Misteri Kamar 13

Misteri Kamar 13
Bagian 64: Pembohong


__ADS_3

Aku dan Wulan berteriak sekencang-kencangnya karena menyadari ada makhluk lain di antara kami. Wulan yang tadinya duduk kini bangkit berdiri dan memelukku erat.


"Han, itu siapa? Kenapa suaranya terdengar mengerikan begitu."


"Sepertinya itu suara Miss kunti yang baru saja kita bicarakan. Kamu sih berlagak pengen dengar suaranya. Jadinya dia datang kan sekarang."


"Terus bagaimana ini, Han? Aku takut banget. Bagaimana kalau kita pindah ke kamarmu saja. Tidak apa-apa deh, merinding sedikit asal tidak dengar suara menakutkan itu."


Mataku membulat mendengar usulan yang diajukan Wulan, tidak mungkin ke kamarku karena di sana ada hantu kepala yang mengerikan itu. Bisa-bisa Wulan pingsan atau bahkan terjadi hal yang lebih buruk dari itu saat melihat betapa mengerikan penunggu kamarku itu.


"Tidak bisa, Lan. Tadi saja di kamar bawah aku diganggu sama hantu kepala yang mengerikan itu. Sekarang kamu ngajak turun ke sana. Oh, tidak, kalau kamu mau kamu saja sendiri. Lan, andai kamu tau wujudnya pasti ketakutan. Dia hanya kepalanya saja, wajahnya sudah terkelupas dan membusuk serta digerogoti belatung. Belum lagi kalau kita keluar kamar, pasti kuntilanak yang tadi ikut tertawa pasti sudah menunggu kita di luar dan siap menyambut kita dengan seringainya yang mengerikan."


"Sudah, Han. kamu baru cerita saja aku sudah ketakutan setengah mati seperti ini. Bagaimana kalau bertemu, bisa-bisa aku jantungan dan mati berdiri. Aduh, kita harus bagaimana sekarang?"


Otakku berpikir keras, bagaimana kami bisa melalui malam ini tanpa gangguan dari makhluk tidak kasat mata. "Kita tidur saja sembari berdoa meminta perlindungan kepada Gusti Allah, Lan. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang."


Tanpa membuang waktu lagi, Wulan merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah sangat tipis kemudian bersembunyi di balik selimut. Sementara aku membersihkan bekas makan kami sekadarnya. Hanya menumpuk piring dan mendorongnya ke sudut dan mengelap lantai agar tidak mengundang semut.


"Geseran dikit, Lan." Aku ikut merebahkan tubuh ke sisinya. Aku menyelimuti tubuhku hingga menutup mataku.


"Han, itu Miss kunti sepertinya sudah pergi ya? Soalnya sudah tidak kedengaran ketawanya," tanya Wulan dengan suara yang sangat lirih.


"Entahlah, coba saja kamu lihat dari jendela sana! Tapi ingat, hantu itu bisa nembus dinding."


"Tidak sudi! Aku mending tidur saja." Wulan memindah posisi tidurnya kini jadi memunggungiku.


"Tidur saja, jangan lupa berdoa biar itu Miss kunti tidak mengikuti kita sampai ke alam mimpi."


"Hii, amit-amit jabang bayi! Aku mau berdoa dulu, Han. Kamu juga berdoa dong, nanti kalau kamu dihantui, aku juga takut."


Dengan lirih aku melantunkan doa agar kami dilindungi dari gangguan makhluk tidak kasat mata. Perlahan mataku mulai berat selain karena letih bekerja, ini juga sudah lebih dari pukul dua malam.


Tidur dalam keadaan letih dan ketakutan pada kuntilanak yang ikut tertawa semalam membuatku dan Wulan melewatkan azan subuh. Bahkan saat matahari sudah menyapa dunia, aku dan Wulan baru terjaga.


"Ini pukul berapa sih, Han?" tanya Wulan sembari mengusap serta menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya. Buru-buru aku meraih ponsel yang selalu aku letakkan di atas almari.


"Astaga! Sudah pukul sepuluh. Kebo banget kita ini," gerutuku sembari berjalan masuk ke kamar mandi untuk membuang hajatku.


