Mirror!

Mirror!
Amyra : Hadiah pertama ku!


__ADS_3

Setelah malam dimana ibu dan ayah pulang, aku bertemu hari minggu yang aneh. Aku bangun pagi setelah Angga menggedor pintu kamarku berkali-kali. Lalu sarapan berempat dengan masakan yang di masak oleh ibu. Ayah ku juga pagi ini nampak berbeda, katanya mau mengajak ibu jalan-jalan. Dia menawarkan kami untuk ikut, tapi Angga menolak dengan alasan akan bekerja. Angga juga mengatakan akan mengajakku karena Angga membutuhkan bantuan ku ditempatnya bekerja.


Jadilah, setelah sarapan, aku dan Angga melihat ayah dan ibu pergi dengan pakaian rapi yang tidak pernah kami lihat sebelumnya, keluar dari halaman rumah untuk berjalan-jalan. Angga bahkan menawarkan motornya untuk di bawa oleh ayah untuk jalan-jalan bersama ibu. Lalu aku dan dia saling menatap saat aku menyadari kalau Angga tengah berbohong tadi untuk tidak ikut jalan-jalan. Aku melihat dia sedang menelpon. Lalu menelpon untuk kedua kalinya sebelum menghampiri ku.


"Hari ini, jalan sama gue yah?" ujar Angga.


Aku menggeleng. "Aku bekerja!"


"Gue udah minta jatah libur buat lo!" Angga tersenyum kuda. Yang giginya nyengir dan kelihatan semua. Itu dinamakan senyum kuda bukan?!


"Tapi..."


"Mau lo yang ngomong?"


Aku mengangguk. Segera aku menanyakan cara menggunakan hpnya itu untuk menelpon ke tempat kerjaku. Membuat Angga tiba-tiba memintaku untuk berganti pakaian lalu mengajakku keluar rumah. Kami menyusuri jalanan lalu naik kendaraan umum yang tersedia. Sepanjang jalan di dalam kendaraan umum itu, Angga terus menutupi wajahnya dengan masker hitam dan topi dari hoodie nya yang juga berwarna hitam.


Setelah 30 menit perjalanan, Angga mengajakku turun di pusat kota. Kami masih harus berjalan sekitar 15 menit lagi sebelum sampai di tempat yang Angga inginkan. Sebuah counter Hp yang sangat besar. Sampai di depan counter hp itu, Angga membuka tudung hoodie nya lalu menarikku masuk dengan santai.


Di dalam counter itu, beberapa orang menyapa Angga dengan baik. Ada yang mengajak salaman, ada yang langsung main peluk, dan bahkan ada yang menjitak kepala Angga dengan senyum sumeringah.


"Hay, Ngga! Tumben lo ke mampir!" ujar laki-laki yang menjitak Angga itu. Alih-alih marah, Angga malah terlihat malu-malu dengan keadaan yang ia alami.


"Iya.. Kangen gue sama kalian!"


"Cieee yang sekarang udah berani pacaran!!" goda perempuan lain di tempat itu. Lalu semua pasang mata itu langsung tertuju ke arahku.


"Cantik, bro!" ujar yang lain. "Cariin gue juga dong!"


"Apaan sih lo semua!" ujar Angga. "Dia Amy!!" Kata-kata Angga itu langsung membuat semua orang didalam toko itu terdiam. Lalu beberapa di antara mereka memperhatikanku lekat-lekat.


"Gila!" teriak laki-laki yang sempat memukul Angga itu. "Cantik banget lo punya adik! Udah punya pacar belum?!"


"Tanya sendiri." jawab Angga meninggalkanku dengan tiga dari tujuh orang di dalam toko itu yang langsung menghampiriku.


"Sama persis seperti yang elo ceritain, Ngga!" teriak perempuan berambut pirang di hadapanku.


"Boleh kenalan?" ujar laki-laki yang dari tadi hanya diam mendekati ke arahku, tapi langsung tersenyum dengan cerah begitu aku melihat kepadanya. "Gue Chiko!"


"Cinta?"


Dua tangan langsung mengajakku berjabatan tangan. Namun belum sempat aku membalas, sesuatu di dalam saku jaket ku bergetar dengan nada yang membuatku kaget.


Aku memandangi hp milik Angga cukup lama. Sampai perempuan berambut pirang memintaku untuk menerima panggilan telpon itu.


"Angkat saja!" ujarnya. "Siapa tahu penting."

__ADS_1


Aku mengangguk. Lalu dengan gugup aku berusaha mengangkat telpon itu. Tapi aku belum mengerti caranya. Padahal Angga sempat menjelaskan waktu di rumah.


"Ini!" pemuda bernama Chiko langsung menggeser naik tanda telpon warna hijau lalu Chiko memintaku untuk menjawab telpon itu.


"Halo!" ucap pertamaku."Maaf, yang punya hp sedang mengurus pembayaran." jawabku karena tidak mendapat jawaban apapun dari si penelpon.


"Apa ini lo, Amy?" tanya suara diseberang dengan nada yang membuatku begitu senang hanya karena mendengar suaranya. Entah suara siapa. Kenapa dia tahu kalau aku yang sedang bicara dengannya.


"Iya..." jawabku setelah jeda diam yang cukup lama. "Ini siapa ya?" Aku melihat layar hp Angga untuk memastikan siapa yang menelpon Angga. Biasanya akan ada foto orangnya atau gambar dan lainnya.


"Kira-kira siapa?" Mendengar jawabannya itu, aku sekali lagi memandangi layar ponsel ini sembari menggeleng.


"Tidak tahu." jawabku. Ada jeda lama dari suara diseberang.


