
Kalau kata Wulan, pemilik indekos berdarah ini sangat mirip dengan Ridwan. Sedangkan kata Ridwan, setiap kali ibunya hilang selalu ditemukan di dekat gerbang indekos berdarah. Apa mereka saling berkaitan sebenarnya. Apa jangan-jangan, Ridwan itu—
"Han! Kamu kenapa sih? Malah melamun seperti ini?"
Aku terkesiap mendengar ucapan Wulan. "Ti-tidak, aku tidak melamun. A-aku hanya merasa sedikit lelah."
"Jelaslah kamu lelah. Orang dari pulang kerja sudah lewat tengah malam. Masih juga harus berpetualang di kampung gaib. Kita pulang saja yuk. Habis itu kita puas-puasin ngorok deh, biar tenaga pulih."
"Ish, terus yang mau membereskan kamarku siapa? Seram, Lan. Air keras berceceran di mana-mana, kalau kena kakiku pasti rasanya..."
Belum sempat selesai aku selesaikan ucapanku, Wulan memotongnya. "Rasanya pasti maknyus kan, Han." Wanita itu terbahak seolah jika kulit terkena air keras rasanya biasa saja.
"Apa sih, Lan? Sakit tau kena air itu. Kamu sih tidak lihat pas Intan kena. Aku tidak membayangkan rasa sakitnya seperti apa, Lan. Tubuhnya itu sudah penuh luka, tapi harus ditambah lagi terkena air keras. Hii, sedap banget perihnya."
"Mau bagaimana lagi, toh itu juga semua salahnya sendiri. Kalau kamu tidak melawan, pasti sekarang kita yang jadi korban, Han."
Aku dan Wulan menghabiskan perjalanan dengan berbincang permasalahan malam ini. "Han, lalu sekarang di mana Intan?"
"Aku tidak tau, apakah dia masih terjebak di sana atau tidak. Karena aku buru-buru pergi saat kakiku mulai bisa bergerak."
"Bagaimana kalau dia bisa kembali ke sini dan mencelakai kita, Han? Aku takut."
"Kalau menurut aku sih itu tidak akan terjadi lagi. Kamu tenang saja ya, Lan. Selama kita terus bisa bersama, kita berdoa pada Sang Pencipta agar selalu dilindungi dari hal-hal jahat."
Pembicaraan yang seru dan tiada habisnya membuatku dan Intan tidak menyadari kami sudah ada di depan gerbang indekos berdarah. Memasuki indekos yang masih terlihat sepi, aku ingin melihat kondisi kamarku yang pastinya sangat awut-awutan dan berantakan, juga banyak pecahan kaca akibat ulah si Intan.
"Kamu mau ke mana, Han?"
"Ke kamarku."
"Kita istirahat di kamar atas saja."
"Iya, aku cuma mau lihat kondisi kamarku saja."
Aku terkejut ketika memasuki kamarku yang sudah bersih. Bukannya tadi saat aku keluar, keadaan kamarku berantakan. Lalu siapa yang membereskan kamarku?
"Lan, kamarku sudah bersih sekali. Kira-kira siapa yang membereskannya?"
"Oh, semalam sebelum mencarimu, Ridwan meminta Bu Wati membereskan kamarmu. Kamu itu beruntung mendapatkan Ridwan, Han. Dia baik, loyal, terus rela berbuat apapun demi kamu. Cocoklah jadi calok bapak buat anak-anakmu kelak."
"Semoga saja, Lan."
Aku dan Wulan memutuskan untuk naik ke kamar Wulan. Di saat orang baru memulai aktivitasnya, aku malah merebahkan tubuh dan bergelut dengan alami mimpi. Dalam tidur pun aku tidak bisa tenang, karena bayang-bayang Intan yang tengah dicambuki terus saja menggangguku. Seringkali aku terbangun dengan karena takut dikejar rombongan para penari itu.
Wulan yang ikut terbangun, mengambilkan aku segelas air. "Minumlah dulu biar tenang."
Aku menenggak air putih itu hingga tandas. Aku menyeka keringat yang terus membanjiri tubuh ini. Aku mengatur napas yang tersengal ini. Perlahan, aku meraup oksigen sebanyak mungkin agar dada ini tidak sesak lagi.
"Ada apa, Han? Apa kamu mimpi buruk?"
"I-iya, aku mimpi rombongan penari itu mengejarku terus."
"Sudah, itu hanya bunga tidur. Kamu juga terlalu banyak pikiran tentang hal itu. Jadi sampai terbawa mimpi."
Ucapan Wulan ada benarnya juga, aku terlalu memikirkan kejadian gaib yang baru saja aku alami. Lebih baik aku kembali istirahat daripada nanti saat bekerja, tidak maksimal karena mengantuk. Saking lelapnya aku harus dibangunkan oleh Wulan, ketika sudah jam dua siang.
__ADS_1
"Han! Bangun. Sudah jam dua, kamu kerja tidak?"
