
Aku terus memegangi lengan Wulan dengan kuat, sementara mataku terus menatap para pria yang sebagian tubuhnya rusak. Ada yang telinganya hilang, tempurung kepalanya terbuka, ada yang wajahnya rata seperti teramplas sesuatu dengan darah yang terus saja menetes.
"Lan, pulang yuk," bisikku pada wanita yang tengah sibuk melihat buku menu itu. "Lan!" panggilku lagi sembari menarik-narik tangannya.
"Ada apa sih, Han? Ini lo, aku lihat menu makanan. Kayanya enak-enak, kamu mau yang mana?"
"Ogah, aku mau pulang saja! Di sini banyak hantunya, aku mau pulang."
Ridwan, Indah, dan Wulan seperti tidak mendengarkanku. Mereka terlalu sibuk dengan buku menu yang tengah mereka baca. Aku harus mencari cara untuk bisa menyadarkan mereka dan keluar meninggalkan warung lesehan yang mengerikan itu.
"Yang, ayo, kita pulang!" Lagi dan lagi ketiganya sama sekali tidak mengajukan ucapanku. Baiklah aku akan pergi sendiri saja. Aku meraih ponselku dan tas kecil yang berisi dompetku. Namun saat aku berdiri dan mengayunkan langkah, kakiku seperti kembali dicengkeram dengan kuat dan lututku gemetar. Dengan satu tarikan, potongan itu membuatku terjengkang dan duduk kembali.
Aku melihat Indah tengah berbincang dengan salah satu pelayan di sini, sepertinya mereka sudah sepakat memilih makanan tanpa bertanya dulu padaku.
"Mbak, sop buntut dua, nasi empat, es teh empat."
Perempuan yang mengenakan baju berlogo warung lesehan itu mengulangi apa yang Indah pesan untuk kami.
"Ayo, kita pulang saja. Di sini penuh hantu!" Aku menarik tangan Ridwan yang telah menopang dagu dengan pandangan yang kosong. "Ridwan!" panggilanku sama sekali tidak diindahkannya.
Aku sampai menggebrak meja agar tiga orang terdekatku itu memedulikanku.
"Han, kamu kenapa sih? Tiba-tiba menggebrak meja." Wulan menautkan kedua alisnya, sementara Ridwan yang tadinya bertopang dagu menatapku sembari mengusap tanganku.
"Ayo kita pulang, di sini itu banyak hantunya! Kalian juga tadi tidak mengacuhkanku sedari tadi. Dari tadi aku mencoba bicara..."
"Sabar dulu. Ini diminum dulu biar kamu tenang." Wulan menyodorkan botol minum yang selalu aku bawa terus. Segera aku minum agar menetralkan detak jantungku yang terasa sangat cepat.
"Kenapa, Han? Dari awal saat kita masuk kamu diam dan melamun lalu tiba-tiba marah sampai menggebrak meja.
"Di sini banyak hantunya, Lan. Aku dari tadi mengajak kalian pulang tapi kalian diam dan sibuk sendiri."
Wulan dan yang lain memandang sekitar tempat ini. "Coba kamu lihat lagi, ada tidak hantunya. Dari tadi yang diam dan melamun itu kamu, Han. Bahkan saat kami tanya kamu mau makan apa, tidak menjawab."
"Be-benarkah? Tapi aku bisa melihat hantu mengerikan ada di mana-mana, Lan."
"Coba, Mbak lihat lagi," usul Indah aku tanggapi dengan senyum getir. Mataku menjelajahi seluruh sudut warung lesehan ini. Semuanya tampak normal, tidak ada potongan tangan yang mencengkram kaki para pengunjung. Para pria mengerikan juga hilang bahkan wanita bertaring yang semula duduk di meja kasir pun lenyap, entah ke mana.
__ADS_1
Aku mengucek mataku berkali-kali tapi tetap saja semuanya tampak normal, hantu-hantu yang aku lihat sudah hilang.
"Ayang, kamu lihat apa?" Aku menggeleng tentu saja karena memang aku tidak melihat lagi.
"Tidak ada apa-apa. Mungkin kalian benar, ini hanyalah halusinasiku belaka."
Aku mencoba tersenyum meski hatiku gelisah. Sebenarnya aku kenapa, mengapa bertingkah aneh seperti tadi. Ketiga orang terdekatku berusaha menghiburku serta mengalihkan pembicaraan dengan melemparkan beberapa banyolan.
Tidak perlu lama menunggu, pesanan kami datang. Dua mangkuk sop buntut panas yang masih mengepulkan asap tersaji di tempat kami. Harum kaldu berpadu dengan wanginya rempah sepertinya akan mampu membangkitkan selera makanku meski itu di tengah malam seperti ini.
"Ayo, makan!" Indah terlihat bersemangat sekali saat menyeruput kuah sop yang memang terlihat begitu menggiurkan itu.
"Yang, makan. Kamu jangan melamun saja." Ridwan mengambil piring nasi dan diberikannya kepadaku. Aku hanya tersenyum tipis, ya aku tidak boleh lagi melamun karena sedikit saja meleng hal-hal gaib langsung bisa menembusku. Bahkan aku bisa melihat hal-hal di luar nalar.
"Sini aku ambilin nasi sama sopnya, Yang." Aku meminta piring Ridwan. Ketika piring sudah ada di tanganku, maka dengan cepat aku ambilkan nasi. "Sopnya biar tetap di mangkok atau aku guyurkan di piring?"
"Biar di mangkok saja, Yang. Mana piringmu biar gantian aku yang mengambilkan untuk bidadariku tercinta."
"Tidak usah, aku ambil saja sendiri."
"Yang, kenapa tidak makan?"
