Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 56: Pengantin Baru


__ADS_3

Sontak aku bangkit berdiri dan melangkah mundur, menjauh darinya. Dia si penari dengan setengah kulit wajahnya yang terkelupas dan rusak terus saja bergerak mendekati dan mengikutiku. "Bagaimana Hanna, kamu mau ikut aku kan?"


"Tidak sudi! Pergi kamu! Jangan ganggu kami lagi. Dunia kita berbeda, lagi pula kotak bedak milikmu sudah aku kembalikan ke Intan. Kenapa kamu masih mengejar kami? Pergi sana!"


Raut wajah mengerikan yang tadinya tertawa, kini berubah semakin menyeramkan karena aku bisa melihat amarah di matanya. "Pergi? Ini rumahku. Harusnya kamu yang pergi!"


Mata penari itu melotot bahkan hampir keluar dari tempatnya. Jantungnya rasanya hampir berhenti berdetak karena selain melotot, wajah mengerikan itu hanya berjarak sepuluh sentimeter saja. Aku bisa mencium aroma busuk yang berasal dari luka di wajahnya, persis dengan aroma busuk yang menguar dari tubuh Intan. Perutku rasanya seperti diaduk karena tidak tahan dengan bau yang menusuk hidung itu. Selendang hijau lumut yang ada di pinggang wanita itu tiba-tiba saja terlepas dari badannya. Terbang mengitari tubuhku kemudian dengan cepat membekap mulutku.


Tidak, aku tidak boleh kalah dengan makhluk mengerikan ini. Dalam hati aku harus melantunkan doa agar makhluk dihadapanku ini pergi.


"Diam atau kamu akan aku habisi sekarang!"


Tidak, aku tidak boleh berhenti. Aku ingin dia segera pergi dan jera untuk menggangguku lagi. Benar saja, dia pergi bersamaan dengan angin kencang yang tiba-tiba saja berhembus.


Aku terduduk lemas setelah kepergiannya yang tetap saja meninggalkan pesan ancaman dia akan kembali lagi sampai berhasil membawaku ke dunianya, kembali membuatku bergidik ngeri. Keringat dingin mengucur dengan deras, apa jadinya jika tadi aku tidak ingat akan Sang Pencipta bisa saja aku terjebak dalam dunia mereka.


Setelah tenaga ini mulai pulih, segera aku ambil air satu gelas dan meminumnya dengan sekali tenggak langsung tandas agar kesadaranku kembali pulih. Segera aku kembali merebahkan diri di samping Wulan yang masih sangat lelap tidurnya, dia sama sekali tidak mendengar suara menggelegar dari si penari itu.


Aku menyelimuti tubuhku tapi kali ini tidak sampai menutupi bagian kepalaku. Aku tidak mau kejadian tadi terulang kembali tiba-tiba wajah yang dulu itu muncul lagi, maka akan lebih baik selimut sebatas bahuku saja.


Aku berusaha memejamkan mata dan tidur. Namun, aku tidak bisa melakukannya karena bayangan penari yang begitu mengerikan itu selalu saja muncul di pelupuk mataku.


Aku meraih ponselku, siapa tau dengan bermain ponsel aku bisa tidur malam ini karena perhatianku teralihkan. Aku sengaja tidak membuka aplikasi untuk mengirim pesan. Aku lebih memilih membuka akun media sosial ku dan mencari beberapa referensi masakan, karena aku memang sangat menyukai makanan di seluruh penjuru tanah air. Ungaran dulu, aku sering mencoba memodifikasi resep, ya walau pada akhirnya gagal, seperti donat yang sekeras batu dan kue brownies dari singkong serta banyak lagi makanan yang aku buat tapi gagal.


Lama-kelamaan mata ini mulai terasa berat dan aku mulai mengantuk serta akhirnya terbawa ke alam mimpi. Sebuah mimpi yang sangat ingin aku harapkan menjadi kenyataan yaitu pertemuanku dengan ibuku. Tidur di pangkuannya adalah hal yang begitu indah dan aku rindukan. Tangannya yang lembut membelaiku. Dinyanyikannya senandung tanpa syair yang bahkan selama ini tidak pernah aku dengar semasa hidupnya.


