Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 21: Kesurupan Massal


__ADS_3

Deru mesin berganti dengan teriakan histeris ketakutan dari semua karyawan. Semuanya kebingungan harus berbuat apa. Suasana semakin mencekam saat bertambah lagi pekerja yang ambruk dan meraung serta kehilangan kendali atas diri mereka. Ada yang mengamuk dan membanting apa yang ada di depan mereka, bahkan ada yang menyerang beberapa orang. Semuanya tampak kacau balau.


Sebagian orang berhamburan keluar dari gedung, sebagian lain tetap tinggal di sana untuk memegangi rekan-rekan yang tengah kerasukan, termasuk aku dan Indah.


"Ndah, ini bagaimana mengeluarkan sesuatu yang tengah merasuki teman kita ini?" tanyaku pada Indah sembari memegang erat lengan gadis yang berusaha mencakar wajahnya sendiri dan terus menarik kerudung agar terlepas.


"Aku juga belum tau, bagaimana ini. Karena kasus seperti ini aku baru mengalami sekali ini."


Aku mengedarkan pandangan di antara kericuhan yang terjadi, ada Mbak Juniyati tengah memegangi Linda yang bertugas sebagai helper karena dia juga tengah kerasukan. Hanya saja mata Mbak Juni menatapku tajam. Pasti dia menyalahkanku yang telah melanggar pantangan dan tetap masuk ke dalam gedung spinning.


Aku ingin bertanya kepadanya tentang apa yang harus diperbuat kepada temanku yang telah kerasukan itu. Namun, aku takut dan ragu karena pada kenyataannya, aku lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Andai tadi aku mendengarkan ucapan Mbak Juni agar tidak masuk di gedung spinning itu, pasti semua ini tidak akan terjadi. Kini teman-temanku yang merasakan akibat dari aku yang melanggar pantangan.


Total sudah ada tujuh orang yang kerasukan malam ini. Mungkin bisa bertambah lebih banyak lagi. Keringan ini terus menetes karena gadis yang aku pegang sangat kuat gerakannya sehingga hampir saja terlepas. Untunglah Ridwan, seorang temanku yang bekerja sebagai teknisi di gedung ini datang membantu.


"Mbak Hanna, lebih baik kamu duduk dulu atau keluar gedung. Karena wajahmu sangat pucat. Jangan sampai justru kamu menjadi media baru bagi mereka bangsa tidak kasat mata. Kaum mereka suka mencari celah dari kelemahan kita sebagai manusia."


"Ta-tapi, dia ini gerakannya kuat sekali lo. Apa kamu tidak kewalahan jika aku lepas?"


"Kurasa aku cukup kuat mengatasi dia. Indah, tolong bawa Mbak Hanna keluar."


Aku dan Indah melepaskan cengkeraman pada lengan gadis itu. Aku memang tidak mengenalnya tapi sejauh ini yang kutahu dia adalah gadis yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Aku sangat terkejut jika tadi gadis itu terus berontak saat aku pegang. Namun, saat dipegang oleh Ridwan, tiba-tiba saja menjadi diam. Gadis itu nampak mengusap wajah dan kerudungnya.


"Hi... hi... ganteng sekali kamu. Apakah kamu mau jadi suamiku?" racau gadis itu. Tangannya pun nampak membelai pipi Ridwan.


"Dasar kunti ganjen!" ucap Indah lirih. Namun, suara Indah sampai juga di telinga gadis yang tengah dikuasai makhluk tidak kasat mata. Gadis itu melotot ke arah Indah. Indah yang ketakutan bersembunyi di balik tubuhku. Ridwan berusaha mengalihkan pandangan gadis itu dengan menyentuh tangannya. Seketika gadis itu terus tersenyum sembari memandangi pria berlesung pipi itu, seperti tengah jatuh cinta.


"Mbak, itu cewek biasanya diam dan kalem, kenapa setelah dipengaruhi kekuatan si kunti jadi menyeramkan begitu ya?"


"Hush, jangan keras-keras nanti dia melotot lagi. Yang pasti karena dia sedang dirasuki oleh setan yang auranya gelap. Jadi gadis itu kelihatan lebih menyeramkan."

__ADS_1


"Mbak, kita keluar saja, yuk. Indah makin takut."


Aku dan Indah hendak keluar saat seorang gadis lain yang tadinya ikut memegangi korban kerasukan, ambruk dan kejang-kejang. Aku tidak mungkin membiarkannya dalam keadaan seperti itu.


"Istigfar... Istigfar," bisikku pada gadis itu. Selang beberapa menit kejangnya berhenti tapi rupanya gadis itu masih kerasukan. Dia duduk sembari memeluk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di paha. Diam tanpa suara sedikit pun. Aku dan Indah saling pandang karena tidak tau harus berbuat apa. Yang pasti aku tidak mungkin meninggalkan gadis ini tanpa pengawasan.


"Hanna, Indah dan semuanya, kalian jangan ada yang pikirannya kosong agar tidak lagi bertambah korban kerasukan yang berjatuhan. Bentengi diri kalian dengan doa sampai bantuan datang."


