Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 30: Ayam Cemani


__ADS_3

Aku terus memandang gadis yang tengah terlelap, terlihat tenang tidak seperti tadi saat dia terus saja menangisi sepupunya. Pikiranku masih saja terganggu pada ucapannya tadi. Kenapa sampai dia berkata demikian, apa karena Ridwan? Ah semoga bukan itu, paling dia takut nasib kami seperti Gayatri dan Intan yang hancur karena keberadaan seorang pria.


Aku mulai terlelap saat mataku mulai tidak bisa menahan kantuk setelah semalaman dipaksa untuk terjaga karena tuntutan pekerjaan. Berbeda dengan saat aku tinggal di indekos, semenjak tinggal di keluarga Indah ada rasa nyaman dan tenang. Aku terbangun ketika azan Zuhur telah lama berlalu, padahal rasanya mata ini baru terpejam.


Sekilas aku hidupkan layar ponselku, alangkah terkejutnya aku ini sudah pukul setengah tiga. Hanya tinggal sebentar lagi azan Asar berkumandang.


Tumben tadi tidak ada ketukan pintu yang biasa dilakukan oleh Bu Yuni. Mungkin dia masih bekerja dan belum pulang. "Indah ayo bangun, kita salat dulu yuk. Waktunya hampir habis lo. Takut tidak keburu nanti, tau-tau sudah Asar."


Aku terus menggoyangkan bahu gadis yang tengah terlelap itu tapi dia hanya menggeliat-geliat dan kemudian tidur kembali. Lebih baik aku salat duluan daripada menunggu Indah nanti kelamaan biar Indah aku bangunkan selepas aku bersujud di hadapan Sang Pencipta.


Usai aku adukan semua keluh kesahku pada-Nya. Aku bergegas membangunkan Indah yang masih memeluk guling bermotif hello kitty, mulutnya yang sedikit terbuka serta air liur yang sudah berjejak di mana-mana tetap tidak mengurangi kecantikannya.


"Ndah, bangun salat dulu yuk!" ujarku sembari mengusap dahinya yang berkeringat. Indah terbangun dan mengerjapkan matanya.


"Hoah! Ini jam berapa sih, Mbak? Baru juga merem sudah dibangunin."


"Jam tiga kurang sepuluh. Cepetan kamu salat, sudah mau habis waktunya."


"Astaga!" Gadis itu segera terbangun dari tidurnya.


Dengan gontai gadis berkulit kuning Langsat itu pergi ke belakang, sementara aku tafakur menatap layar ponsel. Ada beberapa panggilan tidak terjawab rupanya dari Wulan.


Ada apa tumben sekali ibu dua orang anak itu menghubungiku. Segera aku hubungi nomornya, siapa tau ada yang penting.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya panggilanku terjawab juga. Suara riang dari seberang sana, membuatku tersenyum.


"Hanna, akhirnya kamu telepon aku juga. Aku itu..."


"Oi, ucap salam dulu kali, Bu." Terdengar suara tawa yang membahana saat ucapannya yang merepet seperti kereta api itu aku potong tiba-tiba.


"Iya, lupa. Saking semangatnya mau ngobrol sama kamu jadi lupa ucap salam. Maaf ya, Han."


"Hmm, terus mana salamnya, mana? Jangan minta maaf doang dong," ujarku dengan nada tinggi mirip dengan sutradara yang tengah memarahi para artis. Bukannya menjawab, aku justru mendengar suara tawa meledak di seberang sana.


"Astagfirullah, lupa lagi. Aduh, perutku keram, bentar, Han."


Aku tau pasti saat ini Wulan terlalu semangat tertawanya sampai perutnya terasa kaku. Setelah menunggu cukup lama akhirnya Wulan mengucapkan salam kepadaku.


"Assalamualaikum, Han."


"Waalaikumsalam, Lan. Bagaimana dan ada apa? Tumben sekali kamu menghubungiku lewat telepon? Oh iya, maaf tadi aku masih tidur. Maklum sementara jadi temannya kelelawar dulu."