Lama sekali aku bercerita-cerita padanya, bahkan hingga aku terbangun rasanya yang terjadi dalam mimpi seolah itu sangat nyata. Aku harus semangat bekerja untuk mewujudkan cita-citaku membangun nisan untuk ibuku.


Selepas salat subuh, aku memilih keluar untuk mencari sarapan. Namun, baru saja aku buka gerbang yang penuh karat itu, sebuah senyuman seperti menyambutku.


"Hai, sayang aku," sapa si empunya senyuman yang sukses membuatku terkejut.


"Rid-Ridwan? Kamu ngapain pagi-pagi begini sudah sampai di sini?"


"A-anu aku mau beli bubur ayam dekat sini. Kebetulan lewat sini sekalian mau ajak kamu beli. Kan kemarin malam kamu sampai nangis karena buburmu tumpah."

__ADS_1


Aku tersenyum, ya memang semalam pertemuanku dengan Ridwan memang cukup memalukan. Aku menangis dan memeluknya di pinggir jalan raya.


"So-soal semalam aku minta maaf ya. Habisnya aku lagi bingung dan panik karena keadaan Wulan yang seperti itu. Sekali lagi maaf ya, Wan."


Pria itu justru tertawa. Dasar pria yang aneh, ada orang yang meminta maaf bukannya dimaafkan malah dia tertawa sangat lebar seperti itu. Aku mencebikkan mulutku karena merasa kesal pada tingkah Ridwan yang kadang kala susah ditebak.


"Sudah, jangan mencucu kaya bebek begitu, Han. Nanti aku khilaf terus menciummu, bagaimana?"


Dasar bocah sableng. Aku pukul saja lengannya sekeras yang aku bisa. Namun, namanya juga Ridwan, bukannya kesakitan dia justru berkata pukulanku itu candu baginya.


"Sudah ah, aku bisa ketularan sableng kaya kamu, Wan. Lebih baik aku ke depan cari sarapan saja."


Aku beranjak meninggalkan pria yang masih terbahak. Namun, tidak lama pria itu menyusulku menggunakan motornya. "Tungguin dong, sayang. Naik ke sini yuk. Biar cepet."


"Tidak perlu, aku cari makannya kan cuma di depan gang saja."


"Ya sudah, aku nitip motorku di indekosmu kalau begitu. Biar kita bisa makan bareng dan juga jalan-jalan bareng. Siapa tau ini awal kita akan bangun rumah tangga berdua serta anak-anak kita."


"Terserah!" Ada rasa bahagia di balik kata-kata Ridwan perihal rumah tangga, terlepas itu hanya candaan saja ataukah datang dari hatinya.


Aku dan Ridwan kembali ke indekosku untuk memarkirkan motor Ridwan, tidak mungkin kan dia masuk ke sana sendiri padahal indekosku memang indekos khusus putri, bisa-bisa dijadikan perkedel oleh penghuni yang lain.


"Entah. Bingung aku kalau sudah di sini. Semuanya terlihat enak dan menggiurkan."


"Ya sudah, di ujung sana ada bubur ayam, asli enak banget. Kita makam di situ saja ya. Aku sekalian mau bawakan buat ibuku juga."


Karena memang tidak bisa memilih, lebih baik aku ikuti saja pilihan Ridwan. Sepertinya baru saja aku duduk di atas tikar pandan yang terhampar. Dua mangkuk bubur ayam sudah tersedia di depanku.


"Minumnya apa?"


"Teh panas, Bu," jawabku dan Ridwan bersamaan. Si ibu penjual tersenyum menatap aku dan Ridwan.


"Kompak benar. Sepertinya kalian ini pengantin baru ya?" Aku menautkan alis karena bingung. Bagaimana bisa ibu itu mengira kami pasangan pengantin baru.


"Tidak, Bu. Kami ini..."

