Mirror!

Mirror!
Amyra : Untuk yang kesekian


__ADS_3

Aku menyadari Reihan memiliki dua kemungkinan dalam menjalani hidupnya. Pertama, dia memiliki satu sisi dimana dia tidak ingin diketahui banyak orang, dan kedua Reihan itu ada dua orang. Bukan dua-duanya Reihan. Hanya saja, mungkin Reihan itu mempunyai kembaran. Habisnya, Reihan yang kadang berhadapan denganku rasanya sangat berbeda satu sama lainnya. Hanya wajah saja yang mungkin mirip. Apa benar ada yang seidentik itu didunia ini?? Atau hanya aku yang kurang jeli dalam memperhatikan. Entahlah.


Lalu Reihan menatapku dengan jengkel. Aku tanpa sengaja menabraknya di belokan lorong menuju kelas.


"Pulang sekolah kemarin, lo kemana?" tanyanya.


"Ke toko buku." jawabku.


Tidak perlu lama untukku menjawabnya. Karena tidak mungkin dia ingin tahu ke beradaanku disekolah yang seharian hanya ku habiskan dengan melakukan semua kegiatan sekolah. Atau Pustaka, karena aku meminta ijin untuk libur dari pustaka kemarin.


"Habis itu?!"


"Rumah lukis."


"Dimana?"


"Di pinggiran kota di pemukiman belakang perumahan..."


"Perumahan yang mana?"


"Perumahanku!"


Lalu Reihan menatapku sejenak. Tatapan sejenak yang terasa begitu lama. Membuatku semakin suka saja setiap kali mata kami bertemu.


Selama ini aku enggan menatap lawan bicaraku karena ketakutan yang ku punya. Aku juga tidak pandai berbicara, sehingga aku lebih memilih menarik diri dari lingkungan. Bisa dibilang aku merasa memiliki banyak kekurangan. Terutama karena kondisi orang tuaku. Sehingga menjauh dari orang-orang adalah pilihan terbaik yang ku punya. Setidaknya, dengan sedikit orang atau bahkan tidak ada orang yang dekat denganku, lebih sedikit orang yang mengetahui keadaanku. Lebih sedikit orang yang merasa aku menganggu dan merepotkan dalam hidup mereka.


Tapi kini, aku merasa sangat ingin bisa terus menatap mata itu. Bukan. Mungkin itu senyumnya yang ceria. Atau lengkung bibirnya yang selalu menampakan gelak tawa. Tidak juga, sesekali wajah itu bermuka masam, murung, datar, tanpa ekspresi, dan terlihat begitu cerah.


"Mulai suka sama gue yah?!" tanyanya santai.


Lalu senyum dan tawa kecilnya saat menepuk kepala ini, membuatku tertegun lagi untuk waktu yang lama. Rasanya sungguh mendebarkan. Berdebar yang bukan karena merasakan takut, tapi rasanya lebih ke perasaan senang. Tuhan, aku harap pipiku tidak langsung bengkak karena aku benar-benar merasa wajahku seperti tengah mengembang seperti roti yang dipanggang.


Aku menggeleng kecil. Menutupi kedua pipiku yang rasanya mengembang seperti roti panggang, aku berbalik dengan pikiran yang kosong melompong.

__ADS_1


Tunggu sebentar. Tadi aku mau kemana?


Aku melihat ke arah kanan dan kiri ku. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Aku mencubit lenganku untuk menyadarkan diri. Belum benar-benar mengingat apa yang ingin ku lakukan atau kemana aku ingin pergi, di persimpangan lorong ini, seorang yang tak ku ingat siapa dia, datang lalu menyapa.


"Hay, Amy. Masih ingat gue?"


Pertanyaan itu langsung membuatku berpikir cepat. Namun secepat dan sekeras apapun aku mengingat, aku tidak tahu siapa senior yang berada di hadapanku ini.


"Jangan ganggu dia lagi, Rio!" ujar Rahma yang berdiri tidak jauh di belakangku. Aku bisa mengenali suaranya yang khas.


"Hey! Apa kabar lo?" senior di hadapanku ini langsung menjabat tangan Rahma. Dibalas senyuman oleh Rahma, senior itu kembali melirik ke arahku.


"Lo lupa siapa gue?" tanyanya meyakinkan. "Gue yang itu lo.. Itu.." dia coba menjelaskan sesuatu yang tidak mampu aku mengerti. Tapi melihat mimik wajahnya saat tersenyum, aku langsung menatapnya lekat-lekat.


