Mirror!

Mirror!
Angga: Apa itu keluarga??


__ADS_3

"Kalian hanya anak-anak tidak berguna! Seharusnya kalian tidak pernah terlahir ke dunia ini!!" bentak sosok laki-laki yang menatap kami penuh amarah dan kebencian. Dia adalah sosok yang seharusnya kami panggil dengan sebutan Ayah. Tapi karena tindak kekerasan yang selalu ia lakukan, rasanya tidak pantas aku memanggilnya dengan panggilan itu.


Waktu itu kami masih sangat kecil. Aku baru saja akan menginjak kelas 2 SD sedangkan Amy baru berumur 5 tahunan. Amy dengan tubuh gemetar hanya bisa berpegang pada bahuku yang terus saja awas dan berusaha menjadi kakak yang baik dengan melindunginya.


Suaranya sampai tidak bisa keluar dengan baik. Suara yang tertahan, gemetar, dan ketakutan.


"Kami anak ayah.."isaknya.


Aku dan Amy sama-sama menjadi korban kekerasan dari pasangan yang menikah muda dan tidak tahu apa-apa. Yang setiap kali hanya selalu menyalahkan kami untuk banyak hal dalam hidup mereka. Bahkan kelahiran kami menjadi hal yang selalu di persalahkan dalam hidup mereka.


Aku tidak tega melihatnya seperti itu. Tapi juga tidak bisa mengontrol emosi ku yang meledak-ledak. Dengan semua siksaan dan kata-kata tidak pantas yang sering kami dapatkan, aku tumbuh menjadi anak yang begitu kasar dan arogan.


Ya. Aku tidak malu mengakuinya. Aku tumbuh menjadi anak laki-laki yang tidak bisa di atur. Sikap keras yang ku dapatkan di rumah, aku wariskan dan aku teruskan di lingkungan manapun aku pergi. Sampai aku menjadi anak berandal yang membuat Amy menjadi di jauhi oleh teman-teman seusianya. Walau anak ini tidak pernah mengeluhkannya padaku, aku berpikir ada baiknya Amy tidak perlu terluka dengan memiliki teman yang hanya ingin memanfaatkannya saja. Terlebih jika aku membayangkan Amy menjadi sasaran perundungan, yang sering di alami oleh anak-anak model seperti Amy yang cupu dan tidak terurus.


Tapi tidak ku sangka, apa yang aku pikirkan berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Amy sepanjang masa kecilnya. Dia kehilangan sesuatu yang aku punya.


Teman.


"Bagaimana acaranya tadi?"


Seperti biasa, dia tidak langsung menyahut tetapi melirikku terlebih dulu. Sialnya, dalam lirikannya itu, aku melihat air matanya. Jadi sejak tadi dia berdiam di ujung tangga sambil menunduk karena menangis?! Kesalahan apa lagi yang aku lakukan kali ini?


Aku sudah mempertanyakan hal ini berkali-kali semenjak ke pindahan ku lagi ke kota ini. Tepatnya saat aku tahu reaksi ketakutan yang Amy tunjukan padaku. Hey, yang benar saja dia takut padaku? Menjauhi ku mungkin! Tapi masa iya dia takut dengan kakaknya sendiri. Karena itu aku terus mencoba mendekatinya dengan cara apapun di sekolah. Bukan bermaksud menekan anak ini, tapi nyatanya yang ku lakukan memang hanya mendapat tanggapan kalau aku menyerang sosoknya yang lemah dan ketakutan.

__ADS_1


"Lo takut? Atau benci sebenarnya sama gue?"


Ok. Aku sudah tidak bisa menahan emosiku melihatnya begini. Ayolah! Aku yang dari dulu mati-matian jagain dia sebagai kakak yang baik, harus mendapatkan penolakan dengan cara-cara yang membuat ku memikirkan kesalahan apa yang mungkin aku perbuat. Yang benar saja. Apa yang salah dengan anak ini? Aku sudah memikirkan semua tindakanku baik-baik selama ini. Kalau dia benci karena soal kepergian ku dari rumah yang dibencinya, aku bisa mengerti.


"Takut..." jawabnya. "Benci juga..." tambahan suaranya yang ini kecil dan pelan. Tapi tertangkap jelas oleh pendengaran ku.


"Lo nggak berubah yah!!"


Herannya di suasana seperti ini, aku malah bisa tersenyum lega mendengar jawabannya. Setidaknya dia memberikan jawaban sejelas-jelasnya tentang pendapatnya. Dan hal itu ternyata belum berubah. Karenanya, ketika aku sempat bertanya padanya soal bocah tengik yang mengaku sebagai pacarnya, dan dia menjawab tidak, aku bisa langsung memegang omongannya itu. Tapi belakangan, sepertinya sesuatu sedikit berubah dari omongannya itu.


