
"Itu rumah gue!" tuding Siska pada bangunan di seberang tempat makan ini.
Aku baru saja duduk di sebelahnya saat temanku yang bernama Siska sedang menunjuk sebuah diseberang jurang dangkal ini. Sebuah rumah yang lebih mirip sebuah hunian villa yang besar, megah, dan mewah atau semacamnya dengan terdapat kolam renang yang menghadap ke bagian perairan jurang dibawahnya.
Kami semua saling bertukar pandang melihat bagaimana Siska yang memang terkenal kaya raya menunjukkan rumahnya itu seakan rumah itu hanyalah tempat yang tidak terlalu mewah di matanya.
"Sepertinya gue bakalan sering nongkrong ke sini..." ucap Siska dengan senyum polosnya.
Perkenalkan, namaku Rahma. Disini aku sebagai teman nimbrung dari ajakan Reihan ketika menagih hutang traktiran pada Amy. Aku sudah sering berurusan dengan dua anak di hadapanku ini. Juga tidak dengan teman lainnya yang kini tengah memilih menu makanan untuk mereka pesan.
Yang membuatku heran dengan kebiasaan yang ia punya. Terkadang aku merasa, julukan yang di sematkan kepada Siska terlalu berlebihan. Malah selama mengenalnya hampir satu semester ini, aku malah melihat sikap polosnya yang memang blakblakan saja. Pemikiran anak ini sama santainya dengan tiga teman ku yang lain. Reihan, Raditya, dan Raka.
Namun pemikiran ku terhadap satu temanku yang lain, mungkin bisa di bilang membuatku wanti-wanti. Dia Amyra Rashita. Teman ku dari masa bangku SMP. Ada sebuah cerita tentangnya yang membuatku terus saja peduli padanya dengan hal sekecil apapun. Percayakah kalian, aku pernah menganggap Amy sebagai rival ku dalam melukis dan bidang matematika. Ya. Aku pernah menganggap dia sebagai sainganku. Di kelas 3 SMP, aku beda kelas dengannya karena prestasi yang ku raih.
Untung dimasa SMA ini, kami sekelas lagi. Jadi aku bisa mendekatkan diri untuk mengenalnya dengan cara yang benar. Bukan dengan berita yang dibicarakan di jaman aku SMP. Dasar aku! Masa SMP ku selalu di penuhi oleh dikte-dikte dan bully yang membuat ku mengenal orang lain dengan mendengar cerita tentang orang itu dati orang lain. Tapi nyatanya, cara terbaik dalam mengenal orang lain adalah dengan mencari tahu kebenaran tentang orang itu melalui dekat dengan orang itu sendiri. Dan kini aku melakukannya.
"Lo mau pesan, Mi!" ujar ku yang sudah selesai menyampaikan pesanan ku pada Rio.
Senior yang di tahun pertama masa SMP, langsung menyukai sosok yang kini tengah melihat daftar menu makanan yang barusan aku sodorkan padanya.
"Mi! Gue traktir menu favorit tempat ini gimana?!" tawaran itu datang Rio.
Dia termangu ketika melihat Amy nampak tidak tahu mana makanan yang ingin dia pesan. Tapi jawaban Amy malah membuat Rio dan Reihan menepuk jidat mereka dengan jawaban berupa gelengan kepala. Tidak terlalu kentara tentunya. Aneh. Padahal sebelumnya aku lihat Amy yang paling memikirkan apa yang mungkin akan dipesannya hari ini. Dia bahkan membuat catatan menu yang akan di pilihnya kemarin.
__ADS_1
"Dua vanila milk shake, satu es teller, dua porsi nasi goreng spesial buat gue dan Amy!" kalimat itu keluar dari Reihan. "Itu aja cukup yah?"
Reihan menatap Amy lalu melempar senyum pada gadis itu. Memberikan menunya pada Raka, lalu bersandar pada busa yang kami duduki dengan santainya. Amy tidak menjawab apapun, dia menerima pesanan dari Reihan itu mungkin karena hutang traktirannya.
Sepanjang waktu menunggu pesanan datang, kami mengobrol tentang pelajaran yang kami lewati sepanjang hari ini. Tentang kejadian pada jam olahraga juga tentang masa SMP kami.
Pada obrolan ini, aku memperhatikan Amy hanya bisa diam. Tetapi sesekali ikut tersenyum ketika mendengar sesuatu yang lucu yang keluar dari mulut Ditya.. Juga menyimak dengan baik saat Siska menyampaikan sesuatu yang membuat kami semua heran dengan statusnya sebagai nona manja. Lalu Raka, Ditya, dan Reihan dengan cerita kocak mereka tentang acara membolos mereka di SMP yang ketahuan orang tua mereka masing-masing.
