
Apa lagi ini, kenapa suara yang sering aku dengar semenjak tinggal di indekos ini muncul di saat yang tidak tepat sekali. Aku berlari menuruni tangga hingga hampir terjungkal. Karena aku tau betul siapa yang akan aku temui jika aku menoleh ke kiri. Pasti dia hantu kepala yang senang sekali menggangguku.
"Pergi, jangan ganggu ya." bisikku perlahan berharap rasa di berat di bahu hilang. Namun, rasanya semakin berat saja. Aku seperti memikul beban berat tapi hanya di bahu kiri saja. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku mengibaskan tanganku di bahu, berharap dia segera pergi tetap saja tidak bisa. Bahkan lirih bisa aku dengar tawanya yang khas.
Rasa itu hilang tepat saat aku sudah ada di depan kamarku. Bu Wati keluar dengan wajah yang basah karena keringat. Bajunya pun seperti terkena bercak darah.
"Bu, di mana Wulan sekarang? Apa dia dalam keadaan baik-baik saja atau sesuatu yang buruk? Ini kenapa baju Bu Wati belepotan merah seperti ini? Apa ini darah? Darah siapa?"
Aku berondong Bu Wati yang masih menggenggam ponselnya.
"I-itu siapa, Wati?" Suara seorang pria terdengar dari ponsel Bu Wati.
"Oh, dia ini penghuni kamar tiga belas, Tuan. Saya matikan ponselnya dulu, Tuan." Wanita itu hanya mendapat jawaban satu kata yaitu iya, dengan cepat tangannya yang sedikit gemuk mematikan ponselnya.
"Bu, Wulan bagaimana keadaannya? Apa makhluk itu mau keluar dari tubuh Wulan?"
"Sabar, Mbak Hanna. Saya akan jawab pertanyaannya satu-satu dulu ya."
Bu Wati pun menerangkan keadaan Wulan yang sudah stabil dan kini tengah istirahat karena energinya terkuras habis saat makhluk tidak kasat mata tadi merasukinya. Butuh perjuangan yang keras bagi si pemilik indekos mengeluarkannya apalagi ini lewat virtual. Bu Wati yang memegang ponsel, seringkali diserang oleh Wulan. Bahkan pelipis Bu Wati terluka karena terantuk sudut almari kecil yang ada di kamarku.
"Mbak Hanna, apa punya obat merah dan kain kassa karena tadi sebelum saya masuk ke kamar, Mbak Wulan sempat menggores-gores telapak tangannya dengan pisau kecil. Bahkan jika saya terlambat masuk tadi mungkin Mbak Wulan sudah tidak ada karena dia hampir mengiris nadinya sendiri. Saya cuma membebat lukanya dengan kain seadanya. Entah tadi baju siapa yang aku ambil."
"Hanna beli dulu ya, Bu. Kasihan dia pasti kesakitan."
"Tidak mau lihat keadaan Mbak Wulan? Biar dianya tenang karena sudah ada Mbak Hanna."
Aku menuruti ucapan Bu Wati untuk melihat kondisi Wulan dulu. Saat aku memasuki kamarku, kondisi yang mengejutkan menyambutku. Semua barang porak-poranda, baju berserakan. Piring dan gelas hampir semuanya pecah, dan yang paling memprihatinkan adalah Wulan. Wanita yang biasanya ceria itu tergolek lemah di atas kasur. Pipinya penuh luka cakaran, tangannya dibebat kaus putih dan ada darah yang membekas di sana.
"Wulan, kamu sudah lebih baik?" tanyaku sembari mengusap dahinya yang penuh peluh. Sesak rasanya ketika wanita yang biasa ceria itu berubah menjadi lemah. Dia hanya sekejap membuka matanya ketika mendengar ucapanku tapi kemudian memejamkan matanya lagi.
"Lan, aku belikan makanan ya, agar tubuhmu lekas pulih." Dia tetap terpejam, tapi aku yakin dia pasti mendengar ucapanku, hanya tenaganya telah habis untuk merespon.
Buru-buru aku keluar kamar, rasanya tidak kuat berlama-lama melihatnya terkulai lemah seperti itu. Pintu aku tutup kembali dengan perlahan, di luar pintu aku terduduk dan menangis karena sedari tadi menahan air mata ini jatuh di depannya.
"Mbak Hanna baik-baik saja kan?"
"A-aku tidak tega melihat Wulan seperti itu, Bu. Rasanya sesak sekali melihatnya. Dia sudah dikhianati, masih harus menanggung beban seperti ini."
