Mirror!

Mirror!
Amyra : Reihan kenapa?


__ADS_3

Sepanjang sore menjelang malam itu, rumah Reihan kedatangan banyak tamu. Raka dan Ditya menyusul setelah kepulangan Clara yang kembali menyapaku dengan santai, lalu datangnya Raka yang lebih kecil, teman dari Raina.


"Rumah yang ramai." gumamku merapikan semua buku yang sudah di kembalikan oleh beberapa orang yang meminjamnya.


Diantara semua buku yang dikembalikan, kebanyakan ada komik yang di pinjam oleh teman-temannya Raina. Sembari merapikan buku-buku itu, aku sesekali melirik ke arah dalam rumah itu. Melihat bagaimana Reihan bercengkrama dengan Raka dan Ditya. Padahal itu pemandangan yang biasa terjadi di sekolah. Tapi ini di rumahnya sendiri, jadi rasanya sedikit berbeda dari biasanya.


Entah lirikan ke berapa, begitu menyusun komik terakhir, aku menatap Reihan secara langsung tanpa aku sadari. Bukan. Mata kami saling bertatap-tatapan. Itu artinya, Reihan juga tengah melihat ke arahku tadinya.


Rei tersenyum. Senyum yang sangat cerah dan menenangkan. Apa aku akan bisa menemukan senyum seperti itu lagi di lingkungan baruku nanti?? Memikirkan itu, aku terdiam cukup lama dalam lamunanku. Rasanya akan sulit. Sekali lagi aku menatap, dan Reihan juga sedang menatap ke arahku.


"Hari ini Reihan sepertinya sedang kacau." ujar Jihan menyapaku di meja kasir sambil mengembalikan tiga buah buku yang tebalnya cukup membuatku terheran-heran.


"Hmm..." jawabku. Entah kenapa berhadapan dengan Jihan selalu membuatku terintimidasi total. Sosok yang terlihat pendiam dan penyendiri namun aslinya sangat tegas dan susah di tolak auranya. Di hadapannya, aku susah untuk berkata yang bukan sebenarnya ada di pikiranku.


"Sayangnya dia adik pacarku!" dan jadilah aku terdiam saat dia meremas kesal botol minum yang sedari tadi dipegangnya. "Kalau tidak, aku pasti sudah memiting tangannya dan membuatnya lebih menghormati mu sebagai perempuan. Bukan membentak mu seperti siang tadi."


Aku terdiam lagi. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari sosok yang berada di hadapanku ini ternyata mempunyai hobi menguping yang jarang di ketahui oleh orang lain. Setidaknya bukan kali ini saja aku mengetahui dia menguping pembicaraan orang. Sebelumnya pun sama. Waktu disekolah saat dia membahas Clara.


"Terima kasih." ucapku menerima ketulusan ucapan Jihan yang sedikit tidaknya mewakili perasaanku ketika aku merasa terdesak oleh rasa takut yang ku miliki.


"Untuk apa?" tanyanya. "Perkataanku tadi?"


"Hmmm..." aku mengangguk menjawabnya.


"Kamu?!" respon Jihan. Mungkin tidak menyangka kalau aku menyetujui perkataannya yang kalau ada kesempatan dan keberanian, bisa saja melakukan hal tak terduga terhadap tindakan Reihan siang tadi. "Ngomong-ngomong soal itu, sebenarnya bagaimana hubungan kalian?"


"Kalian siapa?" maksudnya? Aku menatap Jihan penasaran.


"Sudah baikan?"


"Dengan Reihan?" Aku balik bertanya bukan karena apa-apa. Karena pertanyaan Jihan bagiku kurang jelas. Tumben.


"Siapa lagi kalau bukan dia." jawab Jihan rada malas. Kembali Jihan menghela nafasnya. "Kamu memikirkan orang lain selain Rei?"


Aku mengangguk.


"Siapa?" tanya Jihan. Sementara aku terdiam sejenak sebelum sebuah suara mencuat dari arah depan pintu Pustaka.


"Gue." jawab Angga. Dia melambai padaku dan pada Jihan. Tidak lupa dia menyapa ke arah yang berseberangan dengan sosoknya di balik pintu kaca Pustaka ini.


"Rei." ucap Jihan.


"Reihan." ujarku dan Jihan bersamaan.


Reihan tidak menjawab panggilan kami, melainkan menatap Angga dengan tidak begitu senang.


"Pulangnya masih lama?" tanya Angga padaku sembari mengetuk meja kasir pustaka dengan jari-jarinya.


Aku menoleh pada Angga kemudian menggeleng. "Sebentar lagi." jawabku.