"Mi, ini buat lo!" Angga tiba-tiba menepuk pundak ku. Dia memberiku sebuah hp dengan warna mendekati abu-abu. "Nomer telponnya lo pilih sendiri aja!" tambahnya.


Aku mengangguk. Maksudnya untuk menunjukan ke Angga kalau ada yang menelponnya, tapi keburu Angga menarik tanganku untuk menuju meja counter.


"Pilih nomer mana yang lo suka! Untuk lo pakai seterusnya."


Aku terdiam sejenak. Tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Angga tentang seorang yang sedang menelponnya.


"Yang nomer belakangnya 089 yah!" ujar suara diseberang dengan riang. "Lalu tambahin nomer yang sekarang ini menjadi kontak pertama lo yah!! Awas nggak!"


Suara itu terdengar gamang di telingaku. Entah itu permintaan Angga atau suara lain yang ku dengar.


"Yang belakangnya 089." ucapku.


Dan akhirnya, aku memiliki hp. Walau pun ini pemberian Angga, tapi Angga bilang aku boleh menyicil untuk membayarnya. Hp pertamaku. Aku diajari cara membuat akun sosial media oleh gadis yang memperkenalkan dirinya dengan nama Cinta. Diajarkan berswafoto oleh Anggi, perempuan berambut pirang itu. Lalu diajarkan cara menyimpan kontak oleh Chiko.


"Untuk menyimpan kontak lo tambahin dulu nomernya," ujar Chiko. Saat akan mengetik nomer, aku ingat kata-kata penelpon Angga itu. Aku pun menghentikan Chiko mengetik nomer yang ingin dia buat. Meminta bantuannya untuk melihat penelpon terakhir di Hp Angga, lalu menyimpan nomer tersebut dengan nama kontak #1#.


"Kontak siapa?"


Aku menggeleng. Aku tidak tahu itu kontak siapa, tapi aku suka mendengar suaranya. Tadi dia di telpon juga memintaku untuk menyimpan nomernya menjadi yang pertama. Keinginan pertama dari seseorang terhadapku. Jadi aku lakukan saja.


Esoknya, di Senin pagi. Aku sedang menikmati jam istirahat dengan mengobrol bersama Siska dan Rahma, saat Reihan langsung merebahkan kepalanya diatas meja di sampingku.


"Lo bolos lagi!" sentak Rahma.


"Nggak setia kawan lo, Rei!" keluh Ditya dengan wajah masam.


"Kalo mau cabut ngajak-ngajak kek! Kemana lo!!" Raka ikut-ikutan mengeluh. Secara, sejak pagi Reihan absen dari kelas.


"Gue habis gantiin Abang gue!" jawabnya.

__ADS_1


"Gantiin abang lo?" tanya Siska tidak percaya.


"Gantiin si Aray lagi!!" Raka memastikan.


"Siapa lagi!" jawab Reihan malas-malas.


"Jadi nama saudaramu itu Aray?" tanyaku yang baru menyadari hal itu. Aku sampai memalingkan pandanganku kepadanya.


"Aray???" Ulang Siska.


"Maksud lo Aray si ketua Osis?" tanya Siska dan Rahma bersamaan. Mereka bahkan saling bertukar pandang tidak percaya.


"Ketua Osis?" aku juga mengulangi kata-kata kedua temanku dengan rasa tidak percaya.


Reihan mendongak dari posisinya. Dia saling bertukar pandang dengan Raka dan Ditya. Menyadari kalau rahasia yang selama ini mereka sembunyikan terbongkar oleh keluhannya sendiri.


"Jadi lo adik ketua Osis!" Siska mengulangi pertanyaannya.


"Disekolah ini yang bernama Aray cuma satu aja yah!" ancam Rahma. "Jangan coba mengelak!"


Aku langsung mendongak menatap Rahma. Jadi selama ini kembaran Reihan itu si ketua Osis?! Ketua Osis yang menolongku dan Reihan dari reruntuhan jalan pintas dulu itu? Juga yang menabrak ku di kantin sekolah dan ku kira dia Reihan, tapi aku mengira Reihan tengah menjahili ku dengan menggunakan seragam Osis.


Reihan mendengus lemas. "Iya! Iya! Emang si ketua Osis!" jawabnya malas. Aku langsung memandang Reihan dengan tidak percaya.


"Pinjam punya lo!" ujar Reihan cuek dengan tatapanku.


"Jangan mengalihkan pembicaraan yah!" Siska langsung menarik kerah Reihan, tapi langsung ditepis dengan santai.


"Pembicaraan nggak penting!" jawabnya. "Hp lo mana?"


Begitu kalimat itu keluar, tatapan Siska dan Rahma tertuju kepadaku.


"Lo udah punya Hp?" tanya Siska. "Baguslah!!" Seketika Siska langsung memelukku dengan girang. Melupakan topik pembahasan tentang Reihan dan saudaranya itu.


"Sini bawa!" todong Rahma saat aku mengeluarkan hp yang kemarin Angga belikan untukku.


Dengan cekatan Rahma menambahkan kontaknya. Lalu terdiam beberapa saat ketika melihat kontak yang tidak biasa di hp milikku.


"Ini kontak siapa?" tanyanya. Dia memperlihatkan sebuah nama kontak yang ku simpan dengan tanda #1#.


Aku menggeleng. "Kemarin ada yang telpon dengan nomer itu dan memintaku untuk menyimpan nomernya yang pertama!" jawabku mengulangi keinginan si penelpon itu.


Siska, Rahma, Raka, dan Ditya langsung menatap ke arahku dengan rasa tidak percaya.


"Are you serius?" Siska mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Tidak menjawab, aku hanya balas tersenyum. Mengambil hp itu kembali. Lalu memberikan anggukan pasti kepada mereka berempat.


...***...


__ADS_2