Bu Wati terus menasihatiku agar kuat dan membantu pemulihan fisik maupun psikis Wulan yang bisa dibilang tidak sedang baik-baik saja. Ya, dia benar aku harus membantu masa pemulihan Wulan, bahkan malah ikut larut dalam kesedihan.
"Bu, aku nitip Wulan sebentar ya. Aku mau beli makan sama sekalian obat buat tangannya yang terluka." Wanita paruh baya itu mengangguk setelah mengatakan agar aku hati-hati dan tetap tenang karena aku akan mengendarai motor, takut justru aku yang celaka karena berkendara dengan pikiran yang kalang kabut.
__ADS_1
Aku bergegas mengendarai motor Wulan, untunglah tadi aku sempat mengambil kunci motor Wulan yang terhempas di kamar mandi. Tempat yang aku tuju pertama kali adalah warung makan. Aku memilih singgah di warung lesehan yang menyediakan berbagai menu berbahan dasar ayam. Aku memesan empat bungkus nasi dan ayam goreng untuk Wulan juga Bu Wati yang terlihat lemas tadi. Lagi pula pasti energinya pun terkuras karena terus memegangi Wulan yang berontak.
"Bu, apa tidak asa yang seger-seger gitu?" tanyaku pada wanita yang tengah menggoreng ayam. Niatku, mau beli sayur seperti sayur asem yang biasa tersedia di warung ayam seperti ini agar nafsu makan Wulan membaik.
"Yang seger-seger? Rujak maksudnya? Ya tidak ada lah, Mbak."
"Bu-bukan, Bu, bukan itu maksudku. A-anu, aku itu nyari sayur asem atau apalah itu yang berkuah." Wanita itu membulatkan bibirnya.
"Ada, Mbak. Di sini ada sayur asem, tumis kangkung, dan trancam."
Aku menautkan alisku mendengar kata terakhir yang ibu itu ucapkan. "Terancam? Terancam apa, Bu? Terancam bahaya?"
Ini penjual itu justru terkekeh mendengar pertanyaanku. "Trancam itu nama makanan, Mbak. Seperti gudangan, halah itu lo mirip urap sayur tapi ini bahannya mentah. Seperti kacang panjang, kecambah, timun. Itu semua dicampur pake sambel dari parutan kelapa."
Aku mulai mengerti, memang Solo dan sekitarnya ini bisa dikatakan surga makanan. Segala rupa makanan ada, tidak jauh beda dengan Ungaran sebenarnya.
"Ya sudah, Bu. Sayur asemnya dua porsi saja."
Wanita itu dengan cekatan membungkus pesananku. Aku bergegas kembali membelah jalan menuju ke arah apotek tidak terlalu jauh dari pabrik. Di sana aku pesan obat merah, perban, dan kain kassa. Aku juga membeli salep juga obat oral sesuai saran dari sang apoteker untuk jaga-jaga agar luka Wulan tidak infeksi. Dia juga menyarankan agar sementara Wulan makan sesuatu yang halus seperti bubur dan juga meminum madu agar energinya pulih.
Tidak apa-apa, uang tabunganku menipis asal Wulan dalam keadaan baik-baik saja. Rejeki bisa dicari lagi. Aku mencari kios yang jualan bubur sesuai petunjuk yang diberikan apoteker tadi. Setelah cukup lama berputar, aku menemukan kios kecil yang cukup ramai pembeli. Dengan perasaan cemas aku menunggu giliran agar bisa memesan bubur.
"Bu, buburnya dua bungkus, ya."
Kakiku lemas mendengarnya, setelah cukup lama aku menunggu tapi saat giliranku tiba sudah habis. Aku pun bisa mendengar decak kecewa dari pengunjung lain. Ah bagaimana ini, aku tidak mungkin mencari kios lain karena sudah terlalu lama aku pergi meninggalkan Wulan yang lemah sendirian.
"Bu, apa benar-benar tidak ada sisa? Soalnya teman saya lagi sakit, dia sangat lemah," tanyaku sekali lagi, dengan harapan ada keajaiban.
"Tunggu, Mbak. Ini tinggal koretan, kamu mau?" Wanita itu mengangkat pancinya serta menunjukkan padaku isinya yang memang tinggal sisa.
"Tidak apa-apa, Bu."
Perempuan itu segera mengeruk pancinya. Aku bisa melihat beberapa kerak bubur yang sedikit kecokelatan ikut terangkut. Tidak apa yang penting bisa dimakan. "Mbak, ini sayurnya tinggal terik telur, itu pun telurnya sudah agak hancur. Ibu masukin sekalian ya?"
"Iya, Bu. Yang penting ada rasanya."
Wanita itu mengangsurkan bungkusan bubur itu kepadaku. Namun, saat aku bertanya berapa harganya, dia bilang itu gratis karena yang aku bawa itu sebenarnya tidak layak untuk dihargai berapapun.
