Mirror!

Mirror!
Reihan : Menjengkelkan.


__ADS_3

Pagi ini, melihat Angga, si anak baru masuk ke dalam kelas dengan angkuhnya sudah membuatku sangat muak. Bukan karena pagi ini saja. Kemarin pada saat aku mengikuti acara Aray, tanpa sengaja aku melihat sosoknya. Melihat dia menggunakan foto Amy yng sepertinya diambil secara diam-diam dan dijadikan sebagai wallpaper hpnya.


Saat berpapasan dengannya, aku sebenarnya tidak peduli. Tapi mendengar dia berdecak dengan gaya membentak menyebut nama Amy, membuatku langsung meliriknya dengan jengkel.


Sejam setelah hal itu, aku melihat dia berbicara dengan kasar kepada seorang ibu paruh baya. Sosok seorang ibu yang sedang meminta perhatiannya. Sikapnya yang arogan membuatku begitu ingin menghajar sosoknya saat itu juga. Tapi Aray malah menghentikan langkahku.


"Sebaiknya jangan ikut campur, kalau lo nggak tahu masalah sebenarnya!"


"Gue hanya benci dengan sikapnya yang arogan itu!"


"Ibu itu sudah sering datang ke sini belakangan. Dan sepertinya hubungan mereka memang kurang baik sejak awal!"


"Tetap saja!" jawabku. "Rasanya terlalu kurang ajar!"


Aku bermaksud melengos pergi ketika siswa baru itu mendorong wanita paruh baya itu dengan kasarnya sehingga jatuh tersungkur dibawah kaki ku.


"Bisa sopan sedikit nggak sih?!" bentakku yang sudah kehilangan kesabaran ku dengan sikapnya di mataku sembari membantu ibu itu untuk berdiri.


"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa!" ucap sang ibu cepat-cepat. "Saya baik-baik saja."


"Pergilah dari sini!" tegas anak baru itu ke ibu yang kini masih dalam jangkauan perlindunganku. "Aku tidak akan pernah kembali."


Ibu itu dengan bersungut-sungut langsung pergi begitu saja dari tempat ini setelah mengambil tasnya yang jatuh di sebelahnya. Angga dari posisinya kini hanya menatap punggung wanita tua itu tanpa ekspresi. Perangai seorang aktor remaja. Mana patut menjadi panutan.


Sebelum melanjutkan pekerjaannya, dia melihat ke arahku dengan tatapan yang membuatku risih. Kalau bukan karena perkataan dan menjaga nama baik Aray ditempat ini, sudah ku jontos anak baru di hadapanku ini.


Pagi ini pun, tatapan yang sama aku dapatkan darinya. Tidak ku sangka, dia kembali ke sekolah setelah syutingnya di hari kemarin. Tapi begitu masuk, dia sudah membuat Amy mengkeret ketakutan di lorong sekolah. Daripada langsung memulai perkelahian dengan cara yang tidak benar, aku berpikir untuk mengingatkannya saja untuk menjauhi Amy. Itu cukup untuk hari ini. Seharusnya. Dan hal aku hindari akhirnya terjadi.


Siang itu begitu sampai di Pustaka, aku melihat dia duduk di meja depan Pustaka dengan santai. Aku masuk ke dalam Pustaka dan mendapati Raina, adikku berdiam diri dengan wajah heran.


"Ada apa Rain?"


"Amy belum datang nih! Ada yang nungguin dia dari tadi."


"Siapa?"


Raina hanya mengangkat dagunya yang mengarahkan kepada siapa jawabannya itu tertuju. Angga. Ku letakkan tas sekolahku diatas meja tempat Raina berdiam diri. Berjalan keluar lalu menghampiri Angga yang terlihat cuek saja dengan keberadaan ku ditempat ini.

__ADS_1


"Ada apa lo nyari Amy sampai ke sini!"


"Bukan urusan lo!"


"Gue udah bilang untuk lo jauhin Amy!"


"Kalau gue nggak mau gimana?!" jawab dengan tampang nyolot. "Lagian, lo itu siapanya Amy? Seenaknya ngatur-ngatur orang yang boleh dekat dan jauh sama Amy!"


"Gue pacarnya!"


"Pacar lo bilang?!" nadanya benar-benar meremehkan. "Asal lo tahu, gue cinta pertamanya Amy!"


Sudah beberapa kali aku menahan diri dengan tingkahnya yang sok. Dan, tidak ada lagi kali ini. Dengan geram aku mengcengkram kerah bajunya. Menariknya keluar Pustaka lalu menyeretnya untuk pergi.


"Lo bisa nunggu siapapun! Tapi jangan sesekali menganggu orang-orang dilingkungan gue! Termasuk Amy."


