
Aku baru akan menuju ruang kelas seni rupa bersama Rahma saat Rio mencegat langkah ku di ujung tangga.
"Duluan, Ma! Gue perlu bicara sebentar sama dia. Boleh kan?"
Sejenak Rahma diam di hadapanku. Memberikan waktu beberapa saat sampai aku mengangguk ketika dia membalik badannya untuk bertanya apakah dia bisa meninggalkanku atau tidak.
"Kalo gitu, gue duluan ya, Mi!"
Sebelum berjalan, Rahma sempat menepuk pundak ku. Hal-hal kecil yang dia dan Siska lakukan untuk menguatkan ku. Aku baru menyadarinya belakangan ini. Sama seperti ketika Reihan menepuk kepalaku untuk menunjukan kalau dia peduli, seperti itu pulalah aku bisa merasakan kalau Rahma dan Siska juga berlaku seperti itu kepadaku.
Aku menatapnya sejenak, kemudian sedikit menunduk.
"Bisa tatap mata gue nggak?" ujarnya dengan suara datar. "Gue perlu ngomong sama lo!"
Aku menggeleng kecil. Aku masih belum berani menatap lawan bicaraku. Hanya sesekali melirik lalu bungkam lagi ketika aku menyadari tengah ditatap balik oleh lawan bicara ku. Rasanya cukup susah menyampaikan hal ini pada siapapun. Aku hanya berharap akan ada yang tahu dengan maksud tindakanku ini.
Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai orang yang sedang bicara padaku. Aku terlalu malu juga terlalu takut saat menatap mata lawan bicaraku. Aku merasa tubuhku seperti mengkeret lalu mengecil setiap kali lawan bicara menatap ku saat dia menyampaikan maksudnya. Apalagi butuh waktu lama buatku meresapi omongan seorang jika aku harus menatap matanya.
Konsentrasi dan fokus ku akan terpecah dengan maksud dari omongannya dan ekspresi wajah yang dia tunjukan pada saat berbicara. Belum lagi bila tiba-tiba aku merasa panik karena tidak bisa memberikan jawaban yang sesuai harapan. Itu kenapa aku tidak pernah berani menatap lawan bicaraku. Apalagi untuk seorang yang memberiku kesan yang tidak jelas dimasa lalu. Intinya seperti itu.
"Bicara saja, aku akan mendengarkannya dengan baik." aku melirik diam-diam dan dia menatap matanya dengan setajam elang. Bersamaan dengan tatapannya, aku bisa mendengar suara burung elang terngiang ditelingaku.
"Lo pikir gue mau ngapain lo dengan lo bersikap seperti ini ke gue?!" nadanya mulai terdengar tidak sabaran.
Ini salah satu yang menimbulkan rasa panik dalam diriku. Aku langsung memikirkan kesalahan apa yang pernah aku lakukan? Atau kesalahan apalagi yang sudah ku lakukan? Padahal aku baru bertemu dia hanya dua kali sepanjang semester ini.
"Apa lo segitu nggak sukanya sama gue?!"
Dia mulai melipat kedua tangannya di bagian dada yang tepat dengan pandanganku.
__ADS_1
Aku segera menggeleng. Lalu terdiam untuk waktu yang sangat lama. Pikiranku kembali ke masa lalu. Dimana aku sebenarnya sangat senang pagi itu. Tapi begitu pagi berganti ke sore hari, semua perasaan bahagia yang ku punya saat pagi hari, hancur seketika begitu mendengar bentakannya. Melihat dia yang datang menghampiri dengan wajah babak belur dan tatapan penuh kemarahan.
"Maaf..." ucapku sekali lagi.
Ucapan yang sama yang ku katakan padanya dua tahun yang lalu. Saat itu aku dan dia sama-sama duduk di bangku SMP. Dia seorang senior satu tahun di atasku. Aku tidak menyangka kami akan bertemu lagi pada sekolah yang sama. Dengan tingkatan kelas yang sama, tapi dengan pandangan yang berbeda satu sama lainnya.
"Gue nggak butuh maaf dari lo!" ujarnya kemudian. Satu tangannya terangkat naik ketika aku melirik, membuat jantungku berdetak kencang karena takut akan di pukul dengan tangan itu. Tubuhku otomatis mengkerut. Dengan kuat aku mengepal kedua tanganku di samping dengan mata terpejam rapat-rapat. Harusnya aku kabur disaat seperti ini, tapi rasanya kaki ku terkunci oleh sesuatu. Detak jantungku sudah berdetak cukup cepat dan aku tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan selain menerima pukulan yang mungkin ingin layangkan padaku.
Aku merasakan panas pada pelipis mataku. Membuatku merasa mengeluarkan setetes air mata yang panas yang masih menggenang di ujungnya.
Payah! Ternyata masih sangat susah melawan ketakutan ku akan hal seperti ini.
