keseniannya. Setidaknya, didalam jiwa yang mampu menuangkan sebuah seni dalam menjalani hidupnya, dia telah menemukan sesuatu untuk dia lakukan dalam hidupnya bukan?! Setidaknya untuk seni yang bernilai positif.


Aku mencoba mengikuti Amy kali ini. Katanya dia meminta liburan karena hal penting. Aku penasaran ada hal penting apa yang membuatnya harus memilih libur dihari sabtu siang. Aku mengikuti langkahnya menuju sebuah toko peralatan tulis. Di dalam toko, dia terlihat mengambil beberapa alat menggambar, cat warna, kuas, dan beberapa kanvas ukuran sedang.


"Mentang-mentang kemarin baru gajian!" gumamku sembari mengambil satu buku tulis bergambar tengkorak kecil pada sampulnya. Lalu memutar badan dan bersembunyi di balik rak buku bacaan, saat langkah gadis itu menuju ke tempat ku memperhatikannya dari jarak yang dapat ku pastikan dia tidak akan menyadari keberadaan ku. Kalaupun dia melihat, aku hanya akan beralasan datang membeli buku. Beres.


Sampai membayar ke kasir dan keluar dari toko, Amy masih tidak menyadari keberadaan ku. Membuatku merasa sedikit terabaikan. Apa dia tidak mempunyai rasa peka sedikitpun dengan sosokku. Rasanya aku tidak tahan dan ingin berteriak memanggil namanya. Tapi harus ku urungkan.


Dia melangkah dengan ringan dengan tetap menggunakan seragam sekolahnya. Memasuki gang-gang kecil dengan membawa tas besar yang di dalamnya banyak terisi barang-barang belanjaannya di toko tadi.


Fokus dengan ke arah mana gadis itu melangkah, akhirnya aku baru menyadari ingatanku akan punggung mungil yang ku pernah ku lihat dan terasa akrab dengan punggung gadis yang ku pandangi kini. Itu adalah punggung gadis berseragam SMP berkepang dua dengan membawa tas jinjing berisi penuh peralatan lukis.


Aku tersentak, saat ujung kakiku tersandung sesuatu yang keras padahal benda itu hanya sebuah ember kecil biasa. Tapi isian di dalam ember itu cukup membuatku tercengang. Ember hanyalah pelapis dari semen kering didalamnya. Dan aku tersandung benda itu hanya karena terlalu fokus pada objek yang kini sudah menghilang dari pandangan.


Sial!

__ADS_1


Aku mengumpat dengan kekesalan penuh. Hanya karena hal sekecil itu, aku malah kehilangan jejak Amy.


__ADS_2