Aku ingat wajah itu. Wajah yang datang menghampiriku penuh dengan bekas pukulan. Mata kanannya bengkak. Mata kiri terpejam dan ada memar biru pada beberapa bagian wajahnya. Dulu rambutnya sedikit plontos. Tapi kini sedikit panjang dari seharusnya.


"Hei! Gue benci sama lo!" teriaknya padaku saat itu. "Gara-gara lo, gue dipukuli seperti ini!! Lo memang gadis pembawa sial!" bentaknya.


"Gimana? Udah ingat wajah nan rupawan ini?!"


Lalu dia kembali menampakan senyum lainnya. Senyum dari seorang yang melambai-lambai sembari diseret oleh guru Matematika dikelas ku saat itu. Dia datang ke dalam kelas di hari valentine. Semua anak-anak sudah saling bertukar coklat, tapi aku yang tidak mendapatkan apapun malah dikejutkan oleh sosoknya. Dia yang datang membawa sebatang coklat, buket bunga, dan sebuah bonek beruang yang tingginya hampir sama dengan tinggi badanku saat itu.


"Will you be my valentine?!" ucapannya itu sontak mendapat sorakan dari teman-teman sekelas.


Juga mendapat respon berang dari guru matematika di kelas saat itu. Jadilah dia diseret keluar oleh guru itu sembari marah-marah. Dan semua barang bawaannya tentu saja masih tertinggal di atas mejaku waktu itu.


Waktu itu, rasanya aku sangat merasa bahagia. Di saat aku merasa tidak ada yang peduli dan bahkan tidak ada yang memperhatikan bahwa aku juga berada dilingkungan sekolah, ternyata ada orang yang datang dan memberikanku hadiah yang tidak pernah aku dapatkan dalam hidupku.


Tapi kegembiraan itu hanya sesaat. Meninggalkan semua barang-barang itu di dalam kelas untuk mengikuti kelas olahraga, sekembalinya dari kelas olahraga, barang-barang itu sudah tidak berada disana. Aku tidak tahu siapa yang mengambilnya.


Dan sore itu, di saat jam pulang sekolah setelah ekskul melukis. Dia datang padaku dengan wajah bengkak, penuh dengan memar. Dia berjalan dengan pincang. Lalu semua bentakan itu ku terima darinya tanpa penjelasan apapun.


Setelah hari itu, semua teman sekelas menjauhiku. Mengatakan kalau aku anak yang tidak bisa diajak berteman. Kalau aku anak yang menyusahkan dan mengganggu untuk lingkungan ku.

__ADS_1


"Maaf!" ucapku. "Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu!"


"Apa-apaan sih!" ujar senior bernama Rio itu dan langsung memalingkan wajahnya. "Lo minta maaf untuk apa?! Karena udah nolak gue?"


Aku menggeleng. Entahlah. Aku minta maaf entah untuk yang mana. Apa karena kesalahpahaman yang ada, karena kehilangan barang-barang pemberiannya, atau karena luka yang diperolehnya. Aku tidak yakin aku kini mengatakan maaf untuk hal yang mana.


"Karena dia nggak ingat siapa lo!" jawab suara lain yang benar-benar membuatku pangling seketika. Reihan. Jawaban dan tatapannya terdengar malas, tapi langsung membuat suasana yang kaku menjadi semakin kaku.


Kenapa dia membuat semuanya makin runyam. Aku bukannya tidak ingat, aku hanya sedang ketakutan untuk mengingat lagi sesuatu yang ada dibalik kejadian itu.


"Jadi lo benar-benar lupa?!"


"Udah gue bilang jangan ganggu ni anak!" Rahma memukul bahu senior bernama Rio itu dengan gemas. "Dulu kita udah bahas ini bukan!!"


"Iya deh iya!" jawab senior bernama Rio itu. "Gue pergi dulu ya, Mi!" ujarnya mengedipkan satu matanya ke arahku.


"Daah!" balas Reihan pada senior bernama Rio itu.


Tatapan Reihan nampak begitu datar, tapi sedikit mengancam. Apa cuma perasaanku saja.


"Jadi... gue mau titip roti sama lo," ucap Reihan. "Boleh?"


"Lo jangan intimidasi anak orang Rei!" sergah Rahma. Kali ini nampak begitu tidak suka dengan cara Reihan memperlakukanku. Padahal biasanya dia tidak pernah seperti ini.


"Gue cuma nitip kok!" jawabnya.


"Tapi aku tidak ke kantin." jawabku. "Aku mau ke perpus."


Jawabanku itu langsung mendapatkan tatapan yang aneh dari keduanya. Melihatku dengan wajah yang sedang mencari tahu, lalu saling bertukar pandang.


"Lo itu ya!!" ucap Reihan dan Rahma berbarengan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2