Samar aku mendengar suara Wulan dan aku merasa bahuku diguncang-goncangkan. Aku menggeliat untuk meregangkan otot-otot di badanku yang telah kaku karena tertidur cukup lama.
"Ini jam berapa sih, Lan? Rasanya aku baru saja memejamkan mata."
Wulan tampak tersenyum kecil. "Ini sudah jam dua lebih. Cepatlah bangun dan bersiap berangkat kerja."
Dengan sedikit rasa malas, aku bangun dari tidur dan segera menyambar handuk dan ke kamar mandi. Aku segera bersiap untuk berangkat kerja.
"Lan, kamu mau aku belikan apa?"
"Tidak perlu, Han. Kita makan saja sayur yang dibawakan Indah kemarin, sudah aku hangatkan juga. Tapi kalau mau kamu bawa kerja, lebih baik beli saja. Sekarang makan ini saja."
Wulan tampak menenteng satu panci kecil yang masih mengepulkan asap. "Kenapa tidak minta tolong aku saja?" Aku mengulurkan tangan, agar panci itu aku saja yang membawanya.
"Tidak apa-apa, Han. Hanya panci kecil ini."
"Ngeyel, mau panci kecil atau pun besar, itu sama saja tidak boleh kamu bawa. Tanganmu itu masih terluka. Kamu jangan lupakan itu. Biarkan semua aku yang lakukan."
"Ta-tadi aku kasihan sama kamu, kayaknya nyenyak sekali, jadi tidak tega membangunkan. Toh, ini hanya urusan sepele memanaskan sayur. Misalnya aku kesulitan, bisa meminta tolong penghuni lantai tiga."
"Memangnya ada penghuni lain di lantai ini, selain kita dan Lina? Lina pun masih ada di kampungnya, karena si Kitty mati."
"Siapa itu kitty? Adiknya Lina?"
"Bukan. Kitty itu kucingnya Lina. Kamu tau, Lan, gara-gara Lina sedih karena kitty mati, aku pikir kamu yang meninggal. Aku sudah nangis sampai menggerung, eh ternyata si kittynya itu."
Wulan yang mendengarkan ceritaku tertawa terbahak-bahak. "Lagian telingamu itu kenapa? Kenapa kamu bisa mengira kalau aku yang mati?"
"Kalau saat itu benar aku meninggal bagaimana? Apa kamu juga akan sedih karena kehilangan teman yang cantik manis sepertiku? Sepertinya kok aku ragu kamu akan sedih."
"Mulutnya itu lo, jangan sembarangan kalau ngomong. Bagaimana kalau ada setann atau malaikat yang dengar terus diwujudkan? Mulut itu jangan asal mangap, jangan asal jeplak, jangan asal bunyi, Lan. Tidak suka aku dengan ucapanmu kali ini."
Aku menyedekapkan kedua tanganku ke dada serta memalingkan wajah dan pandanganku dari Wulan, sebagai pertanda aku tengah marah padanya. "Udah dong. Jangan tantrum begitu. Aku juga cuma bercanda. Sudah ya, jangan cemberut lagi."
"Bercandamu tidak lucu, Lan. Apa kamu tidak tau betapa takutnya kemarin, saat kamu sakit seperti kemarin. Rasanya detak jantungku ikut berhenti, Lan. Sekarang kamu ngomong seenak jidatmu sendiri tentang kematian."
Wanita itu segera memelukku erat. "Maaf ya, Han. Aku memang kalau bercanda suka kelewatan."
"Aku takut, Lan. Apalagi setelah aku kehilangan ibuku, hal yang tidak aku sukai adalah kematian. Aku tidak mau merasakan kehilangan lagi."
"Maaf ya, aku janji tidak akan bercanda soal ini lagi. Oh iya, berhubung besok aku sudah mulai masuk kerja. Bagaimana kalau besok kamu antar jemput aku?"
"Janji ya. Motornya kamu saja yang bawa. Pabrik tempat kerjaku cuma di depan gang situ, sementara tempat kerjamu lumayan jauh, Lan."
"Tidak usah protes. Kamu masuknya ke gedungmu kan jauh, jadi butuh motor ini. Apalagi kalau malam hari, memang berani kamu jalan sendirian."
"Kan aku bisa bareng teman-temanku, Lan. Indah juga ada."
"Ayang Ridwan juga ada, ya kan. Pasti kamu mau nyebut dia kan?" Godaan Wulan membuatku tersipu. Tau saja kalau aku sedang memikirkan dia dan akan menyebut namanya. Dasar Wulan seperti peramal saja dia.
"Tebakanku benar kan? Kamu mau menyebut nama ayangmu itu kan?"
Aku hanya meringis memamerkan deretan gigiku kepada wanita yang dulu menikah muda itu. "Dasar bucin. Itu udah setengah tiga, kamu tidak berangkat kerja?"
__ADS_1
Untung saja Wulan mengingatkan bahwa sudah saatnya aku berangkat kerja. Memang aku masuk jam tiga, tapi aku harus mampir dulu ke warung nasi untuk membeli bekal makanku saat istirahat. Dengan cepat, aku meraih ponselku juga tas kecil yang isinya hanya sebuah dompet.
