Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 85 : Mimpi Kematian


__ADS_3

Wulan memeluk erat sekali. Air mataku tertumpah begitu saja. Andaikan bisa rasanya ingin aku ungkap tindakan Bu Wati yang baru saja aku alami, tapi lagi-lagi ancamannya untuk mengirim video tidak senonohku ke ayah membuat nyaliku seketika menciut.


"Kamu baik-baik saja kan, Han? Atau ada sesuatu yang terjadi tapi kamu merahasiakannya dari aku?"


"Ti-tidak, aku baik-baik saja." Aku mengusap air mataku ini agar Wulan tidak curiga dengan kejadian mengerikan yang baru aku alami. Aku hanya sedang rindu berada dekat dengan orang tuaku saja. Nanti aku mau pulang saja."


"Tapi kan kamu harus kerja, apalagi kamu sudah masuk dua mingguan lebih. Apa tidak sayang? Kalau kamu keluar, gaji kamu selama ini tidak akan keluar lo. Kalau pun resign, biasanya satu bulan kemudian baru di-acc oleh kantor. Eh, tapi itu peraturan untuk perusahaan tempat aku bekerja, entah kalau pabrikmu. Coba saja kamu tanya sama supervisormu atau HRD. Sayang kan kalau kerjamu selama ini tidak dibayar. Untung di mereka dong karena mereka mendapat sumber daya manusia secara gratis."


Entah, sebenarnya aku tidak ingin berhenti bekerja dari pabrik karena di sini aku menemukan keluarga baru, sahabat baru, dan pastinya kekasih sebaik Ridwan, belum lagi pekerjaanku tidaklah terlalu berat. Namun, jika terus berada di sini rasanya aku tidak sanggup jika harus dalam ketakutan setiap harinya. Karena sewaktu-waktu Bu Wati bisa menghabisiku kapan pun, semuanya dan dengan cara yang tidak pernah aku duga. Semalam saja hanya dengan menyentuhku, tubuh ini langsung kaku dan tidak bisa digerakkan.


"Aku lelah, Lan. Sering diteror oleh makhluk tidak kasat mata. Aku juga takut karena sewaktu-waktu penyerang misterius itu bisa datang kapan pun," ujarku dengan suara bergetar. Wajah Bu Wati yang bengis kembali terlintas di pikiranku.


"Kamu tenang saja, di sini kamu tidak sendiri. Ada aku, lusa mungkin Lina juga pulang, ada juga Bu Wati yang siap dimintai tolong kapan saja juga. Ya, memang asal ada duitnya sih."


Mendengar Wulan menyebut nama itu membuatku semakin ketakutan. Tiba-tiba badanku merasa begitu kedinginan bahkan hingga seluruh tubuhku merinding juga menggigil kedinginan. Wulan yang menyadari karena melihatku hingga terguncang, segera mengulurkan punggung tangannya dan menyentuh dahi, leher, dan tanganku.


"Astaga! Badan kamu kenapa panas banget sih, Han? Kita makan ya habis itu minum obat, kebetulan aku punya stok parasetamol."


Dengan telaten, dia menyuapiku dengan nasi yang baru dibelinya tadi. Wulan bahkan belum mengganti pakaiannya. Mataku berkaca-kaca andai tidak ada hantu serta Bu Wati, si penebar teror. Maka aku akan jadi orang bahagia karena dikelilingi orang baik. Wulan juga membantuku meminum obat yang mempunyai nama cukup terkenal hasil produksi di perusahaan tempatnya bekerja.


"Sekarang kamu istirahat ya." Wulan tampak membenarkan selimut yang menutupi tubuhku. "Aku mau mandi dulu ya, Han. Kamu cepetan istirahatnya agar cepat sembuh."


Wulan meninggalkanku sendirian. Aku mendengar suara deburan air, rupanya tengah makan seperti ini Wulan tetap mandi. Perlahan mataku pun mulai terasa berat. Entah Memang karena efek obat yang aku minum, ditambah lagi ini memang sudah lebih dari tengah malam.

__ADS_1


Tidur kali ini, aku sama sekali menikmatinya, berkali-kali aku terjaga karena terus saja mengalami mimpi buruk. Terkadang aku bermimpi dikejar oleh hantu. Yang terakhir dan membuatku tidak bisa kembali tidur karena di mimpi kali ini Bu Wati dengan bengis menghabisiku dengan pisau yang terus dibawanya kemana pun, ada di balik bajunya. Berulang kali dia menikam perutku hingga robek dan berdarah-darah. Seketika aku terbangun dan meraba perutku, untunglah semua itu hanyalah sebuah mimpi meski tetap terasa nyata.


Tiba-tiba saja seringai dan tawanya yang lebih mengerikan dari suara Miss Kunti terus terngiang di telinga. Bahkan saat aku tutup telinga suara itu masih bisa ditangkap oleh indera pendengaranku.


"Sudah, hentikan!" Aku menangis tersedu-sedu. Teriakanku membuat Wulan terbangun dari tidurnya. Dengan panik, dia duduk di sampingku dan mengusap dahiku yang masih panas.


"Ada apa, Han? Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Wulan dengan wajah iba, dia menatapku.


