Mirror!

Mirror!
Reihan : Amy Kenapa lagi?!


__ADS_3

Pagi ini setelah melihat sikap dan tindakan Clara di lorong bangunan utama, aku langsung kehilangan minat untuk masuk ke dalam kelas. Caranya mempermainkan Amy membuatku enggan untuk sekedar masuk menyetor tampangku di dalam kelas. Takutnya di dalam kelas dia akan kembali mencari-cari alasan untuk menyalahkan Amy yang bahkan tidak melakukan hal apapun terhadap dirinya. Clara juga bukannya terluka, hanya sedang mencari alasan untuk mendekatiku. Lagi.


Melihat bagaimana Clara yang sebenarnya beberapa kali dulu dan kini, aku merasa sangat bersyukur dulu tidak mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi aku berkali-kali menyesali tindakan arogan ku yang dengan seenaknya memberontak dan meluapkan amarahku kepada semua teman dan keluargaku. Malunya aku jika mengingat semua itu saat ini.


Daripada mengingat itu dan terbayang lagi saat bertemu Clara di kelas, aku yang tadinya bermaksud bolos, malah harus melihat drama Aray dan Jihan dalam pertengkaran yang aku tidak peduli dan tidak mau tahu apa sebabnya. Aray masuk ke dalam UKS dengan drama membanting pintu dan Jihan berjalan menghentak dengan keras di dalam ruangan ini tanpa menyadari keberadaan ku dan Clara yang cukup cuek dengan kedatangan keduanya.


Jihan menghempas tangan Aray dengan kasar dan Aray kembali memaksa untuk mencoba menjelaskan sesuatu kepada Jihan. Aku dan Clara yang sudah 15 menit berdiam diri disini karena drama yang Clara buat, akhirnya memutuskan pergi diam-diam dari ruangan. Tapi di sela waktu yang aku gunakan, langkahku kalah cepat dengan jejalan file yang sempat di bawa oleh Aray ke dalam tanganku.


"Gantiin gue sebentar."


Sial.


Melihat file ditangan dan keinginan untuk tidak kembali ke dalam kelas, jadilah aku menikmati jam pelajaran pagiku di ruang Osis bersama dengan pengurus Osis lainnya dan juga beberapa guru pendamping termasuk guru BP yang terus saja memperhatikan setiap tindakanku. Mungkin bapaknya sudah mulai bisa membedakan mana aku yang Reihan dan mana aku yang menggantikan Aray. Aku tersenyum geli setiap kali beliau mengernyitkan dahinya saat aku memainkan pulpen, minum air, membuka permen, makanan dan lain sebagainya.


Selesai duduk selama satu jam dengan hanya mendengar wacana yang dicanangkan kegiatan Osis, aku menerima file persetujuan para anggota. Melempar senyum manisku pada guru BP lalu berjalan santai ke ruang UKS untuk mengembalikan file yang sudah disetujui.


Langkahku sudah sangat bersemangat untuk menyerahkan hasil rapat saat aku menggantikan abangku itu. Ada beberapa perubahan tentunya dari wacana yang harusnya ia setujui. Anggap saja bantuan dariku untuk penyambutan bulan bahasa seminggu lagi.


"Bulam bahasa ya." gumamku tersenyum dengan beberapa file yang ku bawa. Bukannya apa-apa, aku sedang merencanakan acara bulan bahasa yang tidak akan pernah di lupakan oleh Amy. Dan aku masih berharap dia tidak akan pindah.


Baru memikirkan sosoknya, aku melihat bayangan gadis itu di balik bangunan ruang Osis. Tepatnya arah belakang UKS dimana aku bermaksud menghampiri Aray yang masih bertempur dengan segala argumennya dengan Jihan.


Daripada menonton drama Aray dan Jihan, ada baiknya aku membuat drama ku sendiri bukan? Jadilah aku memutar jalan. Mengambil langkah menuju jalanan yang sama dengan jalan yang Amy pilih. Maksud hati ingin mengejutkan sosoknya dari arah belakang. Tapi begitu aku melihat posisinya kini, aku terdiam. Apakah yang dia lakukan saat ini? Apa mungkin dia tengah menangis?


"Amy..." saat aku memanggilnya dengan begitu hari-hati, gadis itu berdiri dari jongkoknya lalu terlihat mengusap kasar bagian wajahnya. Aku yang penasaran langsung berjalan menghampiri dia yang malah berjalan semakin cepat di depanku. Apa-apaan ini!

__ADS_1


Langkahku hampir bisa mengejar Amy, tapi melirik apa yang Aray dan Jihan lakukan di dalam UKS menghentikan langkahku sejenak. Enak yah bisa dengan tenang pelukan di ruang UKS.


Lalu begitu mataku kembali tertuju pada Amy, Angga sudah menyambut pandanganku dan mengalihkan semua pikiranku kepada mereka berdua.


"Lo habis nangis?" tanya Angga dengan mata membelalak tidak percaya melihat ke arah Amy yang nampak mengusap sesuatu di wajahnya.