__ADS_1


"Gue tungguin." ujar Angga yang langsung menyusuri salah satu lorong pustaka. Mencari buku yang menurutnya menarik, namun langkahnya terhenti ketika Reihan dengan kasar menarik kerah bajunya.


"Lo nggak diterima disini!" kecam Reihan.


Angga dengan sedikit rasa kaget bercampur kesal lalu berbalik untuk menepis tindakan Reihan yang menurutnya kurang begitu sopan. Dia hanya menatap Reihan sejenak, lalu mengabaikan sosoknya untuk kembali bermaksud mengambil buku yang cukup menarik untuk dia baca.


Sekali lagi, Reihan menarik dan membalik tubuh Angga dengan kasar dibarengi dengan sebuah pukulan yang tepat ia layangkan dihadapan mata Angga. Suara yang cukup menyita perhatian ketika sebuah rak buku jatuh tepat dimana Reihan tidak berhasil memukul Angga, namun membuat keseimbangan Angga turun dan jatuh menabrak rak buku disampingnya.


Aku dan Jihan segera melihat ke arah dimana suara itu berasal dan mendapati baik Angga ataupun Reihan tengah saling mencengkeram kerah baju masing-masing lengkap dengan kepalan tangan untuk satu sama lain. Tatapan keduanya sama-sama tidak mau kalah dan tidak mau menurunkan emosinya. Membuatku merasa cemas dan ketakutan dengan kemungkinan yang bisa terjadi setelahnya.


"Kalian apa-apaan?!" sentak Jihan dan Aray dari arah yang berlawanan.


"Rei!" tegur Aray sekali lagi.


"Angga..." panggilku dengan suara yang cukup pelan. Suara yang entah kenapa membuat Reihan berpaling dan menatapku dengan tidak suka. Matanya nampak membelalak dan hal itu membuatku sangat takut.


Mungkin melihat banyaknya orang dan mendengar panggilanku, Angga melepas cengkeraman tangannya pada kerah baju Reihan, juga menghempaskan pukulannya dan berjalan kearahku dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti.


"Sorry." ucapnya menepuk pundakku. Tanpa membalik badannya menghadap ke arah Reihan dan Aray, Angga berlalu setelah mengatakan akan bertanggung jawab dengan semua kerugian yang terjadi.


"Bukan salah lo, Ngga." jawab Aray menepuk pundak Reihan lalu melewati Reihan dengan begitu santai. Aku dan Jihan terdiam dengan omongannya. Aray si kembaran Reihan ini memang selalu dewasa dalam segala hal. Padahal aku dan Jihan sempat melihat bagaimana cara keduanya saling tatap sebelum insiden terjadi, tapi Aray menanggapi hal ini dengan tanpa memihak keluarganya. Aneh tapi juga tidak mampu ku mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi dia belum tahu?" tanya Aray menepuk bahu Angga.


"Sengaja." jawab Angga yang lalu keduanya melangkah perlahan keluar dari Pustaka.


"Nanti pulang, gue antar yah!" ucap Reihan di seberang kaca tiba-tiba.


Aku melihat kearah belakangku. Dia bicara denganku? Aku kembali melihat kearah Reihan yang lalu menatapku dengan begitu tajam. Aku mengangguk dan kemudian dia kembali ke ruang tamu disambut oleh Raka dan Ditya yang sempat melirik ke arah dalam Pustaka ketika mendengar suara kegaduhan yang di buat Reihan maupun Angga.


"Gue ke dalam yah?!" ucap Jihan menepuk pundakku dengan santai.


Aku mengangguk. Tetapi setelah semuanya meninggalku sendirian di dalam pustaka, ada perasaan tidak karuan yang tiba-tiba menggerogoti perasaanku. Jihan lalu pergi begitu saja dari meja kasir pustaka untuk kembali bergabung ke dalam rumah bersama Reihan dengan yang lainnya.


Melihat semua itu, ada sedikit rasa iri yang muncul. Rasanya aku juga ingin bisa bergabung disana bersama Reihan. Mengobrol santai dan bercanda tanpa harus memandang siapa diriku ini dimata Reihan. Reihan yang entah kenapa terus menatap kearahku dengan cara yang tidak biasa setelah kepergian Angga yang bermaksud menjemputku untuk pulang bersama.


Aku melihat Reihan menepuk pundak Raka. Lalu baik Ditya ataupun Raka lalu melirik ke arahku. Tangan mereka mengisyaratkan meminta Reihan pergi. Pergi menghampiriku dari jendela pustaka yang begitu besar.


Dari balik barisan etalase buku yang ada, Reihan mengetuk-ngetuk kaca jendelanya.


