Mirror!

Mirror!
Amyra : Aku kenapa?


__ADS_3

Kali ini begitu sampai di pustaka, aku langsung menata semua buku yang di kembalikan oleh member pustaka lalu mengambil satu buku lain yang menurutku menarik untuk ku baca.


Untuk sesaat, sebelum mengambil buku ini, aku melihat Reihan sedang menatap ke dalam sini. Dan entah kenapa aku merasa sesuatu yang salah terjadi pada jantungku saat aku benar-benar melihat ke dalam tatapan matanya yang begitu bening dan indah. Padahal dia itu laki-laki, tapi matanya sangat indah.


Jantungku berdetaknya kencang sekali. Sepertinya aku mempunyai sakit jantung karena semua perlakuan yang ku dapatkan di rumah selama ini. Tapi kenapa itu hanya terjadi di saat aku tahu dan tanpa sengaja bertatapan dengan Reihan saja???


Sepanjang malam itu aku tidak bisa tidur. Selain karena keadaan rumah yang begitu sepi karena Angga masih belum pulang dan ayah masih menemani ibu, pikiranku juga seperti tersita akan sosok Reihan dan semua tindakannya selama ini padaku. Membuat jam tidurku menjadi semakin kacau. Yang dulunya setiap malam aku susah tidur karena ketakutan dan rasa sakit, kali ini untuk pertama kalinya aku terjaga karena merasa berdebar ketika memikirkan seseorang dalam malamku.


Seseorang yang seharusnya sama menakutkannya seperti Angga dan ayah dalam hidupku. Ketakutan ku pada sosok laki-laki. Selama ini aku hanya mengenal dua laki-laki dengan temperamen buruknya. Suka membentak, memukul, bahkan tanpa ragu mengatakan hal-hal buruk yang membuatku meragukan keyakinan yang ku punya dalam menjalani hidupku.


Sementara Reihan. Sejak awal bertemu, dia memang nampak berandalan. Aku bahkan pingsan di hari pertama sekolah karena sapaannya. Lalu saat aku ketakutan pada Angga yang pindah ke sekolah ini dan menjadi teman sekelas, Reihan membantu ku. Menjauhkan ku dari Angga dengan tidak kentara. Menolongku dari sasaran tindakan pengeroyokan siswi senior di sekolah karena salah paham. Membantuku mendapatkan pekerjaan di pustaka. Lalu masih banyak hal yang dia lakukan untukku. Apa karena semua itu aku merasa deg-degan setiap kali bertatapan dengan Reihan?


"Aku mengantuk...."


Berperang dengan isi kepala bukanlah hal yang baik untuk di lakukan di malam hari. Terlebih ketika menjelang tidur. Akibatnya akan seperti yang ku alami saat ini, aku mengantuk tetapi tidak bisa memejamkan mataku sama sekali.


Tidak berpikir panjang, aku langsung bangun dari tempat tidur. Mengingat hanya aku sendiri yang dirumah, itu artinya masih banyak stock makanan di dalam di kulkas. Termasuk makanan yang di belikan kemarin malam oleh Angga. Aku membuka pintu kamar dengan perlahan, lalu mengintip ke sekeliling dengan takut-takut. Sudah ku bilang, aku benar-benar takut di rumahku sendiri.


Pernah satu ketika, aku terbangun dimalam hari karena merasa lapar. Aku melewatkan makan malam untuk menghindari suasana keruh yang terjadi begitu aku pulang sekolah. Keadaan dirumah kacau balau saat itu. Dan aku tidak berani keluar kamar sampai ketiduran dan terbangun di tengah malam karena merasa lapar.


Dengan takut-takut aku membuka pintu kamar untuk mengintip apakah di dapur ada sisa makanan yang bisa ku makan. Baru saja menutup pintu kamar, sebuah asbak dari kaca tebal langsung memukul tepat di lengan kiri ku. Menimbulkan rasa ngilu dan sakit yang luar biasa. Belum lagi mendapat bentakan dengan kata-kata yang tidak manusiawi. Dengan perut lapar dan sakit pada lengan yang menimbulkan memar, aku masih harus menahan rasa sakit yang mencekat di dadaku karena kata-kata yang ku dapat dari sosok yang menyebut dirinya ayah itu.


Mengingat rasa lapar yang sama seperti malam itu, bagaimana mungkin aku tidak ketakutan malam ini. Siapa tahu hal yang sama bisa terulang lagi, bukan!

__ADS_1


Aku melihat ke sekeliling, dan mendapati keadaan rumah yang memang benar-benar sepi. Barulah aku bisa menghela nafas dengan pelan. Menenangkan diri sembari mengenyahkan semua bayangan buruk yang dulu pernah terjadi di dalam hidupku. Hanya masa lalu. Seperti itulah caraku memaafkan semua hal-hal buruk yang terjadi di hidupku.