__ADS_1


"Tidak perlu malu, Mbak. Ibu ini dulu juga pernah muda, pernah pengantin baru. Bisa dimaklumi kalau pengantin baru itu keramas terus," ujarnya sambil terkekeh. Aku melirik Ridwan juga tampak cengar-cengir. Mereka ini kenapa ya? Apa hubungannya keramas setiap hari dan pengantin baru?


Aku mencoba mencari jawaban sendiri di dalam otakku karena aku bertanya pada Ridwan pun bukan jawaban yang benar aku dapat, tapi hanyalah slengeannya. Cukup lama aku berpikir, akhirnya aku temukan jawaban dari ucapan Ibu tadi. Pasti dia mengira kami baru saja berhubungan seperti layaknya pasangan suami istri karena memang rambutku dan Ridwan sama-sama terlihat masih basah. Padahal dari kecil, aku sudah terbiasa sebelum salat subuh selalu mandi dan keramas.


"Kamu pasti paham kan yang dimaksud oleh ibu tadi? Kenapa kamu tidak menjelaskan kalau kita belum menikah?"


"Akan semakin panjang pertanyaannya nanti kalau aku jawab begitu. Mereka akan berpikir kamu perempuan gampangan yang mau tidur dengan pria yang belum menikahinya."


"Ya tinggal dijelasin kita tidak ada hubungan apa-apa."


"Orang itu kadang lebih percaya dengan yang mereka lihat ketimbang yang mereka dengar. Apalagi kita sepagi ini jalan berdua tidak akan ada yang percaya bahwa kita datang dari rumah masing-masing. Mereka taunya kita habis melewatkan malam bersama. Sudah makan saja."


Dalam diam aku dan Ridwan menikmati suap demi suap bubur ayam yang gurih itu.


"Han, sejak kapan kamu tinggal di kamar tiga belas indekos berdarah itu?" tanya Ridwan, memecah keheningan.


"Sejak aku kerja di pabrik. Ya baru dua mingguan mungkin."


"Memangnya kamu tidak takut dengan rumor yang santer terdengar mengenai indekosmu itu, apa?"


"Bukan takut lagi, takut banget malah. Habis mau bagaimana lagi, terpaksa. Nanti saja kalau tanggunganku selesai, aku cari indekos lain."


"Han, kan aku sudah bilang kan. Kamu jangan pikirkan soal uang yang aku keluarkan untuk biaya rumah sakit Wulan. Lebih baik kamu gunakan dulu untuk mencari indekos baru."


"Bukan hanya soal itu, aku berjanji bahwa gaji pertamaku nanti akan aku gunakan untuk membangun nisan ibuku. Sebagai anak, aku tidak pernah membelikan sesuatu untuknya semasa ibuku masih bersamaku," ujarku lirih. Air mataku yang luruh tanpa aku minta, diusap dengan lembut oleh Ridwan.


"Jangan menangis. Kamu beruntung meski ibumu sudah tiada, tapi setidaknya kamu masih punya kenangan kebaikan dan kasih sayangnya. Sementara aku, ibuku ada tapi aku tidak punya kenangan itu."


"Kenapa?" Baru kali aku lihat sorot mata elang itu sangat redup.


"Orang menyebut ibuku gila. Dia melupakan semuanya. Setiap harinya dihabiskan dengan tertawa dan menangis tanpa jelas penyebabnya. Aku tidak pernah merasakan belaian kasih sayangnya."


"Apa kamu tau penyebab kondisi ibumu?"


"Kata nenekku, ibuku berubah seperti itu tepat saat aku berulang tahun yang kedua. Kata mendiang nenekku, ibu tidak bisa menerima kenyataan kalau pria yang dicintainya ingkar dan memilih menikahi wanita lain ketimbang ibuku. Dia meninggalkan ibuku tepat di hari pernikahan mereka." Aku bisa mendengar getaran amarah dari setiap kata yang meluncur dari mulut pria yang perlahan mengisi hariku itu.

__ADS_1


...----------------...


...--bersambung--...


__ADS_2