Mirror!

Mirror!
Amyra: Ada apa dengan Reihan???


__ADS_3

"Gue nggak tahu ada hubungan apa kalian sebelum ini, tapi sekarang gue pacarnya! Jadi jauh-jauh darinya!"


Mendengar kalimat itu, lagi-lagi aku tertolong. Tertolong dari situasi dimana aku tidak bisa menjawabnya. Bukan tidak bisa. Aku takut. Takut pada sosoknya. Takut akan bentakan yang mungkin akan ku terima. Takut pada pukulan yang bersamaan dengan suara teriakan itu. Aku masih belum bisa melupakan hari-hari itu. Hari-hari dimana aku terus mendapatkan teriakan dan lemparan benda-benda kecil yang harusnya benda itu berfungsi sebagai mainan.


Aku takut, saat dia datang dengan kaos putih oblong dan celana pramuka nya. Matanya merah dengan membawa sebilah penggaris besi. Benda itu melayang tepat di hadapanku yang terisak melihat sosoknya itu. Aku takut. Benar-benar takut. Sudah bertahun-tahun ku lawan rasa takut itu setelah kepergiannya malam itu. Malam dimana kedua orang tua ku bertengkar hebat. Menghancurkan barang-barang hanya karena masalah kecil. Rasanya hati dan pikiran ini masih terjebak pada masa itu. Berapa kali pun aku berusaha berlari darinya, dia selalu menemukan cara untuk datang menemui ku. Aku masih kurang berani.


Pagi ini aku terbangun dengan sedikit sempoyongan. Kedatangan Angga dalam hidupku, membuatku susah untuk bisa melanjutkan tidurku dimalam hari. Aku ingat, aku masih terisak beberapa jam lalu karena mengingatnya. Mengingat penggaris besi berlumuran darah yang terlempar tepat di sebelahku saat itu.


"Rasanya kepalaku agak berat!!"


Aku memukul-mukul pelipis kananku dengan perlahan. Berjalan menyusuri jalanan untuk sampai disekolah tepat waktu. Aku tidak punya banyak uang, jadi ku putuskan setiap harinya untuk bangun, bersiap, dan berangkat sekolah sedikit lebih pagi dengan berjalan kaki ke sekolah.


Setelah 20 menit berjalan kaki, aku kembali melihatnya berdiri didepan gerbang sekolah. Dia, Angga Rasyaputra. Tatapan kami bertemu, dan aku tahu dia tidak akan membiarkanku lolos kali ini. Satu dua kali aku memang harus menghadapinya. Menghadapi rasa takutku sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan dibantu oleh Reihan dan membuat kesalahpahaman menyebar dengan begitu luas. Lagi pula, Angga yang sekarang bukanlah bocah itu lagi. Dia mungkin saja sudah berubah. t


Aku berjalan dengan terus memandang kearahnya. Menghampirinya dan mengikuti langkahnya menuju halaman belakang gedung kelas sepuluh. Aku harus menanyakannya. Aku harus mendapatkan jawaban tentang dirinya. Aku memang tidak bisa terus-terusan menghindarinya.


"Apa-apaan sikap lo kemarin ke gue?" ucapnya kesal dengan bersandar pada tembok dibelakangnya.


Aku menggeleng. Tidak banyak yang ingin ku katakan. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu tentang kepergiannya waktu itu.


"Lo benar-benar benci sama gue?!"


Aku mengangguk. Rasanya otomatis. Setiap kali aku berani menjawab omongan orang lain dengan jujur sesuai yang ada dalam hatiku, aku akan langsung tertunduk. Pikiranku antara baik atau tidak jawaban yang ku berikan. Dipahami atau tidak makna dari jawaban yang ku berikan


Sejenak menghela nafas, dia bangkit dari sandarannya.


"Sudahlah!" dengusnya. Antara bisa menerima jawaban yang ku berikan atau sudah menemukan apa yang dia ingin tahu dariku.


"Lo beneran pacaran sama si Reihan?"


Aku menggeleng.


"Lo tahu kan gimana perasaan gue ke lo selama ini?!"


Aku kembali menggeleng.

__ADS_1


"Lo ngapain menghindari gue seminggu ini?!" ujarnya nampak kesal.


Aku tidak langsung menjawabnya. Aku menarik tali tasku kuat-kuat. Menggenggamnya erat sembari menghela nafas sejenak.


"Dulu, kenapa kamu pergi begitu saja?!" tanyaku kemudian.


Sungguh, aku penasaran dengan ini. Dia pergi setelah melakukan pertengkaran yang hebat dengan kedua orang tua lalu tiba-tiba datang lagi setelah tiga tahun lamanya. Tadinya aku mengira dia sudah menghilang dari dunia dengan meninggalkanku sendirian.


"Apa urusannya denganmu!?!"


Aku menggeleng cepat. "Tidak ada!" jawabku.


"Apa lo memberi tahu tentang gue pada mereka?!"