"Sama gue takut, Reihan nggak?"


Mungkin karena menyebut nama Reihan, Amy nampak gamang. Pikirannya tiba-tiba jauh dari tubuhnya. Ini salah satu kebiasaan yang paling aku benci dari dirinya, dia tidak bisa langsung mengatakan apa yang ada di pikirannya tentang orang lain. Satu hal yang membuat ku pernah menghajar laki-laki yang pernah membuatnya malu dikelas ketika kelas 2 SMP dulu. Kejadian lama. Sehari sebelum aku memutuskan untuk pergi dari rumah ini tiga tahun yang lalu.


Dari tatapan matanya yang biasa saja, aku tidak menyangka kalau anak ini memiliki perasaan yang tidak pernah akan bisa aku mengerti maunya.


"Lalu menurut lo, gue seram?"


"Menakutkan!" tatapan matanya kaya anak anjing yang nyolot. Menyebalkan. Juga menggemaskan.


"Gue bukan setan!" keluhku membuang muka.


Ngobrol dengannya kadang membuatku swing. Tiba-tiba marah, tiba-tiba kesal, tiba-tiba iba, tiba-tiba memakluminya. Andai dulu aku punya pemikiran seperti sekarang, aku tidak akan meninggalkannya dengan kedua orang dilantai bawah kami.

__ADS_1


"Iya. Memang bukan." jawaban Amy langsung menghilangkan mood ku untuk melanjutkan pembicaraan yang ada.


"Istirahat sana! Jadi males gue ngomongnya!"


Aku berjalan turun melewatinya dengan tatapan yang sebenarnya jengkel. Tapi sejengkel-jengkelnya aku dengannya, aku tetap tidak bisa untuk sekedar menjitak kepalanya seperti yang dulu biasa aku lakukan. Entah sejak kapan, ada rasa enggan yang membatasi tindakanku terhadap Amy. Adikku.


"Besok gue belikan obat!" ujar ku menawarkan bantuan dengan berbaik hati. Dan kalian tahu jawaban apa yang ku dapatkan. Padahal ketika memperhatikan bekas memar dan luka pada lengannya membuatku bertanya-tanya, seberapa banyak pukulan yang dia terima setelah kepergian ku.


"Aku sudah ada banyak!" Dia menunjukan satu salep yang di bawanya padaku. Salep yang masih terlihat baru digunakan satu dua kali.


Dia terkadang memang suka memancing emosi orang lain tanpa sadar. Seenggaknya dia menghargai niat baik orang, bukan langsung skak matt kaya permainan catur gitu. Permainan catur aja sebelum skak matt masih harus memikirkan langkah dan strategi. Lah dia, skak matt tanpa memikirkan hal apapun.


Tanpa mengatakan apapun, aku hanya mampu menghela nafas sembari melanjutkan langkahku menuju kamar. Kamar yang tidak berubah sama sekali. Kamar ku dan kamar Amy sama suramnya. Setidaknya sebagai laku-laki, warna dasar ruangan ini cukup tidak masalah. Tapi bagi seorang perempuan, warna ini pasti sangat suram untuknya.


Aku baru akan merebahkan diri begitu mendengar suara pintu diseberang kanan kamarku tertutup dengan perlahan. Menandakan Amy sudah masuk ke dalam kamarnya.


Sembari terbaring pada kasur yang keras itu, aku membayangkan semua kemungkinan yang Amy alami selama aku pergi dari rumah ini. Meninggalkannya dengan dua sosok orang tua yang rada psiko. Bahkan ibu sampai harus bolak balik ke rumah sakit hanya untuk membuatnya kembali tenang.


Aku yakin luka pada sebagian besar tubuh Amy karena perbuatan ibu. Dia yang suka memukul dan melempar barang sesuka hatinya. Atau terkadang, aku melihat dia menyiksa dirinya sendiri. Amy pasti menerima semua pukulan untuk dirinya agar ibu tidak terus menyakiti dirinya sendiri. Aaaaargh!! Kenapa dia begitu bodoh?!


Ku acak-acak rambutku. Memukul tembok disebelah ranjang lalu menutupi wajah ini dengan bantal yang tersedia. Aku terlalu lelah untuk untuk sekedar meluapkan semua amarahku kali ini. Aku ingin bangun esok dan membawa Amy berlibur barang sehari.


...***...

__ADS_1


__ADS_2