Mirror!

Mirror!
Amy : Reihan!


__ADS_3

Entah kenapa, aku mempunyai perasaan tidak menentu seperti ini.


"Aku..... takut...." seketika kedua tangan ini mendorong tubuh itu menjauh. Aku takut. Jantungku benar-benar mau copot dari tempatnya. "Apa yang kamu lakukan!" Amy mendorong tubuhku kuat-kuat.


"Kan nggak ketahuan!"


Aku menatap Reihan dengan tidak percaya. semudah itu dia menjawabnya ketakutanku.


"Karena tidak ketahuan ataupun tidak ada yang melihat, bukan berarti kamu boleh melakukan itu sembarangan kepada siapapun!"


"Maksud lo?" wajahnya yang santai membuatku benar-benar tidak habis pikir.


"Bagaimana kalau Clara melihatnya dan salah paham padamu?" Reihan menatapku sejenak dengan meneliti.


Padahal baru saja aku dibuatnya degdegan, tapi dengan tanggapan santainya barusan, aku merasa benar-benar dipermainkan. Walaupun aku tahu selama ini Reihan menjadikanku pacarnya hanya untuk menjagaku dari sosok Angga yang sejujurnya sampai saat aku masih memiliki ketakutan terhadapnya. Tapi bukan berarti dia bisa membuat gadis lain nyaman, sementara cinta pertamanya...


Aku balik menatap Reihan sejenak.


"Aku akan menjelaskan semuanya pada Clara." ujarku.


"Menjelaskan apa?"


"Kamu yang menjadi pacarku karena untuk menolongku..." jawabku ragu.


Dan Reihan masih terdiam menunggu kalimat yang mungkin akan keluar lagi dari mulutnya ini.


"Aku..."


Dahi Reihan mengkerut. Dia menatap mataku dalam-dalam untuk sesaat kemudian berbalik pergi.


"Kalau lo mau cari musuh, lo boleh ngejelasin semuanya. Itu urusan lo!" jawab Reihan cuek. Membuatku berpikir ribuan kali sebelum aku mengambil keputusan itu.


"Tapi sebelum aku pindah, hubungan ini..."


"Kenapa dengan hubungan ini?!" tatapan Reihan menjadi sangat tajam dan menusuk. Menakutkan. Aku tertunduk karenanya.


"Kita harus menjelaskannya pada Clara."


"Kenapa?" di ujung jalan Reihan berbalik dengan tatapan kecewa yang terarah padaku.


"Karena dia cinta pertamamu..." bisikku tertunduk dengan tatapan kecewa yang ditunjukan Reihan padaku.

__ADS_1


Kenapa aku seakan tidak ingin kenyataan hari ini terungkap. Sejak kapan aku menjadi begitu picik dan memiliki perasaan egois seperti sekarang. Sebenarnya apa yang menjadi mauku dalam kebohongan yang ku jalani bersama Reihan. Kenapa selama ini aku tidak memikirkan hari ini akan tiba. Hari dimana cinta pertama Reihan akan hadir kembali di hidupnya.


"Kenapa melamun Amy? Nggak masuk kelas?" Aku langsung melompat kaget mendapati Reihan berdiri lagi di sampingku.


"Bukankah kamu sudah masuk ke kelas?" Tapi begitu ku perhatikan sesaat, dia ternyata Aray. Aray dengan Map kerja Osisnya.


"Jam pelajaran sudah mau dimulai, masuklah."


Aku mengangguk. "Terima kasih, Kak Ray."


"Tunggu." Aray menyusul langkahku sebelum berbelok menuju lorong kelas. "Reihan itu pikirannya kuat dan tegas."


Begitu mengucapkan kalimat itu, Aray menepuk pundakku lalu pergi menuju lorong bangunan kedua gedung sekolah ini.


//


Sejak Clara mengetahui aku adalah pacar Reihan meski sebenarnya itu bohongan, Clara selalu suka memperhatikanku dari kejauhan. Sesekali menyapa, tapi setelah menyapa langsung pergi begitu saja dengan wajah tidak senang.


"Kalau lo mau cari musuh, lo boleh ngejelasin semuanya. Itu urusan lo!"


Aku menghela nafas perlahan. Belum juga berteman, Clara sudah membuatku merasa tidak nyaman. Apalagi kalau sampai di musuhi olehnya. Dimusuhi oleh cinta pertamanya Reihan.


"Masih memikirkan yang pagi tadi?" Reihan menyapa dengan menyodorkan teh kotak padaku. Dia mengambil satu kursi dan duduk menghadap padaku.


"Jadi, lo beneran bakalan pindah?"


"Hah?" aku menatap Reihan. Lalu menggeleng kemudian mengangguk cepat.


"Kenapa pindah?"


"Ikut orang tua."


"Jangan ikut mereka." ucap Reihan.


"Aku hanya punya mereka." Kali ini Reihan menatapku dengan begitu dalam. Entah kenapa perutku rasanya sangat sakit dengan tatapan yang ku terima saat ini. Sakit yang menjalar ke ulu hati dan menganggu pikiranku.