Teriakan Mbak Juni begitu kencang di tengah suasana mencekam seperti ini, membuat kami tersadar, ini adalah saatnya kami harus meminta pertolongan kepada Sang Mahakuasa.


Dengan lirih aku melantunkan surah-surah An-nas dan lainnya. Indah dan teman-temanku yang lainnya juga melakukan hal yang sama, sementara temanku yang berbeda keyakinan, mereka pun berdoa sesuai keyakinan mereka masing-masing.


Suasana semakin panas, bukannya mereda tapi justru rekanku yang kerasukan malah semakin berteriak-teriak. Mereka meminta tolong, dan mereka pun mengeluhkan rasa panas yang menjalar.


"Hentikan! Panas!"


"Teruskan! Jangan hentikan!" komando Mbak Juni. Aku dan teman-teman terus melanjutkan bacaan doa kami. Meski mereka semakin teriakannya menjadi.


Gadis itu terus menangis tergugu, sembari terus mengucapkan kata maaf. Mungkin di akhir hayatnya dia mempunyai penyesalan besar yang tidak sempat ia selesaikan.


"Ma-maafkan aku... Tolong, maafkan aku..." Gadis itu terus seperti itu sembari menangis. Tangisan yang terdengar begitu menyayat hati bahkan air matanya pun luruh tidak berhenti.


"Mbak, kenapa gadis ini terus menangis seperti itu? Aku jadi ikut sedih."


"Entahlah, kalau kata orang ketika masih hidup mungkin dia mempunyai masalah yang belum selesai atau belum mendapatkan maaf dari seseorang. Tapi aku juga tidak tau pasti, Ndah. Hanya dengar-dengar saja."


Lantunan doa masih terdengar, jeritan para karyawan mulai melemah bahkan ada yang terduduk lemas meski terkadang masih suka menggeram. Entah untuk beberapa lama, beberapa orang sesepuh datang dan masuk ke dalam gedung. Satu persatu korban para korban yang sedang kerasukan dihampiri oleh para pria berbaju putih. Entah apa yang dibaca dan dibisikkan para sesepuh itu tapi kemudian wanita yang kerasukan itu perlahan tenang dan diam tertunduk lemas. Napasnya yang tadi terengah kini teratur kembali.


"Berikan dia segelas air yang dicampur dengan tiga tetes madu agar tenaganya pulih," ucap salah satu pria berjenggot putih seraya menyodorkan satu botol madu ke tangan Mbak Juniyati.

__ADS_1


"Han, Ndah, ikut aku ke depan. Kita harus siapkan minum untuk rekan-rekan kita."


Aku hendak mengikuti langkah Mbak Juniyati dan Indah tapi pria berjenggot putih itu mencegahku.


"Kamu jangan kemana-mana, ada yang sedang menempel di badanmu dan tidak mau lepas." Aku bergidik ngeri mendengarnya.


Memang sedari tadi kepala bagian belakangku rasanya berat dan nyut-nyutan, juga punggungku pun terasa sangat panas. Tadinya aku pikir itu adalah akibat aku begadang karena ini kali pertama aku bekerja di sift malam.


"Selanjutnya aku harus bagaimana?"


"Baca ayat kursi. Kami akan bantu membuat mereka menjauhimu!"


Mereka? Apa itu artinya sosok tidak kasat mata yang menempel padaku ada lebih dari satu? Tapi kenapa harus aku yang dijadikan sandaran untuk mereka? Mengapa aku yang mereka ikuti? Banyak pertanyaanku yang melayang di benak.


"Mbak, jangan sampai kosong pikirannya. Kami akan bantu semampunya. Insyaallah, tidak ada yang bisa melawan kuasa-Nya."


Aku memejamkan mata ini, lirih aku melantunkan ayat kursi. Namun, saat ayat kursi belum selesai dilantunkan, tiba-tiba saja tubuhku bergerak tanpa bisa aku kendalikan. Aku mengangkat sebuah meja yang digunakan untuk mesin obras dengan satu tangan. Aku melemparkan kepada para pria yang tengah mendoakan tubuhku. Aku ingin menghentikan aksi menyerang para sesepuh, tapi tubuh ini seolah bukan milik otak dan hatiku. Aku berbuat semua dalam keadaan sadar tapi tidak bisa mengendalikan diriku.


"Mbak Hanna lawan, Mbak. Hanya kamu yang bisa mengalahkan mereka!" teriakan dari sesepuh membuatku berusaha mengendalikan tanganku.


"Mbak, nyebut nama Allah! Jangan biarkan mereka menguasai tubuhmu!"


Dengan susah payah dan perjuangan yang luar biasa, lirih aku menyebut asma Allah. Seketika tubuhku kembali menjadi milikku lagi. Aku pun langsung meminta maaf pada para sesepuh yang sempat terluka karena amukanku.


"Sudah, tidak apa-apa. Toh, ini semua di luar dari kehendak kamu pribadi. Mbak, apa kamu ingin tau wujud mereka yang menempel padamu?"


"Bagaimana wujud mereka, Pak?"


"Yang satu adalah wanita tanpa rupa dan yang lain berwujud kepala dan badan terpisah tapi sama-sama penuh dengan belatung."

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2