__ADS_1


"Temennya kelelawar atau temennya kuntilanak atau temennya makhluk tidak kasat mata lainnya?" Pertanyaan yang diajukan Wulan membuatku kesal. Andaikata dekat, aku sudah mencubitnya tapi sayang kami saat ini berjauhan jadi aku hanya bisa menahan rasa kesal ini sendiri.


"Sembarangan! Kalau temanku itu kuntilanak berarti kuntilanaknya kamu dong." Aku tertawa terbahak ketika suara Wulan berteriak-teriak terdengar.


"Amit-amit jabang bayi. Sudah cukup aku ketemu hantu yang nyamar jadi kamu waktu itu. Enggak lagi-lagi deh."


"Siapa tau kamu mau bersahabat sama mereka."


"Tidak sudi, mending temenan sama ayam ketimbang sama hantu. Han kapan kamu balik ke indekos ini? Sepi tau tanpa kamu apalagi belakangan ini Intan suka tiba-tiba pergi. Katanya ada urusan. Asli aku takut banget di sini sendirian apalagi kalau malam kelaparan, sekarang aku tidak berani turun sejak..."


"Sejak apa, Lan?"


"Sejak kamarmu kosong. Beberapa penghuni indekos sering mendengar suara tangisan di kamarmu. Padahal dulu, enggak pernah ada kejadian begini. Meski banyak cerita seram karena kamarmu tapi tidak sekalipun mengganggu."


Aku menghela napas. Terbesit tanya di dalam hati ini, apakah kejadian ini karena aku tidak memenuhi keinginan penghuni indekos itu? Aku tidak mau menolongnya? Tapi jika ingin menolong bagaimana caranya? Ah, entahlah aku jadi bingung sendiri.


"Han! Kamu masih di situ kan?" pertanyaan Wulan membuatku terkesiap.


"I-iya, aku masih di sini," ujarku sembari menggaruk kepala.


"Astagfirullah, aku hampir lupa. Sore ini kamu bisa ke sini, enggak? Nanti kamu berangkat kerjanya aku anterin deh. Apa sekalian ajak Indah?"


"Aku pengen ngobrol tentang Intan."


Aku mulai mengerti mungkin Wulan ingin memberi kejutan untuk Intan yang sebentar lagi akan menikah tapi bisa juga sebaliknya Wulan tidak tau menahu soal pernikahan yang akan digelar Intan. Entahlah, lebih baik nanti saja aku tanyakan pada Wulan.


"Han, bisa tidak kamu ke sini?"


"Iya, aku ajak Indah tidak apa-apa kan?"


"Iya, ajak saja."


Cukup lama berbincang, aku dan Wulan memutuskan mengakhirinya agar aku bisa bersiap untuk ke indekosku sekalian aku mau mengambil beberapa barang lagi.


Indah yang tadinya ingin aku ajak, nyatanya hanya bisa mengantarku karena dia akan pergi dengan keluarganya menghadiri pernikahan kerabatnya.


"Maaf ya, Mbak. Indah tidak bisa nemenin. Ini yang nikah itu adiknya Mbak Melati. Nanti kalau terlalu malam, Indah mungkin juga tidak masuk kerja, kemarin sih sudah izin sama Bu Ning."


"Iya, tidak apa-apa. Hati-hati ya di sana."


"Mbak, juga harus hati-hati. Jangan sampai digangguin sama hantu yang kepalanya tertebas itu," bisik Indah sembari melirik ke arah kamarku.

__ADS_1


"Inshallah, aman. Sudah kamu pulang saja. Kasihan bapak sama ibu kelamaan nungguin kamu." Aku mengusap helm yang dikenakan Indah.


"Indah pulang, ya."


Lambaian tangan mengiringi kepergian gadis yang begitu cantik itu sampai motornya hilang di pertigaan. Aku kembali menatap gedung yang tampak kusam itu dengan hati yang berdesir. Berharap selama beberapa jam ada di sini tidak ada yang mengganggu.


