
Wulan mendorongku hingga keluar kamar. Aku terjengkang bahkan ponselku entah terlempar ke mana. Wulan membanting pintu hingga menimbulkan bunyi berdentum cukup keras.
"Wulan, istigfar, Lan!" teriakku dengan lantang sembari mengetuk pintu itu berkali-kali. Dari dalam kamar aku mendengar suara Wulan yang tengah tertawa melengking dan terdengar mengerikan. Bagaimana bisa seseorang kesurupan di sore hari bukannya kejadian seperti ini terjadi pada malam hari. Ah entahlah, satu hal yang harus aku lakukan adalah mencari pertolongan agar Wulan tidak semakin lama dirasuki oleh setaann itu.
Aku mencoba mengetuk pintu kamar sebelahku tapi tidak ada yang membukanya, mungkin mereka belum pulang kerja. Lalu pada siapa lagi aku harus meminta bantuan. Ah, kenapa tidak aku coba meminta bantuan Bu Wati. Toh dia sering berurusan dengan hal klenik semacam ini. Langkah kaki aku ayunkan untuk menaiki tangga tapi keraguan kembali menerpa, pasalnya tadi siang akhir pembicaraan kami kurang enak. Dia seperti tersinggung walau entah apa sebabnya. Ah, yang paling penting saat ini adalah mendapatkan pertolongan untuk sahabatku yang tengah dikuasai oleh kekuatan tidak kasat mata itu.
"Bu Wati! Tolong! Bu!" teriakku sepanjang perjalanan ke kamarnya.
"Bu Wati!"
Teriakanku yang lantang membuat beberapa penghuni di lantai dua keluar kamar, termasuk Bu Wati.
"Ada apa, Mbak Hanna? Kenapa teriak-teriak seperti itu?"
"A-anu, itu, Bu. Wulan a-anu..."
"Tarik napas dulu, tenang dulu, Mbak." Wanita paruh baya itu meraih lenganku untuk menopang kakiku yang lemas dan gemetaran. "Atur napas dulu, setelah itu baru cerita pelan-pelan."
Setelah aku mengatur napasku, mulai aku menceritakan kondisi Wulan yang tengah dalam kontrol makhluk tidak kasat mata. "Hanna tidak tau cara untuk membebaskan Wulan, Mbak. Tadi saja dia mendorong Hanna sangat kuat sampai terpental keluar kamar."
"Jujur, Mbak. Saya tidak tau bagaimana cara menyadarkan orang kesurupan karena selama dua tahun tinggal di sini, hal yang paling serem adalah saat malam-malam mendengar suara tangisan di kamarnya Mbak Hanna."
"Ta-tapi kan, Bu Wati yang melakukan ritual di kamarku, memangnya Bu Wati tidak tau cara membantu Wulan?"
"Saya hanya melakukan apa yang diperintahkan pemilik indekos ini, Mbak. Bahkan untuk membaca mantra atau jampi-jampi, saya dibantu oleh beliau."
"Bu, coba minta sama pemilik indekos, siapa tau bisa membantu. Kasihan Wulan, Bu. Selain itu tindakannya bisa mencelakakan Intan juga."
Bu Wati dan juga yang lain sempat menanyakan apa hubungan Intan dengan kerasukan yang dialami oleh Wulan. Lebih baik tidak aku jelaskan dulu karena tujuanku adalah menyelamatkan kedua wanita itu, bukan membuka aib keduanya.
"Nanti saja, Bu. Tolong sekarang hubungi pemilik indekos ini, siapa tau bisa menolong Wulan, Bu."
"Oh iya, hampir lupa. Sebentar ya, Han. Aku ambil ponselku dulu." Tak berapa lama wanita itu keluar dengan ponsel yang tengah menempel di telinganya.
"Iya, Tuan, akan saya sampaikan ke penghuni indekos. Saya tutup dulu, Tuan." Wanita itu keluar dengan wajah yang sedikit menegang.
"Kalian semua diminta masuk ke kamar dan kunci pintu dan tutup jendela. Apa pun yang nanti kalian dengar jangan pernah keluar kamar atau mengintip. Kamu, Han, juga silakan masuk ke kamarnya Wulan di atas saja. Tunggu telepon dari saya, baru kamu keluar kamar."
__ADS_1
"Ta-tapi, Bu. Ponsel saya tadi terlempar entah ke mana saat Wulan mendorongku kuat-kuat, Bu."
"Mbak Hanna di kamarku saja!" Aku menoleh ke sumber suara itu, rupanya Lina sudah bergabung dengan kami semua.
"Ya sudah, cepat kalian masuk. Ingat jika belum aku beritahu lewat broadcast jangan pernah keluar. Karena pemilik indekos ini tidak tau apa yang akan dihadapinya."
Aku dan Lina bergegas naik ke kamarnya. Meski berat untuk meninggalkan Wulan sendirian di sana. Aku hanya bisa berharap bahwa makhluk itu kembali lagi seperti dulu. Setelah ini aku harus segera membuang kotak bedak sialaan.
"Lin, bagaimana ya caranya agar kotak itu hilang? Biar tidak merugikan siapa pun lagi, Lin."
"Lina juga tidak tau pasti, Mbak. Itu kotak usianya jauh lebih tua dari kita, Mbak."
Aku menghela napas panjang, ragaku memang ada di sini tapi pikiranku melayang ke mana-mana. Aku terus mencemaskan keadaan ibu dua anak itu. Bagaimana proses Bu Wati melepaskan makhluk tidak kasat mata itu, apakah itu akan menyakitinya atau tidak. Detik demi detik berlalu, waktu terasa terhambat bahkan seperti tidak bergerak. Berkali-kali aku tanya pada Lina untuk melihat grup chat yang memang dibuat khusus untuk penghuni indekos ini, masih kosong tidak ada tanda-tanda Bu Wati memberi kode bahwa semuanya aman.
