Mirror!

Mirror!
Amyra : Masih berusaha sembuh


__ADS_3

Aku baru saja keluar dari kamar ketika mendapati Angga berdiri santai di depan pintu kamarnya. Dengan pakaian serba hitam, Angga bersender pada kusen pintu sambil menatapku dengan begitu menakutkan. Tubuhku rasanya langsung mengkeret. Aku menunduk lalu berjalan menuju dapur tanpa berani menyapa atau melihatnya kembali.


"Sebenarnya lo itu kenapa?" tanya Angga yang tahu-tahu bayangannya sudah melewati batas tubuhku. Apa dia mengikuti langkahku masuk ke dapur? Langkahnya tidak terdengar sama sekali.


Yang artinya, posisi Angga saat ini sangat dekat di belakangku. Kurang lebih berada di jarak satu meter dengan langkah yang semakin mendekat. Membuatku bersiap melemparkan segelas air atau apapun yang bisa aku pegang saat ini saking takutnya aku dengan tindak kekerasan yang mungkin dilakukan Angga.


Pernah dulu, tanpa sebab apapun, Angga menjambak rambutku dari belakang dan melontarkan kata-kata yang membuatku terus mempertanyakan siapa diriku untuknya. Apakah dia benar kakakku atau bukan.


"Apa lo setakut itu sama gue?"


Angga sudah berdiri di sebelahku. Membuka pintu kulkas, lalu mengambil satu botol soda yang entah sejak kapan kulkas dirumah ini tiba-tiba penuh dengan semua makanan yang selalu ingin ku beli.


"Kenapa?" tanyanya lagi. Kali ini tatapannya sengaja mengikuti arah pandanganku. "Lo tertarik sama isi kulkasnya?"


"Kalau ibu melihat ini, ibu pasti senang." jawabku. Perhatianku akan hal-hal seperti ini gampang sekali teralihkan.


"Begitukah menurut lo?!"


Mengingat bagaimana ibu mengeluh setiap harinya tentang makanan dan lainnya, aku yang melihat dan mendengar semua keluhan itu sejak kecil, jadi terkagum-kagum dengan seisi kulkas yang saat ini aku pandangi.


"Apa dia akan lama disana?" gumamku.


Walaupun tidak bisa memanggil kedua orang tua ku dengan benar, tapi aku yang terlanjur berusaha dan bisa memahami, mau tidak mau akhirnya bisa menerima semua keadaan yang ku alami sampai saat ini.


Terkadang, aku juga mengingat ketika dengan tersulut emosi yang tiba-tiba, ibu melontarkan banyak keinginannya sembari marah-marah.


"Jika aku tidak menikah muda! Jika aku tidak hamil kalian, hidupku pasti lebih bahagia dari sekarang. Kalian hanya anak yang menyusahkan!!"


Lalu lemparan beberapa benda di dapur melayang ke seisi rumah. Belum lagi ketika ibu melihat gagang sapu dan melihatku yang baru pulang sekolah. Pukulan tidak bisa ku hindari. Kalau aku menghindar, dia akan memukuli dirinya sendiri lalu menangis sejadi-jadinya dalam diam disudut dapur.


"Kenapa menanyakan itu?" Angga memperhatikan.


Tiga tahun ku tanpa Angga, adalah tahun-tahun dimana semua amarah hanya tertuju padaku. Dimana semua sasaran kesalahan dan pukulan mendarat padaku. Selama 10 tahun terakhir, bukan hanya sakit fisik yang ku derita, tapi mentalku juga ikut naik turun karenanya.


Terkadang saat aku merasakan bahagia yang begitu sangat misalnya ketika aku menang juara lomba lukis, hanya dalam hitungan menit, aku langsung menahan tangis sejadi-jadinya menghadapi perlakuan kedua orang yang menjadi orang tua bagiku. Rasanya menyakitkan.


Aku menggeleng menjawab pertanyaan Angga, setelah lamunan yang terasa begitu lama untukku.

__ADS_1


"Besok lo kerja?"


Aku mengangguk. Tetap menunduk dan sudah sadar kalau aku tidak akan berani menatapnya. Ya. Aku takut. Dia masih seperti dia yang dulu di bayangan ingatanku sendiri.


"Pulangnya jam 8?"


Aku mengangguk lagi.


"Gue jemput besok yah!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Angga beranjak dari dapur. Berjalan ke ruang tengah, lalu terdengar suara pintu kamarnya yang tertutup dengan perlahan.


Aku hanya bisa menghela nafas dengan itu. Rasanya masih sangat tidak biasa. Dia yang dulu suka membentak, memukul, dan bahkan menyalahkan dengan semua kata-katanya yang menyakitkan, kini bersikap begitu santai dan cukup baik padaku. Aku masih belum terbiasa. Apalagi setelah tiga tahun yang makin menyakitkan setelah kepergiannya dari rumah. Sekarang ini, apakah dia akan benar-benar pulang? Tinggal lagi di rumah ini seperti dulu? Apakah dia akan seterusnya bersikap selunak itu padaku?


