Mirror!

Mirror!
Amyra: Rasanya menyesakkan!


__ADS_3

Aku dan Reihan baru saja masuk kelas setelah melewati pagar belakang sekolah yang telah terbuka dengan sedikit celah yang bisa kami lewati dengan nyaman. Aku tidak menemukan ada ketua Osis disekitar tempat itu. Alih-alih menuju ruang UKS untuk memeriksa apakah ketua Osis berada disana? Dan memeriksa apakah Reihan ada terluka, dia malah menarikku untuk masuk ke dalam kelas dan mengabaikan apa yang menjadi kecemasanku.


"Kalau mau ke UKS, seenggaknya taruh tas dulu ke kelas!" gerutunya yang tetap mengarahkan ku untuk mengikuti langkahnya. "Cemas tentang hal lainnya nanti saja! Apalagi kalau mencemaskan Aray! Nggak guna banget. Dia itu ketua Osis!" celetuknya dengan nada yang menurutku sok mengenal ketua Osis sekolah ini.


Setahu ku, ketua Osis sekolah ini adalah kalangan artis remaja yang lagi naik daun. Pamornya belum pernah turun dari tahun lalu. Dia bahkan juga menjadi juara sekolah berturut-turut selama beberapa semester dan menjadi pacar idaman semua siswa baik dari junior sampai senior. Kehidupan pribadinya memang sedikit privat sebagai seorang publik figur. Tapi tidak mungkinlah dia dekat dengan seorang yang serampangan seperti Reihan ini.


Kelas dalam keadaan semerawut. Tidak ada banyak siswa yang berada dikelas. Hanya sekitar 2-3 siswa yang sedang tidak fokus pada swkitar. Wajar saja mengingat, semua siswa pasti tengah melihat kejadian robohnya tembok dihalaman belakang gedung ini yang bersuara cukup mengglegar.


"Lo mau ke UKS?" tanyanya setelah kami sampai pada bangku tempat kami duduk.


Aku mengangguk.


Dia segera meletakkan tasnya. Duduk santai lalu menoleh ke arahku. "Taruh dulu tas lo, baru pergi!"


Aku kembali mengangguk mengerti. Baru kali ini aku tenang mendengar teguran dari seorang. Mungkin karena dia sudah menjelaskan maksudnya dengan baik padaku, karena itu aku bisa tenang dengan cepat setelah semua kejadian tidak terduga di pagi yang kacau balau.


"Kalau begitu, aku pergi ke UKS sebentar."


"Lama juga tidak masalah." ucapnya.


Dia mengibaskan tangannya seperti tengah mengusir dayang istana yang baru selesai menanyakan permintaan rajanya. Intinya, dia memintaku untuk segera pergi ke ruang UKS.


Aku bergegas berlari kecil menuju UKS. Ingin memastikan keberadaan ketua Osis dan kemungkinan cidera yang di alaminya. Kalau tidak bisa membantunya, setidaknya aku harus mengucapkan rasa terima kasih karena ketua Osis menolongku.


Aku membuka pintu UKS, tepat saat sosok dengan menggunakan jas Osis baru saja keluar dari pintu UKS yang satunya. Aku mengejar ketua Osis dengan masuk ke ruangan dan keluar dari pintu yang sama yang dilewati oleh Ketua Osis. Namun, begitu aku membuka pintu, yang ku dapati malah,


"Rei..han..." ucapku pelan. Kemana perginya ketua Osis?! Aku memandangi Reihan dengan seksama.


"Ya?" jawabnya. Jas sekolah itu baru saja selesai ia ikat pada pinggangnya.


Ekspresi dan gelagatnya nampak sedikit berbeda dari Reihan yang baru saja aku tinggalkan didalam kelas.


"Apa tanganmu juga ada yang terluka?"


"Ya!" jawabnya.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil p3k!" ujarku yang langsung berbalik ke dalam UKS untuk mengambil kotak obat yang disediakan di ruangan ini.

__ADS_1


Aku berbalik lagi setelah mendapat apa yang ku cari dan sudah mendapati Reihan masuk ke dalam UKS untuk mendapatkan penanganan.


"Apa yang lo lakukan?" sambut Reihan begitu mendapat perhatianku secara penuh.


"Kotak P3K!" jawabku.


Tidak menanggapi sama sekali, Reihan menarik bangku yang ada disamping ranjang rawat UKS. Dia kembali mengisyaratkan padaku untuk duduk di atas ranjang rawat dihadapannya.


"Gue bantu obati luka lo!" ucapnya.


"Aku tidak terluka..." jawabku meletakkan pelan kotak P3K itu diatas ranjang rawat UKS.


"Tidak terluka?" tanyanya meyakinkan.


Aku mengangguk kecil tepat ketika Reihan bangkit dari duduknya dan mendekat ke arahku. Mengambit sedikit dibagian bahuku, lalu menatapnya dengan cara tidak biasa.


"Lalu ini apa?" Dia menunjukkan bagian lengan baju ku yang menampakkan sebuah garis berupa warna kemerahan. Bagian yang memiliki bekas memar akibat pukulan yang ku dapat kemarin malam dari ibuku. Itu adalah bekas pukulan dari penggaris sekolah yang ada di kamarku.