"Tidak, ti-tidak. Aku hanya terjaga karena kedinginan."


tiba-tiba ponselku berdering menandakan ada sebuah pesan yang aku terima mataku terbelalak saat mengetahui siapa pengirim pesan kepadaku nama Bu Wati terpajang di layar ponselku.


"Ingat, kalau kamu melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati, maka bisa aku pastikan hari kematian menjemputmu adalah hari paling mengerikan untukmu. Kematian dengan cara paling sadis di dunia dan bisa dikatakan bahwa ini pembunuhan yang paling mengerikan selama ini. Bukan itu saja, aku dengar kamu mau pulang ke Ungaran? Ingat, Han. Kamu pergi ke manapun tanpa seizin dariku, maka bisa aku pastikan hanya jasadmu yang bisa pulang. Kamu akan mendengar orang tuamu menggerung, meratapi mayat anaknya yang mengerikan bahkan mungkin mereka tidak akan aku beri kesempatan untuk melihatmu, melainkan hanya namamu saja."


Tanganku gemetar saat aku membaca pesan dari wanita yang jiwanya tidak sehat itu, bahkan ponsel ini hampir terjatuh dari genggamanku.


Buruk! Tentu saja sangat buruk. Sekarang aku bagai dikurung dalam indekos berdarah. Karena kemana pun aku pergi, aku harus melapor ke Bu Wati. Entah kapan aku bisa lepas dari semua ini. Andai kata, waktu itu aku mengikuti saran kakakku untuk ke Jakarta, pasti hidupku lebih tenang. Karena di sana aku tinggal bersama dengan keluargaku, tidak seperti sekarang hidup jauh dari orang-orang tercinta, ditambah lagi hantu yang terus bermunculan. Tau begini, aku dari dulu saja pulang ke Ungaran dari hari pertama aku mendapat teror. Jadi semua ini bergulir sampai sekarang dan semakin parah.


"Han, kalau kamu ada masalah apa-apa, bisa kita diskusikan untuk mencari penyelesaiannya. Siapa tau bisa membantumu atau setidaknya bisa sedikit membuat hatimu lega."


Aku hanya mengangguk, kemudian kembali membenarkan letak selimut yang sedikit tersingkap. "Aku baik-baik saja, Lan. Maaf karena aku mimpi buruk, kamu jadi terbangun. Kita tidur saja yuk."


Aku pindah posisi, kini aku membelakangi Wulan. "Han, kamu yakin baik-baik saja?" Wulan masih memburuku dengan pertanyaan yang sama. Buru-buru aku menatapnya dengan penuh senyuman, aku coba meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tidak mau terlalu membebani wanita yang punya tanggung jawab dan masalahnya jauh lebih besar dariku.

__ADS_1


Baru setelah melihat senyumanku, Wulan tampak percaya padahal itu hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Belum ada sepuluh menit aku mendengar dengkuran yang berasal dari mulut Wulan. Setelah aku rasa dia terlelap, aku kembali terisak meratapi nasibku yang sudah di ujung tanduk itu.


Azan Subuh berkumandang, aku memilih menenangkan hati dengan bersimpuh di hadapan-Nya. Aku mencurahkan semua perasaan beratku ini. Air mataku mengalir menetes ke sajadah biru, hadiah terakhir dari ibuku.


Entah berapa lama aku berdoa dan bersimpuh, hingga aku mendengar suara ketukan dari luar. Ah, jangan-jangan itu Bu Wati dan mau menyiksaku lagi. Tidak, lebih baik aku biarkan saja.


Ketika itu terus terdengar, aku memberanikan diri untuk melihat seseorang yang ada di depan pintuku dengan cara mengintip dari tirai jendela. Aku sangat terkejut saat mendapati tiga sosok yang berdiri tegak di depan pintu.


"Assalamualaikum, Mbak Hanna!" Itu teriakan Bu Wati. Lalu siapa dua orang berbadan tegap itu? Apa mereka adalah suruhan Bu Wati untuk menghabisiku? Lebih baik aku bangunkan Wulan saja. Dengan mata mengerjap wanita itu terbangun.


"Ada apa?" tanya Wulan sembari menguap.


"Di-di luar ada dua orang berbadan besar bersama Bu Wati. Aku takut kalau harus sendirian menemui mereka, Lan. Makanya aku bangunkan kamu agar menemaniku."


Wanita yang masih terlihat mengantuk itu segera membuka pintunya tanpa membasuh wajahnya dahulu. Rambutnya pun seperti singa, berantakan.


"Ada apa, Bu?" Wanita itu bertanya pada Bu Wati.


"Mereka mau bertemu kalian berdua." Setelah menjawab pertanyaan Wulan wanita paruh baya itu menyilakan kedua pria asing itu mengutarakan kunjungannya mereka pada hari yang masih sangat pagi ini.


"Mohon maaf ibu, kami mengganggu di pagi hari seperti ini. kami sangat mengharapkan kehadiran Ibu Lan serta saudara Hana di kantor polisi untuk menjadi saksi atas hilangnya saudari Intan."


Aku dan Wulan saling pandang karena bingung bagaimana cara harus aku jelaskan kepada mereka sebuah kejadian yang tidak masuk di akal. Haruskah aku katakan bahwa Intan tidak akan pernah ditemukan karena baik jiwa dan raganya terjebak di dunia gaib sebagai balasan akan perbuatannya telah bersekutu dengan iblis demi memenuhi keinginannya.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2