Kalau iya, aku berharap aku akan bisa membiasakan diri dan menghilangkan rasa takutku padanya. Aku hanya harus berusaha lebih keras lagi. Karena kali ini bukan hanya pada kedua orang tua ku saja. Aku juga harus berjuang untuk melawan ketakutanku pada Angga juga. Sosok saudara yang sejak kecil selalu memberikan rasa takut pada semua perjalanan hidupku.


...***...


Seperti ucapannya malam kemarin, aku yang baru saja menyerahkan kunci Pustaka pada Raina, di panggil dengan santainya dari arah belakang. Panggilan yang membuatku cukup tersentak kaget. Antara tidak percaya dan ketakutan, atau aku memang cemas dengan keseriusan tindakannya untuk menjemput ku.


Angga membuka helmnya. Dia masih duduk di atas jok motornya dengan menatapku yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi rasa takutku terhadapnya.


"Siapa yang jemput lo, Amy?"


Aku memalingkan pandanganku dan melihat Raina menatap penasaran. Dia yang tadinya menutup pintu pagar, membukanya kembali dan berdiri di sampingku dan menatap Angga dengan heran.


"Siapa?" tanya Raina lagi.


"Angga... Dia..." jawaban itu tidak bisa ku keluarkan.


"Ngapain lo di sini?!" tanya Reihan yang entah sejak kapan berdiri diseberang pagar rumahnya. Dia sudah mendorong pintu pagar dengan perlahan. Berdiri disebelah Raina, dan juga menatap orang yang sama.


"Gue jemput dia!" ujar Angga menoleh padaku.


Aku yang sudah memegang erat tali tasku dengan perasaan takut tidak karuan.


"Sudah di jemput gitu, ngapain masih mematung disini?!" ujar Reihan.

__ADS_1


Nada suaranya nampak dingin dan tidak biasa. Ketika aku meliriknya, Reihan nampak menatap Angga dengan tidak biasa. Bahkan keduanya saling menatap dan terasa ada sengatan aliran listrik yang mengalir diantara tatapan keduanya.


"Ayo pulang! Gue cape habis pulang kerja juga!"


Keluhannya itu langsung membuatku mendekat kearahnya. Naik ke atas motornya dan menempati bagian tempat duduk penumpang. Sementara Reihan menarik Raina masuk ke dalam rumah dengan sedikit paksaan. Pintu tertutup dengan suara yang sedikit keras. Membuatku menoleh dengan perasaan yang tidak karuan juga. Aku hanya merasakan kalau Reihan saat ini sedang marah. Apa karena Angga??


"Pegangan!"


Aku mengangguk. Meletakkan kedua tanganku pada bahunya, Angga mengegas motornya dengan cepat.


"Kita makan dulu yah?!" ujar Angga.


"Apa?!" teriakku.


Suara Angga memang kalah berisik oleh suara motor ini. Ditambah suasana malam dengan rutinitasnya yang sedikit padat. Laju motor ini mengarah ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang. Aku pun hanya diam dan mengikuti kemana pun Angga membawaku pergi.


Motor ini menikung masuk ke sebuah unit pertokoan. Masuk sampai 2 blok pertokoan, barulah motor ini menepi.


"Kita sudah sampai. Turunlah!"


Mengikuti suruhannya, aku mengikuti langkah Angga memasuki satu blok pertokoan yang berada disana. Melihat satu blok lantai penuh dengan pedagang yang menjual semua aneka makanan siap saji yang sejak dulu ingin sekali aku beli dan aku nikmati.


"Lo masih ingin mencoba semua makanan ini?"


Aku mengangguk girang. Kali ini Angga menatap dengan senyum penuh permakluman yang melihatku langsung menyeruak masuk tanpa mengajaknya.


"Beli yang manapun yang pingin lo makan atau lo minum?" ujar Angga saat aku menyadari tingkahku yang mengabaikan sikap baiknya padaku.


Aku menghentikan langkahku. Melihat Angga yang tiba-tiba menepuk kepalaku dengan lembut. Tadinya ku kira dia akan memukul kepalaku seperti dulu, karenanya aku sempat mengkeret dengan memejamkan mata.


"Ini sogokan pertama gue yah!" ujarnya.


"Sogokan untuk apa?" tanyaku takut-takut.


"Bukan apa-apa! Ayo cepat pilih yang mana yang mau lo beli! " jawab Angga yang langsung mendorongku untuk segera membeli makanan apapun yang aku ingin makan saat ini.


...***...

__ADS_1


__ADS_2