"Masih ada gue, bukan?!" Angga tiba-tiba menambah ketegangan dengan meletakkan tangannya di pundakku lalu dengan entengnya mengambil teh kotak yang Reihan berikan.


"Tidak boleh!" sergahku cepat mengambil teh kotak itu. Ekspresi kaget Angga membuat dia menatapku dengan tidak kalah sengitnya seperti tatapan Reihan kini.


Tanpa mengatakan hal apapun, Reihan menepuk kepalaku. "Gue ada perlu ngomong sama pacar gue. Lo mau nguping urusan orang pacaran?!" lirikan tegas itu langsung Reihan tujukan pada Angga.

__ADS_1


"Dia cinta pertama gue, sudah seharusnya apapun yang menyangkut pilihannya, gue harus tahu."


"Tidak peduli dia cinta pertama lo atau apapun itu, Amy pacar gue dan nggak ada haknya lo ikut campur soal kami."


"Ng... Maaf," selaku di tengah ketegangan yang tiba-tiba tercipta dari keduanya. "Anu..."


"Hidup Amy urusan gue. Begitupun soal dia mau pindah apa tidaknya."


"Bukan lo yang memutuskan! Amy punya hak untuk mengambil pilihannya sendiri."


Aku yang tertahan oleh tindakan keduanya yang dengan santainya menahan kedua sisi bahuku, membuatku susah kabur. Aku sungguh tidak mengerti kenapa keadaan yang begini menegangkan harus ku alami. Bukan tidak tahu kondisi, tapi dua orang ini emosinya yang ku tahu lebih pendek dari sumbu kompor. Seperti petasan kilat. Yang begitu kena api, akan langsung meledak.


"Sudah! Hentikan!" sentak ku yang entah mendapat kekuatan dari mana, aku akhirnya berhasil menampik tangan keduanya dari bahuku.


Reihan terdiam kaget begitupun Angga yang berdiri dengan wajah anehnya.


"Aku.... aku ke kelas duluan."


Tanpa menghiraukan mereka berdua lagi, aku bergegas berjalan menuju gedung kelas. Mengabaikan semua tatapan mata yang tertuju padaku karena suara sentakkan yang mungkin ku keluarkan tadi.


"Amy! Tunggu gue!" teriak Reihan padaku.


"Lo perlu tahu, kepindahan Amy, juga menjadi hari kepindahan gue bersamanya."


Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti entah karena apa saat aku berbalik di halaman sekolah setelah mendengar nada panggilannya padaku. Kami sejenak saling tatap dan sesuatu terjadi. Reihan berbalik sembari melayangkan pukulannya kepada Angga. Tepat di wajah.


Seisi kantin langsung heboh melihat kejadian itu. Reihan bukan hanya sekali melayangkan pukulannya, tetapi setelah Angga membalas tindakannya, Reihan menjatuhkan Angga kelantai dan memukulnya berkali-kali. Aku yang sudah mendapati keduanya saling mencengkram kerah baju masing-masing hanya bisa menarik baju Reihan kuat-kuat untuk menghentikan tindakannya.


"Jangan coba campuri urusan gue dan Amy. Lo harusnya tahu diri!" bentak Reihan. Tapi Angga tidak mau kalah. Dia tersenyum sembari mengusap darah yang mengalir pada sudut bibirnya.


"Kita lihat saja." ujar Angga. "Apa lo mampu menjaga Amy seperti gue ngejaga dia."


Satu sikutan tiba-tiba aku terima saat coba melerai pukulan Reihan ke Angga. Membuatku langsung mengaduh dan jatuh tergeletak dengan semua perasaan takut yang menyerang ku.


"Amy!" teriak sosok yang wajahnya 100% mirip Reihan yang versi kalem. Aku menatap dia yang berusaha memapah ku. Dan perkelahian itu terhenti dengan teriakan Aray yang memanggil namaku.


"Amy, lo nggak apa-apa?" Angga langsung menghampiriku. Sementara Reihan nampak masih sangat kesal. Dia membuang pandangannya dariku. Tidak melihatku sama sekali. Dan hal itu, membuatku sangat sakit. Tidak sesakit sikut yang ku terima pada dahiku, sakit ini rasanya membuatku langsung terkena serangan jantung. Keadaan yang begini kacau, aku pun hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan Angga tetapi tidak bisa melepaskan tatapanku dari Reihan sama sekali.


Guru BK pun akhirnya datang, membawa Reihan dan Angga pergi. Lalu aku diantar ke ruang UKS entah oleh siapa. Yang pasti bukan Aray, karena seingatku Aray juga harus ikut ke ruang BK bersama Reihan dan Angga.


"Sakit." keluhku memegangi bagian dada dan juga perutku. Aku berpikir mungkin aku mempunyai sakit kronis karena rasa sakit yang ku terima kali ini. Nyatanya tidak. Aku malah telah merasakan sesuatu yang semua orang mungkin alami dalam hidupnya.

__ADS_1


Jatuh cinta!


...***...


__ADS_2