Darah langsung berdesir naik ke kepala. Rasanya sangat menakutkan dan memalukan jika ada yang mengetahui apa yang aku alami saat ini. Tetapi sama sekali aku tidak bisa menampiknya. Bekas darah itu memang sangat jelas dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Mungkin karena tekanan yang ku dapat saat bantu menopang penyangga besi tadi.


"Ini... luka ini..." aku benar-benar tidak menemukan alasan apapun untuk menunjukan luka yang ada pada lenganku.


"Sorry!" ucap Reihan seketika. Dia menutupi wajah itu dengan tangannya. "Gue bakalan minta penjaga UKS yang bantuin lo!"


"Terima kasih. Aku lebih baik melakukannya sendiri.." jawabku.


"Begitu kah?"


Aku kembali mengangguk. Rasanya melegakan. Lega karena pada akhirnya aku tidak perlu menyingsingkan lengan bajuku. Aku mengusap-usap bagian lengan sampai ke bahu. Berharap, hal seperti hari ini tidak akan terulang kembali. Mana ada seorang gadis remaja memiliki lengan yang penuh dengan luka dan memar. Itu hal yang sangat menyedihkan.


Reihan sejenak menatap sebelum beranjak dari tempatnya. Dia kemudian keluar dari dalam ruangan dan meninggalkanku dengan perasaan yang tidak akan bisa ku mengerti.


Segera ku singsingkan lengan baju sampai ke bagian lengan. Melihat beberapa garis memar berwarna kebiruan yang menampakkan dirinya dengan tanpa dosa. Aku oleskan obat pereda nyeri pada bagian itu. Lalu segera menurunkan lengan baju ketika pintu UKS kembali ada yang membukanya.


"Gimana?" sapanya dengan nada suara yang biasanya.


Nada suaranya yang cukup ceria. Tidak seperti suaranya tadi yang sedikit serius ketika akan meninggalkan ruang UKS.

__ADS_1


"Sudah ketemu ketua Osis?"


Aku menggeleng.


"Kamu kembali ke sini, untuk menanyakan itu?" tanyaku.


Kali ini, Reihan kembali menampakkan rasa herannya. Dia awalnya nampak tidak mengerti pada pertanyaan yang aku ajukan. Lalu sedetik, dia sudah mengangguk mengerti.


Jujur saja, aku tidak tahu dia kenapa. Tetapi terkadang, aku merasa dia memiliki dua kepribadian yang berbeda. Mungkin hanya perasaanku saja. Karena selama ini, aku memang jarang mempunyai seorang yang aku kenal. Bahkan untuk mengenal diriku sendiri, aku masih harus selalu berperang dengan isi kepalaku.


"Lo udah selesai obati luka lo?"


Aku mengangguk cepat. Memasukan semua perlengkapan kotak p3k pada tempatnya dan memandang Reihan yang nampak singkuh. Dia berjalan mendekat ke arahku seperti tadi, lalu menyodorkan bagian tangan kirinya yang mengeluarkan darah dengan bau besi yang mengkarat.


"Bisa lakukan sesuatu dengan ini?"


Saat menyampaikan maksudnya, wajah Reihan nampak sedikit pucat. Dia tidak memandangi tangannya sama sekali. Melainkan fokus menatap ke arahku.


Aku mengangguk pasti. Meminta dia duduk dengan menepuk ranjang rawat UKS seperti yang dia lakukan beberapa saat lalu. Dengan segera aku menarik kursi yang tadi di duduki Reihan dan merawat lukanya sampai proses pemasangan perban.


"Lo telaten juga ya?"


"Ya?"


Dan Reihan kembali memasang wajah tidak senangnya.


"Apa tidak ada hal yang lain yang bisa lo ucapin selain kata 'ya' dan 'maaf'?"


Aku menunduk. Jawabannya adalah tidak. Tidak peduli seberapa keras pun aku berusaha, sangat susah bagi ku untuk menanggapi sesuatu sesuai dengan keinginan orang lain. Selain itu, tidak banyak yang bisa ku katakan juga pada orang-orang. Apalagi tentang diriku sendiri.


Aku mendengar Reihan menghela nafas dengan kediamanku. Satu tangannya nampak naik dan aku akan bersiap menerima pukulan darinya.


Aku sesegera mungkin memejamkan mataku. Bersiap menahan rasa sakit akibat dipukul karena kediamanku. Namun aku langsung tertegun dan menatap ke arah Reihan. Reihan yang kini sudah beranjak keluar dari ruangan itu dan sudah menutup pintu UKS dengan perlahan.


Aku terdiam sembari mengusap ubun-ubun kepalaku. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi ruang hati dan pikiranku. Menyesakkan sekali. Aku menahan semua rasa sakit yang langsung menyerang sampai ke hulu hati. Sesak. Dan aku merasa kesulitan untuk bernafas.


"Sakiiiiit..." isak ku berderai air mata. Rasanya benar-benar sakit.

__ADS_1


...***...


__ADS_2