"Udah mau pulang?" tanyanya bernada lebih tegas dari biasanya.


Aku mengangguk pelan. Tapi juga ragu. Ada apa?


Reihan berbalik setelah mendapat jawaban dariku. Kembali ke ruang tamunya, aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menutup pintu depan Pustaka dari arah dalam. Aku berbalik tepat saat melihat Reihan sedang menggunakan jaketnya. Dia lalu berdiri di halaman tengah rumahnya, menatap ke dalam pustaka tepat sesaat aku mematikan lampu ruangan itu.


"Ayo." ajak Reihan setelah menerima kunci pustaka dari tanganku.


"Jaga rumah, Ka!" teriak Reihan yang melempar kunci pustaka itu pada Raka.

__ADS_1


"Enak aja lo!" teriak Raka yang menangkap lemparan kunci itu dengan setengah hati.


"Ingat pulang." teriak Ditya sembari membalas tos nya dengan Raka.


"Aku pulang duluan yah." sapaku pada semua yang masih asyik di ruang tamu keluarga itu.


"Jaga Rei untuk kami yah?!" ucap Raina.


Sementara Aray dan Jihan hanya tersenyum ke arahku. Apa maksudnya menjaga Reihan. Reihan bukan anak-anak lagi, kan!


"Jangan hiraukan omongan mereka." ujar Reihan yang menyerahkan helm berwarna coklat itu padaku.


"Helm ini?"


"Hmm..." jawab Reihan rada malas. "Helm curian yang kemarin." sambungnya lagi.


Aku menunduk dengan hal itu. Rasanya ingin tertawa, tapi wajah serius Reihan menghentikan niatku itu.


"Kita nggak langsung pulang yah?" ujar Reihan yang langsung mengegas laju motornya memasuki jalanan utama.


"Hah?" teriakku yang tidak terlalu jelas dengan ucapannya. Tapi aku akhirnya mengerti setelah laju motor ini berjalan ke arah yang tidak seharusnya.


"Kita mau kemana?" tanyaku begitu kami berhenti di sebuah lampu merah.


"Jalan-jalan sebentar nggak apa kan?" tanya Reihan balik. "Gue yang tanggung jawab nanti soal jam pulangnya lo."


"Iya." jawabku. "Aku kabari kakakku dulu ya." tambahku lagi sembari mengirim voice not pada Angga. "Aku keluar jalan-jalan sama Reihan." ucapku pada voice note ku.


Mendengar kalimatku itu, Reihan berbalik menghadap ke arahku. Melihatku dengan seksama lalu semuanya dibuyarka oleh suara klakson mobil dan beberapa motor yang ingin melewati lampu yang sudah menyala hijau. Motor ini kembali melaju ke bagian pinggiran kota. Tepatnya ke sebuah perbukitan yang disepanjang jalannya diterangi lampu jalanan yang begitu indah.


"Ini dimana?" tanyaku.


"Sampai di atas lo akan tahu." jawabnya. Motor ini melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk menanjak menuju sebuah area parkir yang cukup luas. Reihan memarkirkan motornya dibarisan sepeda motor yang terparkir disana. Lalu memintaku turun dan melepas helm.


"Kita ngobrol sebentar disana yah?" ujarnya menunjuk ke sebuah sudut yang begitu gelap diujung sebuah anak tangga yang ada di seberang parkir ini.


"Disana?" tanyaku yang ikut menunjuk tempat yang ditunjuk Reihan. "Ayo." jawabku mengiyakan ajakannya.


Aku dan Reihan menaiki anak tangga itu dengan santai. Ini pertama kalinya bagiku keluar di jam malam setelah acara makan bersama teman-temanku waktu itu. Juga bersama Reihan. Tapi malam ini rasanya sangat berbeda. Berbeda karena hanya ada aku dan Reihan. Hanya kami berdua.


"Sampai." ujar Reihan.


Ujung dari tangga ini menunjukan sebuah jalanan setapak yang kata Reihan mengitari seputaran perbukitan ini. Dijalanan ini tidak terlalu banyak orang tetapi 2 dari empat bangku yang berada disisi jalanan setapak ini sudah terisi oleh orang-orang yang datang untuk menikmati malam seperti aku dan Reihan.


"Duduk disana." tawar Reihan. Tempat duduk yang langsung memperlihatkan indahnya lampu malam di tengah kota. Dengan pemandangan yang tersaji didepanku, aku terdiam karena terkesima dengan cukup lama dengan warna-warna lampu yang bagaikan bintang tepat dibawah kakiku.


"Indah sekali." ucapku dan aku hanya mendapatkan tatapan yang menenangkan dari sosok Reihan. Dia tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2