Hal yang ku lakukan langsung mendapat perhatian Raka dan Ditya yang langsung bangun dari kursi mereka. Daripada membalas apa yang ku katakan, Angga lebih memilih mengabaikan ku. Awalnya. Namun begitu akan mengambil tas miliknya, dia berbalik mencengkram kerah baju ku. Mendorong hingga aku hampir kehilangan keseimbangan. Namun akhirnya tetap terjatuh saat mendengar teriakan lantang dari arah kananku.


"Angga!!"


Aku benar-benar kaget dibuatnya. Dia yang jarang sekali berkata-kata dan lebih banyak diam di dalam kelas, ternyata bisa bersuara sangar dengan nada yang begitu keras. Menggelegar lagi. Sampai-sampai membuat orang-orang disekitar memandang takut-takut ke arahnya. Terlebih melihatnya yang sudah menarik dia yang namanya di teriakan dengan suara lantang.


Aku memutuskan untuk berangsur pergi dari Pustaka dan tidak pulang sama sekali. Aku menghabiskan sisa hari dengan membuat onar di tempat Raka. Bukan yang melampiaskan kemarahan. Tapi menikmati fasilitas gym ditempat usaha orang tuanya Raka.


"Jadi..." Raka memulai ocehannya. "Atas dasar apa lo berlaku kayak anak kecil tadi di pustaka?!"


"Bener! Bener!"


Ditya ikut nimbrung. Sementara aku tengah mengangkat dua buah barbel dengan berat masing-masing 2 kilo.


"Tumben-tumbennya lo bikin rusuh tanpa juntrungan!" tambah Ditya lagi. "Menyangkut teman sebangku lo lagi?!"


Dari pada membalas ocehan mereka, aku tetap fokus pada apa yang ku lakukan. Mengabaikan keduanya dan banyak berpikir. Sejak kapan aku malah jadi over protektif terhadap hal yang seharusnya bukan menjadi urusanku. Amy???


Cinta pertama dia bilang?? Cinta pertama apanya?


Dengan tenaga ekstra aku mengangkat barbel pada kedua tanganku. Mengabaikan semua hal, sampai rasanya tangan terasa sangat pegal.

__ADS_1


"Lo terlalu eksyen!" Raka melempar tas yang ku bawa dengan entengnya. Tapi tanganku malah tidak bisa menangkapnya dengan baik.


"Iya nih!" tambah Ditya. "Lo seharian ini aneh banget, Rei! Kaya habis diprovokasi perang aja!"


Sial.


Lagi. Aku mengabaikan kedua sobatku itu. Mengecek hp dengan notif dari Raina yang jumlahnya melebihi kekhawatiran orang tua kepada anaknya. Dasar adik bontot.


"Ya! Kenapa Rain?"


"Lo dimana? Gimana keadaan lo? Kenapa belum pulang jam segini?"


Aku langsung melirik jam tanganku. Melihat waktu menunjukan pukul 9 malam.


"Ini gue lagi jalan pulang..."


"Cepatan! Gue butuh penjelasan lo soal Amy! Gue diemin dia seharian tadi gara-gara tadi siang!!"


"Kenapa lo diemin dia?!"


"Dia udah nyakitin lo!" sentak Raina diseberang sana. "Masa milih..."


Langsung ku matikan sambungan telp itu ketika aku melihat Angga memasuki areal perumahan tempat Amy tinggal. Bukan hanya sekedar lewat, tapi langkah pemuda itu sedang menuju rumahnya Amy.


Tidak bisa ku tahan rasa penasaranku. Aku berjalan dibelakangnya dengan begitu santai. Mengamati langkah pemuda itu yang masuk ke dalam halaman rumah lalu mengetuk pintu rumah itu.


Sesaat pintu telah terbuka. Hanya ada Amy yang menyambutnya. Belum lama berdiri didepan pintu, si anak baru terjungkal ke belakang.


"Buat apa datang kesini!" teriak suara seorang laki-laki paruh baya dari dalam rumah. Sebuah tangan terlihat mengcengkram bahu Amy lalu menyeretnya untuk kemudian pintu rumah itu dibanting dengan kasar dihadapan si anak baru.


Oke! Semua hal yang ku lihat bukanlah hal yang baik. Terlepas dari seberapa jengkel aku dengan si anak baru, aku tidak bisa mengabaikan hal yang kini aku lihat.


Aku bergegas masuk ke halaman rumah itu, namun Angga mendorong tubuhku dengan paksa.


"Percuma!" ujarnya.


Sial! Apa maksudnya coba.

__ADS_1


...***...


__ADS_2