Aku memperhatikan baik-baik mereka yang sedang asyik dengan ceritanya. Membuatku menyadari, kalau sebuah pertemanan memang lebih menyenangkan dibandingkan yang namanya cinta-cintaan.
Aku memang aneh. Di masa SMA ini harusnya aku atau sebagian dari kami berpikiran bagaimana caranya supaya punya pasangan dan sebagainya selayaknya siswa SMA biasa.
Tapi hal itu terlalu menyusahkan untukku. Untukku yang menjadi anak tunggal dengan kasih sayang melimpah, tidak perlu lagi sosok lain yang harus hadir dan mengacaukan kedamaian hidupku dengan semua drama hidupnya. Harus berurusan dengan hal-hal yang membuatmu terkekang dan menangis sepanjang malam. Seperti cerita sepupu perempuanku.
Sebuah tepukan pada kepala menyadarkan aku dari bayangan bagaimana sepupuku menghabiskan waktunya sepanjang waktu dengan menangisi hubungan percintaannya. Selalu mengeluh dan membuat bising seisi rumah yang semuanya sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing.
"Cuma hal yang nggak penting." jawabku sekenannya kemudian membenarkan posisi dudukku ketika aku menyadari rok sekolah ku sedikit terselip. Pemilik tangan itu Raka. Dia yang belakangan selalu membuatku mau tidak mau hanya melihat ke arahnya saja ketika aku sedang tidak memikirkan hal apapun.
Pesanan kami datang dengan bersamaan. Diantar oleh Rio dan satu teman lainnya yang menurutku cukup membuat ku mengalihkan semua tatapanku pada sosoknya itu. Mahkluk yang sempurna. Dia seorang laki-laki berambut sedikit lebih panjang dengan gayanya yang stylist. Rambut itu di ikat ke belakang dan sisanya dibiarkan acak-acakan. Nota beneh, dia rapih dan cool banget untuk yang namanya laki-laki. Wait!
"Woi!!" suara cukup keras itu berasal dari Raka yang menjentikan jarinya di depan mataku. "Bengong aja lo!"
Satu loyang pizza tersaji di hadapanku untuk di teruskan ke tengah-tengah meja. Aku tidak menyahut, hanya tersenyum kaku lalu meneruskan satu loyang pizza itu dan meletakkannya di tengah-tengah.
__ADS_1
"Waah,, enaknya...." Ujar Siska penuh kekaguman pada semua makanan yang kami pesan.
"Kaya tumben liat makanan begini aja?!" celetuk Ditya. "Lo kan kaya, Sis! Masa makanan begini udah buat lo berbinar-binar?!"
"Terserah gue dong!" jawab Siska acuh tak acuh. Dia tidak lagi menjawab ocehan Ditya yang rada-rada tidak memikirkan perasaan orang lain. Melainkan langsung memakan makanan yang dipesan olehnya.
Untuk beberapa waktu, kami larut dalam makanan yang kami pesan. Semua nampak menikmati setiap makanan yang tersaji. Termasuk Amy yang mendapat sumbangan telur ceplok dari Reihan.
"Gue nggak suka telur ceplok! Buat lo yah? Daripada mubasir nggak ke makan."
"Sejak kapan lo..." Ditya mengacungkan sendok itu kehadapan Reihan dengan mata membelalak tidak percaya.
Belum selesai Ditya melontarkan protes, pemuda itu langsung mengaduh kesakitan dengan mengusap-usap bagian lututnya yang mungkin kena sepak dari Reihan.
"Terima kasih." ujar Amy pada Reihan dengan senyum yang tidak biasa.
Kami melanjutkan acara makan-makan kami dengan bergembira. Mengabaikan orang-orang sekitar yang memandangi kami yang masih menggunakan seragam sekolah untuk keluar makan-makan.
"Gue ke toilet sebentar yah!" Reihan berlalu di susul Raka. Dari jauh aku memperhatikan satu sosok itu. Sosok yang tiba-tiba membuatku memikirkannya di sela-sela kekosongan mengisi kepalaku.
"Nggak akh!" Aku mengibaskan tangan dihadapan wajahku. Membuang semua pikiran aneh yang bukan hanya menganggu ku saat ini saja tapi juga pada hari-hariku berikutnya.
...***...
__ADS_1