Mana mungkin aku jujur padanya kalau melihat potongan jari, bisa-bisa semua orang heboh. Aku harus memikirkan alasan yang tepat agar tidak makan.
"Aduh, perutku sakit. Kayanya mau kedatangan tamu. Aku ke toilet dulu ya, Yang."
Tanpa menunggu jawaban dari kekasih hatiku, aku bergegas menghampiri salah seorang pegawai warung lesehan itu.
"Mbak, mau tanya, a-anu toilet di mana ya?"
Wanita yang tampaknya sebaya denganku itu menunjukkan jalan kecil yang berada di samping warung lesehan.
"Masuk saja, Mbak. Itu toiletnya ada di pintu sebelah kiri ya. Jangan yang kanan."
Aku berlalu setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih padanya. Lorong kecil yang memisahkan kedua tokoh ini sangat gelap. Aku sempat heran kenapa pihak warung tidak menyediakan lampu agar setiap konsumen yang hendak membuang hajatnya merasa aman.
Dengan cepat aku menuntaskan hajatku. Entah kenapa aku merasa tidak sendirian di dalam kamar mandi, seperti ada yang memperhatikan. Telingaku pun rasanya seperti ada yang meniup, entah itu angin atau... Ah, lebih baik aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak kasat mata. Orang bisa saja menganggap aku gila karena terus saja hidup dalam ketakutan. Rasa-rasanya saat aku berada di Ungaran, tidak pernah mengalami kejadian mistis seperti ini.
__ADS_1
Perlahan aku dengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mandi. Mungkin itu sesama pembeli yang juga ingin buang air sepertiku. Ketukan kedua terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Aku sedikit menggerutu kenapa orang jaman sekarang tidak bisa menunggu sebentar saja. Ketika ketukan ketiga, dengan suara baru aku jawab dengan suara cukup keras.
"Sabar sedikit ya. Sebentar lagi keluar kok," sahutku dengan kesal. Aku buru-buru keluar dari kamar sembari bersiap mengomeli seseorang yang dari tadi mengetuk pintu. Namun, saat aku buka pintu kamar mandi, tidak ada seorangpun yang ada di sana. Kalau toh lari, aku pasti mendengar derap langkahnya.
Saat mata ini terus mencari sosok yang tadi mengetuk pintu. Tiba-tiba pintu kamar mandi tertutup dengan keras seperti dibanting. Aku terperanjat akan hal itu sekaligus bingung karena dari tadi tidak ada siapapun, terus siapa yang baru saja masuk ke kamar mandi. Belum hilang rasa terkejutku, indera pendengaranku menangkap suara air keran yang mengalir terdengar pula suara seperti orang mandi.
Lebih baik aku segera ke depan saja, daripada terus-terusan mendengar hal yang menakutkan. Dengan sedikit berlari, aku berusaha menyusuri lorong yang sangat gelap itu. Ini kenapa lorong terlihat jauh sekali, mungkin karena aku ketakutan jadi untuk mencapai ujung lorong terasa jauh sekali padahal jarak sebenarnya adalah kurang dari lima belas meter saja.
Untunglah aku hampir sampai ke depan. Namun, tiba-tiba saja sesosok pocong menghadang langkahku.
"Arrghh!"
Sudah tidak aku pedulikan lagi kata orang nanti karena terus membuat kegaduhan.
"Tolong!" Aku berusaha meminta tolong orang-orang yang tengah makan di depan. Namun, mereka sepertinya tidak mendengarkanku, mereka masih sibuk berbincang sembari melahap makanan yang tersaji di depan mereka. Tanganku melambai ke arah para pegawai yang dari tadi berlalu lalang pun, tidak ada yang menggubris. Sementara sosok menyeramkan di depanku kian bertambah. Jika tadi hanya sosok pocong dengan wajah hancur, sekarang ada pula pria yang tempurung kepalanya terbuka sampai otaknya terlihat, dan yang ketiga bisa dibilang wajahnya paling bagus tapi dia kehilangan tangan kanannya.
Meski ketakutan, mataku terus saja menatap ketiganya. Terakhir aku terus menatap hantu pria yang kehilangan tangannya itu. buB
Bukankah dia pria bertompel itu, pria yang sudah mematahkan hati Melati sampai gadis itu rela menjadi budak sang penari untuk selamanya.
"To-tolong kami!" ucap ketiga hantu itu bersamaan.
"Ba-bagaimana aku bisa menolong kalian, dunia kita sudah jauh berbeda? Aku tidak bisa menolong kalian. Sekarang biarkan aku pergi." Aku berusaha untuk setenang mungkin dalam menghadapi mereka.
"Tolong!"
"Tidak bisa, aku tidak bisa. Biarkan aku pergi."
Tiba-tiba pria bertompel yang semula matanya meredup, kini berubah menjadi merah menyala. Tangan kirinya digunakan untuk menarikku. Aku ingin melawan, tapi tenaga makhluk tidak kasat mata itu jauh lebih besar dariku. Tubuhku diseret bahkan aku melewati banyak orang termasuk Ridwan, Wulan dan Indah.
"Wan, tolong aku!" Lagi-lagi sepertinya mereka pun sama seperti yang lain, tidak mendengar dan melihatku. Padahal aku diseret di depan mata mereka. Sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa mereka menyeretku, lalu mereka akan membawaku ke mana?
Pria itu mendorongku di tengah rel kereta api. Dari arah depanku, aku bisa melihat silaunya lampu kereta, tanah tempatku berpijak terasa bergetar karena kereta api melaju semakin mendekat. Kini Hanya tinggal menunggu detik akhir hidupku karena sudah pasti tubuhku akan hancur saat dihantam oleh kereta api yang beratnya berton-ton itu.
...----------------...
...--bersambung--...
__ADS_1