"Ini semua gara-gara kamu, Han. Kamu sih mengundang Miss kunti yang tinggal di pabrikmu ke sini!" teriak Wulan saat baru saja aku menutup pintu. Segera aku membuka lagi dan melongokkan wajahku keluar.


"Enak saja gara-gara aku. Kan kamu yang minta aku niruin suara Miss kunkun, jadi kamu dong yang salah."


"Kamu!"


Perdebatan kecil kami baru berhenti saat ada dering ponsel Wulan. Wulan menatap layar ponselnya dengan dahi yang berkerut kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku Yang penasaran akhirnya memilih keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Siapa yang telepon? Kenapa kamu kelihatan panik?"


"Adnan yang telepon. Ada apa ya? Padahal sejak dia mengucap talak, dia sudah blokir nomorku. Apa terjadi sesuatu sama Intan ya, Han?"


"Coba angkat dulu saja. Siapa tau ada hal penting hingga membuatnya rela membuka blokiran setelah berbulan-bulan."


"Gitu ya. Kamu temenin aku ya, Han. Takutnya aku nanti tidak kuat kalau dia memberi kabar buruk."


Ingin rasanya aku menemani Wulan untuk mendengarkan kabar yang akan disampaikan Adnan. Bisa jadi ini mengenai Intan tapi bisa saja mengenai pembicaraannya denganku kemarin saat tidak sengaja kami berjumpa untuk mengajak Wulan rujuk. Namun, perutku yang melilit memaksaku menolak ajakan Wulan dan segera kembali ke kamar mandi.


"Lan, kamu loudspeaker saja. Soalnya aku sudah tidak tahan."


Dari dalam kamar mandi aku bisa mendengar ucapan Adnan yang memang terdengar manis. Awalnya hanya menanyakan kabar, kemudian meminta maaf karena selama ini menelantarkan Wulan dan anak-anaknya. Terakhir seperti yang aku duga sebelumnya, dia meminta Wulan untuk kembali membina rumah tangga dengannya. Dasar buaya, mulutnya manis banget tapi kelakuannya minus.


"Lan, aku sekarang sadar selama ini aku hanya terpengaruh dengan pelet yang ditebarkan Intan. Aku ingin kembali ke keluargaku yang sesungguhnya. Apa kamu mau menerimaku sebagai suamimu lagi?"


Aku hanya bisa berharap semoga saja Wulan tidak mudah percaya hingga mungkin nantinya akan jatuh ke lubang yang sama.


"Lan, bagaimana?" tanya Adnan lagi melalui sambungan telepon.


"Tolong beri aku waktu untuk memikirkannya. Lagi pula jika dihitung dari saat kamu menjatuhkan talak padaku, ini sudah lebih dari empat bulan, sudah lewat dari masa iddahku. Jika kita rujuk, apakah perlu kita menikah lagi atau bagaimana biar aku cari tau dulu. Satu hal lagi yang ingin aku tanyakan, mengenai hubungan masa lalumu dengan Intan di masa lalu, sudah sejauh apa hubungan kalian?"


Aku bisa mendengar dengan jelas suara Wulan yang terdengar gemetar. Mungkin Wulan ingin mendengar masalah pembuktian cinta yang dilakukan Intan dulu dari sisi Adnan.


"Aku tanya di masa lalu, kalian kan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kalian sudah melangkah sejauh apa? Apa kalian juga melakukan hubungan sama seperti yang kalian lakukan sekarang?"


"Ti-tidak. Aku tidak menyentuhnya sama sekali."


Dasar keparatt memang Adnan ini, sudah ketahuan masih saja berkilah ke sana ke mari. Andaikan dekat, ingin aku siram dia dengan air comberan agar dia sadar diri.


"Yakin?" Aku mendengar Wulan bertanya pada Adnan. Perempuan satu ini memang sangat sabar. Kalau aku jadi Wulan akan aku robek mulut pria itu.


"I-iya," jawab Adnan dengan tergagap.


"Dasar pembohong besar!" Setelah itu tidak aku dengar lagi pembicaraan mereka. Sepertinya panggilan telepon ditutup oleh Wulan karena berkali-kali aku dengar suara deringan telepon.


