
Pagi ini, Amy masuk sekolah seperti biasa. Hanya saja wajahnya sedikit suram. Langkahnya seakan-akan berat untuk memasuki area sekolah.
"Dia kenapa lagi?!"
"Kalo lo penasaran, samperin aja!" jawab Aray malas sembari menguap malas.
"Tentu aja gue samperin." balasku tidak mengindahkan sikap Aray yang bermaksud menarik kerah belakang bajuku. Awalnya aku memang berhasil menghindar, tapi langkah jenjang Aray langsung menahan langkahku.
"Ada yang perlu lo tahu!" ujar Aray.
"Ck. Ntar aja yah! Gue sibuk." balasku menampik tangan Aray di bahuku.
"Pagi, Amy!"
"Pagi." jawabnya. Jawaban yang lebih kaku dari biasanya.
"Mau bolos?!" selidik ku.
Dengan dugaan yang ku keluarkan, aku langsung mendapat jawaban tidak percaya dari Amy. Benar-benar ekspresi yang tidak bisa bohong.
"Bercanda." ucapku. "Tapi kalau bolos, mah hayuk!"
"Jangan nambahin catatan disiplin orang lain seenak lo!" tegur Aray. "Pagi Amy."
Lagi-lagi tatapannya nampak tidak biasa.
"Selamat pagi." sapa Amy kepada Aray.
"Pagi ☺️." suara yang cukup familiar terdengar di telingaku. Arahnya dari belakang pundak Aray. Aku terdiam kaku saat dia keluar dari belakang punggung Aray untuk menunjukan dirinya. "Hay, Rei!"
Dia tersenyum seperti senyumnya yang biasa dulu.
"Hay, Clara!" sapaku. "Lo disini?"
"Itu yang tadi mau gue sampaikan." jawab Aray sembari berlalu dari ku dan Clara. Sementara Amy hanya menatap sejenak, kemudian mengikuti langkah Aray menuju halaman utama sekolah.
__ADS_1
"Gue pindah ke sini mulai hari ini." jawab Clara. "Bagus bukan?"
"Ah... Ya. Bagus. Bagus." jawabku yang lebih fokus pada sosok Amy yang berjalan menjauh dari hadapanku.
"Ayo masuk!" Clara menggandeng tanganku tanpa segan dan pagi ini semua berjalan dengan penuh kejutan.
Kelas X-Bahasa 1
"Keluarga lo mau pindah?!" seru Rahma dan Siska bersamaan. Sontak ucapan mereka menarik perhatianku. Soalnya satu-satunya yang dekat dengan mereka di kelas hanya Amy. Tidak mungkin kalimat heboh mereka keluar karena orang lain. Benar saja, aku melihat Amy mengangguk sembari tertunduk.
Dari bangku depan dimana Joe, Raka, dan Clara duduk, aku memperhatikan bagaimana Amy menunjukan senyumannya pada Siska dan Rahma. Senyum palsu. Disisi lain, aku bisa melihat bagaimana Angga terus saja memperhatikan Amy dari kursinya. Aku membenci kedua hal itu.
"Lo gimana? Lo juga ikut pindah? Pindah kemana?" cecar Siska.
"Ke kota kelahiran ibu ku." jawab Amy. "Jaraknya dari sini sampai 3 jam perjalanan, karena itu, aku juga ikut pindah."
"Kenapa nggak tinggal disini saja?" protes Siska lagi.
Aku melihat Amy tertegun cukup lama sampai akhirnya dia kembali menunjukan senyumnya itu. "Aku tidak mungkin sendirian tinggal di kota ini."
"Di belakang rumah gue juga ada banyak kost-kostan!" tambah Rahma tidak mau kalah. "Kalo lo mau, gue bisa minta ke nyokap gue satu buat lo tinggali. Soal harga, bisa nego."
Amy menggeleng, lalu menunduk sejenak.
"Dirumah gue gratis!"
"Tapi tidak leluasa untuk Amy yang kerja paruh waktu." sanggah Rahma.
Siska menunduk malu. "Hehe... iya sih..."
"Aku sudah memikirkan untuk tetap tinggal dirumah, hanya masalahnya, rumah itu akan dijual." ucapan Amy langsung memblokade maksud Rahma yang memilih berbisik di telinga Amy karena menyadari, aku mencuri dengar dengan terang-terangan percakapan ke tiganya.
"Lo punya solusi nggak Rei!" sentak Rahma seketika. "Pacar lo mau pindah, lo nggak peduli?!"