Sebelum ke kamar Wulan, aku putuskan untuk memasuki kamar yang menjadi momok bagi banyak orang itu. Pintu terdengar berderit saat aku buka kamar yang aku sewa itu. Kamar ini terasa begitu pengap serta lembab meski baru beberapa hari tidak dihuni.


Jendela kamar aku buka lebar agar sinar mentari dan juga angin segar mengganti suasana kamar yang pengap. Kamar mandi pun aku buka agar hawanya juga segar.


"Lo, Mbak Hanna kapan datang?" Tiba-tiba Bu Wati melongok, hampir saja membuatku terkejut dan berteriak karena mengira dia adalah hantu.


"Astaga, Bu Wati, ngagetin orang saja. Hampir saja aku teriak karena aku kira ada hantu."


"Mana ada hantu munculnya siang-siang, Mbak." Wanita paruh baya itu tampak tertawa.


"Siapa tau, Bu." Mataku beralih pada tas keranjang rotan yang tengah ditenteng oleh Bu Wati. "Eh, Bu Wati mau piknik kemana sih? Kok pakai acara bawa tas keranjang rotan seperti itu, kaya mau pesta kebun saja."


"A-anu, i-ini..." Wanita paruh baya itu tampak menyembunyikan tasnya ke punggungnya.


"Kok disembunyikan. Pasti Bu Wati mau piknik sama Pak Pardi ya. Ciye... Bu kalau mau pacaran itu biasanya malam minggu, ini malam jumat lo." Tawaku hanya ditanggapi senyum tipis di bibirnya.


"A-anu, Mbak Hanna, saya mau ke kamar dulu ya. Mau masak dulu. Oh iya, nanti malam, Mbak Hanna balik ke rumah temannya kan?"


"Tidak, Mbak. Soalnya saya kerja masuk malam."


"Syukurlah kalau gitu, Mbak."


"Kok syukurlah?" tanyaku sembari mengerutkan kening karena tidak tau maksud ucapan wanita paruh baya itu.


"Ya syukur, karena itu artinya Mbak Hanna lancar kerjanya. Ya sudah, Mbak. Saya mau naik."


Wanita itu tampak tergesa meninggalkan kamarku, baru beberapa langkah dia pergi, aku mendengar suara ayam berkokok berasal dari tas keranjang yang dibawanya, tidak lama kemudian sebuah kepala ayam menyembul dari dalam keranjang. Aku tersentak saat mendapati bukan ayam biasa di sana tapi ayam yang semuanya hitam, orang menyebutnya ayam cemani. Ayam cemani adalah ayam yang sering digunakan untuk ritual-ritual klenik.


Aku mencoba menepis pikiran buruk tentang Bu Wati yang membawa ayam cemani, mungkin saja ayam itu hendak dimasaknya. Namun, logika dan pikiranku kembali berkelana. Jarang sekali orang mengkonsumsi ayam hitam itu selain karena tekstur daging yang lebih keras, bahkan jika dimasak pun dagingnya berwarna hitam juga, harganya yang jauh lebih mahal dibandingkan ayam negeri atau ayam kampung. Di masyarakat pun mengonsumsi ayam cemani bukan hal yang biasa karena mitos-mitos yang sudah terlanjur berkembang luas. Lalu kenapa Bu Wati yang aku tau hanya mendapatkan upah tidak seberapa dari mengurus indekos ini membelinya. Bukankah akan menghabiskan gajinya saja. Ah biarlah, toh itu bukan urusanku. Aku memilih melanjutkan membersihkan kamarku. Apalagi Wulan tadi saat aku hubungi masih di luar untuk membeli beberapa bahan makanan.


Aku tengah mengelap lemari kecil dengan kain basah saat kalender meja tidak sengaja terjatuh. Aku merobek tanggal-tanggal yang telah berlalu. Bibirku yang tadinya bekerja sembari bersenandung menjadi terperangah saat menyadari bahwa malam ini tepat malam jumat kliwon, malam yang dipercaya para pengikut kegelapan adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan ritual klenik.


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2