"Tidak sama sekali." jawabku dengan keyakinan penuh. Aku tidak akan mungkin memberi tahu mereka tentang dia. Dia yang berjalan perlahan ke arahku.


"Rahasiakan apapun tentang kita pada semua orang! Termasuk teman-teman lo!" bisiknya kemudian disamping telingaku.


Selesai mengatakan itu, dia berjalan melewati ku begitu saja. Tanpa memberikan jawaban apapun padaku tentang kepergiannya.


Setelah pagi itu, Reihan seperti menghindari dari ku. Seperti menjauh dan menghindari kontak apapun dengan ku. Sekalipun dia menolongku, dia sama sekali tidak berbicara langsung kepadaku. Aku bukannya ingin dia melakukan itu, tetapi aku dan dia adalah teman sebangku. Tidak seharusnya kami tidak bicara apapun sama sekali.


Kalaupun aku berusaha menyapa, aku selalu melewatkan kesempatan itu. Ditempat kerja pun berakhir sama. Reihan dan teman-temannya jarang sekali terlihat nongkrong di Pustaka ini. Biasanya aku melihat mereka setiap harinya di Pustaka, tapi kini sudah seminggu dia tidak terlihat datang.


"Memikirkan sesuatu?!" sapa Raina dengan wajah super penasaran.


Aku menggeleng kecil. Melempar senyum padanya lalu memilah buku-buku yang baru saja dikembalikan oleh penyewanya.


"Kalo nggak, ada masalah yang terjadi?" Raina lagi-lagi menatap dengan rasa penasaran.


Aku kembali hanya menggeleng. Lalu memilah judul dan jenis bacaan untuk ku letakkan kembali pas posnya masing-masing.


"Ada apa?" tanyaku. "Ada yang mengganggumu?"


Giliran Raina yang menggeleng ragu. Karena seketika dia mengangguk yakin.

__ADS_1


"Ngg... Kamu lagi bertengkar dengan Rei??" Raina seketika menatapku dengan penuh harap.


"Tidak." jawabku. Kali ini Raina terus mengikuti langkahku menuju rak-rak buku yang sedari tadi sudah selesai aku pilah.


"Hhm.. Aku kira kalian bertengkar!" Raina terus mengikuti langkahku ketika aku meletakkan buku-buku itu pada rak nya masing-masing. Kemanapun langkahku, Raina selalu berada disekitar dengan langkahnya yang ringan.


"Kenapa aku harus bertengkar dengan Reihan?!" tanyaku yang juga penasaran kenapa Raina bertanya tentang Reihan padaku.


Tidak biasanya. Dari awal aku bekerja, tidak sekalipun aku ada membicarakan Reihan. Memang dia yang menawarkan ku pekerjaan disini, tapi saat aku berterima kasih padanya kemarin dulu itu, dia tidak mengatakan apapun padaku dan langsung pergi meninggalkanku begitu saja.


"Tidak biasanya Reihan absen sampai seminggu untuk nongkrong disini!"ujarnya dari balik etalase di hadapanku. "Dia itu tipe yang suka menghindari seorang yang bermasalah dengannya. Karena kamu pacarnya, aku mengira kalian pasti bertengkar. Makanya dia nggak datang kesini."


"Aku dan Reihan tidak pacaran kok!" jawabku.


Kali ini kening Raina berkerut.


"Kamu sama Rei beneran bertengkar?!" matanya langsung terbelalak. "Bener lho. Rei bukan tipe yang akan ngilang gitu aja tanpa sebab! Kalian harus segera baikan! Pokoknya harus baikan!!"


Raina langsung memegang bahu dan memberiku semangat yang berapi-api.


"Bang Reihan itu aslinya baik! Kamu pasti salah paham sama sikapnya yang mungkin over protektif atau terkadang cuek parah. Apalagi saat dia marah, dia cuma ingin di dengarkan aja kok! Baikan yah sama Rei!!"


Dan ini kali pertama aku mendengar Raina berbicara panjang lebar tentang Reihan. Biasanya dia hanya bercerita tentang kesehariannya disekolah dan sahabatnya yang bernama Raka.


"Amy... Baikan ya??" rengeknya. "Rei itu baik. Aku yang jamin. Ibu juga ikut menjamin. Ya, kan bu?!"


"Selamat sore, bu!"


"Kenapa dengan Rei?" dia menatap Raina, tapi Raina malah mengalihkan pandangan ke arahku yang membuat Ibunya melihatku dengan seksama. "Ada apa dengan anak itu?"


Aku menggeleng kecil. Tidak tahu harus memberi jawaban apa, karena Reihan sudah menghindar dariku hampir selama dua minggu ini. Aku takut memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan keadaan yang terjadi dari sisi Reihan. Sementara kalau bagiku sendiri, aku hanya tahu Reihan hanya sedang menghindar dari ku.


Tapi... Kenapa?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2