Aku merebahkan tubuh di sebelah Lina yang tengah sibuk memainkan ponselnya tapi sejenak kemudian aku berdiri dan mondar-mandir.
"Mbak, tiduran saja. Kita doakan saja semoga Wulan baik-baik saja."
"Aku takut, Lin. Terjadi sesuatu pada Wulan." Aku meremas ujung bajuku hingga kusut, sesekali saking kuatirnya aku menggigit bibirku bahkan hingga berdarah.
"Mbak, itu bibirmu berdarah lo. Jangan digigitin terus, nanti saja kalau digigitin pacarnya saja."
"Pasti Mbak Hanna belum pernah ya?" Ada semburat malu di pipiku hingga membuat Lina tertawa kecil. "Nanti kapan-kapan deh, Lina kenalin cowok-cowok ganteng deh, biar Mbak Hanna tidak jomblo lagi. Mau model apa biar Lina yang cariin. Lina kalau milih laki pasti top deh, sesuai sama keinginan."
"Kamu itu lucu, Lin. Memangnya pria itu baju yang bisa dipilih." Aku membekap agar tidak tertawa terlalu keras.
"Nah gitu dong. Kan cantik kalau tertawa seperti ini." Rupanya lelucon yang dilemparkan Lina agar aku tidak terlalu tegang dalam penantian.
Sudah dua jam sejak semua penghuni kamar diharuskan mengunci dirinya tapi masih belum ada pemberitahuan apa-apa. Apa selama itu proses mengeluarkan jin dari tubuh manusia? Bukankah saat di pabrik ada kerasukan massal, para tetua hanya butuh waktu singkat.
Di tengah ketakutanku, terdengar suara pintu diketuk. Aku hendak meraih gagang pintu tapi buru-buru ditepis oleh Lina. "Kenapa?"
Gadis itu menempelkan telunjuknya di mulut. "Ssttt, kita dengarkan dulu, dia siapa?"
Pintu diketuk untuk kedua kalinya. Kali ini seorang di luar kamar terdengar memanggilku. Suaranya memang asing tapi mendayu dan begitu lembut. Aku ingin melihat sosoknya dari jendela. Seperti tau apa yang hendak aku lakukan, Lina pun mencegahku menyingkap tirai.
"Mbak, jangan! Ingat kata Bu Wati jangan ada yang keluar atau membuka tirai jendela sebelum dia mengirimkan pesan pada kita."
__ADS_1
"Ta-tapi..."
"Kita menurut saja ya."
Aku memilih menuruti ucapan Lina saja, lagi pula sudah seringkali aku tertipu dengan makhluk tidak kasat mata itu. Aku hampir terjebak di kampung dedemit jika tidak ada Simbok yang menyelamatkanku.
Benar kata Lina sepertinya yang ada di depan kamar bukanlah manusia karena setelah dia mengetuk pintu untuk ketiga kalinya, setelah itu terdengar suara tawa yang melengking. Aku dan Lina menahan napas saking terkejutnya.
"Lin, bagaimana ini?"
"Tenang, Mbak. Selama kita tidak membuka pintu dan tirai dan terus berdoa pasti makhluk itu segera pergi." Meski Lina berbicara dengan suara yang gemetar tapi setidaknya dia lebih pemberani dariku yang terduduk lemas dengan berurai air mata serta peluh yang membanjir.
"Lin, itu makhluk yang merasuki Wulan kali ya? Suaranya saja menyeramkan sekali apalagi wujudnya. Tidak bisa bayangin aku."
Menit demi menit berlalu dalam keheningan, Lina yang lebih dulu bisa mengontrol dirinya dibandingkan aku, menyodorkan segelas air mineral kepadaku. "Diminum dulu, Mbak. Biar sedikit tenang."
Aku minum hingga tandas air minum gelasan itu. "Terima kasih, Lin."
Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan Lina. "Lin, bagi resepnya dong agar cepat tenang seperti ini. Aku akhir-akhir ini terpaksa berinteraksi dengan mereka yang tidak terlihat tapi tetap saja ketakutan, rasanya sampai pengen ngompol. Sementara kamu kelihatan tenang. Memangnya kamu tidak takut?"
"Tentu saja takut, Mbak. Memang sejak dua tahun bekerja di salon membuatku mulai terbiasa dengan kehadiran mereka."
Aku terperanjat dengan penuturan Lina. Dua tahun sering bertemu dengan para hantu, aku tidak bisa membayangkan seperti apa mencekamnya. "Kok bisa seperti itu sih, Lin?"
"Di salonku itu banyak didatangi oleh arwah penasaran, kebanyakan mereka tidak terima kalau rambut mereka digunakan sebagai konde, rambut sambung, dan juga wig. Karena ada pelanggan yang hanya mau mengenakan dari rambut asli. Nah, ada beberapa produsen yang menggunakan rambut mayat, Mbak."
Aku bergidik ngeri dengan apa yang diceritakan oleh Lina, tidak terbayangkan harus berinteraksi dengan makhluk astral yang menuntut rambutnya. Ah, menyeramkan sekali.
Ponsel Lina tampak bergetar, menandakan ada pesan masuk di ponselnya.
"Mbak Hanna, Bu Wati kirim pesan di grup."
"Coba bacakan, Lin."
"Semoga tidak ada yang membuka pintu dan tirai jendela. Karena makhluk pemilik bedak itu meminta dua nyawa untuk menggantikan posisi Wulan dan pemakai bedak pelet sebagai budaknya!"
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...