Nafasku terasa cepat dan mulai sesak. Lalu sebuah lengan dengan bau tubuh si pemilik tangan yang khas menempel pada ubun-ubun kepalaku. Membuatku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan beberapa kali sebelum aku membuka mata dan melihat si pemilik tangan. Juga sosok tubuh yang berdiri di sampingku dengan membelakangi Rio.
"Udah selesai urusan lo?" ujarnya yang entah dia tunjukan padaku atau senior di hadapanku ini. Yang pasti Reihan tidak menatap salah satu dari kami. "Kalau udah, sebaiknya kita pergi."
Tangan diatas ubun-ubunku langsung berpindah dengan menarik pergelangan tanganku. Membalik badanku lalu mengajakku menuruni anak tangga dengan santainya tanpa memperdulikan bagaimana tanggapan Rio atas tindakan tiba-tiba yang dilakukannya.
Dia sudah melepas pegangan tangannya yang jujur saja membuatku merasa tenang. Genggaman tangannya terasa sangat hangat. Dan tangan besar itu seperti tengah melindungi ku dari rasa gemetar yang kurasakan.
"Terima kasih!" ujar pertamaku. Karena sudah membawaku pergi dari perasaan tidak karuan seperti tadi. Namun kalimat ini tidak keluar sama sekali dari mulutku.
Reihan menghentikan langkahnya. Melihatku dengan seksama lalu berjalan sembari melambaikan tangannya dengan gaya santai.
"Bayar dengan jalan-jalan setelah kita makan-makan nanti sore yah?!"
Mendengar ucapannya itu, aku langsung terdiam. Aku ingat harusnya sudah mentraktirnya. Tapi teman-teman yang lain juga ikut bergabung, jadilah aku tiba-tiba langsung memikirkan nasib tabunganku untuk kedepannya. Uang ku semoga cukup untuk mentraktir semua yang datang sore nanti.
...***...
__ADS_1
14.00 Waktu setempat. Rumah makan bernama KedaBi yang berjarak 30 Menit dengan berkendara. Aku dan teman-teman sudah berdiri dihalaman depannya. Tidak banyak yang ku ketahui tentang tempat ini, kecuali makanan disini sangat amat enak dan bisa terjangkau oleh uang saku yang ku punya selama seminggu. Seharusnya aku hanya mentraktir Reihan dengan kupon, tapi ajakan Reihan tepat di depan Rahma malah mengundang Siska, Ditya dan Raka untuk ikut bergabung.
Memasuki tempat ini harusnya terasa menyenangkan, tapi ingat aku akan menghabiskan uang tabunganku untuk mentraktir semuanya, rasanya kaki ku sedikit lemas. Kami datang ke sini dengan menggunakan seragam sekolah, aku harap ada diskon untuk anak sekolah seperti kami.
Sambutan ramah Rio menyambut kedatangan kami membuatku sedikit terkejut. Dia tersenyum melihat ku yang terdiam menatapnya.
"Tumben mau natap mata gue?" ujar Rio menyapa dengan merentangkan tangannya di hadapanku.
Segera aku menunduk mendengar kalimatnya itu. Apa ini bisa di sebut sebagai kebetulan yang baik atau malah sebaliknya.
"Lama banget!"
Tiba-tiba tangan Reihan menarikku untuk berjalan menyusul langkah teman-teman lain yang sudah menuju pintu lain yang berada di seberang pintu utama.
"Di luar, tempat dan viewnya emang yang paling bagus disini." jelas Rio yang ikut berjalan di belakang kami setelah tangannya dengan lincah mengambil beberapa lembar menu dan nota untuk mencatat pesanan makanan kami.
"Thank you!" ujar Reihan yang langsung menghentikan langkahnya di sebuah meja berukuran cukup panjang dengan bangku kayu yang menempel pada bagian meja sebagai alas kami duduk.
"Gue baru tahu ada tempat beginian dekat sini!" ujar Siska penuh kekaguman.
"Emang lo tinggal dimana?" tanya Rahma basa-basi.
"Itu rumah gue!" tuding Siska pada bangunan di seberang tempat makan ini.
Di pisahkan oleh sebuah jurang dangkal dengan perairan yang cukup jernih, Siska menuding sebuah rumah yang lebih mirip sebuah hunian villa yang besar, megah, dan mewah atau semacamnya dengan terdapat kolam renang yang menghadap ke bagian perairan jurang dibawahnya.
Kami semua saling bertukar pandang melihat bagaimana Siska yang memang terkenal kaya raya menunjukkan rumahnya yang megah di seberang jurang dangkal ini.
"Sepertinya gue bakalan sering nongkrong ke sini..." ucapnya santai dengan senyum polos yang membuat kami bertanya-tanya dengan keberadaan kami di lingkungan pertemanannya. Sepertinya terlalu lancang kalau aku bilang 'kami'. Mungkin lebih tepatnya aku saja.
__ADS_1
...***...