Aku segera masuk ke dalam dapur, menyalakan lampu dan langsung berdiam kaku disamping saklar lampu. Menatap sosok Angga yang tengah menikmati makanannya diatas meja makan. Keberadaan Angga di dalam benar-benar membuatku takut bercampur kaget. Dia bisa makan dalam gelap dan tanpa ada suara yang berarti dari cara makannya. Dia juga nampak begitu santai saat bertatapan denganku.


"Gue kira lo udah tidur!" ujarnya.


Sebelum bisa menjawabnya, aku berusaha menenangkan pacu jantungku yang berdetak sangat kencang. Di tambah dengan ketakutan dan rasa kaget yang menjalar ke seluruh tubuh, ku rasa aku kehilangan semua darah dalam tubuhku.


"Lo sakit?" tanyanya sebelum aku mampu menjawabnya. "Muka lo pucat amat?!"


Angga melangkah mendekat ke arahku, membuatku langsung menahan nafas dengan semua hal yang membuatku bisa kehilangan nyawa karena rasa kaget yang punya.


Reflek aku menggeleng. "Aku baik-baik saja." jawabku terbata-bata.


Aku mengangguk. Aku memang ke dapur karena lapar. Tapi perutku langsung merasa mulas dan mual. Aku terlalu kaget dengan sosok Angga yang tahu-tahu sedang makan di dapur.


"Kenapa masih bengong??" tanyanya. "Ayo sini!"


Angga menarik satu kursi makan di sebelahnya. Membuka satu bungkusan nasi kotak yang tadinya ada di sampingnya lalu meminta ku untuk langsung memakan makanannya itu.


"Tadi di kasi pas di tempat kerja. Gue minta lebih buat lo!" ujarnya.


"Kenapa?" tanyaku. Kenapa tiba-tiba kamu sebaik ini? Atau hanya aku yang salah mengira sikapmu sewaktu dulu?

__ADS_1


Itu tidak mungkin, Angga bukan orang yang seperti sekarang! Dia keras, suka membentak, memukul, dan bahkan mengejek yang membuatku selalu ketakutan pada sosoknya. Angga sepertinya banyak berubah? Apa yang telah dia alami selama tiga tahun ini? Bagaimana bisa ia bertahan hidup selama ini? Kenapa aku tidak memikirkan itu sama sekali? Kenapa aku hanya memikirkan semua rasa sakit yang ku dapatkan! Lalu ketakutan sendiri pada Angga, yang dulu pernah berkata akan melindungi ku sebagaimana sosok seorang kakak.


"Karena beras habis!" jawabnya. "Sudah! Ayo makan."


Aku termenung. Banyak hal dalam hidup yang tidak bisa aku mengerti. Semakin aku memikirkan satu kemungkinan, aku semakin mendapatkan banyak kemungkinan-kemungkinan dan masalah-masalah lain dalam setiap rasa yang ku punya.


"Mi,"


"Ya?" Aku tersentak kaget.


Angga menatapku lekat-lekat selama beberapa saat. "Setelah makan, jangan langsung di bawa tidur yah!"


Aku mengangguk lalu melanjutkan makan ku dengan semua pemikiran lain yang berputar-putar tidak menentu di dalam kepalaku. Baru saja memikirkan sosok Reihan yang entah kenapa belakangan menyita pikiranku, tiba-tiba aku menyadari kalau selama ini aku mengabaikan bagaimana Angga. Bagaimana hidupnya berjalan tanpa sebuah tempat tujuan? Kemana ia selama tiga tahun ini, dan kenapa dia bisa sekelas denganku? Bukankah harusnya dia sudah dua tingkat di atasku?


Kenapa aku segini tidak pekanya dengan keadaan saudaraku sendiri. Aku malah memperbesar rasa takutku sendiri akan semua tindakan yang di bayanganku mungkin akan dia lakukan kembali saat bertemu denganku. Apa yang salah denganku selama ini? Kenapa aku melihat hanya dari rasa sakitku saja? Kenapa Aku tidak pernah ingin tahu bagaimana Angga selama ini menjalankan hidupnya.


Aku menatap Angga yang sudah menuangkan segelas air untukku minum. Sembari menutup kembali pintu kulkas, aku melihat tulang punggungnya yang sedikit bungkuk. Masih seperti tiga tahun yang lalu. Tapi kini terlihat sedikit lebih kurus.


"Gue duluan yah!"


"Kemana?"


Angga hanya melambaikan tangannya. Dengan pakaian serba hitam yang digunakannya, Angga menghilang setelah keluar dari area dapur rumah.

__ADS_1


...***...


__ADS_2