"Lan, aku berangkat dulu ya."
"Hati-hati." Setelah mengucapkan salam, aku bergegas turun dan berangkat kerja. Bekal makanan aku beli di angkringan depan pabrik saja biar cepat. Setelah sampai ke gedung produksi dan presensi di mesin fingerprint, aku memilih duduk di kursi panjang yang ada di depan gedung karena aku masih punya banyak waktu sebelum saatnya bekerja sekitar lima belas menit lagi.
Aku membuka ponselku, rupanya Ridwan beberapa kali menghubungiku. Tanpa pikir panjang aku menghubunginya. Setelah cukup lama nada sambung berbunyi, Ridwan baru mengangkat teleponnya.
"Sayang, kamu sudah berangkat belum? Kalau belum, aku jemput kamu ya." Aku tersenyum dengan sikapnya itu.
"Aku sudah sampai di pabrik, Yang."
"Halah!" Aku bisa mendengar dalam ucapannya ada nada kecewa. "Terus apa gunanya aku bawa mobil kalau kekasih hatiku tidak bersamaku."
"Maaf, Yang. Kalau tadi kamu bilang mau jemput, pasti aku akan menunggu."
Aku bisa mendengar tawanya yang renyah. "Ya sudah, salahku juga tidak mengabarimu dulu, Yang. Aku jalan dulu."
"Hati-hati."
Sembari menunggu kedatangan Ridwan, aku membuka ponselku lagi. Beberapa pesan masuk aku baca, salah satunya dari Mbak Arum. Dia mengabarkan kondisi bapak yang semakin lama semakin baik. Mbak Arum juga memberitahu bahwa bapak seringkali bertanya kapan pulang.
Segera aku balas pesan Mbak Arum. Aku beritahu padanya, aku akan segera pulang selepas gaji pertamaku turun. Sesuai janjiku akan membangun makam ibuku dengan batu nisan dari hasil keringatku sendiri sebagai wujud baktiku pada wanita yang di kakinya ada surgaku.
"Sendirian saja, Han?" Mendengar suara itu aku yang tengah menatap layar ponselku mendongak, aku melihat si singa pabrik sudah berdiri di depanku.
"Iya, Bu. Sepertinya aku yang datang lebih awal, jadi masih sepi." Bu Ning duduk di sampingku.
Melihat Bu Ning, aku jadi ingat tentang pikiran yang terus menggangguku. "Bu Ning, mumpung longgar dan sepi, boleh tidak Hanna bertanya sesuatu?"
"Tanya saja, Han. Akan aku jawab semampuku."
"Mbak, tinggal di indekos berdarah berapa lama?"
"Sekitar dua tahun, Han. Namun, sejak ditemukan wanita yang tewas saat di kamar tiga belas, aku memutuskan untuk pindah karena bukan hanya suara tangisan saja, terkadang di tengah malam kami dengar suara jerit tangis yang menyayat hati," ujarnya sembari meremass ujung bajunya.
"Sampai seperti itu, Bu?"
"Hampir semua penghuni lama indekos berdarah itu cabut dari sana, Han. Semenjak tragedi penemuan mayat perempuan, banyak sekali hal ganjil yang terus-menerus meneror hampir semua penghuni indekos tanpa plang nama ini."
"Teror? Seperti apa, Bu?"
Bu Ning menceritakan padaku betapa mencekamnya saat itu, polisi-polisi berlalu-lalang seolah tengah mencari bukti pelaku utama dari pembunuhan gadis itu. Namun, sampai beberapa bulan setelahnya polisi tidak bisa menetapkan seorang pun tersangkanya. Belum lagi teror-teror hantu yang harus mereka hadapi.
Bu Ning bercerita, hari itu dia pulang malam karena bertugas sift sore. Dia merasa ada yang tengah mengikuti langkahnya. Namun, setiap Bu Ning menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana. Dengan was-was Bu Ning yang saat itu berusia dua puluhan tahun, kembali berjalan menyusuri jalan yang sangat minim penerangan itu. Hingga saat ia tiba di depan tangga, kebetulan kamar nomor empat belas persis ada di dekat tangga. Dari atas seperti ada benda jatuh.
"Terus yang jatuh apa, Mbak?"
"Aku ingat betul benda jatuh dan menggelinding bagai bola itu adalah potongan kepala manusia dengan wajah sudah membusuk dan ribuan belatung menggerogoti kepala yang mengerikan itu. Kepala itu berhenti di depan kakiku. Andaikata aku tidak mundur, pasti kepala menyeramkan berhasil menyentuh kakiku."
"Bu Ning tidak takut?"
"Banget, Han. Apalagi saat aku dekati wajah kepala buntung itu, matanya yang awalnya terpejam tiba-tiba saja membuka matanya. Satu hal lagi yang bisa membuatku hampir mati berdiri. Matanya yang satu lepas dari tempatnya, menjuntai hingga menyentuh lantai."
...----------------...
__ADS_1
...--bersambung--...