Tidak bisa ku kontrol derap langkahku untuk bisa cepat membalik tubuh Amy untuk menghadap ke arahku.


"Lo nangis?" tanyaku tidak percaya.


"Jangan sok peduli!" ujar Angga menarik tangan Amy menjauh dariku dan reaksi gadis itu malah mengikuti tindakan Angga serta memilih berlindung dibalik punggung cowok sialan ini. Dengan mata dan hidung yang sedikit merah, aku benar-benar tidak menyangka bisa melihat hal selangka ini dalam perjalanan hidup Amy.


"Lo kenapa?" tanyaku mengabaikan keberadaan Angga.


Amy menggeleng sembari mengkeret di belakang punggung Angga. Sial.


Gila. Gue kagak ngapa-ngapain Amy woi. Yang ada elo yang kenapa? Bisa muncul disini padahal ini bukan jam istirahat. Kalau gye sih punya alasan jelas yah. Walaupun nggak bisa untuk di buktiin karena menggantikan Aray. Harus bangga atau harus jengkel sih dengan hal begitu.


"Amy..." panggilku sekali lagi. Namun yang ku dapatkan adalah bagaimana Amy bersikap menghindar dari ku. Baik setelah kejadian itu ataupun pada hari-hari berikutnya. Bukan hanya di jauhi, Amy juga tidak mengobrol ataupun peduli dengan keberadaan ku. Setiap kali aku mengajaknya bicara, Amy hanya memilih diam dan menatapku dengan aneh.


"Gue ada salah apa sih?!" gerutuku setelah mengingat dan menimang semua kejadian seminggu yang lalu.


"Mana gue tahu!" jawab Raka cuek.


"Paling lagi jadwal." timpal Ditya menyeruput es boba yang ia beli saat di jalan tadi.

__ADS_1


"Masa iya semingguan gini!" celetuk Raka lagi. "Daripada penasaran, tanyain aja langsung. Atau nggak minta tolong Rain noh."


Masih dengan seragam sekolahnya, kini ketiga sahabat sedang duduk dengan santai di depan Pustaka. Memperhatikan sosok Amy yang belakangan memang memilih sedikit menjadi lebih pendiam dari biasanya. Wajahnya pun terlihat sangat murung akhir-akhir ini. Namun sayangnya, aku tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya langsung padanya karena aku di cuekin habis-habisan tanpa tahu salahku dimana. Rasanya benar-benar tidak adil.


Sudah hampir seminggu dan besok sabtu. Aku harusnya sudah mempersiapkan kejutan untuk Amy di hari pertama festival bulan bahasa sekolah. Kalau Amy masih diam begini padaku, bagaimana aku bisa melanjutkan kejutanku itu. Terlebih lagi soal kepindahan Amy. Kemungkinan dia sedih karena akan pindah, aku bisa mengerti. Tapi mendiamkan ku tanpa alasan jelas, aku benar-benar tidak bisa terima dengan itu.


Aku yang sudah frustasi dengan segala kemungkinan akhirnya langsung masuk ke dalam pustaka tanpa permisi. Meminta Raina menjaga Pustaka dan menarik Amy untuk bicara di tempat yang menenangkan. Dimana lagi kalau bukan daerah perbukitan di pinggiran kota tempat terakhir kami jalan-jalan seminggu yang lalu.


"Mau kemana?!" tanya Amy panik dengan sedikit perlawanan. Tapi satu delikan mata dariku langsung membuat gadis itu menjadi begitu penurut dibawah tekanan ku.


"Rei, jaga emosi lo!" teriak Raka ketika laju motor ini tidak terkendali lagi. Aku sudah tidak peduli jika Raka dan Ditya ikut mengejar ku saat ini. Aku sudah terlalu menahan emosiku terhadap kediaman Amy pada diriku selama seminggu ini.


Entah kenapa aku benar-benar tidak suka Amy bersikap seperti ini padaku. Seminggu adalah waktu terlama aku mentoleransi sikap buruk seseorang terhadapku. Dan gadis ini sudah cukup keterlaluan. Di lampu merah yang padat aku tetap melaju dengan kencang. Bukan tidak sayang nyawa, aku hanya ingin dia memelukku saat berboncengan. Tidak menjaga jarak seperti sekarang.


Aku mengebut lagi ketika laju motor ini mulai memasuki areal perbukitan. Sengaja tidak ku turunkan kecepatan ku, dan aku berhasil membuatnya memelukku walau hanya sebentar. Tidak sampai 10 menit, motor ini sudah terparkir rapi dan segera Amy melepas pegangan tangannya pada bagian pinggangku.


Aku menatap Amy penuh intimidasi. Berharap gadis ini akan bicara padaku atau setidaknya marah dan sebagainya. Tapi Amy hanya memilih mundur.


"Gue ada salah apa?!" tanyaku padanya.


Untuk waktu yang cukup lama Amy tertunduk. Seakan memikirkan sesuatu, dia akhirnya melihat kearahku dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


Sialan. Aku lupa dia penakut.


...***...

__ADS_1


__ADS_2