"Tapi, Bu."
"Tidak apa-apa, Mbak. Itu juga sisa-sisa. Semoga saja temennya Mbak segera sembuh."
__ADS_1
Ribuan terima kasih aku ucapkan pada wanita yang mungkin usianya tujuh puluhan tahun itu. Aku hendak meninggalkan kios yang sudah sepi karena pembeli yang tidak kebagian sudah pergi. Tiba-tiba saja dari arah belakang seorang anak kecil berlari dan menabrakku. Aku yang tidak siap, membuat plastik yang aku bawa terhempas ke jalanan. Tentu saja isinya pun pecah dan tumpah ke mana-mana. Mataku tergenang, bayanganku melihat Wulan makan dengan lahap memudar hingga tidak aku dengar anak itu berkali-kali minta maaf padaku. Aku tertunduk sembari menatap bubur yang telah menyatu dengan tanah itu. Aku hanya bisa terisak, sampai seseorang menepuk pundakku dengan lembut.
"Ada apa, Mbak?"
Suara itu begitu aku kenal. Aku membalikkan badan, benar saja dia selalu datang saat aku butuh sandaran. Tanpa memedulikan sekitarku, aku peluk erat tubuhnya. Aku menumpahkan air mata ini dalam dekapannya yang begitu hangat. Aku bisa merasakan sentuhan tangannya.
"Han, ada apa?" tanyanya sembari mengusap air mataku yang membasahi pipi.
"Wan, buburku tumpah padahal aku butuh banget," ujarku di sela tangisanku.
"Kita cari lagi sama-sama ya. Jangan nangis seperti ini nanti cantiknya hilang."
"Tidak bisa. Aku harus pulang karena Wulan sudah menunggu di rumah. Kasihan, dia pasti semakin lemah sekarang." Aku melepaskan pelukanku di indekos, Wulan sedang membutuhkanku.
"Ya sudah, aku antar ya."
"Tidak perlu, aku bawa motor. Aku duluan ya, Wan." Aku bergegas meninggalkan Ridwan yang termangu sendiri menatapku. Segera aku geber motor dengan kekuatan penuh berharap agar segera bisa pulang ke indekos.
"Bu Wati, bagaimana keadaan Wulan? Maaf lama tadi beli bubur tapi..."
"Masih lemas, Mbak. Aku coba bangunkan juga tidak ada respon, badannya sangat panas."
Aku pegang dahi Wulan, benar dia tengah demam tinggi sekarang. Ah, bagaimana aku bisa lupa membeli obat pereda nyeri. "Bu Wati, apa kita bawa saja ke rumah sakit ya?"
"Iya, Mbak. Dibawa saja ketimbang ada hal-hal yang tidak diingini, tapi yang jadi masalah sekarang bagaimana cara kita bawa Mbak Wulan ke sana. Di sini tidak ada mobil. Tidak mungkin kita ke sana dengan mengendarai motor."
"Kita pesan taksi online saja, Bu. Bentar aku pesan dulu. Bu Wati nanti bantuin aku bopong Wulan saja kalau mobilnya datang. Sekalian tolong carikan dompet Wulan di tas itu ya, Bu. Aku butuh KTP Wulan saat di rumah sakit nanti."
Bersamaan dengan jariku menekan aplikasi taksi online, aku mendengar suara orang mengucap salam di depan pintu. Ah, aku cukup terkejut rupanya ada Ridwan sudah berdiri di depan pintu, memamerkan deretan giginya yang manis.
"Maaf, Han, aku tadi mengikuti kamu. Karena aku kuatir sama kamu yang tadi terlihat panik. Ada yang bisa aku bantu?"
"Ah, pas banget aku butuh bantuanmu untuk bopong Wulan buat bawa dia ke rumah sakit. Aku mau pesan taksi online dulu."
"Tidak usah pesan. Aku bawa mobil."
Tanpa aku minta pria jangkung itu menggendong tubuh Wulan yang terkulai lemas dan membawanya ke dalam mobil yang terparkir di luar indekos. Lina yang baru saja turun sempat ingin menemaniku ke rumah sakit tapi aku tolak karena aku tau dia hendak pulang ke Klaten.
Pintu mobil akan aku tutup tepat saat itu, hantu tanpa kepala itu datang dengan menenteng kepalanya. Aku hampir berteriak karena dia berdiri di samping Lina.
"Hanna, aku akan membantumu membawa jiwa Wulan kembali," ujarnya sembari menyeringai lebar. Rupanya makhluk itu tidak semenyeramkan bentuknya.
__ADS_1
...----------------...
...--bersambung--...