Sontak ucapan itu membuat Clara berdiri dari bangkunya dan membuat suara yang cukup mencuri perhatian seluruh penghuni kelas.
__ADS_1
"Pacar Reihan?!" ucapan itu pun membuat tanya yang cukup besar di benak semua penghuni kelas. Karena ekspresinya yang tidak biasa, dan aku hanya bisa terdiam melihat semua hal itu. Ekspresi yang sama, ketika dia mendengar Aray yang menyukai Jihan untuk pertama kalinya.
"Iya!" jawab Siska tidak peduli. "Bukan begitu Amy?!"
Amy tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti.
"Jadi karena itu semalam lo nangis?" tanyaku mendekati Amy. Gadis itu mendadak menunduk seperti kehilangan dirinya didepan kedua sahabatnya.
"Ya jelas dong dia sedih. Selain mau pergi jauh, dia juga harus pisah dari kami! Bukan cuma karen alo yah!" ujar Siska dan dibantu Rahma dalam memonopoli Amy dengan pelukan dan tatapan sengit. Tapi gadis itu tetap tanpa ekspresi.
"Aku.... "
"Baguslah kalau lo pindah," sapaan itu datang dari Clara. "Jadi gue ada kesempatan buat baikan lagi sama cinta pertama gue." Clara menggandeng tanganku lalu merebahkan kepalanya di pundakku. Nyaris membuat ku melompat karena tindakan terang-terangannya ini.
Tapi dibalik semua tindakan yang Clara lakukan, aku cukup bisa menikmatinya. Karena saat ini, dapat ku lihat ekspresi Amy yang tiba-tiba berubah. Cemburu kah?! Aku benar-benar berharap. Terlebih saat gadis itu mengepal erat roknya tanpa memberikan jawaban apapun sembari tertunduk. Aku menunggu saat dia meledak dan benar-benar ingin melihat dia berontak dengan tindakan Clara ini. Aku ingin Amy bisa terbebas dari emosi yang dia kekang selama ini.
"Ambil saja. Amy sudah punya gue untuk dia bergantung hidup." jawaban itu keluar dari sosok Angga yang dengan entengnya merangkul bahu Amy. Sementara gadis yang ku tahu sejak awal kepindahan Angga, selalu ketakutan pada sosoknya, kini nampak terlihat sangat biasa. Dan bahkan bisa dengan santainya dia diam saja menerima rangkulan itu.
"Pacar gue belum ngomong apapun! Jadi lo jangan ikut campur."
Begitu akan menyingkirkan tangan itu dari bahu Amy, aku dapat merasakan Clara menahan ku dengan begitu kuat. Tapi tindakan Amy yang langsung berdiri dan menarik ku pergi dari semuanya lebih membuatku tidak percaya. Terlebih dia menarik ku keluar dengan diperhatikan seluruh penghuni kelas. Dia yang biasanya menghindari tatapan semua mata, kini seakan tidak peduli dengan semua itu.
Aku mengikuti langkahnya yang menarik lengan ku begitu saja. Berbelok di lorong kelas, Amy mendadak berhenti tepat saat aku terpaku pada punggungnya yang mungil. Tidak terelakan, aku menabrak gadis itu tepat saat dia membalik badannya menghadap padaku. Dahi kami beradu dan hal itu membuatnya mengaduh tapi aku malah dibuatnya degdegan. Sial!
"Lo yang salah. Siapa suruh mendadak berhenti!" kilahku ketika Amy menatapku dengan tidak senang sembari mengusap-usap dahinya. Menggemaskan.
"Aku siapa mu? Lalu.... " wajah itu nampak serius, walaupun tetap saja bagiku hal itu sangat menggemaskan. Amy berusaha berpaling dan mulai nampak gusar. Menunjukan kalau dirinya tengah panik. Dia yang seperti ini, benar-benar membuatku tidak ingin dia dekat dengan orang lain selain aku.
"Lalu apa?" tanyaku sedikit menggoda sikapnya ini.
"Lalu..." Amy mengulangi kata itu lagi.
Sial. Kenapa aku terus degdegan begini dengan sikap yang dia tunjukan!? Tanpa pikir panjang, aku menarik tubuh gadis itu dan membawanya dalam dekapanku. Memang sikap yang kurang sopan, tapi sejak melihatnya menangis di telp semalam, keinginanku ini sudah tidak terbendung lagi. Padahal harusnya aku yang lebih berlogika disini. Tapi nyatanya, logika ku benar. Dia menyembunyikan semua emosinya.
"Aku.... takut...."
__ADS_1
...***...