"Tukang bohong! Hih, blokir saja!" Suara Wulan yang terdengar marah dan kecewa membuatku tertawa. Untung saja Wulan bukan wanita yang mudah ditipu untuk ke sekian kalinya.


Saat keluar dari kamar mandi, aku melihat Wulan yang tengah terisak sembari memeluk lututnya. Aku bisa memahaminya, di balik kesabaran dan kekuatannya dia tetaplah seorang wanita yang rapuh.


Aku melemparkan handuk merah kepadanya. "Lan, mandi sana! Habis ini kita keluar cari makan. Biar kamu tidak bosan dengan kamar yang dindingnya terkelupas ini."


"Makan di luar? Memangnya kamu tidak malu apa dengan kondisiku yang seperti ini?"


"Malu kenapa? Kamu kan keluar pakai baju kan? Kita bayar kan, bukan hutang atau minta-minta?"

__ADS_1


"Ya pakai baju lah, ya kali aku keluar tanpa sehelai benang, malah dikira orang gila nanti."


"Ya sudah, ngapain malu. Cepetan mandi sana. Tuh badanmu penuh dengan lumut!"


"Asem! Masa badanku lumutan."


"Cepetan sana mandi atau mau aku mandiin?" tanyaku sembari berkacak pinggang.


"Han, aku heran perasaan di antara kita, aku yang sudah jadi ibu-ibu. Kenapa kamu anak gadis mirip sama emak-emak yang lagi ngomelin anaknya? Ahli banget!" Wanita itu tertawa lebar dan segera melarikan diri ke kamar mandi sebelum bantal melayang di badannya. Aku tersenyum sendiri akhirnya usaha aku untuk membuat Wulan berhenti menangis berhasil juga.


Saat aku dan Wulan turun, aku bisa melihat pintu kamarku yang terbuka setengah. Aku menepuk dahiku karena saking takutnya pada hantu kepala itu, aku lari ke atas tanpa memedulikan kondisi kamarku lagi.


"Lan, aku kunci pintu kamarku dulu ya."


Di dalam kamar aku menemukan kantong plastik transparan yang berisi dua boks stirofoam. Di atasnya ada stiker berlogo warung bubur ayam yang aku datangi dan Ridwan kemarin. Benar saja saat aku buka isinya memang bubur ayam, tapi siapa yang membelinya.


"Lan, sini deh!" panggilku pada Wanita yang tengah duduk di teras itu.


"Apa?"


"Ada yang kirim bubur ayam. Siapa ya, Lan?"


"Coba cek ponselmu, siapa tau ada yang kirim pesan soal ini."


Wulan benar juga sedari bangun aku tidak melihat ponselku, kecuali saat melihat jam tadi. Rupanya Ridwan yang mengirimnya, tapi karena aku tidak ada di kamar dia letakkan saja di dalam kamarku yang kebetulan terbuka sedikit. Selain itu dia harus menjemput keluarga Indah untuk pulang lagi.


"Ya sudah, nanti saja kita keluarnya, Han. Kan sudah ada bubur pemberian ayangmu."


"Ayang? Dia bukan ayangku, Lan."


"Otw jadi ayang. Lagian kamu kenapa sih, Han, tidak menerima dia? Dia itu paket komplit lo."


"Aku kan pernah cerita ke kamu, Lan. Apa yang membuatku bimbang." Mataku menerawang jauh ke depan, terkadang aku punya rasa bersalah karena sudah menggantung hubunganku dengan Ridwan yang sangat baik itu.


"Hmm, masalah Indah ya. Han, kalau dia sahabat yang baik, pasti akan legowo menerima hubungan kalian."


"Kalau tidak, bagaimana?"


"Ya akan berakhir seperti Intan yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan suamiku."


"Makanya itu, aku tidak mau nasib persahabatanku dan Indah berakhir seperti kalian atau yang lebih mengerikan seperti kisah Gayatri dan Melati yang harus menyimpan dendam sampai ajal mereka."


...----------------...


...--bersambung--...

__ADS_1


__ADS_2